NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 pembalikan

Dua orang petugas keamanan berbadan tegap dengan seragam hitam formal melangkah maju. Deru langkah mereka yang serentak terdengar seolah sedang menuntun Alana menuju tiang gantungan. Di sekelilingnya, ratusan mata para wanita elite ibukota menatap dengan kombinasi binar kepuasan dan kejijikan yang sangat kental.

Alana berdiri mematung di pusat aula, dikepung oleh lingkaran manusia yang siap mengulitinya tanpa ampun. Tas tangan satin kecil di genggamannya diremas begitu kuat hingga telapak tangannya terasa mati rasa. Ia bisa merasakan tatapan tajam Nyonya Besar Sandra yang menghujam langsung ke arahnya, membawa kepuasan manipulatif yang tidak ditutup-tutupi.

"Tunggu apa lagi? Geledah dia sekarang!" perintah Sandra sekali lagi, suaranya melengking tinggi, membelah bisik-bisik miring yang kian memanas di dalam ballroom. "Keluarga Adhitama tidak akan pernah membiarkan seorang pencuri murahan membawa lari warisan leluhur kami!"

Salah satu petugas keamanan mengulurkan tangan kasarnya, berniat merenggut tas satin di tangan Alana. Alana refeks memundurkan langkahnya, matanya berkilat menahan amarah yang mendidih di dalam dada. Harga dirinya yang selama ini diinjak-injak oleh keluarga Wijaya bangkit, menolak untuk menyerah begitu saja di panggung sandiwara ini.

"Jangan sentuh saya!" gertak Alana dengan suara yang lantang dan tegap, membuat gerakan petugas keamanan itu sempat terhenti karena terkejut. Alana mendongak, menatap lurus ke arah mata Sandra. "Nyonya Besar, saya membawa kotak ini langsung dari ruang penyimpanan dalam keadaan tertutup rapat. Jika isinya kosong, maka permata itu sudah hilang sebelum kotak ini sampai ke tangan saya!"

"Berani sekali kau membantahku, Anak Haram!" bentak Sandra, wajahnya memerah padam penuh amarah yang dibuat-buat. "Kau adalah orang terakhir yang memegangnya! Di sini, kata-katamu tidak memiliki nilai apa pun dibandingkan bukti nyata yang ada!"

"Lalu, bukti apa yang kau maksud, Ibu?"

Sebuah gelombang suara bariton yang sangat berat, dingin, dan berwibawa tiba-tiba mengalun dari arah pintu masuk samping ballroom. Suara itu tidak keras, namun memiliki daya intimidasi yang begitu mutlak hingga sanggup membekukan seluruh pergerakan di dalam ruangan luas itu dalam sekejap.

Kerumunan sosialita itu seketika terbelah, memberikan jalan bagi sebuah kursi roda elektrik yang bergerak maju dengan perlahan.

Devano Adhitama muncul dari balik kegelapan lorong VIP. Pria itu duduk tegak dengan tuksedo hitamnya yang sempurna, memancarkan aura penguasa yang tak tertandingi. Wajah tampannya datar tanpa ekspresi, sepasang netra obsidiannya berkilat sangat pekat, menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya terkunci pada sosok Alana yang berdiri di tengah kepungan.

Lidya dan beberapa wanita di dekat Sandra seketika menahan napas ketakutan melihat kedatangan sang tirani. Sandra berusaha menguasai emosinya, melangkah maju mendekati kursi roda putranya.

"Devano, kau datang di waktu yang tepat," ucap Sandra dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, mencoba memposisikan dirinya sebagai korban. "Wanita pilihanmu ini baru saja mencuri bros zamrud kuno milik mendiang nenekmu! Dia membawa kotak kosong ke panggung lelang. Ibu hanya ingin menegakkan keadilan di rumah ini!"

Devano tidak langsung menyahut. Pria itu menggerakkan kursi rodanya hingga berhenti tepat di samping Alana. Lengan kekarnya tiba-tiba terulur, mencengkeram pergelangan tangan Alana dengan gerakan yang sangat posesif, menarik wanita itu hingga berdiri sangat rapat di sisi kursi rodanya. Kulit tangan Devano yang hangat seolah menyalurkan aliran kekuatan baru yang meruntuhkan rasa dingin di tubuh Alana.

Devano perlahan mengangkat pandangannya, menatap ibunya sendiri dengan kilat mata yang sangat meremehkan. "Keadilan yang kau maksud adalah mempermalukan istriku di depan ratusan kamera media, Ibu?"

"Dia bukan istrimu yang sah, Devano! Dia hanya pengantin pengganti yang haus harta!" teriak Sandra yang mulai kehilangan kesabarannya karena melihat Devano kembali membela Alana.

"Jefri, nyalakan layar proyektor utama sekarang juga," perintah Devano tanpa memedulikan histeria ibunya. Suaranya yang tenang bergema penuh otoritas yang tak terbantahkan.

Bzzzt... Bzzzt...

Layar LED raksasa di atas panggung lelang yang semula menampilkan detail foto bros permata kuno mendadak berkedip cepat, berganti menjadi sebuah tayangan video rekaman pengawas (CCTV) dengan resolusi sangat tinggi.

Tampilan video itu memperlihatkan koridor lantai dua di depan toilet VIP beberapa menit yang lalu. Di sana, terlihat Alana sedang berjalan membawa kotak beludru hitam. Detik berikutnya, kamera memperlihatkan adegan di mana seorang pelayan wanita sengaja menabrak bahu Alana hingga kotak itu terlepas.

Video itu mendadak melambat secara dramatis. Layar raksasa itu melakukan pembesaran otomatis (zoom-in) secara brutal pada gerakan tangan sang pelayan. Dengan keahlian yang sangat rapi, pelayan itu ternyata tidak sekadar menabrak; jemarinya yang lincah membuka pengait kotak beludru di tangan Alana, merenggut bros zamrud dari dalamnya, dan menggantinya dengan bantalan replika dalam hitungan detik sebelum Alana berhasil menangkap kotak itu kembali.

Seluruh penonton di ballroom seketika mengeluarkan seruan horor yang tertahan. Kilatan kamera wartawan internal mulai berbalik arah secara liar, memburu layar raksasa tersebut.

Namun, pembantaian karakter yang sesungguhnya belum selesai. Video itu kembali berganti ke potongan klip berikutnya. Kali ini memperlihatkan pelayan wanita yang sama sedang berdiri di tangga darurat, menyerahkan bros zamrud kuno itu langsung ke dalam tangan seorang wanita paruh baya berjas rapi—yang tidak lain adalah asisten pribadi kepercayaan Nyonya Besar Sandra sendiri. Di akhir rekaman, terlihat asisten tersebut menyerahkan sekeranjang amplop tebal berisi uang tunai kepada sang pelayan.

Brak!

Beberapa gelas sampanye di tangan para tamu undangan jatuh dan hancur berantakan di atas lantai marmer. Ruangan yang megah itu seketika pecah oleh kegaduhan yang luar biasa dahsyat. Pandangan mata ratusan sosialita yang tadi menghujat Alana, kini berbalik arah secara brutal, menghujani wajah Nyonya Besar Sandra dengan tatapan horor, jijik, dan tak percaya.

Wajah Sandra seketika berubah pucat pasi bagaikan mayat yang kehilangan seluruh pasokan darahnya. Tubuhnya bergoyang lemas, terpaksa berpegangan pada tepi meja pameran kaca agar tidak jatuh pingsan di depan publik. "T-tidak... ini rekayasa! Devano, kau berani memalsukan video untuk menjatuhkan ibu kandungmu sendiri?!"

"Aku tidak pernah membuang waktu untuk merekayasa sampah, Ibu," desis Devano dengan suara rendah yang mengalun sangat kejam. Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap ibunya dengan tatapan seorang hakim yang siap menjatuhkan hukuman mati.

"Kau menyewa pencopet profesional untuk menyabotase acara amalmu sendiri hanya demi menyingkirkan Alana dari sisiku. Tapi sayangnya, kau lupa bahwa seluruh sistem keamanan digital di hotel ini berada di bawah kendali mutlak Adhitama Group," lanjut Devano dengan nada mengejek yang sangat dingin, meremukkan sisa-sisa harga diri Sandra hingga rata dengan tanah.

Jefri melangkah maju, diikuti oleh dua petugas kepolisian berpakaian sipil yang langsung mengunci pergerakan asisten pribadi Sandra di sudut ruangan. "Nyonya Besar Sandra, demi menjaga nama baik yayasan, kami sarankan Anda meninggalkan tempat ini sekarang juga sebelum petugas membawa asisten Anda ke markas pusat," bisik Jefri dengan tegas.

Tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata pun lagi, Sandra berbalik dengan tubuh yang gemetar hebat, melangkah pergi meninggalkan ballroom menembus badai jepretan kamera jurnalis dengan rasa malu yang akan mencoreng namanya seumur hidup di lingkaran elite sosialita.

Di tengah kekacauan para tamu yang masih sibuk berbisik, Devano tidak membiarkan Alana menjadi pusat perhatian lebih lama lagi. Ia menarik pinggang Alana dengan cengkeraman tangan yang sangat dominan, memaksa wanita itu untuk mengikuti kursi rodanya melangkah keluar melintasi lift privat menuju ruang VIP lantai atas yang kedap suara.

Begitu pintu kayu mahoni ruang privat itu ditutup dan dikunci rapat dari luar oleh Jefri, atmosfer di dalam ruangan luas itu seketika berubah menjadi medan magnet yang sarat akan ketegangan yang menyesakkan dada.

Klek.

Devano melepaskan cengkeramannya, lalu dengan gerakan perlahan... ia bangkit berdiri dari kursi roda elektriknya! Postur tubuhnya yang tinggi besar dan tegap melangkah dengan pasti, memotong jarak di antara mereka hingga tidak ada lagi ruang kosong tersisa. Ia menyudutkan Alana langsung pada dinding berlapis beludru merah marun di sudut ruangan.

Brak!

Devano menghantamkan telapak tangan kanannya di dinding tepat di samping kepala Alana, mencondongkan tubuh kekarnya hingga dada bidang mereka saling menekan erat. Hawa dingin beraroma koloni mahal bercampur wangi kayu cedar dari tubuh Devano langsung mengepung seluruh indra penciuman Alana, memicu debar jantung yang berpacu brutal.

"Kau melihatnya, Alana?" bisik Devano dengan suara serak yang sangat rendah dan seksi di depan bibir mungil Alana yang bergetar hebat. Sepasang mata elangnya berkilat dengan kegilaan obsesi yang sangat pekat ekstrem, mengunci seluruh pergerakan wanita di bawah kuasanya. "Ibuku sudah hancur. Tidak akan ada lagi orang di rumah ini yang berani menyentuh atau membuatmu menundukkan kepala."

Alana mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata hitam sang tirani. Air mata haru dan rasa lega yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh, memandangi wajah tampan pria yang baru saja menyelamatkan sisa martabat hidupnya. "Terima kasih, Tuan Devano... Anda... Anda selalu datang tepat waktu."

"Aku sudah mengatakannya sekali, Istriku," desis Devano posesif ekstrem. Jemari tangannya yang panjang bergerak naik, mencengkeram rahang Alana dengan kekuatan yang pas, memaksa wajah cantik wanita itu mendongak mutlak menatapnya.

"Kau adalah properti yang sudah kutandai. Menghinamu sama dengan menantang kekuasaanku. Tapi ingat... perlindungan yang kuberikan malam ini tidaklah gratis. Utangmu padaku semakin menumpuk, Alana. Dan kau... harus membayarnya dengan menyerahkan seluruh kepatuhanmu di dalam genggamanku, seumur hidupmu."

Sebelum Alana sempat mengeluarkan sepatah kata pun untuk merespons ancaman penuh gairah itu, Devano membungkuk dan langsung membungkam bibir mungil Alana dalam sebuah ciuman yang sangat dalam, menuntut, dan penuh dengan klaim kepemilikan yang absolut di balik keheningan ruangan yang remang-remang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!