Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RASANYA MENJADI ORANG NORMAL
Berada di tempat wisata, melihat banyak orang menikmati berbagai wahana, serta menggunakan pakaian yang sedang tren. Aku terjebak dalam situasi yang tidak pernah kubayangkan sebelummya. Kenapa aku bisa berada dalam situasi ini? Apa aku sedang bermimpi? Tidak. Bahkan mimpiku tidak akan sanggup untuk mencapainya. Aku yang cuman orang tidak dikenal, bisa merasakan menjadi orang normal. “Ayo!” Awan menarik tanganku untuk melanjutkan perjalanan ke wahana berikutnya. Didepan kami, sudah ada orang lain yang menunggu. Dia tersenyum padaku. Clarissa.
Semua berawal dari rumah Awan. Setelah pulang dari puncak, aku dan Awan berpamitan dengan Bang Nanang. Kami pun kembali ke indomaret untuk mengambil motorku yang ditinggal. Awalnya aku ingin langsung pulang, tapi Awan mengajakku ke tempat lain. “Rumahku lebih dekat. Kenapa gak santai dulu?” Agak ragu, cuman keputusanku adalah mengiyakan tawarannya. Lagipula hari minggu, tidak salah menerima tawarannya. Setiba di rumah Awan, aku sempat takjub dengan rumahnya yang begitu besar. “Kamu orang kaya ya?” Dia tidak menjawab tapi hanya menunjukkan senyuman diwajahnya. Ternyata beneran orang kaya. Rasa takjubku tidak berhenti disitu, aku melihat perabotan dirumahnya, dapurnya, bahkan ruangan – ruang lain yang tidak dimiliki oleh kalangan menengah ke bawah, membuatku memutuskan untuk berhenti memperdulikannya. Sampai pada ruang kamarnya, dia menunjukkan kasur king size yang sering digunakan untuk tidur. Aku langsung terlelap ketika menyentuh kasurnya.
Aku tertidur hampir dua jam. Begitu bangun, aku melihat Awan bolak – balik menyiapkan sesuatu. “Mau keluar?” Dia mengiyakan tanpa melihat kearahku, masih sibuk dengan persiapannya. “Oke, aku pulang ya.” Sebelum aku bangkit dari Kasur, Awan menunjuk sesuatu, dia menunjuk kearah ponselnya yang dekat denganku. Dia menyuruhku untuk memeriksa chat didalamnya. Ternyata itu adalah chat antara Awan dan Clarissa.
Clarissa: Kalian knp gak dtng pesta?
Awan: Kami party di tempat lain wkwkwk
Clarissa: Padahal aku mau
Awan: Mau apa?
Awan: Ooh
Awan: Gmn klo hari ini?
Awan: Sibuk?
Clarissa: Nggk
Awan: Oke amanah bornoe park
Awan: Jam 10 kami disana
Clarissa: Stiker jempol lucu*
Clarissa menanyakan tentangku dan Awan yang tidak datang ke pesta. Aku tidak tau dia mau apa, tapi kenapa Awan bisa langsung paham? Terus apa hubungannya sama aku? Apa Awan mau pamer kalau dia nge-date – Tunggu dulu! Apa maksudnya, “kami”? Ada yang aneh. “Aku cuman mau mastiin. Kamu pergi sama siapa?” Awan tidak menjawab, dia menatapku dan tersenyum. Ekpresinya sudah menjawab pertanyaanku.
Disinilah aku sekarang, Amanah borneo park. Salah satu taman hiburan yang ada di kota Banjarbaru. Tidak banyak tempat untuk bermain di kotaku, orang yang lahir dikota yang sama pasti pernah berkunjung paling tidak sekali seumur hidupnya ke taman yang sedang kami datangi sekarang, termasuk aku. Meski begitu, sudah lama sekali sejak terakhir aku datang, banyak perubahan yang terjadi. Lebih tepatnya aku tidak terlalu ingat apa saja isinya, saat itu aku masih kecil, jadi memoriku terbatas, hanya ada ingatan – ingatan samar.
Sejak sampai di taman, entah kenapa banyak orang yang menatap kearah kami. Aku pikir karena pakaian yang dipinjam Awan padaku terlalu mencolok, sehingga banyak orang yang membicarakannya, ternyata bukan. Setelah kusadari, mereka semua meilirik kearah Clarissa. Tidak hanya cowok, bahkan cewek sekalipun melirik kearahnya. Mungkin terpesona. Wajar saja, dia menggunakan pakaian yang tidak pernah kulihat disekolah, streetwear casual. Benar – benar cocok untuknya. Selain itu, dia baru saja memotong rambutnya. Kemungkinan karena pesta kemarin dia ingin terlihat berbeda, atau persiapan sebelum perpisahan? Mungkin juga.
“Apa nama potongannya?” Awan menanyakan sesuatu yang sangat ingin kutanyakan sejak pertama bertemu dengan Clarissa.
“Wolfcut. Katanya lagi tren.” Clarissa memainkan rambutnya. Sepertinya dia tidak terlalu mengerti tentang fashion. Mungkin potongan rambutnya adalah saran dari salon atau teman – temannya. “Cocok gak?”
“Hmm …, aku gak bisa nilai. Gimana menurutmu?”
Awan menatap padaku. Dia melempar tanggung jawab yang begitu besar padaku. Sekarang aku harus jawab apa? Memuji? Aku tidak pernah melakukan itu sebelumnya, terlebih ke seorang cewek. Jawab biasa saja agar terlihat netral? Mungkin akan aman, tapi bagaimana kalau Clarissa kecewa? Dia sudah effort sampai pergi ke salon segala. “Cocok, kamu terlihat cantik.” Awan dan Clarissa terdiam mendengar jawabanku. Apa pilihanku salah? Seharusnya aku pilih jawaban biasa saja. Suasana canggung ini harus diperjelas. “Kenapa?”
Clarissa memutar badannya membelakangiku. Sedangkan Awan, dia menatapku dengan tatapan sinis. “Ternyata kamu sepuh ya.” Apa aku membuat Clarissa marah? Tidak tau. Tidak ada yang menjelaskannya padaku.
“Ekhm. Ayo naik wahana itu!” Clarissa menunjuk kearah wahana flying fox. Takut dia semakin marah, aku mengiyakan saja. Awan pun setuju, dia cuman ikut – ikutan.
Antrian naik wahana yang Clarissa inginkan tidak begitu panjang. Hanya ada dua orang didepan kami. Kemungkinan mereka couple. Bukan kemungkinan lagi, tapi pasti mereka couple. Malah aneh kalu bukan. Baju mereka terlalu menarik perhatian. Baju cowonya menunjuk sisi kanan dengan tulisan, “I’am Hers.” Sedangkan baju cewenya menunjuk sisi kiri dengan tulisan, “He’s Mine.” Kalau aku berada ditengah – tengah mereka, apa aku akan menjadi orang ketiga? Tidak lucu kan kalau bertengkar hanya karena baju. Yah …, tapi aku tidak berhak mengatai mereka. Aku yang tidak mengerti soal percintaan, pasti tidak akan mengerti rasanya. Mungkin bagi mereka baju tersebut memiliki artinya sendiri. Arti yang tidak mungkin dimengerti oleh orang lain. Aku hanya merasa iri pada mereka.
Giliran kami tiba. Kalau sesuai urutan antrian, yang pertama naik adalah Awan, diteruskan Clarissa dan ditutup olehku. Sebenarnya kalau bisa menolak, ingin kutolak untuk naik wahana satu ini. Aku punya pengalaman yang cukup buruk. Meski ingatanku agak samar saat masih kecil, satu – satunya alasan aku yakin kalau pernah ke taman ini adalah karena kenangan tersebut. Aku tidak ingat kapan atau bagaimana situasinya, aku hanya ingat satu hal, aku tersangkut ditengah – tengah saat menaiki flying fox. Aku benar – benar takut saat itu, ada sekitar 5 menit aku tersangkut diatas, tidak bisa apa – apa, hanya bisa menunggu petugas membantuku. Mungkin karena badanku yang ringan, ditambah hembusan angin yang lumayan, membuat alatnya tidak mendapatkan cukup dorongan untuk melaju ke bawah. Aku trauma bukan karena takut ketinggian, tapi karena setiap orang yang lewat dibawahku selalu menertawakanku. Padahal saat itu hanya 5 menit, tapi aku merasa sudah seharian tergantung.
Awan dan Clarissa sudah meluncur dengan selamat. Padahal aku ingin kabur diam – diam saat mereka tidak lihat, tapi Awan berteriak sangat kencang padaku. “Ayo giliranmu!” Orang – orang yang awalnya tidak memperhatikan, langsung menatap kearahku. Kalau aku kabur, kemana perginya harga diriku? Aku tidak punya pilihan lain selain terus maju. Selain itu, ada seorang anak kecil yang antri dibelakangku, dia menatapku dengan muka bingung. Dia pasti berpikir kalau aku adalah masa depan yang paling tidak dia inginkan kalau aku mundur. Aku akan naik. Bukan karena diriku, tapi demi anak kecil dibelakangku, akan aku tunjukkan apa itu keberanian. “WOOO!!!”
“Seru kan? Gimana kalau naik lagi?”
“Gak!” Padahal aku tau kalau Clarissa cuman bercanda, tapi secara reflek aku menolaknya. Sebenarnya apa yang aku takutkan sih? Sial! Sekarang aku harus membuat alasan. “Masih banyak wahana lain yang belum dicoba. Hehe.”
“Betul tuh! Gimana kalau kita ke 3D Art? Lumayan bisa foto – foto buat bikin story.” Untung saja Awan berinisiatif meneruskan kalimatku. Jujur aku tidak punya ide harus ke wahana mana selanjutnya.