bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.
sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.
namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?
novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perdebatan di kelas
Bel pertama berbunyi.
Seorang guru laki-laki berusia sekitar 40 tahun masuk ke kelas dengan langkah tegap. Wajahnya keras, kumis tipis menghiasi bibir atas, dan matanya menyapu ruangan seperti elang mencari mangsa.
"Selamat pagi, anak-anak."
"Selamat pagi, Pak Ucok" seru siswa serempak.
Pak Ucok merupakan guru Matematika, ja meletakkan buku di meja. Matanya langsung tertuju pada Alessandra yang duduk dengan tenang di barisan belakang.
"Kita punya murid baru, ya. Valeria Allegra, benar?"
"Iya, Pak," jawab Alessandra datar. Tidak ada gugup, tidak ada senyum.
"Baik. Sebelum kita mulai, saya mau lihat kemampuan dasar kamu. Soal nomor 5 di halaman 7. Kerjakan di papan tulis."
Alessandra berdiri. Langkahnya pelan tapi pasti menuju papan tulis. Kapur putih dia ambil, lalu menulis dengan rapi yang memiliki tulisan indah, terukur, seperti mesin ketik.
Soal itu tentang turunan trigonometri. Untuk siswa SMA kelas 2, tergolong sulit. Tapi Alessandra menyelesaikannya dalam 45 detik.
Langkah demi langkah. Jelas. Rapi. Sempurna.
Pak Hendro mengangguk. "Bagus. Sangat bagus. Kamu—"
"Pak, saya curiga dia nyontek."
Suara itu terdengar dari bangku depan, dua baris di sebelah kiri.
Seorang siswi dengan rambut panjang diikat tinggi, wajah cantik dengan riasan tebal terlalu tebal untuk standar sekolah. Matanya yang tajam menatap Alessandra dengan busur senyum tipis penuh kemenangan.
Fiona. Ketua pemandu sorak, Populer, kaya, dan terbiasa menjadi pusat perhatian.
"Nyontek? Bagaimana caranya?" tanya Pak Ucok.
"Lihat saja, Pak. Murid baru ini belum pernah kita lihat sebelumnya. Tiba-tiba bisa menjawab soal sulit? Pasti sudah punya kunci jawaban atau contek-an di kertas."
Bisik-bisik mulai terdengar. Beberapa siswa menoleh ke Alessandra, ada yang curiga, ada yang ikut-ikutan.
Alessandra tidak bereaksi.
Dia hanya berdiri di depan papan tulis, kapur masih di tangan, matanya menatap Fiona dengan dingin.
"Pak," ucapnya akhirnya, suaranya datar, "saya bisa jelaskan proses pengerjaannya secara lisan. Tanpa melihat catatan. Apakah itu cukup untuk membuktikan bahwa saya tidak nyontek?"
Pak Ucok mengangkat alis. "Silakan."
Alessandra mulai menjelaskan.
Dengan suara yang tenang dan terstruktur, dia menguraikan konsep turunan dari dasar, menjelaskan mengapa rumus itu digunakan, bahkan memberikan dua alternatif cara penyelesaian. Semua tanpa jeda, tanpa "um" atau "eh", seperti seorang profesor universitas yang sedang mengajar.
Kelas menjadi hening.
Fiona terdiam. Mulutnya terbuka sedikit, mencoba mencari celah, tapi Alessandra berbicara terlalu sempurna.
"Jadi," Alessandra menyelesaikan penjelasannya, "jawaban akhirnya adalah 12x² + 6x - 5. Ada pertanyaan, Mbak Fiona?"
Mbak. Bukan "kak" atau "Lo". Formal. Dingin. Merendahkan dengan sopan.
Fiona menggigit bibir.
"T—tidak ada," jawabnya kesal.
"Kalau begitu," Pak Ucok berdeham, "kembali ke kursi, Allegra. Nilai A untukmu hari ini."
Alessandra berjalan kembali. Sesekali jarinya menyentuh kacamata ke atas.
Musuh pertama, pikirnya. Fiona. Catat.
Bel berbunyi. Berganti guru.
Pelajaran Bahasa Indonesia dengan Bu Rina yang merupakan guru muda rambut keriting dan berkacamata tebal.
Bu Rina tersenyum ramah pada Alessandra. "Allegra, kami sedang belajar tentang puisi modern. Coba buat satu bait spontan tentang 'kesendirian', ya."
Fiona langsung bersuara. "Bu, jangan terlalu mudah. Masa puisi cuma satu bait? Suruh dia bikin tiga bait dan harus puitis."
Bu Rina mengerutkan kening. "Fiona, itu—"
"Boleh, Bu," potong Alessandra dingin. "Tiga bait. Puitis. Spontan."
Dia menutup mata beberapa detik. Kelas hening.
Lalu dia membuka mata, melihat ke luar jendela, dan berkata dengan suara yang pelan tapi jelas:
"Aku duduk di singgasana yang sunyi,
Mahkota besi membekap hati,
Seratus pasukan menjaga batas,
Namun tak satu pun bisa menyentuh raga yang lepas."
Bait pertama.
"Hujan jatuh tanpa suara,
Teman setiaku hanyalah kabut di pagi buta,
Mereka bilang aku terlalu tinggi,
Tapi mereka tak tahu ini penjara tanpa dinding."
Bait kedua.
"Jika kesendirian adalah takhta,
maka aku adalah ratu yang paling berkuasa,
Namun di malam hari, saat bintang padam,
Aku hanya gadis yang lupa apa arti 'pulang'."
Bait ketiga.
Kelas sunyi.
Bu Rina membelalak. Beberapa siswa terpukau. Mutiara dan Laras saling pandang dengan mata berkaca-kaca. puisi itu terdengar terlalu jujur, terlalu menyakitkan untuk seseorang seusia Vale.
Fiona tidak bisa berkata apa-apa.
"Bagus..." Bu Rina berbisik. "Bagus sekali, Allegra. Itu... di luar ekspektasi."
Alessandra merapikan kacamata.
"Terima kasih, Bu. Apakah cukup?"
"Sangat cukup."
Dia duduk kembali.
Tapi sebelum pantatnya menyentuh kursi, suara Fiona terdengar lagi.
"Harusnya dia jelasin maknanya, Bu. Jangan-jangan dia cuma hafalin dari internet."
Alessandra tidak menoleh.
Tapi suaranya terdengar jelas, dingin, dan tajam seperti pisau:
"Makna bait pertama menggambarkan seorang pemimpin yang terisolasi oleh kekuasaannya sendiri. Bait kedua adalah kritik sosial terhadap mereka yang menganggap kesepian adalah hak istimewa. Bait ketiga adalah pengakuan bahwa di balik setiap topeng yang kuat, ada manusia biasa yang haus akan kasih sayang."
Dia berhenti.
"Apakah Mbak Fiona puas? Atau masih ada yang ingin Mbak Fiona tanyakan tentang puisi sederhana seorang gadis SMA?"
Kata "sederhana" diucapkan dengan sarkasme yang tidak bisa disangkal.
Mutiara menutup mulut, menahan tawa.
Fiona merah padam.
"Saya... tidak ada," jawabnya terbata.
Musuh baru dikonfirmasi, pikir Alessandra. Dan musuh ini bodoh.
Bel istirahat. Alessandra tidak bergerak dari tempat duduknya. Dia membuka buku tebal tentang sejarah Ateris, pura-pura membaca sambil mengamati kelas dengan sudut matanya.
Mutiara dan Laras mendekat.
"Vale..." bisik Mutiara. "Lo... lo hebat banget."
"Fiona belum pernah diliatin kayak gitu," tambah Laras dengan nada kagum. "Biasanya dia yang ngerendahin orang."
Alessandra menutup bukunya. "Fiona tidak suka saya?"
Mutiara mengangguk. "Dia terbiasa jadi yang tercerdas dan tercantik di kelas. Datang lo yang lebih cantik dan lebih pinter... ya, dia pasti iri."
"Awas, Vale. Fiona punya pengaruh," Laras menambahkan serius. "Temen-temennya banyak. Nanti bisa aja dia nyuruh anak-anak lain buat nyusahin lo."
Alessandra merapikan kacamata.
"Biarkan saja."
Dua kata. Singkat. Padat. Dan terdengar sangat... berbahaya.
Laras dan Mutiara saling pandang.
Ada sesuatu pada Vale yang baru ini. Sesuatu yang membuat mereka takut sekaligus kagum.
Siapa sebenarnya Vale sekarang? pikir Mutiara.
Dan apa yang terjadi selama seminggu dia hilang? pikir Laras.
Alessandra kembali membaca bukunya.
Tapi di balik rimless glasses dengan rantai emas itu, matanya terus bergerak dan merekam setiap wajah, setiap bisik, setiap tatapan curiga.
Fiona.
Anak-anak populer di baris depan.
Guru-guru yang tidak tegas.
Dan satu cowok di pojok belakang yang tidak pernah bicara sepanjang pelajaran.
Dia merasakannya. Hari pertama, dan sudah ada yang tidak suka padanya.
Tapi itu tidak masalah.
Valeria Alessandra terbiasa dengan kebencian.
Dia bahkan menikmatinya.