"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."
Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.
Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.
"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."
Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Salju di Sudirman
Malam itu, langit Jakarta yang biasanya penuh polusi berubah menjadi kelabu pekat. Angin bertiup lebih kencang di sepanjang jalan Sudirman, seolah alam tahu bahwa predator tertinggi sedang menuju singgasananya.
Gue duduk di kursi belakang SUV putih milik Leo. Di depan gue, layar-layar monitor menampilkan denah gedung Atmaja Group yang sudah berubah menjadi benteng kematian.
"Oke, Bosque, dengerin rencana gue yang jenius ini," Leo memutar tabletnya ke arah gue. "Gedung ini sudah dikepung oleh tiga lapis keamanan Naga Selatan. Di lobi ada tentara bayaran, di lantai tengah ada unit elit Kuntilanak Langit, dan di lantai paling atas... ada si kakek bertopeng itu."
Leo menjentikkan jarinya. "Pasukan Serigala Putih gue sudah dalam posisi. Kami akan pakai formasi Snowstorm. Kita akan bikin gedung itu 'putih' total."
Gue nengok ke samping. Hana sedang mengasah sabitnya, suaranya yang beradu dengan batu asah menciptakan nada yang mengerikan. Dia nggak bicara sepatah kata pun sejak dari rumah Eyang Brata, tapi auranya sudah seperti malaikat pencabut nyawa.
"Hana, lu masuk lewat jalur udara bareng tim Leo," ucap gue tenang. "Gue masuk lewat pintu depan."
"Lu mau bunuh diri?" Hana akhirnya buka suara, matanya tajam menatap gue. "Masuk lewat depan itu sama saja lu nyerahin nyawa ke tangan mereka secara sukarela."
Gue nyengir tipis, sambil ngerasain getaran tenaga dalam yang meluap-luap di dada gue. "Gue nggak mau nyelinap lagi, Hana. Gue mau mereka semua liat siapa yang datang. Gue mau mereka ngerasain ketakutan yang sama kayak yang Baron sama Kian rasain sebelum mereka pergi."
Leo tertawa santai, tapi tangannya sibuk mengokang pistol peraknya. "Gaya lu emang naga banget, Tuan Muda. Oke, tim Serigala Putih bakal cover dari titik buta. Kalau ada sniper, biar gue yang urus. Lu fokus aja jalan terus ke atas."
Begitu SUV kami berhenti tepat di depan gerbang utama gedung Atmaja Group, suasana mendadak sunyi. Para penjaga di depan lobi—sekitar tiga puluh orang bersenjata lengkap—langsung mengarahkan moncong senjata ke arah mobil kami.
Gue turun dari mobil. Gue nggak pake baju tempur, cuma kemeja hitam yang lengannya gue gulung sampai siku, nunjukin tato naga yang sekarang berpendar perak kebiruan.
"Berhenti di sana!" teriak salah satu penjaga. "Siapa kamu?!"
Gue nggak jawab. Gue terus jalan. Setiap langkah yang gue ambil bikin aspal di bawah kaki gue retak. Hawa dingin yang luar biasa mulai menyebar dari tubuh gue, membuat udara di sekitar lobi yang tadinya panas jadi membeku. Embun beku mulai muncul di kaca-kaca gedung.
"Tembak! TEMBAK!"
RATATATATATA!
Ratusan peluru melesat ke arah gue. Tapi sebelum peluru-peluru itu nyentuh kulit gue, mereka mendadak melambat di udara, terperangkap dalam medan magnetik energi naga yang gue pancarkan, lalu jatuh berdentum ke lantai satu per satu.
Gue ngangkat tangan kanan gue. "Minggir."
Gue sentil udara di depan gue. BOOM! Gelombang kejut yang dahsyat menghantam barisan penjaga itu, melempar mereka semua hingga menabrak dinding kaca lobi sampai hancur berkeping-keping.
Di saat yang sama, dari atas gedung, puluhan bayangan putih terjun bebas menggunakan tali fast-rope. Itu Pasukan Serigala Putih. Leo mendarat di atas lampu gantung lobi yang besar, menembakkan peluru-peluru peraknya dengan akurasi gila.
"Pesta dimulai, Tuan Muda! Gaspol ke lantai atas!" teriak Leo sambil salto di udara.
Hana muncul dari balik pilar, sabitnya menyambar leher dua orang musuh dalam satu gerakan putar. Dia nggak liat gue, dia cuma fokus membantai siapa pun yang menghalangi jalan.
Gue terus berjalan menuju lift VIP. Di depan pintu lift, ada seseorang yang udah nunggu. Dia bukan prajurit biasa. Dia adalah pria bertubuh raksasa dengan kapak besar di pundaknya.
"Langkahmu berhenti di sini, Naga Kecil," geram si raksasa.
Gue natep dia datar. Mata gue berpendar perak terang. "Gue lagi nggak mood buat main-main. Jadi tolong... jangan bikin gue harus ngotorin lantai yang baru dibersihin Pak Danu semalam."
Lantai di bawah kaki gue mulai bergetar hebat. Naga yang sesungguhnya baru saja sampai di depan pintu rumahnya.
Si raksasa itu mengayunkan kapak besarnya dengan raungan yang menggetarkan kaca lobi. Angin sabetannya saja cukup untuk membelah meja resepsionis di belakang gue jadi dua. Tapi di mata gue, gerakannya lambat. Sangat lambat.
Gue nggak menghindar. Gue cuma angkat tangan kiri, menangkap mata kapak yang lebarnya hampir seukuran badan gue itu dengan telapak tangan kosong.
PANGGG!
Suara benturannya seperti besi menghantam baja. Telapak tangan gue nggak lecet sedikit pun. Sebaliknya, kapak raksasa itu retak seribu. Mata si raksasa melotot, nyaris keluar dari kelopaknya.
"Kekuatan... macam apa ini?" bisiknya gemetaran.
"Kekuatan yang lu ambil dari orang-orang jujur yang cuma pengen kerja," jawab gue dingin. Gue remas mata kapak itu sampai hancur berkeping-keping di genggaman gue. Gue kasih satu pukulan ke ulu hatinya—nggak keras, tapi gue salurin sedikit getaran naga ke dalamnya.
Si raksasa itu terpental masuk ke dalam lift VIP yang tertutup, menjebol pintunya sampai ringsek ke dalam. Dia pingsan seketika.
"Lift-nya rusak, terpaksa lewat tangga," gumam gue sambil nengok ke arah Leo yang lagi asik baku tembak sambil gelantungan di kabel dekorasi.
"Gaya banget lu, Tuan Muda! Hajar terus ke atas! Gue dan Serigala Putih bakal tahan lantai 1 sampai 50!" teriak Leo sambil nembak dua Kuntilanak Langit yang baru muncul dari plafon.
Gue melesat naik lewat tangga darurat. Setiap langkah gue melompati satu lantai sekaligus. Di lantai 60, Hana sudah berdiri di tengah tumpukan musuh yang tumbang. Gaun putihnya sekarang benar-benar merah, sabitnya meneteskan darah.
"Ada unit khusus di lantai 80. Hati-hati, mereka punya senjata pelumpuh saraf," ucap Hana tanpa menoleh ke gue. Dia langsung melesat lagi ke atas, menghilang di balik kegelapan lorong.
Gue sampai di lantai paling atas. Lantai 100. Kantor CEO.
Begitu pintu terbuka, suasananya mendadak berubah. Nggak ada suara tembakan, nggak ada bau darah. Cuma ada wangi teh melati yang sangat menenangkan. Pintu jati besar menuju ruangan Nadia terbuka lebar.
Gue masuk. Di kursi CEO kebanggaan almarhum Papa Nadia, duduk seorang pria dengan topeng hitam menutupi wajahnya. Dia sedang menuang teh ke dalam cangkir porselen yang elegan. Di sampingnya, Reno duduk bersimpuh di lantai, gemeteran kayak anjing kejepit pintu.
"Akhirnya datang juga," suara si pria bertopeng itu terdengar halus, tapi penuh tekanan mental. "Duduklah, Arka. Tehnya masih hangat."
"Di mana Nadia?" tanya gue, suara gue berat dan bergetar karena nahan getaran tanah yang mulai muncul lagi di bawah kaki gue.
Pria itu melepas topengnya perlahan. Wajahnya... persis seperti foto yang gue liat di rumah Eyang Brata. Wajah pemuda di foto hitam putih itu, seolah waktu nggak pernah berjalan satu detik pun buat dia. Kulitnya kencang, matanya tajam namun kosong.
"Nadia aman di ruangan sebelah. Aku bukan monster seperti Reno yang suka menyiksa wanita," Sakti Langit tersenyum tipis. "Aku hanya ingin bicara dengan 'cucu' dari rekan lama yang sudah sangat lama aku lupakan."
Tiba-tiba, dia menjentikkan jarinya. Tik.
Gue langsung masang kuda-kuda, siap nahan segel. Tapi kali ini beda. Nggak ada serangan saraf. Sebaliknya, seluruh ruangan itu mendadak gelap total, dan muncul proyeksi bayangan raksasa naga hitam yang melilit seluruh gedung.
"Lonceng itu hanya pembuka pintu, Arka," ucap Sakti Langit, dia berdiri dan berjalan mendekat. "Tapi kamu lupa, aku adalah pemilik kunci gudang senjatanya. Kekuatan Naga Utara yang kamu punya itu... sebenarnya adalah bagian dari jiwaku yang dicuri kakekmu seratus tahun lalu."
Gue terpaku. Proyeksi bayangan itu nunjukin kalau naga perak di tubuh gue mulai bereaksi nggak stabil, seolah mau keluar dan balik ke arah Sakti Langit.
"Sekarang," Sakti Langit mengangkat tangannya, dan sebuah energi gelap berbentuk sabit raksasa muncul di atas kepalanya. "Kembalikan apa yang menjadi milikku, atau aku akan merobek jiwamu keluar dari raga ini."
Gue nyengir, meski seluruh tubuh gue rasanya kayak mau meledak karena energi yang ditarik paksa. "Kakek gue nggak nyuri, Sakti. Dia 'mengamankan' kekuatan ini karena lu udah nggak layak jadi manusia."
Gue hentakkan kaki ke lantai. Cahaya perak meledak dari tubuh gue, melawan kegelapan Sakti Langit.
"Leo! Hana! Masuk sekarang!" teriak gue lewat HT.
Gue tahu, pertarungan satu lawan satu ini adalah bunuh diri. Gue butuh 'Serigala' dan 'Assassin' gue buat mecahin fokus kakek-kakek awet muda ini.