NovelToon NovelToon
VENA - AIR YANG MATI

VENA - AIR YANG MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Fantasi
Popularitas:147
Nilai: 5
Nama Author: Catnonimous

Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 : Pencarian korban dan mencari jalan

Di dalam ruangan yang terjepit di antara reruntuhan, udara terasa semakin tipis. Bau tanah basah dan besi berkarat memenuhi hidung. Aris dan Liora terduduk di lantai beton yang lembap, dengan beberapa peti kosong berserakan, napas mereka memburu. Pikiran Aris terus melayang pada Jaka, Maman, dan yang lainnya.

"Aris, lengan kamu berdarah." bisik Liora. Suaranya gemetar tapi ia mencoba tetap tenang.

Dengan menggunakan sobekan kain dari tas perlengkapannya, Liora mulai membalut luka sayatan di lengan Aris. Aris meringis saat kain itu menekan lukanya yang masih mengeluarkan darah. Setelah perban darurat itu terikat kencang, Aris mencoba menggerakkan lengannya. Sakit, tapi setidaknya perdarahannya mulai berkurang.

"Terima kasih, Liora. Kita harus cari jalan keluar sekarang. Kita tidak mungkin disini terus, udaranya semakin pengap," Ujar Aris sambil bangkit berdiri dengan tumpuan pada dinding.

...----------------...

Di atas permukaan, situasi jauh lebih kacau. Suara baling-baling helikopter dari stasiun televisi meraung-raung di langit, merekam pemandangan dari ketinggian. Lensa kamera menangkap gambaran beberapa lubang amblasan di sepanjang jalur proyek galian pemerintah. Namun, yang paling besar adalah dua lubang, satu di lokasi kerja Aris dan satu lagi di area bekas pabrik tua di pinggiran kota.

Berita terbaru menyiarkan angka korban yang terus bertambah: 82 orang luka-luka, 20 orang dinyatakan meninggal dunia, dan puluhan relawan lainnya masih dinyatakan hilang. Wartawan berkerumun di balik garis polisi, menunggu laporan resmi dari kepala proyek yang masih sibuk mendata para korban.

Pemerintah segera menurunkan tim dari Badan Bencana Nasional (BBN) untuk mengambil alih situasi. Di tengah kerumunan, muncul seorang pria dengan jaket kulit hitam dan tatapan tajam. Ia adalah Rasyid, seorang detektif negara yang diutus langsung dari pusat. Tugasnya bukan sekadar membantu evakuasi, melainkan menyelidiki apakah ada unsur sabotase di balik kehancuran proyek vital ini.

"Pak! Bagaimana penanganan untuk korban yang masih tertimbun?" teriak seorang wartawan sambil menyodorkan mikrofon.

Rasyid berhenti sejenak, wajahnya datar. "Kami masih mengumpulkan data dan menunggu konfirmasi dari tim teknis di lapangan, termasuk laporan detail dari kepala proyek. Saat ini prioritas kami adalah stabilisasi tanah di sekitar area amblas."

Tanpa memedulikan pertanyaan lanjutan yang bertubi-tubi, Rasyid langsung berjalan masuk ke area terlarang, melewati garis kuning polisi dengan langkah tegas.

...----------------...

Kembali ke ruang bawah tanah, Aris mencoba mendorong pintu besi tempat mereka masuk tadi. Ia menekan dengan seluruh berat badannya, namun pintu itu tidak bergeming sedikit pun. Suara decit logam beradu dengan tumpukan tanah dan beton di balik pintu itu menandakan akses mereka telah tertutup total.

"Sial. Reruntuhannya terlalu berat," keluh Aris putus asa.

Liora terus menekan tombol radio di tangannya. "Halo? Jaka? Jawab kalau mendengar..." Namun, yang terdengar hanyalah suara statis yang mati. Liora menunduk, matanya berkaca-kaca memikirkan rekan-rekan mereka yang mungkin terkubur hidup-hidup.

Aris mencoba menyapu setiap sudut langit-langit dengan senternya. Matanya menangkap dua lubang ventilasi kecil di bagian atas dinding. Ia menyeret sebuah peti kayu tua untuk dijadikan pijakan dan memanjatnya.

Pada ventilasi pertama, Aris mendapati salurannya tersumbat total oleh bongkahan dari dalam. Ia turun dan menggeser peti itu ke ventilasi kedua yang letaknya agak lebih tinggi. Dengan sisa tenaganya, ia menarik tubuhnya ke atas dan mengintip ke dalam lubang itu.

"Liora... lihat," panggil Aris dengan suara parau.

Liora ikut memanjat di samping Aris. Dari celah ventilasi yang sempit dan berdebu itu, terlihat sebuah titik cahaya yang sangat kecil dan remang-remang. Cahaya itu mungkin berasal dari lampu listrik atau pantulan sinar matahari yang masuk dari celah reruntuhan di kejauhan.

"Itu cahaya," bisik Liora dengan harapan yang mulai muncul. "Kalau ada cahaya yang masuk, berarti ada celah udara yang tembus ke luar."

Aris mengangguk. Meski lubangnya sangat sempit dan jalurnya belum pasti, itulah satu-satunya peluang mereka untuk keluar dari ruangan pengap ini sebelum beton di atas kepala mereka benar-benar runtuh.

Aris merogoh tasnya, mengambil kunci pipa besar dan mulai mencongkel baut-baut penutup ventilasi itu satu per satu. Dengan satu tarikan kuat, besi penutup itu lepas. Namun, celahnya sangat sempit.

"Liora, tas besar kita tidak akan muat. Bawa yang penting saja, sisanya tinggalkan," perintah Aris tegas.

Liora segera memindahkan beberapa peralatan medis kecil, radio yang rusak, dan tumpukan denah ke dalam tas pinggang kecilnya. Sebelum masuk, Aris memintanya memeriksa kembali denah struktur kota lawas yang ia miliki. "Coba cek posisi kita, apa ruangan ini terdaftar?"

Liora menggeleng cepat setelah membolak-balik kertas itu. "Tidak ada, Aris. Secara teknis, ruangan ini seharusnya hanya tanah padat."

Aris mendengus, lalu menyapu dinding ruangan dengan senternya sekali lagi. Matanya terpaku pada sebuah goresan di balik lapisan lumut tipis. Ia mengusapnya pelan, menyingkap tulisan tangan yang tampak tua:

"Pemusnahan : 1980" — Dr. Stela

"Liora, lihat ini," bisik Aris.

Liora mengerutkan dahi, raut wajahnya penuh tanda tanya. "Pemusnahan? Dr. Stela? Siapa dia? Aku tidak pernah mendengar nama itu dalam sejarah pembangunan kota yang saka baca."

Aris tidak punya waktu untuk berpikir lebih jauh. "Lupakan dulu. Kita harus bergerak."

Aris masuk lebih dulu ke dalam lorong ventilasi yang sempit, disusul Liora. Suara napas mereka yang berat bergema di dalam saluran logam itu. Sambil merangkak, Aris bertanya pelan, "Kamu yakin tidak tahu siapa Stela itu? Kamu kan paham tata kota, sejarahnya juga mungkin."

"Sama sekali tidak, Aris. Nama itu tidak ada di arsip mana pun," jawab Liora dari belakang.

Aris terus merangkak menuju sumber cahaya yang mereka lihat tadi. Namun, begitu sampai di ujung, harapan Aris pupus. Cahaya itu bukan matahari, melainkan sebuah lampu bohlam kecil yang sudah redup di ujung jalur buntu. Aris menyandarkan kepalanya di dinding besi, merasa putus asa.

Tapi, sesaat sebelum ia memutuskan untuk berbalik, ia mendengar suara samar. Suara orang berbincang.

"Diam, Liora. Dengar itu," bisik Aris.

Ia merangkak sedikit lebih maju, tepat di atas sebuah jeruji besi di lantai ventilasi. Di bawah sana, terdapat sebuah ruangan yang tampak seperti kamar mandi tua yang sudah kotor dan terbengkalai. Aris memberikan isyarat bahwa mereka menemukan jalan keluar.

Aris mencoba turun perlahan, namun karena posisi kepalanya yang lebih dulu keluar, ia kehilangan keseimbangan. Bugh!

Aris terjatuh ke lantai kamar mandi dengan posisi yang tidak elit dan tampak tidak elegan.

"Awww..." rintihnya pelan.

"Aris? Kamu kenapa?" bisik Liora khawatir.

"Kamu tidak lihat saya jatuh?" jawab Aris ketus sambil berbisik. Liora yang melihat posisi Aris dari atas tidak bisa menahan tawa kecil yang cekikikan. "Cepat turun dan berhenti tertawa!"

Liora turun dengan lebih hati-hati. Begitu mereka berdiri, bau kimia yang aneh dan menyengat langsung menyerang indra penciuman mereka. Aris segera memberikan saputangan miliknya kepada Liora untuk menutupi hidung.

Mereka kembali mendengar suara percakapan dari balik dinding, namun masih terlalu pelan. "Bagaimana kalau kita minta tolong?" bisik Liora. "Mereka pasti tahu kejadian di atas. Kita bisa bilang kita relawan."

"Jangan buru-buru. Tempat ini aneh," cegah Aris.

Mereka melangkah menuju satu-satunya pintu yang bertuliskan EXIT. Aris mencoba memutar kenopnya, tapi terkunci rapat. Karena pintu itu terbuat dari aluminium tipis, Aris menggunakan kunci besarnya untuk membengkokkan pinggiran pintu hingga gerendelnya lepas.

Begitu pintu terbuka, Aris mengintip ke luar. Koridor itu sepi, dengan pencahayaan minim yang berkedip-kedip. Mereka berjalan perlahan menyusuri lorong itu hingga menemukan tiga buah pintu: dua saling berhadapan.

Pintu B1 di sisi kiri dan B2 kanan, serta satu lagi di ujung lorong.

Aris memilih pintu sebelah kiri. Berbeda dengan pintu sebelumnya, ini adalah pintu besi berat, mirip dengan pintu yang mereka gunakan untuk berlindung saat tanah amblas tadi.

Di dalam ruangan itu, mereka menemukan rak-rak yang dipenuhi arsip tua yang berdebu. Liora dengan cekatan membuka salah satu map yang tampak menonjol. Matanya membelalak. Di sana tertulis nama yang sama dengan yang ada di tembok tadi: Dr. Stela.

"Aris, lihat ini. Dokumen tahun 1980... isinya tentang penelitian sampel air liur korban untuk program pemusnahan," Liora membacanya dengan suara gemetar.

Mereka berdua membeku, mencoba mencerna informasi gila itu di tengah krisis air yang sedang terjadi. Tiba-tiba, suara klik keras terdengar dari arah koridor. Suara pintu terbuka, diikuti langkah kaki yang mantap menuju ruangan arsip tempat mereka berada.

...****************...

1
Anak_misterius😑
bagus novel nya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!