Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.
Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26:Memulihkan Fondasi Kultivasi
Chen Lin membuka matanya dengan sangat pelan.
Dengan napas yang tertahan, ia memejamkan mata kembali, mencoba menyelami kedalaman dirinya sendiri.
Ia memfokuskan niat, menarik kesadarannya menjauh dari dunia fana dan melangkah masuk ke dalam lautan kesadaran yang biasanya megah dan berkilauan bagai galaksi tak berujung. Namun, apa yang ditemukannya di sana membuatnya terpaku dalam sunyi.
Lautan kesadaran itu kini tak lebih dari sebuah kolam keruh yang sunyi. Fondasi kultivasinya, yang dahulu kokoh bagaikan pilar langit, kini tampak retak dan rapuh, dipenuhi jelaga hitam sisa-sisa badai spasial.
Pandangannya beralih lebih dalam, menuju dantian-nya, pusat dari segala kekuatannya. Di sana, pada bola energi yang seharusnya berputar dengan keagungan kosmis, tampak garis-garis retakan kecil yang menjalar bagai jaring laba-laba yang mematikan.
Retakan-retakan itu adalah bekas luka yang ditinggalkan oleh kekuatan ruang, robekan dimensi yang hampir saja mengubah eksistensinya menjadi abu.
Jika bukan karena Universe Star Body—Tubuh Bintang Alam Semesta—miliknya yang bangkit di saat-saat terakhir, memancarkan cahaya astral purba untuk membungkus dan melindungi sisa hidupnya, Chen Lin tahu ia tidak akan pernah membuka matanya lagi di dunia ini.
Tubuhnya akan hancur menjadi debu kosmis, tersapu di antara lipatan waktu. Namun, harga yang harus dibayar untuk keselamatan itu sangatlah mahal. Basis kultivasinya telah merosot tajam, jatuh bebas dari Tingkat 5 Marrow Purification hingga terhempas ke titik nadir di Tingkat 1.
"Kultivasiku... turun separah ini?"
Bisikan itu lolos dari celah bibirnya yang kering. Nada suaranya bergetar di antara ketidakpercayaan dan kekesalan yang mendalam. Kata-kata itu terdengar asing di telinganya sendiri, layaknya sebuah ratapan dari seorang raja yang terbangun dalam tubuh seorang pengemis.
Kemarahan membakar dadanya, bersaing dengan rasa sakit dari dantian-nya yang terus berdenyut ngilu. Mengapa takdir harus membawanya ke titik serendah ini? Dari seorang kultivator yang menatap bintang-bintang, kini ia harus merangkak kembali dari lumpur dasar.
Chen Lin tahu betul, meratapi nasib tidak akan pernah menjahit kembali retakan di dantian-nya. Ia harus segera memulihkan diri. Setiap detik yang terbuang dengan fondasi yang terluka adalah racun yang akan mempermanenkan cacat pada kultivasinya.
Namun, saat ia berniat untuk menyilangkan kakinya dan mulai menarik energi spiritual di sekitar, ia mendadak ragu.
Dinding kamar ini terlalu tipis. Di balik sekat kayu tua di sebelah ruangannya, terdengar napas yang teratur dan berat milik Kakek Gu, serta napas halus dan ringan milik Xiao Yu.
Dua jiwa fana yang telah menyelamatkannya dari tepi kematian saat ia terkapar tak berdaya di pinggir desa. Mereka adalah orang-orang biasa, yang dunianya hanya sebatas menanam padi dan mengumpulkan kayu bakar.
Jika Chen Lin mulai memaksakan penyerapan energi spiritual di tempat ini, fluktuasi energi yang tercipta sekecil apa pun itu pasti akan mengganggu tidur lelap mereka, atau bahkan menakuti mereka dengan tekanan mental yang tak sengaja terpancar.
"Mereka telah memberiku tempat berteduh," batin Chen Lin, matanya melembut sesaat menatap dinding pembatas.
"Aku tidak boleh membawa badai dunia kultivasi ke dalam ketenangan hidup mereka yang sederhana."
Dengan kehati-hatian yang luar biasa, Chen Lin menggeser tubuhnya. Ia menyelinap keluar melalui jendela kayu yang berderit pelan, menyamarkan suaranya dengan embusan angin malam.
Begitu kakinya menyentuh tanah berumput di luar, ia bergerak bagai bayangan yang ditiup angin, melesat menuju bukit di belakang rumah mereka.
Puncak bukit itu sepi dan dingin. Pohon-pohon pinus tua berdiri tegak bagai penjaga malam, daun-daunnya berbisik ketika disapa angin. Di tempat inilah, di bawah kesaksian rembulan yang mulai meredup, Chen Lin duduk bersila di atas sebuah batu datar yang dingin.
Ia menarik napas dalam-dalam, membuka pori-pori tubuhnya, dan mulai mengoperasikan teknik kultivasinya. Namun, begitu ia mencoba menarik esensi spiritual dari udara sekitar, alisnya langsung berkerut dalam.
"Mengapa... mengapa esensi di tempat ini begitu tipis?" gumamnya dalam hati, dipenuhi rasa kecewa yang menyesakkan.
Udara di Desa Dahe memang bersih, namun kandungan energi spiritualnya sangat tipis, layaknya setetes air di tengah gurun pasir yang luas.
Esensi spiritual yang mengalir ke dalam tubuhnya terasa begitu kikir, harus disaring berkali-kali hanya untuk mendapatkan sebutir energi murni yang dapat disalurkan ke dalam dantian-nya yang retak.
Setiap kali energi itu mengalir melewati retakan tersebut, rasa perih yang membakar menjalar ke seluruh sarafnya. Namun Chen Lin tidak mengeluh.
Dengan keteguhan hati, ia memandu energi astral dari sisa-sisa kekuatan Universe Star Body-nya untuk mengikat dan menjahit kembali luka-luka internalnya, perlahan demi perlahan, setetes demi setetes.
Ketika semburat merah dan jingga mulai memecah kegelapan di ujung timur, menandakan fajar yang mulai menjemput pagi buta, Chen Lin menghentikan meditasinya.
Ia Mengembuskan napas keruh yang membawa sisa-sisa kotoran dari dalam tubuhnya. Tanpa menunggu matahari benar-benar terbit, ia bergerak kembali ke bawah bukit, menyelinap masuk melalui jendela yang sama, dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang jerami.
Saat pintu kamarnya diketuk perlahan oleh tangan mungil Xiao Yu beberapa saat kemudian, Chen Lin membuka matanya dengan berpura-pura menguap, menampilkan wajah seorang pemuda biasa yang masih mengantuk.
"Kakak Chen, matahari sudah bangun! Kakek menunggumu di meja makan," suara ceria Xiao Yu terdengar bagaikan denting lonceng perak di pagi hari, memecah sisa-sisa keheningan malam.
"Iya, Xiao Yu. Aku akan segera keluar," jawab Chen Lin dengan nada suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar serak khas orang baru bangun tidur.
Siangnya, kehidupan berjalan seperti biasa atau setidaknya, berjalan seperti apa yang diinginkan oleh dunia fana ini. Chen Lin membenamkan dirinya dalam aktivitas ladang.
Ia memegang cangkul, membalikkan tanah-tanah kering di bawah sengatan terik matahari yang membakar kulit. Bagi seorang kultivator yang pernah menguasai teknik-teknik hebat, pekerjaan fisik seperti ini tentu saja tidak ada artinya.
Namun, ia dengan sengaja memperlambat gerakannya, membiarkan peluh mengucur deras di pelipisnya, dan sesekali berpura-pura menyeka keringat dengan lengan bajunya yang kasar, demi menjaga penyamarannya di depan Kakek Gu.
"Chen Lin, anak muda, jangan terlalu memaksakan dirimu," ujar Kakek Gu suatu siang, sambil bersandar pada tongkat kayunya di pinggir ladang, menatap Chen Lin dengan tatapan penuh kasih sayang seorang tetua.
"Tubuhmu baru saja sembuh dari luka parah beberapa bulan lalu. Tanah ini tidak akan lari kemana-mana, tetapi kesehatanmu adalah yang utama."
Chen Lin menghentikan cangkulnya, menancapkannya ke dalam tanah, lalu berbalik sambil tersenyum tipis sebuah senyuman yang dipaksakan untuk menyembunyikan kelelahan batinnya.
"Kakek Gu terlalu khawatir. Bekerja di ladang justru membuat otot-ototku yang kaku menjadi lebih rileks. Ini baik untuk pemulihanku."
"Ah, anak muda zaman sekarang selalu keras kepala," Kakek Gu terkekeh, menggeleng-gelengkan kepalanya yang dipenuhi rambut putih.
"Tapi ketahuilah, Desa Dahe ini adalah tempat yang damai. Tidak ada yang perlu dikejar di sini selain hasil panen yang cukup untuk mengisi perut. Nikmatilah ketenangan ini."
'Ketenangan', pikir Chen Lin dalam hati saat ia kembali mengayunkan cangkulnya. Kata itu terdengar indah, namun bagi seorang kultivator yang jiwanya telah terikat dengan hukum rimba dunia persilatan, ketenangan tanpa kekuatan adalah sebuah ilusi yang mematikan.
Malam berganti pagi, fajar tenggelam menjadi senja. Rutinitas itu berulang, berputar dalam lingkaran waktu yang monoton.
Setiap malam, saat seluruh desa telah terlelap dalam pelukan mimpi, Chen Lin menjadi dirinya yang asli, seorang kultivator muda. Dan setiap siang, ia kembali mengenakan topeng sebagai pemuda desa yang penurut dan rajin.
Tiga bulan berlalu seperti aliran air yang lambat namun pasti.
Pada suatu malam di bulan ketiga, di atas batu datar yang sama di puncak bukit, sebuah getaran energi yang cukup kuat namun teredam tiba-tiba meledak dari dalam tubuh Chen Lin.
Rambut hitamnya berkibar ditiup angin malam, dan seberkas cahaya astral samar berkelebat di pupil matanya sebelum akhirnya meredup kembali.
Dantian-nya yang semula retak kini telah menutup dengan sempurna, permukaannya kembali licin dan memancarkan kilau perak yang sehat. Energi spiritual di dalam tubuhnya mengalir deras melalui sumsum tulangnya, membersihkan sisa-sisa kotoran terakhir.
"Huff... Tiga bulan, dan aku baru kembali ke Tingkat 5!"
Chen Lin mengembuskan napas panjang, sebuah keluhan yang sarat akan kekecewaan mendalam lolos dari bibirnya.
Ia menatap telapak tangannya sendiri, merasakan aliran energi yang kini telah kembali ke titik semula sebelum kecelakaan spasial itu terjadi.
Alih-alih merasa gembira karena berhasil menyembuhkan luka-lukanya, wajahnya justru dipenuhi mendung kejengkelan.
"Tiga bulan..." ia bergumam lagi, suaranya bergaung pelan di antara kesunyian bukit. "Jika aku berada di sekte lamaku, atau di tempat mana pun yang memiliki esensi spiritual yang cukup murni, waktu tiga bulan dengan bakat milikku seharusnya sudah lebih dari cukup untuk menembus Tingkat 8, atau bahkan mencapai puncak Tingkat 9 Marrow Purification!"
Ia mengepalkan tinjunya frustrasi. Esensi spiritual di Desa Dahe ini benar-benar terlalu miskin, seolah-olah ia sedang mencoba mengisi sebuah samudra luas dengan menggunakan sebatang sendok kecil.
Setiap malam ia harus memeras seluruh kemampuannya hanya untuk mengumpulkan energi yang seadanya. Proses yang seharusnya berjalan secepat kilat, di tempat ini menjadi lambat seperti siput.
Namun, di tengah-tengah keluhannya, sebuah realitas yang pahit menghantam kesadarannya. Mengapa ia masih bertahan di sini jika tempat ini begitu menghambat kemajuannya?
Chen Lin mengalihkan pandangannya ke arah cakrawala yang luas, di mana kegelapan membentang tanpa batas, menyembunyikan gunung-gunung tinggi dan lembah-lembah misterius di kejauhan.
Alasan mengapa ia belum melangkah pergi dari desa kecil ini bukan karena ia terikat oleh keindahan ladang atau kenyamanan tempat tidur jeraminya.
Alasannya jauh lebih pragmatis sekaligus menyedihkan, ia tidak tahu harus melangkah ke mana.
"Dunia ini... tempat apa ini sebenarnya?" tanyanya pada diri sendiri, sebuah pertanyaan yang tidak memiliki jawaban di dalam benaknya.
Ia telah terdampar ke tempat yang sama sekali asing setelah badai ruang itu merobek dimensinya. Ia tidak memiliki peta, tidak tahu nama wilayah ini, tidak tahu sekte apa yang berkuasa di sini, dan tidak tahu di mana pusat-pusat energi spiritual dunia ini berada.
Baginya, melangkah keluar dari Desa Dahe tanpa pengetahuan apa pun sama saja dengan berjalan dengan mata tertutup di tepi jurang.
Ia adalah selembar daun kering yang terlempar ke benua yang tak dikenal.
Saat Chen Lin masih tenggelam dalam pusaran pikirannya, sebuah suara langkah kaki yang sangat ringan dan ragu-ragu terdengar dari arah jalan setapak bukit.
Langkah itu begitu pelan, namun di telinga seorang kultivator Tingkat 5 Marrow Purification, suara itu sejelas detak jantung.
Chen Lin segera menyembunyikan hawa keberadaannya, mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi sedatar mungkin. Ia menoleh dan melihat sebuah bayangan kecil yang akrab tengah berjalan mendekat sambil memeluk sebuah jubah kain tua yang tebal.
"Kakak Chen...?" suara halus Xiao Yu memecah keheningan malam. Gadis kecil itu menggigil sedikit karena embusan angin bukit yang menusuk tulang.
"Xiao Yu? Mengapa kamu berada di sini di larut malam seperti ini?" Chen Lin bertanya, suaranya melembut, kehilangan seluruh ketajaman yang biasa ia miliki saat mengeluhkan kultivasinya.
Xiao Yu berjalan mendekat, lalu menyerahkan jubah kain itu kepada Chen Lin.
"Aku terbangun dan melihat jendelamu terbuka. Aku tahu Kakak sering pergi ke sini akhir-akhir ini. Kakek bilang tubuhmu belum sepenuhnya pulih, dan angin malam di bukit ini sangat jahat. Aku takut Kakak kedinginan."
Chen Lin menatap jubah usang di tangannya, lalu menatap wajah polos Xiao Yu yang memerah karena hawa dingin. Ada kehangatan aneh yang menyusup ke dalam hatinya yang biasanya sedingin es.
"Terima kasih, Xiao Yu," ucap Chen Lin pelan, sambil menyelimutkan jubah itu ke bahunya sendiri, meskipun sebenarnya tubuh seorang kultivator tidak akan pernah terpengaruh oleh dinginnya angin fana.
"Tapi, kamu sendiri tidak boleh berada di sini. Angin ini tidak baik untukmu."
Xiao Yu tersenyum, lalu duduk di atas rumput di samping batu besar tempat Chen Lin berada, menatap langit malam yang dipenuhi bintang.
"Kakak Chen, setiap kali aku melihatmu menatap langit seperti ini, aku merasa seolah-olah Kakak sedang mencari sesuatu yang sangat jauh. Sesuatu yang tidak ada di desa ini."
Chen Lin tertegun sejenak mendengarnya. Kepekaan gadis kecil ini terkadang di luar dugaannya.
"Apa yang membuatmu berpikir demikian?"
"Karena mata Kakak tidak seperti mata orang-orang di desa kami," jawab Xiao Yu sambil menopang dagunya dengan kedua tangan.
"Mata Kakek, mata Paman Liu, semuanya melihat ke tanah, memikirkan padi dan hujan. Tapi mata Kakak... mata Kakak selalu melihat ke atas, ke arah bintang-bintang yang paling jauh. Seolah-olah Kakak adalah bagian dari langit itu sendiri, dan suatu hari nanti, Kakak akan terbang kembali ke sana."
Mendengar perkataan yang keluar dari mulut seorang gadis desa yang polos, Chen Lin terdiam untuk waktu yang lama. Pandangannya kembali beralih ke langit malam, menatap hamparan bintang yang berkedip-kedip, merefleksikan esensi dari Universe Star Body yang bersemayam di dalam jiwanya.
"Mungkin kamu benar, Xiao Yu," bisik Chen Lin dengan nada suara yang terdengar seperti embusan angin.
"Ada tempat-tempat di luar sana yang sangat luas, di mana manusia bisa menggenggam petir dan berjalan di atas awan. Tempat di mana bintang-bintang bukan hanya hiasan malam, melainkan sumber kekuatan."
Xiao Yu menoleh, matanya berbinar penuh kekaguman dan sedikit rasa sedih yang tersembunyi.
"Apakah tempat itu sangat indah, Kakak Chen? Dan... apakah Kakak akan pergi ke sana jika Kakak sudah menemukan jalannya?"
Pertanyaan itu menggantung di udara malam, berat dan sarat akan makna. Chen Lin menatap gadis kecil itu, melihat ketakutan akan kehilangan di dalam matanya.
Bagi Xiao Yu dan Kakek Gu, Chen Lin mungkin sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga kecil mereka selama tiga bulan terakhir ini.
"Dunia luar tidak seindah yang kamu bayangkan, Xiao Yu," jawab Chen Lin dengan nada yang mendalam dan penuh rahasia.
"Di sana ada keindahan yang luar biasa, namun di balik keindahan itu, ada badai yang dapat menghancurkan segalanya dalam sekejap. Ini adalah tempat yang kejam, di mana yang kuat memangsa yang lemah tanpa ampun."
Ia berhenti sejenak, lalu menepuk kepala Xiao Yu dengan lembut.
"Namun, takdirku memang bukan di ladang ini. Jalanku berada di antara bintang-bintang itu. Dan ketika saatnya tiba bagi aku untuk pergi, itu bukan karena aku membenci tempat ini, melainkan karena burung elang tidak akan pernah bisa hidup selamanya di dalam sangkar ayam, seaman apa pun sangkar itu."
Xiao Yu menundukkan kepalanya, meresapi kata-kata Chen Lin yang terlampau berat untuk usianya. Namun, ia mengangguk pelan.
"Aku mengerti, Kakak Chen. Jika Kakak adalah seekor elang, maka aku dan Kakek akan selalu mendoakan agar angin membawa Kakak terbang setinggi mungkin. Tapi sebelum hari itu tiba, maukah Kakak membantuku lagi di ladang besok?"
"Tentu saja. Besok aku akan membantumu membersihkan rumput liar di ujung ladang."
Setelah mengantar Xiao Yu kembali ke kamarnya dengan selamat, Chen Lin tidak langsung tidur. Ia berdiri di ambang jendela kamarnya, menatap fajar yang kini telah benar-benar menyingsing, mengusir sisa-sisa kegelapan malam dengan cahaya keemasannya yang hangat.
Meskipun ia mengeluh tentang tipisnya energi spiritual di tempat ini, dan meskipun ia merasa frustrasi dengan keterlambatan kemajuannya, percakapannya dengan Xiao Yu entah bagaimana telah menjernihkan pikirannya yang kusut.
Tiga bulan untuk kembali ke Tingkat 5 Marrow Purification mungkin terdengar lambat bagi seorang jenius, namun itu adalah fondasi yang kini telah pulih dengan sangat sempurna tanpa ada cacat sedikit pun.
"Aku tidak tahu ke mana harus pergi saat ini," gumam Chen Lin, matanya memancarkan tekad yang membatu sekeras karang di lautan.
"Tetapi ketidaktahuan ini adalah kondisi sementara. Selama aku terus memperkuat diriku, suatu hari nanti, kekuatanku akan cukup untuk menjelajahi benua ini dan menemukan jalan pulang atau menciptakan jalanku sendiri menuju puncak tertinggi."