Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.
Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Pemeran Figuran
Luvya masih terpaku, mematung di tempatnya berdiri. Dari balik topeng perak yang menutupi wajahnya, matanya tak bisa beralih dari sosok pria di depannya. Ia harus mengakui satu hal, pria ini adalah perwujudan dari tipe idealnya. Tubuh tinggi yang kokoh, rambut hitam yang tertata sempurna, dan aroma maskulin yang samar namun sangat menenangkan. Pria ini tampak seperti pangeran dari dunia fantasi yang sering ia mimpikan saat masih menjadi Lily.
Belum sempat Luvya menyusun kata-kata untuk menolak atau bertanya siapa identitasnya, pria itu sudah bergerak lebih dulu. Dengan gerakan yang tegas namun tetap lembut, ia menarik tangan Luvya, menuntunnya masuk ke tengah aula yang kini sudah dipenuhi oleh pasangan yang bersiap untuk berdansa.
Musik orkestra berubah menjadi melodi waltz yang megah dan mengalir.
"Tunggu, Tuan! Saya..." Luvya panik. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena ketampanan pria ini, tapi karena sebuah kenyataan pahit. "Masalahnya, saya tidak bisa berdansa!"
Luvya merasa tubuhnya sangat kaku. Di dunianya yang dulu, jangankan berdansa waltz di pesta bangsawan, untuk sekadar menghadiri pesta formal saja ia tidak pernah. Gerakannya amat kaku, hampir seperti robot yang kehabisan pelumas.
Berkali-kali ia berbisik dengan nada mendesak agar pria itu melepaskannya sebelum ia menginjak kaki siapa pun atau, lebih buruk lagi, mempermalukan diri sendiri di depan seluruh bangsawan. Namun, pria misterius itu tidak melepaskan genggamannya. Sebaliknya, ia melingkarkan tangannya di pinggang Luvya, menariknya sedikit lebih dekat hingga Luvya bisa merasakan kehangatan tubuhnya.
Pria itu hanya memberikan sebuah senyuman tipis yang sangat menawan di balik topengnya. "Tidak apa-apa," bisiknya dengan suara rendah yang menenangkan, tepat di dekat telinga Luvya. "Ikuti saja langkah saya. Biar saya yang bantu."
Luvya merasa seolah dunianya berputar. Dengan tuntunan pria itu, kaki Luvya yang tadinya kaku mulai bergerak mengikuti irama. Setiap kali Luvya hampir melakukan kesalahan langkah, pria itu dengan sigap mengarahkan tubuhnya, membuatnya seolah-olah sedang terbang di atas lantai dansa.
Di tengah putaran dansa yang lambat, Luvya mencoba memberanikan diri menatap mata biru itu lagi. Ada sesuatu yang sangat familier dalam tatapan itu, sesuatu yang terasa aman namun juga menyimpan misteri besar.
Siapa dia sebenarnya? batin Luvya. Kenapa dia memilihku dari sekian banyak wanita di ruangan ini?
Luvya melirik ke arah pintu taman, teringat bahwa seharusnya ia mengawasi Sellia. Namun, di bawah pimpinan dansa pria asing ini, Luvya seolah terseret keluar dari jalur novel yang ia ketahui. Ia, sang figuran yang seharusnya bersembunyi, kini justru menjadi pusat perhatian di tengah lantai dansa bersama seorang pria yang karismanya mampu menyaingi sang pemeran utama sekalipun.
"Fokus pada saya, Nona," ucap pria itu pelan, seolah bisa membaca pikiran Luvya yang sedang melantur.
Luvya tersentak dan kembali menatap pria itu. Malam yang seharusnya menjadi saksi cinta Sellia dan Arken, kini justru memberikan kejutan tak terduga bagi Luvya.
Luvya bisa merasakan napas pria itu di dekat keningnya saat mereka berputar di lantai dansa. Setiap sentuhan tangan pria itu di pinggangnya terasa begitu mantap, seolah-olah ia sedang menjaga sesuatu yang sangat rapuh agar tidak jatuh.
"Anda memimpin dengan sangat baik, Tuan," bisik Luvya, mencoba mengurangi kecanggungannya. "Tapi saya masih merasa bersalah jika kaki Anda menjadi korban langkah kaku saya."
Pria itu terkekeh rendah. Suara tawanya terdengar sangat maskulin dan sedikit serak, membuat bulu kuduk Luvya meremang. "Jangan khawatirkan saya. Fokuslah pada musiknya dan pada saya."
Luvya mendongak sedikit, mencoba mengintip lebih dalam ke balik topeng perak pria itu. Mata biru itu sangat jernih, namun ada kedalaman yang menyimpan kesedihan sekaligus ketajaman yang luar biasa.
Kenapa dia terasa begitu familiar? batin Luvya bertanya-tanya.
Saat musik mencapai puncaknya, pria itu memutar tubuh Luvya dengan cepat lalu menariknya kembali ke dalam pelukan yang erat sebagai penutup dansa. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Semua orang di aula bertepuk tangan, namun bagi Luvya, hanya ada detak jantung pria ini yang terdengar di telinganya.
"Terima kasih atas dansanya, Nona yang Menawan," ucap pria itu sambil membungkuk dalam, melepaskan tangan Luvya dengan perlahan, seolah ia sangat berat untuk melakukannya.
Luvya masih terpana, nafasnya sedikit tersengal. "Bolehkah... bolehkah saya tahu siapa Anda?"
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia mundur satu langkah, bayangannya memanjang di bawah cahaya lampu kristal. "Anggap saja saya hanyalah seorang prajurit yang sedang mencari arah pulang," ucapnya misterius.
Sebelum Luvya bisa mengejarnya dengan pertanyaan lain, pria itu sudah berbalik dan menghilang dengan sangat cepat di balik pilar besar, menyelinap di antara kerumunan seolah ia tidak pernah ada di sana.
Luvya berdiri mematung. Tangannya masih terasa hangat bekas genggaman pria tadi. Ia tidak sadar bahwa di sisi lain aula, Lucius Lindman sedang memperhatikan interaksi mereka dengan mata emas yang menyipit penuh selidik.
Luvya mencoba menekan rasa senangnya yang meluap-luap. Ia menarik napas dalam, berusaha mengembalikan kewarasannya sebagai orang yang tahu masa depan.
“Tunggu, Luvya. Pikirkan logikanya,” batinnya sambil menatap lantai aula yang berkilau. “Pria itu... mungkin saja dia hanya peran tanpa nama. Seorang figuran yang bahkan tidak layak mendapatkan satu baris deskripsi pun di dalam novel aslinya.”
Pikiran itu mulai masuk akal baginya. Di dunia ini, Luvya sudah banyak bertemu dengan orang-orang yang tidak pernah disebutkan dalam narasi novel, namun terasa sangat nyata.
“Bisa saja dia seperti Frank, tukang pos yang biasanya mengantarkan surat kabar ke akademi. Frank tidak pernah ada di novel, tapi aku mengenalnya dengan baik dan kami sering mengobrol tentang berita terbaru. Atau seperti Bibi May, koki baik hati yang selalu memasak makanan lezat di akademi. Mereka ada di sini, hidup bersamaku, meski dunia ini menganggap mereka tidak penting.”
Luvya mengangguk kecil pada dirinya sendiri. Keyakinan itu membuatnya sedikit lebih tenang, meski ada secuil rasa kecewa karena pria setampan itu mungkin tidak akan pernah ia temui lagi di alur cerita utama.
“Ya, benar. Dia pasti hanya bangsawan muda dari wilayah terpencil yang kebetulan hadir dan ingin berdansa. Kasihan sekali, pria setampan itu hanya menjadi figuran sepertiku,” gumamnya lucu, merasa senasib dengan pria misterius tadi.
Namun, tepat saat Luvya hendak melangkah pergi untuk mencari keberadaan Sellia, sebuah pemikiran lain melintas seperti kilat. Jika pria itu benar-benar hanya peran figuran, kenapa auranya begitu mendominasi? Kenapa rasanya seolah seluruh ruangan ini tunduk pada keberadaannya?
Luvya memutuskan untuk tidak mengikuti langkah kakinya ke arah taman. Ia memilih menaiki tangga melingkar yang sepi menuju balkon lantai dua yang menghadap langsung ke arah taman rahasia Grand Duke Lindman. Di sini, kebisingan musik orkestra terdengar meredup, digantikan oleh simfoni angin malam yang menyejukkan.
Ia bersandar pada pagar balkon yang dingin, membiarkan jemarinya yang masih terasa hangat bekas genggaman pria misterius tadi mendingin karena udara. Matanya menyisir hamparan taman di bawah sana yang bermandikan cahaya bulan perak.
Nah, itu dia, batin Luvya.
Dari ketinggian ini, ia melihat sosok Sellia. Gadis itu tampak berjalan pelan, gaun merah mudanya berkilauan saat ia mendekati sebuah pohon ek besar di sudut taman. Di bawah pohon itu, seorang pria sedang duduk menatap bintang. Meskipun dari sini mereka hanya terlihat seperti siluet kecil, Luvya tahu betul siapa pria itu. Arken.
Luvya memperhatikan bagaimana keduanya mulai berbincang dalam suasana yang sunyi namun terasa sangat intim. Itu adalah awal dari segalanya, pertemuan takdir yang akan melahirkan cinta pertama yang paling legendaris dalam novel ini.
Luvya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan rasa syukur dan kelegaan yang luar biasa. Baginya, pemandangan di bawah sana bukan sekadar adegan romantis, melainkan sebuah jaminan keselamatan.
“Seharusnya memang seperti ini, Luvya,” bisiknya pelan pada angin, seolah sedang berbicara kepada jiwa pemilik tubuh asli yang tragis.
Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan angin menerpa wajahnya yang tertutup topeng perak. Ia teringat kembali semua ketakutannya tentang hukuman gantung, tentang kebengisan keluarga Vounwad, dan tentang nasib hancur yang tertulis di halaman-halaman buku itu.
“Kau harus membiarkan mereka bersama dan kau memilih hidup tenang. Aku tidak mau mati sepertimu!” tegasnya dalam hati.
Tekadnya kini sudah bulat. Biarlah dunia ini berputar di sekitar Sellia dan Arken sebagai pusatnya. Biarlah pria misterius tadi tetap menjadi rahasia yang indah di ingatannya saja. Selama ia bisa tetap menjadi bayangan yang menyaksikan semua ini dari jauh tanpa ikut campur, ia akan melakukan apa saja untuk mempertahankan ketenangannya.