NovelToon NovelToon
BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Ahli Bela Diri Kuno / Balas Dendam
Popularitas:768
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"

Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.

Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: BADAI DI NEGERI SINGA

WUUUUUUSSSSHHH...

Jet pribadi itu mendarat tanpa suara di landasan pacu Bandara Seletar. Pukul dua dini hari, udara Singapura terasa seperti uap panas yang terperangkap dalam botol kaca.

Arka melangkah turun. TAP. TAP. TAP.

Langkahya mantan sambil menyesuaikan kerah jas hitamnya yang mulai terasa lembap. Tidak ada sambutan karpet merah. Hanya dua sedan hitam yang mesinnya sudah menderu halus di kejauhan.

Arka tidak lagi terlihat seperti pria yang dulu hanya bisa menunduk saat dimaki mertuanya. Bahunya lebih tegak, namun matanya merah, membawa sisa-sisa badai Arjuno yang belum sempat ia tidurkan.

Di sampingnya, Reyna berjalan dengan langkah yang disengaja. Ia tidak memakai kebaya yang mencolok, hanya blus gelap dan kain lilit yang membuatnya tampak seperti turis biasa.

Namun, tangannya tidak pernah lepas dari tas kecil berisi tanah Panderman. Baginya, aspal Singapura terasa mati di bawah kakinya.

"Tempat ini tidak punya jiwa, Arka," bisik Reyna, matanya mengawasi gedung-gedung pencakar langit yang mengurung mereka. "Hanya ada besi, beton, dan orang-orang yang terlalu sibuk memuja angka di layar ponsel."

DEBUM!

Arka masuk ke dalam mobil. Pintu tertutup rapat.

"Richard Tan suka tempat seperti ini. Dia pikir dia bisa membeli keamanan dengan sistem keamanan tercanggih dan dukun bayaran. Dia lupa kalau besi dan beton itu asalnya dari bumi yang sama dengan yang kucabut segelnya."

Jenderal Wironegoro sudah menunggu di kursi depan, wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih tua di bawah lampu rem mobil. Ia menyodorkan tablet transparan dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Gusti, Richard menutup seluruh lantai atas Dragon King Casino. Namanya The Black Veil. Campuran antara pengacak sinyal frekuensi rendah dan pagar ghaib yang dibuat dari tumbal manusia. Anak Anda... ada di sana. Di tengah-tengah semua kekacauan itu."

KRETEK!

Arka mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. "Kita tidak punya waktu untuk negosiasi. Bawa aku ke sana."

***

Lobi Dragon King Casino seharusnya penuh dengan aroma parfum mahal dan gemerincing mesin slot. Namun malam itu, sunyi. Para penjaga di depan tidak bertanya, mereka langsung menarik senjata begitu melihat wajah Arka.

KLIK! KLIK! KLIK!

Arka tidak menunggu. Arka menerjang. BUGH! Pukulan pertama menghantam tenggorokan.

KRAKK! Pergelangan tangan penjaga kedua patah seketika.

Napas Arka mulai berat. Otot-ototnya masih terasa kaku karena pertarungan di Parangtritis tempo hari. Pintu lift terbuka.

TING!

Lima pria keluar. Mereka tidak besar seperti raksasa, tapi tubuh mereka kering, bermata cekung, dan bergerak dengan presisi mesin. Black Order.

SREETTT!

Salah satu dari mereka mengayunkan belati yang dilapisi racun hitam. Arka menghindar, tapi ujung jasnya robek. Bau amis darah meruap. Arka menyadari satu hal, mereka tidak punya rasa sakit.

"Rey, sekarang!" seru Arka.

Reyna duduk di lantai lobi, mengabaikan kekacauan di sekelilingnya. Ia menaburkan segenggam tanah Panderman ke lantai marmer yang mengkilap.

SHUUUUUTTT...

"Pulanglah ke tanah, wahai jiwa yang terikat!" suaranya rendah namun berwibawa.

VREEEUMMM... Area itu mendadak berat. Tanah Panderman itu seolah-olah menjadi magnet bagi energi gelap Black Order. Gerakan musuh melambat, seolah-olah kaki mereka sedang ditarik masuk ke dalam lumpur ghaib.

Arka memanfaatkan celah itu. Ia tidak memanggil naga atau air terjun. Ia hanya menarik air dari botol-botol mineral di meja resepsionis, memadatkannya menjadi serpihan es tajam setipis silet, dan mengirimkannya tepat ke arteri leher para penjaga itu.

CRAAAASH! Air itu memadat menjadi serpihan es setipis silet.

WUTSSHH! WUTSSHH!

Es itu menyambar arteri leher lawan. Satu per satu tumbang. BRUK! BRUK!

Arka tersengal-sengal, bersandar pada pilar marmer yang retak. Jasnya sudah berlumuran darah hitam yang berbau belerang.

"Ayo," ajak Arka parau. "Ke atas."

****

Lantai 80 terasa berbeda. Tidak ada udara dingin AC, hanya hawa panas yang pengap.

Ruangan itu luas, menghadap langsung ke Marina Bay, tapi pemandangan indah itu terhalang oleh kabel-kabel hitam yang bergelantungan dari langit-langit, terhubung ke sebuah tabung kaca di tengah ruangan.

Di dalam tabung itu, seorang bocah laki-laki kecil meringkuk. Putranya.

Richard Tan berdiri di dekat jendela, memegang gelas wiski. Dia tidak memakai seragam perang. Hanya kemeja sutra yang kancing atasnya dibuka. Dia tampak tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang gedungnya baru saja diterobos.

Di sudut ruangan, Maya duduk di kursi, mulutnya tersumbat kain, matanya merah karena terlalu banyak menangis.

"Kau berantakan sekali, Arka," ucap Richard. Suaranya halus, hampir ramah, namun setiap katanya mengandung ancaman. "Datang jauh-jauh dari Indonesia hanya untuk mati di atas lantai yang baru kupoles kemarin?"

Arka menatap tabung kaca itu. "Lepaskan anakku, Richard. Ini antara kau dan aku."

Richard terkekeh pelan. Dia mengangkat sebuah alat kecil, seukuran ponsel.

"Ini bukan remot peledak. Ini adalah pemutus sirkuit otak. Anakmu saat ini sedang dalam kondisi deep sleep yang dijaga oleh frekuensi ghaib. Satu sentuhan di layar ini, dan dia akan tertidur selamanya. Bukan mati, tapi dia tidak akan pernah bangun lagi. Menjadi cangkang kosong yang bernapas."

Arka mengambil langkah maju, tapi Richard mengangkat tangannya. "Satu langkah lagi, dan kau akan menjemput anak yang tidak punya jiwa."

Arka berhenti. Keringat dingin mengalir di punggungnya. Inilah yang paling ia takutkan. Kekuatan segelnya bisa menghancurkan gunung, tapi tidak bisa memperbaiki saraf otak yang halus.

"Kau pengecut, Richard," desis Arka.

"Aku orang bisnis, Arka. Aku menggunakan aset yang kupunya," Richard berjalan mendekati tabung kaca.

"Berlutut. Aku ingin kau mencium sepatu yang dulu kau cuci di Jakarta. Mungkin kalau kau melakukannya dengan cukup tulus, aku akan mempertimbangkan untuk mematikan mesin ini."

Arka menatap Reyna yang berdiri di dekat lift. Reyna memberinya isyarat lewat mata, sebuah peringatan bahwa Richard tidak hanya bicara. Ada entitas lain yang berdiri di bayangan Richard.

Arka menarik napas panjang. Dia tidak berlutut. Sebaliknya, dia mulai tertawa kecil. Tawa yang kering dan mengerikan.

"Kenapa kau tertawa?" tanya Richard, keningnya berkerut.

"Aku tertawa karena kau pikir kau sedang berdiri di atas lantai beton," jawab Arka. Suaranya berubah, menjadi lebih berat dan bergema.

Arka tidak memanggil api atau air. Dia memejamkan mata dan meletakkan telapak tangannya di lantai. Arka meletakkan telapak tangan di lantai.

Segel Bumi: Fondasi Terlarang!

DZZZT! DZZZT! PYARRRR!!!

Bukan gempa yang terjadi, melainkan getaran frekuensi sangat rendah. Getaran yang tidak dirasakan manusia, tapi merusak struktur molekul elektronik.

Seluruh lampu penthouse meledak. BOOM!  Panel listrik utama hancur.

Sistem frekuensi ghaib yang menjaga tabung kaca itu berdengung kencang sebelum akhirnya hancur berantakan.

Alat di tangan Richard mengeluarkan percikan api dan terbakar, menghanguskan telapak tangannya. CTARRR!

"ARGHHH! TANGANKU!" Richard menjerit, menjatuhkan alat itu yang kini sudah menjadi plastik meleleh.

CRAAAKKK...

Maya berteriak di balik sumbat mulutnya saat tabung kaca itu retak secara perlahan, melepaskan air yang ada di dalamnya tanpa tekanan yang membahayakan anak di dalamnya.

Arka tidak membuang waktu. Dia melesat maju. WHUTTSSHH! bukan dengan teknik bayangan, tapi dengan kecepatan penuh seorang pria yang ingin menyelamatkan anaknya.

BUAK!

Satu pukulan mentah menghantam rahang Richard. Richard terpelanting menabrak jendela kaca antipeluru hingga retak. Arka tidak berhenti. Dia mencengkeram kerah kemeja Richard, mengangkat pria itu, dan menghantamkan kepalanya ke dinding marmer.

"Itu untuk empat tahun masa gilaku," desis Arka.

DANG!

Satu hantaman lagi. "Itu untuk air mata anakku."

Arka ingin mematahkan leher pria ini. Apinya sudah membara di tangan kanannya. Namun, dia merasakan tangan lembut Reyna di bahunya.

"Arka, lihat anakmu," bisik Reyna.

Arka menoleh. Anaknya mulai terbatuk...  UHUK! UHUK! mengeluarkan cairan dari paru-parunya. Bocah itu membuka mata, bingung dan ketakutan.

Arka melepaskan Richard yang jatuh terkapar seperti tumpukan sampah. Wajah Richard hancur, darah mengalir dari hidung dan mulutnya, tapi dia masih hidup, hidup untuk menanggung kehinaan yang jauh lebih besar dari kematian.

Arka berlari menuju putranya. SREEEET...  Dia berlutut di atas pecahan kaca dan sisa air. Tangannya yang gemetar mengangkat tubuh kecil itu dan mendekapnya erat.

Bau rambut anaknya yang bercampur dengan aroma obat-obatan membuat pertahanan mental Arka runtuh. Dia menangis sesenggukan, menyembunyikan wajahnya di bahu kecil itu.

"Papa di sini, Nak... Papa sudah di sini," bisiknya parau.

Maya berhasil melepaskan sumbat mulutnya. Dia mencoba merangkak mendekat, wajahnya penuh harapan dan rasa bersalah. "Arka... maafkan aku... aku terpaksa..."

Arka mengangkat kepalanya. ZING!  Tatapannya pada Maya begitu dingin, begitu asing, hingga Maya berhenti di tempatnya.

"Jangan pernah sebut namaku lagi, Maya. Ambillah semua harta yang tersisa dari pria ini, atau pergilah ke neraka bersamanya. Bagiku, kau sudah mati di hari kau membiarkan anak ini masuk ke dalam tabung itu."

Arka berdiri, menggendong anaknya yang tertidur kembali karena kelelahan. Dia menatap Reyna.

"Kita pulang?" tanya Reyna lembut.

Arka menoleh ke arah laut Singapura yang mulai diterangi cahaya fajar. Dia tahu, Richard Tan hanyalah awal. Entitas luar yang menjamin kekuasaan Richard pasti sedang mengamati dari kegelapan. Black Order akan mengirim lebih banyak pasukan. Namun, Arka tidak peduli.

"Kita pulang ke Batu," ucap Arka mantap. "Nusantara punya banyak tempat untuk bersembunyi, dan lebih banyak lagi tempat untuk membalas."

Mereka melangkah menuju lift, meninggalkan penthouse yang hancur itu. Richard Tan hanya bisa merangkak di lantai, menatap kosong ke arah kekuasaannya yang runtuh dalam satu malam.

Sang Poros Dunia telah menjemput kembali hatinya, dan sekarang, dia siap untuk menelan seluruh dunia jika ada yang berani menghalanginya lagi.

***

Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like dan Komen. Update setiap hari. Terima kasih.

1
anggita
ikut like👍iklan☝aja thor.
Dedik Januari: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!