NovelToon NovelToon
Satu Ranjang Dua Luka

Satu Ranjang Dua Luka

Status: tamat
Genre:Rumah Tangga / Perjodohan / Misteri / Tamat
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Istri dalam Bayang-bayang

​Aku berdiri di depan wastafel ruang preparasi, menatap pantulan wajahku di cermin yang sedikit berembun karena hawa dingin dari lemari pendingin jenazah. Mataku memerah, bukan hanya karena kurang tidur, tapi karena uap formalin yang kurasakan mulai mengiritasi membran mukosaku. Namun, iritasi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa perih yang menjalar di dadaku setiap kali aku mengingat tanda air instansi Kejaksaan Agung pada kertas yang kutemukan di mulut jenazah tadi.

​Ghazali Mahendra. Suamiku. Pria yang seharusnya menjadi pelindungku, kini adalah subjek misteri paling menakutkan dalam hidupku.

​"Dok, Anda benar-benar harus berhenti menggosok tangan Anda. Kulit Anda sudah mulai lecet," suara Adrian terdengar dari ambang pintu, lembut namun penuh peringatan.

​Aku tersentak, baru menyadari bahwa aku sudah menyabuni tanganku sebanyak empat kali. Air yang mengalir di wastafel kini terasa seperti jarum-jarum es. Aku mematikan kran dengan gerakan mekanis.

​"Aku hanya ingin memastikan tidak ada residu protein yang tertinggal, Adrian," jawabku, mencoba menjaga suaraku agar tidak bergetar.

​"Tidak ada residu yang sekuat itu, Dok. Yang Anda coba hilangkan bukan bau formalin, tapi rasa takut," Adrian melangkah mendekat, menyodorkan handuk steril. "Kenapa Anda membiarkan JPU itu mengambil bukti aslinya? Anda tahu itu bisa menghancurkan rantai bukti jika kasus ini sampai ke meja hijau."

​Aku menatap Adrian, asistenku yang selalu setia. "Dia bukan sekadar JPU, Adrian. Dia suamiku. Dan di rumah itu, dia adalah pemilik segala aturan."

​"Tapi di sini, Anda adalah penguasanya, Dok! Anda adalah spesialis forensik yang memegang kunci kebenaran!" Adrian sedikit meninggikan suaranya, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Jika kartu memori itu hilang, dan catatan itu dimusnahkan... mayat tanpa lidah ini akan mati untuk kedua kalinya tanpa keadilan."

​"Dia tidak akan mati sia-sia," bisikku sembari mengambil ponselku. Aku menunjukkan sebuah foto hasil makro yang kuambil secara sembunyi-sembunyi sebelum Ghazali merampas bukti itu. "Aku sudah mendokumentasikannya. Tanda air ini... ini adalah kertas khusus yang hanya ada di meja kerja pejabat tinggi Kejaksaan. Aku tahu karena aku pernah melihatnya di ruang kerja Ghazali semalam."

​Adrian menahan napas. "Maksud Anda... pembunuhnya adalah orang dalam?"

​"Atau seseorang yang ingin menjebak orang dalam," aku memasukkan ponselku kembali ke saku jas lab. "Apapun itu, aku harus pulang. Mobil keluarga Mahendra sudah menunggu di depan. Jika aku tidak muncul sekarang, Ghazali akan melakukan sesuatu yang lebih buruk daripada sekadar merendahkanku."

​"Hati-hati, Keana," Adrian menyebut namaku tanpa gelar dokter untuk pertama kalinya. "Terkadang, rumah yang paling mewah adalah penjara yang paling mematikan."

​Aku hanya tersenyum pahit, lalu melangkah keluar meninggalkan kehangatan semu di laboratorium menuju dinginnya realita sebagai Nyonya Mahendra.

​Mobil Mercedes-Benz hitam itu meluncur membelah kemacetan Jakarta dengan keheningan yang menyesakkan. Di kursi belakang, Ghazali duduk di sampingku, namun jarak satu meter yang ia tetapkan terasa seperti jurang yang tak berujung. Ia sibuk dengan tabletnya, jarinya menari cepat di atas layar, kemungkinan besar sedang berkoordinasi untuk mematikan jejak kartu memori yang ia rampas tadi.

​"Kau terlihat sangat kaku, Keana. Bernapaslah. Jangan membuat sopirku berpikir aku sedang membawa tawanan," ucap Ghazali tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya.

​"Aku sedang bernapas, Mas. Hanya saja, udara di dalam mobil ini terasa sangat... terkontaminasi," jawabku dengan nada datar.

​Ghazali menghentikan gerakannya. Ia menoleh perlahan, menatapku dengan mata elangnya yang dingin. "Terkontaminasi apa? Bau parfum mahalku, atau bau ambisiku?"

​"Terkontaminasi kebohongan," balasku, menoleh dan menantang tatapannya. "Kertas itu. Tanda airnya. Kenapa kau begitu takut jika aku mencatatnya dalam laporan resmi?"

​Ghazali meletakkan tabletnya. Ia sedikit condong ke arahku, membuat aroma maskulinnya yang tajam menyerang indra penciumanku, mencoba menenggelamkan sisa bau antiseptik yang masih menempel di kulitku.

​"Karena di dunia hukum, satu detail kecil yang salah bisa membakar seluruh gedung, Keana. Kau mungkin ahli dalam membedah jaringan mati, tapi kau buta dalam membedah jaringan kekuasaan," desisnya. "Anggap saja aku sedang menyelamatkan kariermu. Jika nama Maia terseret secara sembarangan, kau tidak akan hanya berhadapan denganku, tapi dengan seluruh firma hukum raksasa di belakangnya."

​"Kau menyelamatkanku, atau menyelamatkan Maia?" tanyaku dengan senyum getir.

​Ghazali tidak menjawab. Ia kembali pada tabletnya, mengakhiri percakapan seolah aku hanyalah gangguan sinyal dalam rencana besarnya.

​Kami sampai di kediaman Mahendra saat lampu-lampu taman mulai menyala, memberikan kesan megah sekaligus angker. Di meja makan yang luas itu, Nyonya Ratna sudah menunggu dengan wajah porselennya yang kaku. Di sampingnya, duduk seorang pria paruh baya yang kukenali sebagai salah satu petinggi komisi kejaksaan.

​"Ah, akhirnya kalian datang. Keana, kenapa kau lama sekali? Ibu sudah menyuruhmu pulang sejak jam lima," Nyonya Ratna menyapaku dengan nada yang terdengar seperti tuntutan daripada sambutan.

​"Maaf, Bu. Ada otopsi darurat yang harus diselesaikan," jawabku sembari mengambil tempat duduk terjauh dari pusat meja.

​"Selalu saja mayat," Nyonya Ratna mendengus, lalu menyuruh pelayan menyajikan sup. "Ghazali, kau harus mulai mengajari istrimu ini etika waktu. Mahendra tidak pernah membuat tamu menunggu."

​"Dia sudah berusaha, Bu," jawab Ghazali singkat, tanpa emosi.

​Makan malam berlangsung dengan suara denting sendok perak yang beradu dengan porselen—satu-satunya musik di tengah keheningan yang menekan. Aku merasa seperti bayangan yang tidak terlihat. Mereka membicarakan politik, kasus bendungan, dan strategi hukum seolah-olah aku tidak ada di sana. Aku hanyalah pelengkap dekorasi, istri yang dipajang untuk memenuhi syarat wasiat.

​"Jadi, Ghazali," tamu itu bersuara, matanya melirik ke arahku sejenak. "Bagaimana perkembangan bukti kunci dari stafmu yang... malang itu? Apakah istrimu menemukan sesuatu yang berguna di meja otopsinya?"

​Tanganku yang sedang memegang sendok berhenti di udara. Aku bisa merasakan tatapan Ghazali menusuk samping kepalaku.

​"Belum ada yang signifikan, Pak Jaksa Agung Muda," jawab Ghazali dengan suara stabil yang luar biasa. "Hanya prosedur standar. Tidak ada pesan atau benda asing yang ditemukan. Sepertinya pembunuhnya sangat rapi."

​Kebohongan itu meluncur begitu mulus dari bibir Ghazali. Aku menelan ludah, rasanya seperti menelan pecahan kaca. Ia baru saja menghapus keberadaan kartu memori dan catatan nama Maia di depan salah satu pejabat paling berwenang di negeri ini.

​"Begitukah, Dokter Keana?" tamu itu beralih padaku, matanya menyipit penuh selidik. "Apakah benar tidak ada temuan anomali pada jenazah tersebut?"

​Aku merasakan tendangan pelan di bawah meja. Kaki Ghazali menekan ujung sepatuku, sebuah peringatan fisik yang jelas.

​"Benar, Pak," jawabku, suaraku terdengar seperti orang asing bagi diriku sendiri. "Jenazah mengalami dekomposisi awal yang cukup parah, sehingga beberapa detail mikro mungkin hilang atau rusak oleh cairan tubuh."

​Nyonya Ratna tersenyum puas. "Kau dengar itu? Menjijikkan sekali pekerjaannya. Bayangkan, membicarakan pembusukan di atas sup krim jamur yang lezat ini. Keana, kau benar-benar tidak punya selera."

​"Maaf, Bu," bisikku.

​Setelah makan malam selesai dan tamu itu pulang, aku segera melangkah menuju kamar, ingin segera melepas gaun yang terasa seperti penjara ini. Namun, Ghazali menahan lenganku di pangkal tangga.

​"Kerja bagus tadi," ucapnya. Tidak ada pujian dalam suaranya, hanya kepuasan seorang bos pada bawahannya.

​"Aku baru saja berbohong di bawah sumpah profesiku, Ghazali. Apakah itu yang kau sebut kerja bagus?" aku melepaskan cengkeramannya dengan kasar.

​"Kau baru saja menyelamatkan nama baik keluarga ini. Kau harusnya bangga," balasnya sembari melangkah mendahuluiku menuju kamar.

​Di dalam kamar yang dingin, suasana semakin mencekam. Ghazali mulai melepas jasnya, sementara aku berdiri di balkon, menatap kegelapan taman.

​"Ghazali," panggilku tanpa berbalik. "Jika suatu saat nanti aku yang berakhir di atas meja otopsi itu... apakah kau juga akan menghapus bukti yang melibatkan dirimu?"

​Ghazali terhenti. Ia meletakkan jasnya di kursi, lalu berjalan mendekat ke arah balkon. Ia berdiri tepat di belakangku, hembusan napasnya terasa di tengkukku, namun kehangatannya tidak pernah sampai ke hatiku.

​"Jangan bicara konyol, Keana. Kau terlalu berharga untuk mati sekarang," bisiknya.

​"Berharga sebagai istri, atau berharga sebagai alat untuk membersihkan noda darahmu?" aku berbalik, menatapnya dengan sisa-sisa keberanianku.

​Ghazali tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mencengkeram pinggangku, menarikku mendekat hingga tidak ada lagi jarak di antara kami. Matanya yang gelap berkilat dengan emosi yang kompleks—amarah, keinginan, dan sesuatu yang jauh lebih gelap.

​"Kau tahu kenapa aku membencimu, Keana?" suaranya rendah, hampir seperti geraman. "Bukan hanya karena bau formalin itu. Tapi karena kau adalah satu-satunya orang yang bisa melihat noda di tanganku, sementara dunia hanya melihat emas di jas ini."

​Ia menunduk, bibirnya nyaris menyentuh bibirku, namun ia berhenti tepat satu sentimeter sebelumnya. Ia hanya ingin menunjukkan kekuasaannya, ingin menunjukkan bahwa aku berada dalam genggamannya.

​"Tidurlah di ranjang. Aku akan di sofa," ucapnya sembari melepaskanku dengan sentakan pelan. "Dan jangan pernah berpikir untuk mengirim foto tanda air itu ke siapa pun. Adrian Bramantyo... dia asisten yang berbakat, bukan? Akan sangat disayangkan jika ia mengalami 'kecelakaan' kerja besok pagi."

​Darahku mendadak membeku. "Kau mengancam Adrian?"

​"Aku hanya mengingatkanmu tentang konsekuensi, Istriku," Ghazali tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih mematikan daripada vonis hukuman mati. "Ingat, kau berada di bawah bayang-bayangku sekarang. Dan bayangan tidak punya suara kecuali aku mengizinkannya."

​Ghazali melangkah menuju sofa ruang kerja di sudut kamar, mematikan lampu utama dan menyisakan kegelapan yang pekat. Aku berdiri membeku di tengah ruangan, merasakan air mata panas mengalir di pipiku.

​Aku adalah dokter yang mencari kebenaran dari mayat, namun di rumah ini, aku dipaksa menjadi mayat yang masih bernapas. Aku adalah istri dalam bayang-bayang, wanita yang kehadirannya hanya diakui saat ia bisa digunakan untuk menutupi kebusukan.

​Malam itu, aku berbaring di ranjang yang luas, memeluk diriku sendiri. Di sofa sana, suamiku mungkin sedang merencanakan langkah selanjutnya. Dan di dalam hatiku, sebuah rencana lain mulai tumbuh. Jika Ghazali ingin aku menjadi bayangan, maka aku akan menjadi bayangan yang paling gelap. Bayangan yang akan terus mengikuti setiap langkahnya hingga ia sendiri yang akan tersandung oleh rahasianya.

​Tiba-tiba, ponselku di bawah bantal bergetar. Sebuah pesan baru masuk dari Adrian.

​“Dok, saya menemukan sesuatu di sampel darah kedua korban. Bukan racun biasa. Ini adalah zat penenang yang hanya bisa diakses oleh personel kepolisian tingkat tinggi. Keana... hati-hati. Musuhmu bukan hanya jaksa itu.”

​Aku mematikan ponselku dengan tangan gemetar. Di kegelapan kamar, aku menyadari satu hal: aku tidak hanya sedang terjebak dalam pernikahan yang salah alamat, tapi aku sedang berdiri di tengah pusaran konspirasi yang bisa menelan nyawaku kapan saja.

​Dan yang paling menakutkan adalah... aku mulai curiga bahwa lencana timbangan emas yang kutemukan di tubuh Bram, sebenarnya adalah milik Ghazali yang hilang.

1
falea sezi
ya uda end
falea sezi
novel sekeren ini sedetail ini sepi like ya ampun😍 aq ksih hadiah deh
falea sezi
uda Keana dia cocok ma maia yg uda di ewe
falea sezi
🤣 laki najis pernah tidur gk dia sama maya pasti pernah donk
falea sezi
mending cerai aja lah😕
Detia Anastasia
Gila aku suka novel gini, kenapa baru nemu sekarang🤧
Yeni Puspitasari
pernikahan yang mengerikan Thor,
baca part ini aku merinding
Mei TResna Rahmatika
kapan bahagianya thorr😭
Mei TResna Rahmatika
pliss thor nanti bikin happy ending buat keana sama ghazali😭
Mei TResna Rahmatika
kasian banget keana😭
Mei TResna Rahmatika
susah di tebak alurnya tp seruuu poll
Mei TResna Rahmatika
plisss Ghazali jangan mati thorr😭
Mei TResna Rahmatika
deg"an tiap baca part nya thor
Mei TResna Rahmatika
nangisss bangettt part ini 😭😭
Dewy Aprianty
seru banget, lanjut thorr
Mei TResna Rahmatika
baguss kak, cerita nya lain drpd yg lain
nunggu update selanjutnya kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!