Ling Fan, pemuda 17 tahun dari Klan Ling, lahir tanpa Dantian—cacat yang membuatnya dihina sebagai sampah. Di balik ejekan, dia menyimpan rahasia: tubuhnya mampu melahap Qi langit dan bumi.
Saat Klan Ling dihancurkan klan saingan, Ling Fan selamat seorang diri. Di reruntuhan, dia juga menemukan Telur Hitam misterius. Teknik terlarang terbangun "Tubuh Penelan Langit" aktif, mengubahnya dari manusia biasa menjadi pemangsa energi. Setiap luka, setiap penghinaan, hanya membuatnya makin kuat karena dia menelan semuanya.
Kini dia berjalan sendirian, dikejar sekte besar, diburu iblis kuno, dan dicap sesat. Dari Arena Batu Hitam hingga Lembah Guntur, Ling Fan menelan petir, menghancurkan jenius, dan membalik takdir. Tapi harga kekuatan itu adalah kemanusiaannya.
Ketika langit sendiri menginginkannya mati, mampukah pemuda tanpa Dantian ini menelan langit sebelum dia dilahap kegelapannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Empat Belas Malam Mimpi Buruk*
Buah Jiwa Pahit di tangan Ling Fan tampak mengerikan dengan dua belas urat hitam yang berdenyut layaknya cacing di atas kulit ungu tua yang menghitam. Aromanya begitu menusuk otak—perpaduan antara madu basi dan besi karat yang memualkan—namun Dantian Iblis di ulu hatinya justru bereaksi panas, menuntut asupan energi segera melalui getaran yang tak sabar.
"Makan... berikan kepadaku sekarang sebelum jantungmu benar-benar berhenti berdetak!" suara Telur Hitam bergema serak di dalam kepalanya, seolah rasa lapar itu sudah mencapai puncaknya.
"Tunggu sebentar, kau sudah benar-benar gila?" tegur Penjaga yang bersandar di dinding gua dengan tubuh retak. "Kau lihat urat-urat hitam yang berdenyut itu? Normalnya hanya tujuh, tapi yang kau pegang itu ada dua belas urat. Artinya, ini bukan buah biasa. Ini racun mematikan yang sudah lewat matang!"
"Aku tahu bau busuk ini bukan makanan surgawi, tapi aku tidak punya pilihan lain untuk bertahan hidup!" balas Ling Fan dengan napas memburu dan mata yang berkilat putus asa.
"Dengarkan aku baik-baik, bocah! Buah urat dua belas berarti mimpi burukmu bukan tujuh malam, tapi empat belas malam berturut-turut tanpa henti! Jika mentalmu tidak cukup kuat untuk menahan siksaan itu, kau akan bangun sebagai iblis yang kehilangan akal, atau lebih buruk lagi, Dantian Iblis itu akan menelan kesadaranmu sepenuhnya dan menjadikanmu boneka tanpa jiwa!"
"Lalu kau ingin aku melakukan apa? Duduk manis di sini menunggu jantungku berhenti besok pagi?!" Ling Fan menunjuk ke arah Yue Lian yang terbaring lemah di atas tanah dingin. "Lihat dia! Bibirnya membiru lagi karena sisa es Sumur Naga Beku terus menggerogotinya. Jika aku tidak bertaruh sekarang, kami berdua hanya akan menjadi dua bangkai busuk di gua ini!"
"Bahkan anjing-anjing Sekte Awan Abu yang rakus saja tahu buah itu rongsokan yang tidak layak sentuh!" ejek Penjaga sambil menunjuk ke arah rombongan Senior Lu yang baru saja lewat di kejauhan. "Mereka lebih memilih jalan terus daripada menyentuh sampah berbahaya itu. Kau benar-benar ingin berjudi dengan kewarasanmu hanya demi satu malam tambahan yang belum tentu berhasil?"
"Iya! Pahitnya buah ini tidak akan pernah sebanding dengan pahitnya dendam yang membakar hatiku selama belasan tahun ini! Jika aku harus menjadi iblis paling mengerikan demi membalas mereka semua, maka jadilah! Aku tidak peduli lagi!" tegas Ling Fan tanpa ragu sedikit pun.
Ling Fan menggigit buah itu dengan kasar hingga cairannya muncrat. Kraak. Rasanya luar biasa mengerikan, seperti mengunyah arang empedu yang dicampur karat besi, namun seketika cairan pahit itu turun ke tenggorokan, Dantian Iblisnya menyala panas. Bara energi yang tadinya setipis benang kini membesar seukuran kuku, mulai mengalir liar menambal luka-luka di tulang rusuknya meskipun energinya terasa sangat tidak stabil dan menyakitkan.
"Satu buah ini setara dua buah normal karena tingkat kematangannya yang ekstrem. Energi yang masuk memang dua kali lipat, tapi racun mimpinya pun akan menyiksamu dua kali lebih lama dari biasanya," gumam Ling Fan sambil menyeka keringat dingin yang mulai membanjiri dahinya.
"Nikmatilah empat belas malam neraka pribadimu, Ling Fan! Malam ketujuh kau akan melihat ibumu mati di depan matamu, dan pada malam ke-14, kau sendiri yang akan menjadi eksekutor yang mencabut nyawanya dalam mimpimu sendiri. Aku akan keluar mencari Batu Sumur Kering untuk menambal retakan tubuhku sebelum aku benar-benar hancur menjadi debu," kata Penjaga sebelum akhirnya menghilang di balik kegelapan hutan tulang yang mencekam.
Ling Fan terduduk lemas, menyadari bahwa sekarang tenaganya hanya tinggal seukuran kuku—sangat rapuh dan tidak berdaya di hadapan para kultivator luar. Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak, namun kegelapan langsung menyeretnya ke dalam fragmen ingatan yang paling ia benci dan ia takuti.
Di dalam mimpinya, api berkobar hebat melahap seluruh Kuil Klan Ling yang megah. Kepala ayahnya menggelinding tepat ke arah kaki Ling Fan, menatapnya dengan mata terbuka yang seolah-olah bertanya penuh tuntutan mengapa ia masih hidup sendirian.
"Ini semua karena kau lemah, Ling Fan! Kau memilih lari sementara kami semua dibantai tanpa ampun! Kau adalah pengecut terbesar dalam sejarah klan kita!" raung Tetua botak Klan Naga Hitam yang muncul dari kobaran api dengan cakar yang masih meneteskan darah segar.
"Tutup mulut busukmu! Aku akan membunuhmu! Aku akan menghancurkan seluruh garis keturunanmu tanpa sisa!" teriak Ling Fan dalam tidurnya yang penuh gelisah.
"Bagaimana mungkin kau akan membunuh kami? Kau bahkan tidak bisa menjaga satu orang pun keluargamu sendiri! Kau hanya sampah beruntung yang kebetulan menemukan telur iblis!" ejek bayangan ayahnya yang kini ikut muncul dan menyudutkannya dalam kegelapan.
"BUKAN! ITU BUKAN SALAHKU! ARGH!" Ling Fan tersentak bangun dengan seluruh tubuh basah oleh keringat dingin yang memuakkan.
Napasnya tersengal-sengal dan jantungnya berdegup kencang akibat pengaruh racun buah urat dua belas tersebut yang mulai bekerja. Ini baru malam pertama, namun siksaan mentalnya sudah terasa seperti ribuan tahun di dasar neraka paling dalam. Ia menoleh ke arah Yue Lian yang kembali menggigil hebat; dingin dari sisa air sumur sepertinya tidak akan membiarkannya bernapas lega sedikit pun.
Tiba-tiba, suara teriakan melengking yang penuh keputusasaan pecah dari arah luar gua, membelah suasana sunyi yang mencekam di lembah tersebut.
"Tolong! Siapa pun yang mendengar! Kakak Senior Lu, tolong aku! Ada mayat hidup tingkat Inti Emas di sini! Aku tidak kuat lagi!" teriak seorang murid yang terdengar sangat ketakutan dan terluka parah.
"Dengarkan teriakan itu, Ling Fan... Sebuah kesempatan emas untuk mengisi perutmu sedang menunggunya di luar sana," bisik Dantian Iblis dengan nada menggoda yang sangat menjijikkan. "Keluar sekarang dan telan murid yang lemah itu. Dia adalah Inti Emas Awal. Kau bisa langsung naik ke Fondasi 5 dan membuang semua rasa sakit ini dalam sekejap. Perempuan itu? Biarkan saja dia mati, dia hanya akan menjadi beban yang memperlambat langkahmu menuju puncak kekuatan."
"Diam kau, Telur Busuk! Aku tidak akan pernah sudi menjadi budak nafsu makanmu yang rakus itu!" umpat Ling Fan sambil mengepalkan tangan hingga kukunya menembus telapak tangan dan mengeluarkan darah hitam yang kental.
"Tapi kau benar-benar butuh energinya sekarang, bukan? Lihat perempuan itu, napasnya sudah tinggal satu-satu, dia hampir mati!"
"Aku punya cara lain yang lebih terhormat! Aku yang memegang kendali atas tubuh ini, bukan kau yang hanya menumpang di dadaku!" raung Ling Fan dalam hati sebelum akhirnya menyeret langkahnya keluar gua.
Di luar, ia melihat seorang murid Sekte Awan Abu dengan kaki patah sedang tersudut oleh mayat hidup setinggi tiga meter yang memancarkan aura busuk. Tanpa membuang waktu lebih lama, Ling Fan membuka dadanya, membiarkan bekas luka telur itu bercahaya kemerahan yang pekat dan sangat mengancam.
"Telan sekarang juga," bisiknya singkat dengan nada dingin yang tidak terbantahkan.
Tangan ilusi hitam melesat dari ulu hatinya tanpa suara, menusuk tepat ke inti biru di dada mayat hidup tersebut dan menyedot seluruh energinya sampai monster itu luluh lantah menjadi abu yang beterbangan. Dantian Ling Fan kini membesar menjadi seukuran dua kuku—terasa hangat dan jauh lebih hidup dari sebelumnya.
"Kau... Kau bukan bagian dari sekte kami. Kenapa orang asing sepertimu mau menyelamatkanku dari kematian?" tanya murid itu dengan wajah yang pucat pasi antara rasa syukur yang mendalam dan kengerian yang nyata.
"Anggap saja hari ini keberuntunganmu sedang berada di titik tertinggi. Sekarang pergilah secepat mungkin dari hadapanku sebelum aku kehilangan kendali dan benar-benar menjadikanmu santapan pencuci mulut!" gertak Ling Fan dengan tatapan mata hitam pekat yang membuat murid itu gemetar.
"Terima kasih... Terima kasih banyak! Aku tidak akan melupakan bantuanmu ini!" murid itu menyeret kakinya yang patah, lari pergi dengan ketakutan yang luar biasa.
Ling Fan kembali masuk ke dalam gua dan langsung berlutut di samping tubuh Yue Lian yang kondisinya semakin mengkhawatirkan setiap detiknya. Ia menempelkan telapak tangannya ke kening wanita itu, mulai menyalurkan separuh energi yang baru saja ia peroleh dari mayat hidup tadi.
"Setengah untukmu... kau harus tetap hidup dan menemaniku melihat kehancuran mereka, Yue Lian. Jangan biarkan pengorbananku selama ini menjadi sia-sia belaka," bisiknya lirih saat energi seukuran satu kuku mengalir perlahan masuk ke dalam tubuh Yue Lian.
Warna biru di bibir wanita itu perlahan memudar dan napasnya kembali stabil, meskipun ia masih tetap tidak sadarkan diri dalam tidur panjangnya. Kini, Dantian Ling Fan kembali mendingin, menyisakan energi yang hanya cukup untuk bertahan hidup hingga siang hari esok. Tak lama kemudian, Penjaga kembali dengan membawa Batu Sumur Kering di tangannya.
"Kau menyelamatkan murid sekte itu daripada memakannya? Benar-benar perbuatan yang sangat bodoh bagi orang yang sedang diburu oleh seluruh dunia," sindir Penjaga setelah merasakan sisa aura manusia di sekitar mulut gua.
"Jika aku menelannya, Senior Lu pasti akan membawa seluruh pasukan sektenya ke sini besok pagi tanpa ampun. Aku lebih suka menghadapi mimpi buruk imajinasi daripada harus menghadapi ratusan Inti Emas dalam keadaan selemah ini," jawab Ling Fan dengan sangat tenang.
"Hahaha! Setidaknya kau masih punya sedikit sisa otak yang berfungsi di kepalamu yang keras itu. Tapi ingatlah baik-baik, Ling Fan, malam pertama ini hanyalah permulaan kecil. Racun buah itu akan meresap semakin dalam setiap malamnya. Kau belum melihat bayangan ibumu, bukan? Tunggulah sampai malam ketujuh, di mana keputusasaan yang sebenarnya akan datang menjemputmu," tawa Penjaga parau.
Ling Fan tidak membalas ejekan itu. Ia hanya bersandar pada dinding batu yang dingin, menutup mata dengan berat sementara jiwanya bersiap kembali memasuki arena penyiksaan mimpinya sendiri. Gerbang empat belas malam neraka telah terbuka sepenuhnya, dan ia tahu tidak ada jalan untuk kembali pulang.