NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Pria itu membuka helmnya pelan.

Dan Gilang langsung menegang.

Devan.

Sudut bibir pria itu terangkat kecil, seperti sengaja menikmati perubahan ekspresi Gilang.

“Malam, Tante,” sapanya sopan sambil sedikit menunduk ke arah ibu Gilang.

Ibunya langsung terlihat mengenali wajah itu. “Lho… Devan?”

“Iya, Tante,” jawabnya ramah.

Wajah ibunya langsung melembut. “Astaga, sudah lama sekali nggak ketemu. Kamu malah makin beda sekarang.”

Devan tertawa kecil. “Tante juga masih ingat saya ternyata.”

“Ya ingat lah,” jawab ibunya hangat. “Dulu kan sering main sama Gilang waktu SMA.”

Gilang hanya diam menatap Devan yang sekarang terlihat begitu akrab dengan ibunya, seolah tadi mereka tidak hampir baku hantam di stasiun.

Saat ibunya masuk ke dalam rumah untuk mengambil minuman, senyum Devan langsung berubah tipis.

Ia menepuk punggung Gilang pelan.

“Santai aja kali,” katanya rendah. “Lo liat gue kayak gue jahat banget.”

Gilang menepis tangan itu kasar.

Devan malah tertawa kecil. “Padahal kita sama.”

“Berisik lo,” balas Gilang dingin.

Devan hanya menyeringai kecil sambil bersandar santai di motornya.

Tatapan Gilang masih tajam ke arahnya. “Sejak kapan lo kenal Viona?” tanyanya langsung.

Devan mengangkat alis sedikit, seperti tidak menyangka Gilang akan bertanya itu secepat ini.

Devan mendekat lalu duduk santai di samping Gilang, tangannya bertumpu di sandaran kursi panjang.

“Sejak kalian mulai dekat,” jawabnya enteng. “Maybe.”

Ia melirik Gilang sekilas, lalu tersenyum tipis seperti sengaja menggantung jawabannya.

Devan kembali menoleh ke arah Gilang. “Dengar-dengar lo lagi ada bisnis sama sese—”

Kalimatnya langsung terpotong.

Ibunya Gilang keluar dari dalam rumah sambil membawa nampan kecil di pangkuannya. Kursi rodanya bergerak pelan mendekat ke teras.

Di atas nampan itu ada dua gelas teh hangat dan beberapa kue sederhana.

“Nggak banyak sih,” katanya lembut. “Cuma ada ini di rumah.”

Devan menerima gelas itu lalu mengangguk kecil. “Terima kasih, Tante.”

Ibunya Gilang tersenyum tipis lalu meletakkan piring kecil berisi kue di meja depan mereka. “Dimakan ya.”

Begitu ibunya masuk kembali ke dalam rumah, Gilang langsung menyikut lengan Devan pelan tapi keras.

“Jangan bahas itu di sini.”

Devan tertawa kecil sambil menyeruput tehnya santai. “Terus di mana?” tanyanya ringan. “Lo aja ngindar terus dari gue.”

Gilang diam menatap depan.

“Udah nggak suka temenan sama gue sekarang?” lanjut Devan.

Rahang Gilang sedikit mengeras, tapi tetap tidak menjawab.

Devan menyandarkan tubuhnya santai. “Jangan lempar kesalahan lo sendiri ke gue dong.”

Tatapannya melirik Gilang tipis.

“Gue nggak pernah maksa lo kerja bareng gue.” Ia tersenyum kecil. “Jadi jangan sok paling suci sendirian, bro.”

Gilang tetap diam.

Tatapannya lurus ke jalan depan rumah, sementara tangannya perlahan mengepal di atas lutut.

Dan yang paling membuatnya kesal—

ia tahu ucapan Devan tidak sepenuhnya salah.

Tidak ada yang benar-benar menyeretnya masuk ke dunia itu.

Devan memang membuka jalan.

Tapi yang memilih untuk tetap berjalan di sana… dirinya sendiri.

Lalu kenapa sekarang ia semarah itu pada Devan?

Devan melirik Gilang sekilas lalu tertawa kecil. “Kenapa lo? Lagi merenungi dosa?”

Gilang tetap diam.

“Harusnya gue yang marah,” lanjut Devan santai sambil menggigit kue di tangannya. “Lo udah ambil banyak pelanggan gue.”

Gilang akhirnya menoleh pelan. “Lo tahu dari mana soal itu?”

Devan pura-pura mengernyit bingung. “Soal apa?”

Gilang tetap diam menatapnya, sudah tahu pria itu cuma sedang bermain-main.

Devan akhirnya tertawa lagi. “Oh… bisnis gurih itu?”

Ia menyeruput tehnya santai.

“Ya dari Tante kita lah,” katanya ringan. “Siapa lagi?”

Devan menyandarkan tubuhnya sambil tertawa kecil. “Kalau gue yang dapet tawaran itu, udah gue gas tuh cewek tiap hari.”

Gilang langsung mengernyit.

“Kejar target, bro,” lanjut Devan santai. “Dan lo udah sebulan masih belum ada hasil?”

Gilang langsung mendecih pelan. “Lo mending pulang deh sana.”

Devan masih terlihat santai.

“Sakit kuping gue denger lo ngomong,” lanjut Gilang dingin.

Devan malah tertawa kecil sambil berdiri dari kursinya. “Sensitif amat.”

Devan berjalan santai ke arah motornya sambil memainkan helm di tangannya.

“Oh iya,” katanya sambil melirik Gilang sekilas. “Lo ditunggu tuh sama TanJes.”

Gilang langsung mengernyit kesal mendengar singkatan itu.

Gilang langsung mengambil tutup gelas teh di meja lalu melemparkannya ke arah Devan.

“Pergi sana anjir!”

Tutup itu mengenai punggung jaket Devan pelan.

Tapi Devan malah tertawa ngakak sambil terus berjalan menuju motornya.

“Ih galak banget,” ejeknya sambil memakai helm.

“Ada banyak yang ngantri,” lanjut Devan santai sambil tertawa kecil.

Beberapa detik kemudian suara motornya kembali terdengar menjauh meninggalkan rumah Gilang.

...****************...

Pagi harinya, Gilang melaju cukup cepat di jalanan kota.

Angin menerpa wajahnya, tapi pikirannya masih penuh sejak semalam.

Tanpa sadar motornya justru berhenti di rumah sakit tempat Valeria dirawat.

Gilang melepas helm lalu masuk ke lobby.

Langkahnya sempat menuju meja resepsionis, tapi mendadak berhenti sendiri.

“Ngapain aku ke sini sepagi ini…” gumamnya pelan sambil melirik jam besar di dinding.

Baru setengah sembilan.

Gilang mengusap wajahnya kasar.

Ia sendiri tidak mengerti kenapa sejak tadi seperti ada yang menariknya datang ke tempat ini.

Dan saat hendak berbalik pergi—

langkahnya langsung terhenti.

Dari arah lorong depan, Dimas terlihat sedang berjalan sambil mengobrol dengan seorang ibu paruh baya.

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!