NovelToon NovelToon
Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:588
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )

Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )

Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )

Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6 - Harga Sebuah Kekuatan

Di balik pepohonan yang rimbun, tersembunyi dalam bayangan dedaunan merah yang bergoyang pelan, ketiga anak itu menyaksikan kejadian di depan bangunan tua dengan ekspresi terkejut yang sulit mereka sembunyikan.

Xiao Yan menyipitkan mata, tatapannya tajam menembus celah-celah daun, fokus pada sosok pria yang baru saja muncul dari dalam bangunan. “Tidak mungkin…” gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar. “Rumah itu… ternyata ada penghuninya?”

Ye Fan mengerutkan kening, pikirannya langsung dipenuhi kecurigaan. Ia mengamati pria itu dengan lebih teliti, mencoba merasakan sesuatu yang tidak kasatmata. “Orang itu… terasa aneh,” bisiknya hati-hati. “Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya tidak seperti orang biasa. Chen bisa saja dalam bahaya.”

Mendengar itu, Han Li langsung bergerak, tubuhnya condong ke depan seolah siap berlari kapan saja. “Kalau begitu kita harus ke sana sekarang!” ucapnya cepat, tidak menyembunyikan kekhawatirannya.

Namun sebelum ia sempat melangkah, tangan Xiao Yan langsung menahannya.

“Jangan gegabah,” kata Xiao Yan dengan suara rendah namun tegas, matanya masih tertuju pada Long Chen dan pria misterius itu. “Kita lihat dulu situasinya.”

Ia menarik napas pelan, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih serius, “Kalau Chen benar-benar dalam bahaya…baru kita langsung bergerak.”

Han Li terdiam sejenak, jelas masih gelisah, sementara Ye Fan mengangguk pelan, setuju dengan keputusan itu.

Pada akhirnya, mereka bertiga tetap bertahan di tempat, menyembunyikan diri di balik pepohonan, mengawasi setiap gerakan dengan penuh kewaspadaan.

Di dalam bangunan tua itu, suasananya jauh lebih gelap dan sunyi daripada yang terlihat dari luar. Cahaya hanya masuk sedikit melalui celah-celah dinding yang retak, menciptakan bayangan panjang yang menari di lantai kayu yang rapuh. Long Chen duduk di sebuah kursi tua yang berderit pelan setiap kali ia bergerak, sementara di hadapannya, pria misterius itu berdiri dengan sikap tenang, seolah semua yang akan terjadi sudah berada dalam kendalinya.

Perlahan, tanpa gerakan yang jelas, sebuah bola hitam muncul di udara di samping pria itu. Bola tersebut melayang stabil, namun permukaannya berdenyut pelan seperti jantung yang hidup, memancarkan aura gelap yang membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat dan menekan.

Mata Long Chen langsung tertuju ke sana, napasnya sedikit tertahan. “A-apa itu, Guru?” tanyanya, suara yang biasanya penuh semangat kini terdengar ragu.

Pria itu tersenyum tipis, sorot matanya dalam dan sulit dibaca. “Ini… adalah kekuatan,” jawabnya tenang, seolah sedang menjelaskan sesuatu yang sederhana.

Ia melangkah sedikit mendekat, tatapannya tidak lepas dari Long Chen. “Jika kau ingin menjadi kuat, maka bola ini harus masuk ke dalam tubuhmu,” lanjutnya dengan nada yang tetap datar, namun sarat makna.

Long Chen terdiam.

Ada sesuatu yang terasa tidak beres di dalam hatinya, sebuah insting yang berusaha memperingatkannya. Aura dari bola hitam itu bukan sesuatu yang bisa ia pahami, namun jelas bukan sesuatu yang biasa.

Namun di saat yang sama, bayangan kekalahan kembali muncul di benaknya.

Wajah Xiao Yan.

Ujung pedang di lehernya.

Kata-kata tentang kelemahan dirinya sendiri.

Tangannya perlahan mengepal.

Keraguan di matanya mulai tergantikan oleh tekad yang keras.

“…Aku bersedia,” ucapnya akhirnya, suaranya pelan namun pasti. “Selama aku bisa menjadi kuat.”

Senyum pria itu melebar sedikit, kali ini lebih jelas, seolah inilah jawaban yang sudah ia tunggu sejak awal.

“Bagus,” katanya singkat.

Ia mengangkat tangannya, dan bola hitam itu perlahan melayang mendekat ke arah Long Chen, denyutannya semakin jelas, seakan merespons keputusan yang baru saja dibuat.

“Sekarang, buka mulutmu dan tahan rasa sakitnya,” lanjutnya dengan nada tenang, seolah apa yang akan terjadi hanyalah proses biasa.

Long Chen menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya, meski jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

“Baik… Guru,” jawabnya, dan tanpa ragu lagi, ia mengikuti perintah itu.

Bola hitam itu bergerak perlahan mendekati wajah Long Chen, melayang tepat di depan mulutnya seolah memiliki kehendak sendiri. Tanpa memberi waktu untuk berpikir ulang, bola itu langsung meluncur masuk ke dalam mulutnya, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tenggorokan.

“Telan,” ucap pria itu dengan tenang.

Long Chen menurut.

Begitu ia menelan, semuanya berubah dalam sekejap.

Jeritan panjang keluar dari mulutnya, tubuhnya langsung bergetar hebat seolah ada sesuatu yang meledak dari dalam dirinya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya, bukan hanya di permukaan, tetapi hingga ke tulang dan jiwanya, seperti ada kekuatan asing yang merobeknya dari dalam.

Aura hitam menyembur keluar dari tubuhnya, liar dan tak terkendali, menyelimuti seluruh dirinya seperti kabut gelap yang hidup. Energi itu berputar dengan ganas, membuat lantai kayu di sekitarnya berderit dan retak, sementara udara di dalam bangunan menjadi berat dan penuh tekanan.

Mata Long Chen bergetar, pupilnya menyempit dan melebar tak beraturan, seolah kesadarannya sedang ditarik ke arah yang berbeda. Napasnya kacau, suaranya terputus-putus di antara jeritan dan desahan kesakitan yang tak tertahankan.

Ia berusaha bertahan.

Namun kesadarannya mulai goyah.

Dunia di sekitarnya terasa berputar, suara-suara menjadi samar, dan perlahan semuanya mulai tenggelam dalam kegelapan yang semakin dalam.

Di hadapannya, pria itu hanya berdiri dan menatap dengan tenang.

Tatapannya tidak menunjukkan sedikit pun rasa khawatir, justru sebaliknya, ada kepuasan yang jelas terpancar dari matanya.

“Nampaknya… ini akan berhasil,” gumamnya pelan, senyum tipis kembali muncul di wajahnya, seolah semua ini berjalan persis seperti yang ia rencanakan sejak awal.

Di luar bangunan tua itu, teriakan Long Chen tiba-tiba menggema, memecah keheningan yang sejak tadi terasa tidak wajar. Suara itu dipenuhi rasa sakit yang begitu jelas hingga membuat siapa pun yang mendengarnya langsung merasakan bahaya yang nyata.

“Chen!” seru ketiganya hampir bersamaan.

Tanpa berpikir panjang, mereka langsung berlari menuju bangunan itu dengan kecepatan penuh. Han Li yang berada di depan segera mendorong pintu hingga terbuka, siap masuk tanpa ragu sedikit pun.

Namun langkah mereka terhenti.

Sosok pria itu sudah berdiri tepat di depan mereka, seolah telah menunggu sejak awal.

“Oh… ternyata kalian teman bocah itu,” ucapnya santai, senyumnya tipis namun dingin, membuat suasana di sekitar langsung terasa menekan.

Xiao Yan melangkah maju satu langkah, berdiri di depan dua temannya, tatapannya tajam penuh kewaspadaan. “Apa yang kau lakukan pada Long Chen?!” tanyanya dengan nada tegas, kemarahan mulai terlihat di wajahnya.

Pria itu hanya menatap mereka sekilas, lalu tersenyum lebih dalam. “Dia… akan membantuku mencapai tujuanku,” jawabnya tanpa sedikit pun merasa bersalah.

Ye Fan tidak menunggu lebih lama.

Tanpa peringatan, ia langsung bergerak maju dan menyerang dengan cepat, mencoba menembus pertahanan pria itu sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi.

Namun sebelum serangannya mencapai target—

Tanah di bawah mereka tiba-tiba bergetar hebat.

Dalam sekejap, sebuah telapak tangan raksasa terbentuk dari tanah dan muncul dengan kekuatan yang mengerikan, langsung menutup ruang di sekitar mereka.

Segalanya terjadi terlalu cepat.

Mereka bertiga tidak sempat bereaksi.

Tubuh mereka langsung terperangkap dalam genggaman tangan tersebut.

“Apa—?!” suara keterkejutan mereka terpotong oleh tekanan yang menghimpit tubuh mereka dari segala arah.

Belum sempat melawan, energi hitam meledak dari dalam genggaman itu, menghantam mereka dengan kekuatan brutal yang langsung menembus pertahanan tubuh mereka.

Jeritan kesakitan pecah bersamaan.

Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh mereka, membuat napas terhenti dan kesadaran mereka goyah dalam sekejap. Kekuatan itu terlalu besar untuk mereka hadapi.

Pandangan mereka mulai kabur.

Tubuh mereka melemah.

Dan satu per satu, kesadaran mereka menghilang, meninggalkan tubuh mereka jatuh tak berdaya ke tanah.

Sesaat kemudian, tangan raksasa itu lenyap begitu saja, seolah tidak pernah muncul.

Beberapa saat kemudian, pintu bangunan tua itu terbuka perlahan dengan suara berderit yang panjang, memecah keheningan yang menekan di sekitarnya. Dari dalam kegelapan, sebuah sosok melangkah keluar.

Long Chen.

Langkahnya kaku, tidak lagi ringan seperti biasanya, setiap pijakan terasa kosong seolah tubuhnya bergerak tanpa jiwa. Kepalanya sedikit menunduk, sementara matanya yang terbuka tidak lagi memancarkan cahaya kehidupan, melainkan kegelapan yang dalam dan dingin. Aura hitam menyelimuti tubuhnya, berputar pelan seperti kabut yang hidup, membuat udara di sekitarnya terasa berat dan tidak alami.

Ia tidak lagi terlihat seperti dirinya sendiri.

Di belakangnya, pria itu berdiri dengan tenang, mengamati hasil yang telah ia ciptakan dengan tatapan puas. Senyum tipis terukir di wajahnya, seolah semua ini hanyalah langkah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

“Bagus…” ucapnya pelan.

Tatapannya tetap tertuju pada Long Chen yang kini berdiri tanpa reaksi.

“Sekarang, ikut aku.”

Tidak ada jawaban.

Long Chen hanya mulai berjalan.

Gerakannya lurus dan tanpa ragu, namun bukan karena keyakinan, melainkan karena ketiadaan kehendak. Ia berjalan seperti boneka yang dikendalikan, mengikuti perintah tanpa pertanyaan, tanpa penolakan.

Pria itu tersenyum lebih lebar.

“Aku akan membuatnya… menderita lebih dulu,” gumamnya lirih, suaranya hampir tenggelam dalam hembusan angin, namun dipenuhi niat yang gelap.

Perlahan, tatapannya beralih ke arah desa yang tampak di kejauhan.

“Baru setelah itu… semuanya akan dimulai.”

Angin malam kembali berhembus, membawa dedaunan maple yang berguguran, namun kali ini suasananya tidak lagi damai.

Dua sosok itu berjalan menjauh dari bangunan tua, langkah mereka perlahan namun pasti, menyusuri jalan yang mengarah ke pusat desa.

Menuju Maple Leaf Village.

End Chapter 6

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!