"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Salah Klik, Salah Nasib
Bau formalin itu seharusnya menjadi aroma yang paling dibenci Arini setelah aroma rumah sakit tempatnya koma selama tiga bulan. Namun, bagi Arini yang baru saja kembali dari ambang kematian, bau menyengat ini justru terasa seperti pengingat bahwa dia masih bernapas.
Arini menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang di balik jubah hijaunya. Di depannya, sebuah brankar logam mengilat memantulkan cahaya lampu neon yang berkedip-kedip—seolah-olah lampu itu sendiri sedang sekarat. Di atasnya, terbujur kaku sebuah tubuh yang tertutup kain jarik cokelat.
"Rin, serius deh... itu lipstik kamu ketebalan. Mau otopsi atau mau audisi girlband?"
Arini tersentak. Dia melirik ke samping kanan, tempat Mika sedang duduk bersila di atas meja instrumen bedah. Mika mengenakan cheongsam merah modern dengan rambut yang dikuncir dua tinggi. Wajahnya cantik, kulitnya putih porselen, tapi sayangnya, kakinya tidak menapak lantai.
"Mika, bisa diam tidak? Ini hari pertamaku masuk kerja. Kalau aku gagal fokus dan salah potong, karierku tamat!" bisik Arini dengan nada tertahan.
"Duh, Arini sayang... karier kamu itu sudah salah sejak awal. Ingat kan? Kamu itu salah klik! Harusnya ambil Spesialis Kulit dan Kelamin biar bisa dandanin pasien jadi cantik, eh malah nyasar ke Forensik. Sekarang kamu malah dandanin mayat supaya kelihatan 'rapi' di depan hakim," Mika tertawa cekikikan, suaranya terdengar seperti denting lonceng yang bergema di ruangan sunyi itu.
Arini mengabaikannya. Dia meraih pisau bedah—scalpel—dengan tangan yang sedikit gemetar. Namun, baru saja ujung pisau itu menyentuh kulit dingin sang jenazah, sebuah tangan pucat mendadak muncul dari balik kain jarik dan mencengkeram pergelangan tangan Arini.
"DOKTER! JANGAN POTONG DI SITU! ITU TATO TERMAHAL SAYA!"
Arini menjerit kecil, hampir saja melempar pisaunya. Dia mundur tiga langkah hingga punggungnya menabrak lemari pendingin jenazah.
Di atas brankar, sosok hantu laki-laki bertato penuh di lengan kanan bangkit berdiri. Dia tidak berdarah-darah, hanya terlihat sedikit... transparan dan kebiruan.
"A-apa?" gagap Arini.
"Tato naga ini harganya sepuluh juta, Dok! Kalau Dokter bedah di situ, kepalanya naga saya jadi buntung! Nanti di akhirat saya diejek hantu lain!" protes si hantu dengan wajah melas.
"Tapi saya harus memeriksa organ dalam Anda, Pak! Ini prosedur hukum!" Arini mulai berargumen dengan udara kosong—setidaknya itulah yang terlihat jika ada orang normal yang masuk ke ruangan itu.
"Nggak mau! Cari jalan lain! Pokoknya naga saya harus utuh!"
Mika terbang mendekat, mengitari hantu bertato itu. "Heh, Bang Tato! Udah mati aja banyak gaya. Lagian naga lu itu lebih mirip cacing pita tahu nggak? Udah, Rin, belah aja! Biar dia tahu rasa!"
"MIKA, JANGAN MEMPROVOKASI!" teriak Arini frustrasi.
Tepat saat itu, pintu baja ruang otopsi terbuka dengan suara dentuman berat.
Seorang pria jangkung dengan setelan jas charcoal yang sangat rapi masuk. Langkah kakinya yang mengenakan sepatu pantofel mahal bergema tegas. Wajahnya simetris, rahangnya tegas, dan matanya setajam elang yang sedang mengintai mangsa. Dialah Baskara, tunangan Arini sekaligus Jaksa penuntut yang paling ditakuti di kota ini.
Baskara berhenti tepat di depan Arini. Dia menatap Arini yang sedang berdiri memojok di pojok ruangan dengan tangan terangkat, seperti orang yang sedang mengajak berkelahi udara.
"Arini," suara Baskara rendah dan berat. "Kamu bicara dengan siapa?"
Arini membeku. Dia melihat ke arah Baskara, lalu ke arah Mika yang sedang meletakkkan tangannya di bahu Baskara (meski tangannya menembus jas pria itu), lalu ke arah hantu bertato yang masih protes soal naganya.
"Aku... aku sedang... sedang senam tangan, Bas! Iya, senam tangan supaya otot-ototku tidak kaku setelah koma," Arini melakukan gerakan memutar tangan yang aneh.
Baskara menyipitkan mata. Dia berjalan mendekat, aroma parfum sandalwood yang mahal langsung menyapu hidung Arini, mengalahkan bau formalin sejenak. Baskara berhenti hanya beberapa inci dari wajah Arini, membuat Arini harus mendongak.
"Tiga bulan koma sepertinya mengganggu fungsi kognitifmu," ucap Baskara datar tanpa ekspresi. Dia mengulurkan tangan, lalu dengan lembut—sangat lembut hingga Arini hampir meleleh—dia merapikan helaian rambut Arini yang keluar dari penutup kepala medisnya. "Jangan memaksakan diri. Kalau kamu masih berhalusinasi, pulanglah. Aku tidak mau laporan otopsi kasus ini cacat hukum karena dokter yang mengerjakannya sedang... tidak stabil."
Arini mengerucutkan bibirnya. Sifat tsundere Baskara memang juara. Bicaranya pedas, tapi tindakannya perhatian.
"Aku sehat, Bas. Aku cuma... sedikit gugup. Kasus ini sangat penting untukmu, kan?"
Baskara terdiam sejenak. Matanya menatap tubuh di atas brankar. "Sangat penting. Ini kunci untuk menjerat sindikat konspirasi yang juga terlibat dalam kecelakaanmu tiga bulan lalu. Aku butuh bukti fisik, Arini. Bukan halusinasi."
Mika, yang sejak tadi menonton, mendadak berbisik di telinga Arini. "Rin, kasih tahu tunangan robotmu itu... si Bang Tato ini nggak mati karena serangan jantung. Tuh, lihat di lubang telinganya. Ada bekas tusukan kecil banget. Kayaknya dia diracun lewat situ."
Arini tersentak. Dia melihat ke arah telinga jenazah. Benar saja, ada bintik merah kecil yang hampir tak terlihat jika tidak diperiksa dengan sangat jeli.
"Bas," panggil Arini pelan. "Bisa beri aku waktu lima belas menit? Aku rasa... aku menemukan sesuatu yang terlewatkan oleh tim olah TKP."
Baskara menatap Arini dalam-dalam, mencari kebohongan di mata tunangannya. Setelah beberapa detik yang terasa selamanya, dia mengangguk kecil.
"Lima belas menit. Aku tunggu di luar. Dan Arini..." Baskara berhenti di ambang pintu, "Jangan bicara sendiri lagi. Itu membuatku... khawatir."
Pintu tertutup.
Mika langsung bersorak. "Cieee, khawatir katanya! Padahal dalam hati dia mau bilang 'Aku sayang kamu, Arini, jangan gila dulu'."
"Diam kau, Mika!" Arini kembali mendekati meja otopsi. Dia menatap hantu bertato itu. "Pak, kalau Bapak mau tato naganya utuh, kasih tahu saya siapa yang menusuk telinga Bapak? Kalau Bapak jujur, saya janji akan menjahit perut Bapak seindah sulaman baju pengantin!"
Hantu bertato itu terdiam, lalu matanya mulai berkaca-kaca (yang anehnya berwarna biru transparan). "Beneran ya, Dok? Janji ya? Oke... jadi gini ceritanya, waktu saya lagi makan seblak..."
Arini mendesah. Dia menarik napas, menyiapkan mental untuk mendengarkan curhatan pertama dari banyak arwah yang akan datang. Menjadi dokter kulit mungkin lebih tenang, tapi menjadi dokter forensik indigo? Sepertinya hidup Arini baru saja dimulai dengan cara yang paling gila.
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣