Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 — ORANG YANG PALING TIDAK KAMI CURIGAI
Sunyi.
Semua orang membeku.
Mahesa berdiri di tengah ruang penyimpanan sempit itu.
Asap tipis masih keluar dari pistol di tangannya.
Di belakangnya—
dua pria bersenjata berdiri seperti bayangan.
Dan di tangannya…
map hitam itu.
Daftar yang membunuh terlalu banyak orang.
“Akhirnya.”
Mahesa tersenyum kecil.
“Semua jadi lebih mudah.”
Arkan langsung mengangkat pistol.
“Jatuhkan map itu.”
Mahesa tertawa pelan.
Santai.
Seolah tidak ada ancaman di depannya.
“Kamu tahu apa masalah terbesar generasi kalian?”
Tatapannya bergeser pelan dari Arkan ke arahku.
“Kalian masih percaya dunia bisa diselamatkan.”
Aku langsung muak.
“Dan kalian percaya dunia harus dikendalikan.”
Mahesa mengangguk kecil.
“Karena manusia bodoh butuh dikendalikan.”
“Omong kosong.”
Tatapannya kembali ke arahku.
“Ayahmu dulu juga bilang begitu.”
Dadaku langsung panas.
“Jangan sebut ayahku.”
“Kenapa tidak?”
Mahesa tersenyum tipis.
“Dia mati karena idealismenya sendiri.”
Aku melangkah maju tanpa sadar.
Marahku langsung naik.
“ALENA.”
Suara Arkan langsung menahanku.
Tapi Mahesa justru terlihat menikmati reaksiku.
“Lihat?”
Dia tertawa kecil.
“Kamu sama persis seperti ayahmu.”
“Dan kamu sama menjijikkannya seperti yang kubayangkan.”
Ruangan langsung sunyi.
Tegang.
Tatapan Mahesa berubah dingin.
Benar-benar dingin sekarang.
“Aku mulai mengerti kenapa mereka ingin membunuhmu sejak kecil.”
Kalimat itu langsung membuat semua orang diam.
“Apa?”
Bisikku pelan.
Mahesa menatapku lama.
Lalu—
dia tersenyum.
“Ah.”
Dia menggeleng kecil.
“Jadi kamu belum tahu.”
Perutku langsung terasa tidak nyaman.
“Apa yang belum aku tahu?”
Arkan juga mulai terlihat tegang.
Mahesa membuka map hitam itu perlahan.
“Ayahmu…”
Dia mengeluarkan satu lembar dokumen.
“…bukan cuma menyimpan daftar nama.”
Jantungku mulai berdetak keras.
“Dia juga menyimpan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.”
“Apa?”
Mahesa menatapku lurus.
“Kamu.”
Sunyi.
Aku langsung mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Mahesa tertawa kecil.
“Lucu sekali.”
Tatapannya pindah ke ayah Arkan.
“Kau belum cerita juga rupanya.”
Ayah Arkan langsung menegang.
“Diam.”
“Oh, ayolah.”
Mahesa melangkah pelan.
“Bukankah anak-anak ini pantas tahu?”
Aku mulai muak dengan semua teka-teki ini.
“Bicara yang jelas!”
teriakku.
Mahesa tersenyum tipis.
“Alena…”
Dia menyebut namaku perlahan.
“…kamu bukan target karena dendam.”
Dadaku langsung berdetak makin keras.
“Kamu diburu…”
Tatapannya tajam.
“…karena sesuatu yang ditinggalkan ayahmu ada di dalam dirimu.”
Sunyi.
Aku menatapnya tidak percaya.
Omong kosong.
“Dia gila.”
Kataku cepat ke Arkan.
Tapi anehnya—
Arkan tidak langsung menjawab.
Karena ayahnya…
terlihat pucat.
Dan di situlah—
ketakutan mulai muncul pelan di dadaku.
“Apa maksud dia?”
Aku menoleh cepat ke ayah Arkan.
Pria tua itu memejamkan mata sebentar.
Lama.
Sial.
Jangan bilang…
“Papa.”
Suara Arkan mulai berubah.
“Apa yang dia maksud?”
Sunyi.
Dan saat pria tua itu membuka matanya lagi—
aku bisa melihat rasa bersalah di sana.
“Dulu…”
Suaranya pelan.
Berat.
“…ayahmu tahu The Circle akan memburunya.”
Aku diam.
Mendengarkan.
“Dia tahu daftar itu tidak akan aman di mana pun.”
Mahesa tersenyum kecil.
Seolah menikmati semuanya.
“Jadi dia membuat salinan?”
tanya Arkan cepat.
Pria tua itu menggeleng.
“Lebih dari itu.”
Dadaku makin sesak.
“Ayahmu menciptakan sistem.”
“Apa?”
“Sistem penyimpanan.”
Tatapannya perlahan ke arahku.
“…yang hanya bisa diakses lewat satu orang.”
Aku langsung membeku.
Tidak.
Tidak mungkin.
“Tidak…”
Bisikku pelan.
Mahesa tertawa kecil.
“Akhirnya pintar juga.”
Tanganku mulai dingin.
“Ayahmu menyembunyikan semua data The Circle…”
Tatapan pria itu menusuk mataku.
“…di dalam identitas biometrikmu.”
Dunia langsung terasa sunyi.
Aku bahkan tidak bisa mendengar suara napasku sendiri.
Apa?
“Omong kosong…”
“Ayahmu ahli sistem keamanan.”
Mahesa kembali bicara.
“Dia menciptakan kunci hidup.”
Aku mundur satu langkah.
“Tidak…”
“Itu sebabnya kamu diburu.”
Tanganku gemetar.
“Itu sebabnya identitasmu dihapus.”
Aku menggeleng cepat.
“Tidak…”
“Itu sebabnya mereka tidak langsung membunuhmu.”
Dadaku langsung terasa sesak.
Karena tiba-tiba—
semuanya masuk akal.
Kenapa aku terus diburu tapi tidak pernah langsung dihabisi.
Kenapa hidupku dihancurkan perlahan.
Kenapa semua orang mencariku.
Bukan karena aku Alena.
Tapi karena aku…
kunci.
“Brengsek…”
Bisikku pelan.
Aku langsung merasa mual.
Arkan menatapku cepat.
“Alena.”
Tapi aku bahkan tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Ayahku…
menjadikanku tempat penyimpanan rahasia paling berbahaya.
Tanpa sepengetahuanku.
“Ayahmu pikir itu cara melindungimu.”
Suara ayah Arkan terdengar penuh penyesalan.
“Tapi justru membuatmu jadi target.”
Aku tertawa kecil.
Pelan.
Hampir gila.
“Tentu saja.”
Karena hidupku memang selalu kacau.
Mahesa mulai berjalan lagi.
“Sekarang…”
Dia mengangkat map hitam itu.
“…kita bisa menyelesaikan semuanya.”
Leon langsung mengarahkan pistol.
“Jangan bergerak.”
Mahesa tidak peduli.
“Berikan gadis itu.”
Arkan langsung berdiri di depanku.
Tatapannya berubah dingin total.
“Sentuh dia…”
Suaranya rendah.
Mematikan.
“…dan aku bunuh kamu.”
Mahesa tertawa keras kali ini.
“Lihat kalian.”
Tatapannya bergantian ke aku dan Arkan.
“Anak-anak bodoh yang jatuh cinta di tengah perang.”
Dadaku langsung terasa aneh.
Tapi Arkan tidak bergerak sedikit pun.
“Aku serius.”
Dan untuk pertama kalinya—
aku melihat Mahesa berhenti tersenyum.
Karena dia sadar.
Arkan benar-benar akan membunuhnya kalau perlu.
Suasana langsung berubah lebih berbahaya.
Tegang.
Sunyi.
Siapa pun bisa menarik pelatuk kapan saja.
Lalu—
suara tepuk tangan tiba-tiba terdengar dari belakang kami.
Pelan.
Santai.
Semua langsung menoleh.
Dan saat aku melihat siapa yang berdiri di pintu lorong—
jantungku langsung terasa berhenti.
Karena orang itu…
adalah Leon.
Tapi—
Leon asli berdiri di samping kami.
Tidak.
Bukan Leon.
Pria di pintu itu tersenyum.
Lalu perlahan—
melepas topeng tipis dari wajahnya.
Dan seluruh tubuhku langsung membeku.
Karena wajah di balik topeng itu…
adalah seseorang yang seharusnya sudah mati bertahun-tahun lalu.