Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Keesokan harinya, Akademi Starfell jauh lebih ramai dibanding biasanya.
Bahkan sejak pagi, lorong-lorong besar akademi sudah dipenuhi bisikan para murid bangsawan yang membicarakan satu nama yang sama.
Freya Valencia Vane.
Dan tentu saja… bukan dalam arti yang buruk seperti biasanya.
"Katanya Putri Freya minta maaf ke Aria kemarin."
"Mustahil."
"Aku dengar sendiri dari pelayan keluargaku Mereka bilang Putri Freya bahkan tersenyum ramah pada Aria."
"Serius? Bukannya dia paling benci Aria?"
"Makanya aneh."
Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang membakar rumput kering.
Dan orang yang sedang menjadi pusat rumor itu…sedang berdiri diam di depan cermin sambil memegangi kepalanya.
"Kenapa rasanya aku mau masuk medan perang lagi…"
Lily yang sedang membantu merapikan rambut Freya langsung panik. "Nona jangan bicara menyeramkan begitu pagi-pagi."
Freya menghela napas panjang.
"Aku serius Lily. Hari ini semua orang pasti lihat aku seperti monster yang mendadak jadi manusia."
"Itu karena perubahan Nona memang besar sekali…"
Freya menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.
Hari ini ia kembali memilih pakaian sederhana. Gaun biru muda lembut dengan pita putih kecil di bagian pinggang. Rambut emas panjangnya hanya dikepang sederhana ke samping.
Polos. Anggun. Tidak mengintimidasi.
Sangat berbeda dari Freya asli yang biasanya tampil seperti merak bangsawan siap perang.
"Aku masih tidak percaya image Freya lama separah itu."
Lily langsung terdiam.
Freya menoleh curiga. "Kenapa diam?"
Lily tertawa kecil kaku. "Sedikit… memang menyeramkan sih, Nona."
"SEDIKIT?"
"Kadang banyak…"
Freya memegangi dadanya dramatis. "Astaga. Pantas semua orang trauma."
Lily sampai tertawa kecil melihat ekspresi majikannya. Dan jujur saja… beberapa hari terakhir ini terasa seperti mimpi baginya.
Freya yang sekarang benar-benar berbeda. Tidak pernah membentak. Tidak pernah marah tanpa alasan. Bahkan tadi pagi Freya mengucapkan terima kasih saat diberi teh.
Lily sampai hampir menangis haru saat mendengarnya.
"Kalau Nona terus seperti ini…" gumam Lily pelan sambil tersenyum kecil. "Semua orang pasti akan mulai menyukai Nona."
Freya langsung menatap langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca. "Itu tujuan hidupku sekarang."
"Hah?"
"Hidup damai sampai tua."
Lily bengong. Kadang ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran nona mudanya itu.
Tak lama kemudian, Freya akhirnya berangkat menuju akademi.
Dan benar saja. Begitu ia melewati gerbang utama Akademi Starfell…
SUASANA LANGSUNG DIAM.
Benar-benar diam.
Beberapa murid yang sedang mengobrol langsung berhenti bicara. Ada yang sampai menjatuhkan buku. Bahkan beberapa gadis bangsawan refleks mundur memberi jalan seperti biasanya.
Freya hampir meringis.
'Ya ampun… separah ini?'
Biasanya Freya memang terkenal suka marah kalau jalannya terhalang.
Tapi sekarang?
Freya malah tersenyum kecil sambil mengangguk sopan.
"Selamat pagi."
DOR.
Satu murid cowok sampai tersedak minumannya sendiri.
Freya pura-pura tidak lihat. Ia terus berjalan menyusuri lorong akademi dengan tenang. Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak tatapan mengikuti dirinya.
"Beneran berubah…?"
"Dia tadi nyapa kita?"
"Putri Freya?"
"Tolong cubit aku."
Freya menahan malu setengah mati.
'Astaga. Freya lama sebenarnya ngapain aja sih sampai cuma nyapa orang aja jadi fenomena nasional?'
Saat akhirnya sampai di kelas, suasana malah lebih parah.
Begitu Freya membuka pintu kelas…
SEMUA ORANG DI DALAM LANGSUNG DIAM TOTAL.
Hening.
Sunyi.
Bahkan suara jarum jatuh mungkin bisa terdengar jelas sekarang.
Freya berdiri kaku di depan pintu.
"...Pagi semuanya..."
BRAK.
Seseorang menjatuhkan pena.
Freya hampir ingin menangis. 'Apa aku ini monster? ya Tuhan…'
Biasanya, setiap hari seorang Freya akan langsung menyuruh orang minggir dari kursinya sambil memasang wajah galak.
Tapi sekarang ia malah berjalan tenang menuju tempat duduknya tanpa membuat keributan sedikit pun.
Dan itu justru membuat semua orang makin takut.
"Dia kenapa…?"
"Apakah dia kerasukan?"
"Jangan-jangan ini jebakan."
Freya mendengar semuanya. Dan jujur saja… mereka memang masuk akal. Kalau posisi dibalik, dia juga pasti curiga.
Freya baru saja duduk ketika pintu kelas terbuka lagi. Aria masuk sambil membawa beberapa buku di pelukannya.
Begitu melihat Freya, tubuh gadis itu sempat menegang sedikit. Tapi kali ini ia tidak terlihat setakut kemarin.
Dan saat mata mereka bertemu… Freya refleks melambaikan tangan kecil. "Aria, sini."
SEMUA ORANG: ???
Aria membeku di tempat. "Hah?"
Freya menarik kursi kosong di sampingnya. "Duduk sini."
Satu kelas langsung terasa seperti kena petir. Bahkan ada yang hampir berdiri dari kursinya sendiri karena shock.
Aria sendiri terlihat panik. "E-Eh? Aku duduk di sana?"
"Iya."
"Tapi…"
Freya memiringkan kepala bingung.
"Emangnya kenapa?"
Kelas makin hening. Karena biasanya? Freya paling tidak suka ada orang duduk dekat dirinya. Apalagi Aria.
Tapi sekarang dia malah nyuruh Aria duduk di sebelahnya dengan santai.
Aria tampak ragu beberapa detik sebelum akhirnya berjalan pelan mendekat.
Dan jujur saja… wajah gugupnya lucu sekali. Freya sampai harus menahan diri agar tidak gemas sendiri.
Begitu Aria duduk perlahan di sampingnya… Bisikan-bisikan langsung meledak di seluruh kelas.
"Astaga."
"Dia benar-benar berubah."
"Atau Aria sedang dijebak?"
Freya hampir memegangi kepalanya lagi. Kenapa hidupnya sekarang terasa seperti acara investigasi kriminal?
Aria melirik Freya pelan. "Semua orang memperhatikan kita…"
Freya menghela napas dramatis. "Biarkan saja. Mereka sedang mengalami cultural shock."
"Hah?"
"Tidak penting."
Aria tertawa kecil bingung. Dan melihat Aria mulai tertawa lebih santai begini membuat Freya diam-diam lega.
Bagus. Minimal female lead utama dunia ini sudah mulai nyaman dengannya.
Kalau Aria selamat…maka peluang Freya selamat juga meningkat drastis.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Karena tiba-tiba… Pintu kelas terbuka lagi.
Dan sosok yang masuk membuat seluruh kelas langsung gempar.
"Ares?"
"Tuan Muda Blackwood?!"
"Kenapa dia ada di sini?!"
Freya refleks menoleh. Dan benar saja.
Ares Caelum Blackwood sedang berdiri santai di ambang pintu kelas sambil tersenyum lebar seperti biasanya.
Rambut hitam kecokelatannya sedikit berantakan, membuatnya terlihat tampan secara tidak adil pagi-pagi begini.
Mata emasnya langsung menemukan Freya. Dan senyumnya melebar.
"Pagi."
Freya langsung punya firasat buruk.
"...Kenapa kamu di sini?"
Ares berjalan masuk santai tanpa peduli semua tatapan orang.
"Aku bosan."
'BOHONG.'
Freya yakin seratus persen pria ini sengaja datang. Dan lebih parahnya lagi… Ares langsung duduk di meja kosong depan Freya.
SEKELAS LANGSUNG HEBOH.
"Dia duduk dekat Putri Freya?!"
"Apa mereka dekat?"
"Jangan-jangan rumor kemarin benar?"
Freya rasanya ingin pingsan. Sedangkan Ares malah terlihat menikmati semuanya.
"Kau terkenal sekali hari ini," katanya santai sambil menopang dagu.
"Dan itu salahmu."
Ares tersenyum polos. "Aku bahkan belum melakukan apa-apa."
'Justru itu masalahnya bambaaang.'
Aria yang duduk di sebelah Freya terlihat makin gugup sekarang.
Ares melirik Aria lalu tersenyum ramah.
"Pagi, Aria."
Aria langsung kaku. "P-Pagi…"
Freya langsung sadar satu hal. Ares ini berbahaya. Tipe orang yang terlalu gampang membuat suasana cair. Dan orang seperti itu biasanya paling sulit dihadapi.
Belum sempat Freya memikirkan cara kabur… Suara langkah kaki lain terdengar dari luar kelas.
Dan entah kenapa… Suasana langsung berubah lebih tegang.
Zevian. Pria itu masuk kelas dengan wajah dingin seperti biasa. Tatapan tajamnya menyapu ruangan sekali sebelum berhenti tepat pada… Freya dan Ares. Yang duduk terlalu dekat.
Entah kenapa Freya langsung merasa bersalah padahal dia tidak melakukan apa-apa.
Zevian berjalan melewati mereka tanpa bicara.
Tapi sebelum duduk… Tatapannya sempat berhenti sepersekian detik pada Freya dan Aria yang duduk berdampingan.
Tatapan yang sulit dijelaskan.
Freya langsung pura-pura sibuk membuka buku. 'Aku gak salah apa-apa. Aku gak salah apa-apa.'
Ares yang melihat reaksinya malah hampir tertawa.
Hari itu pelajaran berlangsung seperti biasa. Atau setidaknya… hampir biasa.
Karena sepanjang pelajaran, Freya terus merasa dirinya diawasi.
Saat ia menoleh… Beberapa murid langsung pura-pura membaca buku.
'Ya Tuhan.'
Dan yang paling parah?
Ares terus mengajaknya bicara.
"Freya."
"Apa."
"Kau benar-benar berubah ya."
"..."
"Aku masih sulit percaya."
Freya tersenyum tipis. "Aku juga kadang sulit percaya masih hidup sampai sekarang."
"Hm?"
"Tidak penting."
Ares tertawa kecil lagi.
Di sisi lain, Zevian beberapa kali melirik ke arah mereka.
Dan itu tidak luput dari perhatian beberapa murid perempuan.
"Yang Mulia terus melihat ke sana…"
"Jangan-jangan karena Aria?"
"Atau karena Putri Freya?"
Freya langsung ingin menghilang dari dunia.
Untungnya pelajaran akhirnya selesai.
Saat jam istirahat tiba, Aria menarik napas lega kecil.
Freya langsung menoleh.
"Kamu lapar?"
Aria mengangguk pelan.
Freya langsung berdiri semangat. "Ayo ke kantin."
Seketika seluruh kelas kembali hening. Karena dulu? Freya paling benci makan di tempat ramai. Ia selalu menyuruh makanan diantar khusus ke ruang pribadinya.
Tapi sekarang dia malah ngajak Aria ke kantin seperti murid normal.
Dunia benar-benar hampir kiamat.
Namun saat Freya dan Aria hendak keluar kelas… Seseorang menghalangi jalan mereka.
Seorang gadis bangsawan berambut merah anggur berdiri di depan mereka sambil menyilangkan tangan.
Tatapannya tajam. Isabella Morgana.
Dan melihat wajahnya saja, Freya langsung tahu.
Masalah datang.
Isabella dulu termasuk salah satu gadis yang paling sering mengikuti Freya membully Aria. Bukan karena mereka berteman. Lebih tepatnya karena Isabella sebenarnya juga jatuh cinta pada Zevian tanpa sepengetahuan Freya. Jadi dia mau bersekutu dengan Freya untuk membully Aria karena dia sendiri tidak mau ada perempuan lain yang mendekati Zevian.
Tapi sekarang wajah Isabella terlihat jelas tidak senang.
"Putri Freya," katanya sambil tersenyum tipis. "Aku dengar rumor aneh pagi ini."
Freya langsung waspada. "Aneh bagaimana?"
Isabella melirik Aria dengan sinis. "Katanya kau sekarang berteman dengan gadis ini."
Aria langsung menunduk gugup.
Freya menyipitkan mata sedikit. "Kalau memang begitu kenapa?"
Isabella tampak terkejut beberapa detik. Mungkin karena biasanya Freya tidak pernah membela Aria terang-terangan seperti ini.
"Tapi bukankah kau paling membencinya?"
Freya tersenyum kecil. "Itu dulu."
Isabella tertawa pendek. "Jangan bercanda."
Freya mulai malas. "Aku tidak bercanda."
Tatapan Isabella perlahan berubah dingin. Dan Freya langsung sadar. Orang-orang seperti Isabella pasti tidak suka perubahan ini.
Karena kalau Freya berubah jadi baik… Maka mereka yang selama ini ikut membully Aria akan terlihat buruk sekarang.
Dan benar saja. Isabella melangkah mendekat sedikit.
"Freya," katanya pelan. "Jangan bilang kau benar-benar serius berteman dengan gadis rendahan ini?"
BRAK.
Freya langsung meletakkan bukunya keras di meja.
Seluruh kelas terdiam. Bahkan Isabella ikut kaget.
Untuk pertama kalinya sejak pindah ke tubuh ini… Freya benar-benar merasa marah. Bukan karena dirinya dihina. Tapi karena cara Isabella memandang Aria.
Freya berdiri perlahan. Tatapannya dingin. "Jaga ucapanmu."
Isabella membelalak. Karena biasanya Freya justru paling sering bicara seperti itu pada Aria. Dan sekarang? Dia malah membela Aria.
"Kau serius?" Isabella tidak percaya.
Freya melangkah maju satu langkah. "Aku tidak peduli bagaimana sikapku dulu." Suaranya tenang tapi tajam. "Tapi mulai sekarang, kalau ada yang berani mengganggu Aria di depanku… aku tidak akan diam."
Hening. Suasana kelas langsung berubah tegang.
Aria sendiri terlihat shock.
Isabella menggertakkan giginya kesal. Lalu akhirnya ia mendecakkan lidah sebelum pergi dengan wajah jelek.
Begitu Isabella pergi… Seluruh kelas langsung gempar.
"Putri Freya tadi membela Aria…"
"Itu nyata kan?"
"Aku gak mimpi?"
Sedangkan Aria menatap Freya dengan mata membesar.
"Freya…"
Freya langsung sadar suasana jadi terlalu serius. Ia buru-buru batuk kecil.
"A-Ayo ke kantin."
Aria masih menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil.
Dan senyum itu… Masih terlalu manis untuk kesehatan mental Freya.
Sementara itu… Dari lorong luar kelas, seseorang diam-diam melihat semuanya.
Zevian. Pria itu bersandar tenang di dekat jendela koridor sambil mengingat kembali tatapan Freya tadi saat membela Aria.
Tatapan itu… Tidak palsu. Dan justru karena itu, Zevian semakin bingung.
Freya Valencia Vane yang ia kenal tidak mungkin membela Aria seperti tadi. Tidak mungkin marah demi Aria. Tapi sekarang? Semuanya terasa berbeda. Dan anehnya… Ia tidak bisa berhenti memperhatikannya.