NovelToon NovelToon
Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Status: sedang berlangsung
Genre:Bapak rumah tangga / Keluarga / Cerai
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: Widianti dia

Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Tanda Yang Diabaikan.

Dua bulan pertama, Nirmala mengirim pesan setiap pagi.

Selalu pagi, selalu sebelum aku berangkat jualan. Kadang cuma, "Semangat ya, Mas, semoga hari ini lancar." Kadang cerita pendek tentang Wida yang ngambek tidak mau makan atau tentang bos di toko kain yang menyebalkan atau tentang hal-hal kecil yang tidak penting tapi entah kenapa aku selalu baca sampai habis.

Lalu malamnya, setelah aku pulang dan beres, ada pesan lagi. Tanya hasilnya bagaimana. Kadang kirim foto Wida yang sudah tidur dengan muka polosnya.

Dua bulan itu berlalu dengan cepat.

Terlalu cepat, mungkin. Karena sebelum aku sempat berhenti dan menimbang-nimbang dengan kepala yang jernih, aku sudah terbiasa. Terbiasa dengan pesannya di pagi hari. Terbiasa dengan namanya di layar ponselku. Terbiasa dengan rasa yang muncul waktu foto Wida masuk, sesuatu antara geli dan hangat yang tidak punya nama.

Aku mulai menyukainya.

Bukan tiba-tiba. Pelan, pelan, seperti air yang meresap ke tanah, tidak terasa masuknya tapi tahu-tahu sudah dalam.

Suatu sore, aku mengajak mereka ke rumah.

Bukan dengan cara yang formal atau besar. Cuma ngobrol di pesan, aku bilang, "Kalau mau, Sabtu ke rumah, Ibu masak." Nirmala bilang, "Boleh, Mas." Sesederhana itu.

Sabtu siang, mereka datang.

Wida masuk duluan dengan cara anak yang sudah tidak asing lagi denganku, langsung ke dapur nyium-nyium bau masakan, tanya ke Ibu ini apa itu apa dengan suara yang tidak kenal malu. Ibu tertawa kecil dan memperbolehkan Wida duduk di dekat kompor sambil menemani masak.

Nirmala duduk di ruang tamu, obrolan dengan Ibu berjalan pelan tapi hangat. Nirmala sopan, bahasanya jaga, senyumnya tidak berlebihan. Dan aku duduk di sudut dengan gelas teh yang sudah tidak panas lagi, mendengarkan, dan merasakan sesuatu yang sudah sangat lama tidak aku rasakan di rumah ini.

Ramai.

Rumah yang biasanya cuma suara tiga orang, sekarang empat. Sekarang ada suara Wida dari dapur yang bertanya kenapa bawangnya dikupas dulu sebelum dipotong, kenapa tidak langsung dipotong saja, dan Ibu menjawab dengan sabar dengan penjelasan yang lebih panjang dari pertanyaannya. Sekarang ada tawa yang berbeda dari yang biasa.

Aku menatap semua itu dan ada sesuatu di dadaku yang ikut bergerak.

Makan siang berjalan baik. Nasi, sayur asem, ikan goreng, sambal yang Ibu buat terlalu pedas seperti biasa tapi tidak ada yang protes. Wida makan banyak, Nirmala bilang anaknya jarang mau makan tapi kali ini habis tanpa drama.

Dan kemudian es krim.

Ibu tidak biasa beli es krim, tapi hari itu beli satu untuk Wida, es krim cokelat kecil yang dibungkus plastik dan disimpan di freezer kecil sejak kemarin. Wida kegirangan waktu dikeluarkan, langsung dibuka, langsung dijilati dengan semangat yang tidak kenal sopan santun.

Tidak ada yang salah dari itu. Aku bahkan mau ketawa melihatnya.

Lalu es krim itu miring.

Jatuh dari tangannya yang kecil itu, menghantam lengan Nirmala yang ada di sebelahnya, dan cokelat cair itu mengalir pelan di lengan baju Nirmala yang berwarna terang.

Aku mau bilang, "Ah tidak apa-apa, bisa dicuci."

Tapi sebelum kata pertama keluar dari mulutku, tangan Nirmala sudah bergerak.

Cepat. Sangat cepat. Dengan kecepatan yang tidak cocok dengan situasinya, dengan proporsi yang tidak cocok dengan kesalahan yang hanya sebuah es krim jatuh.

Tangannya menjambak rambut Wida.

Keras.

Wida menjerit, bukan tangisan kaget tapi tangisan kesakitan yang nyata, kepalanya tertarik ke belakang dan kedua tangannya langsung ke kepala mencoba melindungi.

Lalu tangan Nirmala yang satunya menjewer telinga Wida.

Wida menangis.

Semuanya terjadi dalam kurang dari tiga detik. Tiga detik yang terasa seperti sesuatu yang salah diputar dengan kecepatan yang salah, terlalu cepat untuk ditangkap, terlalu keras untuk dinalar.

Aku terpaku.

Dan kemudian Nirmala sadar aku melihat.

Wajahnya berubah. Bukan perlahan, tapi langsung, seperti orang mengganti topeng, dan senyum kecil muncul di bibirnya, senyum yang lembut dan sedikit minta maaf dan sangat tidak cocok dengan apa yang baru saja dilakukan dua tangannya tiga detik lalu.

"Aduh, Wida, hati-hati dong, Sayang." Suaranya sudah lembut lagi, sudah kembali ke nada yang sama dengan dua bulan itu. "Bajunya Mama kena."

Wida menangis pelan, menunduk, tidak bicara.

Ibu di sebelahnya tidak bergerak. Tapi aku melihat tangan Ibu yang tadi mengusap punggung Wida berhenti sebentar lalu dilanjutkan, lebih pelan, dengan cara tangan orang dewasa yang baru saja menyaksikan sesuatu tapi tidak bisa dan tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Sore itu bubar lebih cepat dari yang direncanakan.

Nirmala pamit dengan sopan, Wida mengikuti dengan mata yang masih sedikit merah tapi sudah tidak menangis. Mereka pergi.

Aku menutup pagar.

Ibu masih di ruang tengah waktu aku masuk. Duduk di kursi rotannya, tidak memegang tasbih, tidak ngapa-ngapain, cuma duduk dan menatap ke depan.

"Satria."

Aku duduk.

"Ibu punya firasat buruk."

Kalimat itu keluar pelan. Bukan dengan nada dramatis. Bukan dengan nada menghakimi. Cuma diletakkan di udara di antara kami berdua, pelan dan berat, seperti sesuatu yang sudah lama disimpan dan akhirnya tidak bisa disimpan lebih lama lagi.

Di dalam dadaku ada sesuatu yang langsung bereaksi. Bukan bereaksi dengan tenang. Tapi dengan cara yang tidak logis, cara yang aku tidak bangga mengingatnya sampai sekarang, cara yang lahir bukan dari kebenaran tapi dari ketakutan bahwa ada yang akan merebut sesuatu yang baru saja mulai aku pegang.

"Ibu lebay."

Kata-kata itu keluar sebelum aku sempat menahannya.

"Cuma es krim jatuh. Ibu terlalu..."

"Satria." Ibu memotong. Masih pelan. Masih sama pelannya.

"Aku serius, Ma. Ibu tidak perlu langsung curiga ke semua orang yang aku dekati. Aku sudah dua puluh tiga tahun. Aku bisa nilai orang."

Ibu diam.

Matanya menatapku. Dan di dalam tatapan itu tidak ada marah, tidak ada dramatisasi, tidak ada yang dilebih-lebihkan. Cuma sesuatu yang lebih susah dihadapi dari semua itu.

Kesedihan.

Kesedihan yang sangat tenang. Kesedihan orang yang melihat sesuatu yang anaknya tidak mau lihat dan tidak bisa memaksanya untuk melihat karena memaksa tidak akan mengubah apa-apa.

Aku berdiri. Masuk ke kamar. Menutup pintu.

Di dalam kamar aku duduk di tepi kasur dan ada bagian dari kepalaku yang langsung tahu aku salah. Langsung tahu kalimat itu tidak seharusnya keluar. Langsung tahu Ibu tidak lebay. Tidak pernah lebay. Beliau orang yang paling jarang bereaksi berlebihan dari siapapun yang aku kenal.

Tapi bagian kepalaku yang lain, bagian yang lebih keras dan lebih keras kepala, memilih untuk tidak bergerak malam itu.

Malam itu aku tidak keluar dari kamar untuk minta maaf.

Besoknya aku pergi jualan pagi-pagi sebelum Ibu bangun, dan waktu pulang kami makan malam dengan obrolan yang biasa-biasa saja, tentang lauk, tentang cuaca, tentang Agung yang ujian minggu depan, dan nama Nirmala tidak disebut sama sekali oleh siapapun.

Tapi aku tahu.

Aku tahu bahwa di kamarnya malam sebelumnya, setelah aku masuk kamar, Ibu menangis.

Bukan karena aku tahu mendengar. Tapi karena keesokan paginya ada bekas di bantal di kursi rotan beliau yang agak lembab di sudutnya, dan tasbih yang biasanya di meja kecil itu ada di genggaman beliau waktu aku keluar kamar pagi-pagi, seperti beliau sudah pegang dari semalam.

Ibu menangis sendirian malam itu.

Dan aku tidak minta maaf.

Itu yang sampai sekarang paling susah aku maafkan dari diri sendiri. Bukan Nirmala. Bukan semua yang terjadi sesudahnya. Tapi malam itu. Malam di mana Ibu bilang firasat buruk dan aku bilang lebay dan masuk kamar dan tidak kembali.

Satu kata yang bisa mengubah segalanya dan aku tidak mengucapkannya.

Maaf.

Tapi malam itu aku tidak mengucapkannya.

Dan itu penyesalan yang tidak bisa dikembalikan, tidak peduli berapa kali aku mengingat atau berapa lama aku menyesalinya sekarang.

1
ASASTA
😄😄
tria123
ruqiyah aja tad si nirmala setan nya banyak
tria123
kasih aku waktu... demi si toxic.. pertahankan aja si toxic
tria123
udah mending cerai, nikahi sonia dan lo nanti bisa nyanyi "kubuat pagar besi yang mengelilingi dirimu... "
tria123
saya mencium perselingkuhan nih
tria123
bang bang kalima-lima gobang bang
tria123
paling gak suka sama perilaku seperti itu, emangnya esok nya masalah selesai ketika lo mati bundir, enggaklah..
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
tria123
kebiasaan warga Konoha nih, ekonomi sulit gaya elit akhirnya hutang melangit
tria123
bemo oh bemo... 🤣
tria123
peran pelawak nih si bemo
tria123
haji udin aja baik, masa istri sendiri pelit, udah lah ceraikan nirmala nikahi haji udin ehh... 🤣
tria123
dan kedepan nya lo gak dapat lagi rezeki, karena rezeki yang lo dapat gak di Terima secara ikhlas, liat aja hukum karma nya
tria123
dasar anak daj**, masih kecil udah bicara kayak gitu ampun generasi anak Konoha
tria123
istri macam apa kamu 🤭🤣
tria123
hahahahah, denger kalo mau makan enak yaudah lahiran di warteg atau di warung nasi padang, nama nya juga rumah sakit
tria123
makanya dengerin nasihat ibu, cerita ini ada makna dan nasihat tertentu tentang firasat seorang ibu
tria123
tolol🤣, firasat ibu gak salah, dengerin dia yang ngelahirin lo
tria123
cerita nya bagus.. drama kehidupan nya berasa nyata dan semoga satria bisa bangkit dan sukses jangan gampang nyerah

pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!