NovelToon NovelToon
RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tanya Balik

masih up, cuma jarang!


Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.


Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

06 membujuk Cedric

06.

Morline menaiki kereta kuda untuk kembali ke istana. Dia duduk di dekat jendela kereta dengan mata hijaunya yang cerah terkena sinar mentari yang mulai meninggi, sudut bibirnya muncul membuat wajahnya seperti bunga yang baru mekar.

Nina, sang dayang memeprhatikan. Bibirnya melebar membentuk senyuman. "Anda terlihat senang yang mulia?''

"Tentu saja! Mereka orang-orang yang ramah."

"Karena anda ramah mereka juga ramah." Chasi, dayang kedua menimpali.

Mereka makan pagi di ladang gandum. Meski menu yang mereka bawa sederhana, tapi banyak warga yang menawarkan makanan pada mereka. Jika sang ratu tak menolak, mungkin mereka dan para pengawal yang ikut bisa kalap mengambil semua yang diberikan.

Meski begitu, hati mereka senang, turut bahagia melihat orang-orang tersenyum dan tertawa menikmati makan bersama di lahan terbuka.

Suasananya sungguh hangat, sampai-sampai mereka tak ingin mengakhirinya. Sayang sekali mereka harus cepat kembali ke istana.

Dua jam perjalanan, rombongan sampai ke istana.

Morline merasa bahwa tubuhnya berkeringat dan tak nyaman, dia meminta Nina dan Chasi menyiapkan bak mandi untuk dirinya.

Setelah air mandi siap, Morline pergi berendam tampa ditemani oleh dayang-dayangnya karena dia yang meminta demikian. Jiwa modernnya masih asing dengan hal seperti itu dan dia tak ingin tubuhnya menjadi bahan tontonan orang termasuk dayang-dayangnya sendiri.

Setelah berendam selama 30 menit. Morline Keluar dari ruang mandi dengan jubah woll berwarna abu-abu. Rambut panjangnya menjuntai ke bawah masih meneteskan air, langkah kakinya sedikit meninggalkan jejak air di lantai marmer. Morline melangkah perlahan menuju ruang ganti.

Untuk urusan seperti ini, Morline memang tak mengizinkan para dayang membantunya, jika memang dia mengalami kesulitan saat berganti pakaian, Morline hanya perlu berteriak memanggil mereka yang setia menunggu di luar, untuk datang membantu. Namun untuk saat ini, baju dan gaun yang Morline kenakan tak membuatnya kesulitan memakainya jadi dia bisa menanganinya sendiri.

Setelah mengganti pakaian, Morline menggosok rambutnya dengan handuk. Di saat seperti ini, Morline merindukan pengering rambut dunia modern.

Sembari terus menggosok rambutnya dia berjalan ke meja rias lalu menyisir perlahan rambutnya sembari bersenandung riang. Sejenak dia melupakan bahwa dunia yang dia tempati adalah dunia novel.

Tok

Tok

Tok

"Yang mulia, ada tuan Arten yang ingin bertemu dengan anda?"

"Arten?" gumam Morline. Dia menatap dirinya di cermin, merapihkan sedikit rambutnya lalu bangkit.

Pintu terbuka. "Ada apa?" tanya Morline. Didepannya seorang pria berambut putih dengan kaca mata bulatnya. Morline menaikkannya satu alisnya saat menatap pria itu.

Di bawah matanya ada tanda hitam tebal dan penampilannya tak terlihat baik. Morline menebak dia pasti tertekan karena harus membuat obat untuk Cedric.

"Yang mulia, saya ingin meminta bantuan anda?" Suara pria tua itu sedikit bergetar dan ada sedikit nada memohon di sana. Entah kenapa, Morline langsung merasa kasihan pada Arten.

{Misi baru, bantu Arten dan ubah nasibnya.} Suara sistem bergema dalam kepalanya, dia tersadar dan menatap wajah Arten lebih intens.

"Bantuan apa?"

"Yang mulia, mohon anda bujuk raja Cedric agar memberi waktu untuk saya membuat obat, saya masih belum menemukan resep yang sempurna untuk obat yang Raja Cedric minta, jadi mohon ratu membujuknya agar memberi waktu tambahan." Pria itu menyatukan tangan di depan, gestur tubuhnya menunjukkan pria itu benar-benar sedang memohon.

"Aku tak bisa menjanjikan apa-apa, tapi aku akan coba. Memang obat apa yang raja Cedric minta?"

Mata Arten menghindari tatapan Morline. Sejenak ada ekspresi gugup di wajah tuanya. "Hanya obat untuk kesehatan saja. Kalau begitu saya ucapkan terimakasih, saya mohon pamit." Arten berbalik dan melangkah terburu-buru.

"Dokter Tunggu!" Morline mencegahnya, Arten berhenti dan memutarkan badannya, sedikit menunduk pada Morline, menunggu apa yang akan dikatakan. "Nanti malam akan ada acara makan bersama, anda ikutlah. Semua orang termasuk Joseph dan Marnin juga ikut."

"Ah! Saya...." Arten tampak kebingungan, dia cukup lama tak menjawab. "Saya sebenarnya ingin ikut tapi ada beberapa hal yang saya pertimbangkan, nanti malam mungkin saya datang atau tidak datang. Kemungkinannya 50 banding 50."

Morline paham mengapa Arten ragu untuk datang, dia pasti memikirkan Cedric. Jika Cedric tahu kalau Arten tampak bersenang-senang, maka pria itu pasti akan memberi hukuman pada Arten. Dalam novel, Cedric sering kali mengancam nyawa Arten jika pria tua itu tak segera membuat obat yang diinginkan Cedric. Kasihan.

"Baik aku paham, anda boleh pergi sekarang."

Morline kembali ke kamar, dia menutup pintu dan berjalan ke meja rias. Rambutnya sudah setengah kering, tapi menurut yang dia tahu, bertemu raja dengan keadaan seperti ini dianggap tak sopan. "Nina!" Teriak Morline manggil. Pintu terbuka dan Nina langsung datang. "Tolong keringkan rambutku."

"Baik yang mulia."

────୨ৎ────

Tok

Tok! Tok!

"Yang mulia raja, ini saya Morline." Morline mendekatkan telinganya ke pintu untuk mendengar suara langkah kaki atau apapun sebagai tanda kehidupan di dalam sana. Dia hanya sendiri di depan kamar Cedric, meminta para dayangnya agar tak mengikuti.

Mendengar langkah kaki dari dalam, Morline kembali bicara. "Pagi ini saya datang ke kota Sentra untuk menikmati acara makan bersama di ladang, suasananya seru dan hangat, mereka juga bertanya tentang keberadaan anda lho, yang mulia.

"Saya bilang bahwa keadaan anda sedang tak sehat, lalu mereka mendoakan agar anda kembali sehat dan sembuh. Mereka sungguh baik.

Oh, ya. Siang ini dokter Arten datang pada saya." Morline terkekeh mengingat penampilan Arten tadi. "Dia bilang agar saya membujuk anda agar menambahkan waktu. Saya tak tahu sebenarnya obat apa yang dokter Arten buat, tapi sepertinya itu cukup sulit, jadi jika berkenan anda memberinya waktu untuk membuat obatnya."

"Jika kau tak tahu apapun lebih baik diam!" Suara berat seperti sebuah beban yang diseret di atas konblok terdenggar dari balik pintu.

Dalam hati Morline. Galak sekali.

"Memang saya tak tahu apapun, tapi melihat dia memohon pada saya dengan putus asa pasti dia sudah berada di ambang batasnya. Saya memang tak tahu apapun yang mulia, bahkan penyakit anda pun saya tak tahu."

Tentu saja Morline berbohong, sebenarnya dia tahu kondisi Cedric.

"Begini, dokter Arten adalah dokter yang hebat, bisa dikatakan dokter ajaib bahkan anda mempercayainya untuk membuat obat anda. Sayang jika dokter seperti dia tak ada pewarisnya. Jadi jika dokter Arten membuat kesalahan, saya hanya minta pada anda agar memikirkan manfaat jika dokter Arten tetap hidup dan kerugian jika dokter Arten tiada."

"Seolah-olah aku akan membunuhnya."

Morline tertawa lagi. "Saya memikirkan itu karena dokter Arten memang terlihat seperti akan dibunuh, dia memohon-mohon seperti itu rasanya lucu."

"...."

Keheningan terjadi. Morline tak tahu apa yang Cedric lakukan di dalam. Mungkin pria itu sedang berdiri di balik pintu, atau mungkin sedang rebahan di atas lantai, atau sedang kayang? Ah! Morline menggelengkan kepalanya untuk mengusir imajinasi yang tak perlu. Mana mungkin seperti itu.

Dia adalah Cedric, seorang pria antagonis yang pemarah, keras kepala dan sedikit menakutkan.

"Yang mulia anda masih di sana?"

"Ya."

"Nanti malam kita akan mengadakan makan bersama di taman belakang istana, jika yang mulia mau...."

"Tidak!"

"Oh?" Morline menjauhkan wajahnya dari pintu dan menatap pintu itu seolah-olah ada wajah Cedric yang datar dan dingin. "Oke."

"Kalau begitu saya pamit untuk mempersiapkannya acara malam nanti, jika anda ikut dokter Arten pasti senang." Morline kembali terkekeh, sengaja menggoda Cedric.

Di dalam kamar yang gelap dan hanya setipis cahaya dari jendela yang tertutup kain tipis. Cedric berdiri di balik pintu, bersandar sambil memejamkan matanya erat-erat.

Akhirnya hari yang di sahkan tiba. Mendapat kabar baik dari Morline, Cedric tentu senang. Jika rakyat kembali percaya padanya maka posisinya tetap teguh. Lalu para bangsawan yang berpihak pada Edward mulai terusik.

Cedric membuka matanya, menunduk melihat kedua kakinya telanjang menginjak lantai yang dingin.

Andai keadaan tak seperti ini, mungkin Cedric bisa mengurusnya sendiri. Sayang sekali dia harus mengandalkannya Morline untuk urusan ini, tapi Cedric samasekali tak menyesal memanfaatkan Morline. Gadis itu sangat berguna, sayang kalau tak dimanfaatkan dengan benar.

☆☆☆☆☆☆

Malam hari.

Morline mengganti pakaiannya dengan gaun midi bermotif bunga Daisy, warnanya dominan abu-abu. Lalu celemek merah muda dengan bordir kepala kelinci di bawahnya.

Di kedua tangannya ada daging iga sapi yang akan dia potong kecil-kecil. Morline tadinya berpikir untuk membuat daging panggang, tapi karena dia ingin memasak hidangan yang berbeda dan baru dia memilih memasak hidangan braised short ribs, dinamakan begitu karena cara memasaknya yang cukup lama.

"Anu, yang mulia anda ingin memasak sendiri?" Nina menatap semua bahan-bahan di atas meja.

Tadi Morline meminta semua bahan disiapkan di dapur, tapi tak menyangka jika gadis itu akan memakai celemek dan berkata jika dia ingin memasak. Itu sangat mengejutkan.

Nina dan Chasi agak gemetar ketika mendengarnya. Bangsawan rata-rata tak bisa memasak, jika ada bangsawan yang bisa memasakpun tak mungkin memasak untuk para pekerjanya. Itu hal yang aneh dan tak lazim.

Mereka berdua menatap Kasha yang berdiri dengan wajah angkuhnya seperti biasa. Sejak tadi, pria yang menjabat sebagai koki istana itu hanya diam saja, memeprhatikan.

"Anda yakin ingin memasak?" Kasha bertanya. Dia meraih daging iga. Jujur saja, Kasha sangat jarang memasak iga karena para bangsawan tak begitu menyukainya. Dia melirik Morline dan diam-diam meremehkan.

"Ya, aku akan memasak hidangan baru. Anda bantu saja, ya." Morline meraih pisau daging, mengangkatnya tinggi dan menghantamkannya pada daging itu, daging iga terbelah menjadi dua.

Kasha yang melihatnya mengangkat satu alisnya, cukup terkejut seorang gadis bangsawan bisa memotong daging dengan sekali hentakan pisau.

"Anda mohon bantu potong daging-daging ini, ya."

"Baik." Kasha mengambil daging iga, memotongnya menjadi potongan kecil.

Saat Kasha memotong daging, Morline menyiapkan bahan untuk bumbu. Dia menyiapkan irisan bawang bombai, bawang putih, wortel dan satu batang serai.

Setelah daging di keringkan dan diolesi garam serta lada. Morline menyiapkan panci untuk menggoreng dagingnya dengan tujuan menciptakan lapisan rasa di dasar panci.

Angkat iga dan sisihkan. Di panci yang sama, Morline menuangkan bahan yang sudah di iris sebelumnya. Tumis sebentar lalu masukkan anggur merah dan aduk perlahan.

Asap tipis mengepul dari panci. Kasha, memeprhatikan dan mengenyit ketika mencium bau harum masakan Morline. Nina dan Chasi menelan air liur mereka yang hampir menetes.

Di luar dapur, para pekerja yang mengintip dapat mencium aroma lezat yang membuat perut perih bergerumuh. Mereka memang sengaja tak makan banyak hari ini agar lebih bisa menikmati masakan koki istana, tak disangka, justru ratu sendirilah yang memasak.

Morline mengangkat lengan gempalnya dan menghapus keringat di dahi. Wajahnya memerah karena uap panas, tapi tatapan matanya cerah. Dia cukup menikmati memasak hidangan ini.

Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia memasak, rupanya, Morline masih mengingat itu semua.

Setelah itu masukkan kembali iga, kecap asin, saus tomat dan daun herbs. Masak dengan api sedang dan aduk perlahan. Dia mengangkat spatula, mencolek kuahnya untuk mencicipi rasa.

"Tuan Kasha anda bisa coba. Apa ada yang kurang."

Kasha yang memang penasaran dengan rasa masakan Morline, mendekat. Mencolek kuahnya dengan jari. Matanya seketika melebar,    dengan rasa yang menyentuh lidahnya. Rasanya Guris sedikit manis, dengan aroma kaldu yang lembut dan berempah. Seakan ada pesta di mulutnya saat mencicipi masakan Morline.

Kasha menatap Morline, tak percaya jika gadis didepannya bisa memasak hidangan yang lezat.

"Tuan Kasha bagaimana?"

"Ah! Ini lezat, kuahnya gurih dengan sedikit rasa manis. Ada aroma rempah yang tak terlalu kuat. Ini luar biasa."

Morline tersenyum senang mendengarnya. Dia lalu meminta Nina dan Cashi menyajikan makanan itu ke wadah besar. Sementara dia memasak hidangan pendampingnya.

Di halaman belakang istana. Para prajurit dan para pelayan berkumpul. Jika mereka biasanya selalu berada di tempat yang berbeda karena asrama pelayan serta asrama prajurit terletak berjauhan, pada malam ini mereka berkumpul meski tempatnya dipisah.

Sisi kanan untuk para pelayan dan sisi kiri untuk para prajurit. Mereka duduk diam, ragu dan segan untuk berbincang atau mengobrol karena mereka tak terbiasa dengan kegiatan seperti ini.

Ketika tiga prajurit yang mengintip di dapur membawa baskom besar dengan asap mengepul. Prajurit lain segera berdiri membantu.

Di belakang ada Nina dan Chasi yang membawa hidangan lain. Kasha juga ikut, bahkan Joseph serta Marnin.

Morline sendiri tidak ikut karena ingin membersihkan diri dari keringat. Setelah mandi dia mengambil rantang berisi hidangan yang bisa masak lalu melangkah ke menuju kamar Cedric.

Tok

Tok! Tok!

"Yang mulia saya bahas anda makan malam. Para pekerja saya liburkan malam ini jadi saya yang membawakan makan malam untuk anda." Morline menempelkan telinga ke pintu, mendengar suara langkah dia menjauhkan wajahnya. "Anda tahu tidak, saya masak sendiri lho. Hidangan yang tak kalah dari masakan koki. Yang mulia tolong buka pintunya dan biarkan saya mengantar ini untuk anda."

"Taruh saja di depan, nanti aku akan ambil."

"Tidak bisa! Karena saya sendiri yang masak, anda harus memakannya di depan saya. Ini sebagai bentuk anda menghargai saya. Siapa tahu anda membuangnya ketika saya pergi, kan?"

"...."

"Yang mulia?"

Suara pintu yang ditarik membuat Morline terkejut, dia mundur dua langkah. Menatap sosok berjubah yang selalu mengingatkannya pada malaikat maut.

"Berbisik! Bisakah kau diam! Berikan makanannya."

Morline menariknya. "Eits, saya bilang saya ingin lihat anda makan. Jadi...." Morline dengan berani menerobos ke kamar Cedric. Pria itu terkejut dan berbalik hingga jubahnya berkibar liar. "Saya di sini."

"Kau!"

Morline tampak tak peduli, dia menepi ke dinding karena keadaan kamar Cedric sangat gelap. Untung ada cahaya dari pintu yang terbuka jadi dia bisa melihat ada lilin ujung meja. Morline menyalakannya. Membawanya ke atas meja pendek.

Dia menyusun rantang berisi daging iga, nasi yang masih hangat dan sawi panggang saus kecap di atas meja. "Siap! Silahkan di makan."

"Berani sekali kau!" Cedric melangkah, pintu perlahan tertutup sendiri. Hanya menyisakan celah kecil yang membuat garis cahaya di ruangan gelap itu. "Seharusnya kau bersikap sopan sedikit."

"Bukankah saya sudah melakukannya? Lagi pula status saya sudah naik menjadi ratu, jadi tak ada masalah melayani raja seperti ini kan?"

Di balik tudung yang menutupi wajahnya, Cedric mengernyit tak senang. Dia melangkah dan duduk di kursi, menatap hidangan yang tersaji di depan.

Morline menatap Cedric yang hanya diam menatap meja, dia tersenyum kecil karena tahu Cedric tak bisa makan dengan tenang kalau dirinya menontonnya seperti ini. "Sambil menunggu anda selesai makan, saya akan membereskan kamar anda."

Morline membungkuk, mengambil kemeja yang sedikit berdebu. Karena pencahayaan di ruangan ini sangat minim, Morline mencari lilin di meja-- tempat dia mengambil lilin sebelumnya, tapi tak menemukannya. "Yang mulia, apa ada lilin di sini?" Morline meraba atas meja dengan gerakan pelan, takut menyenggol furniture yang terpajang di sana.

"Tidak ada!" jawab Cedric singkat.

Morline mendengus, tak percaya. Dia tetap mencari dan akhirnya mendapat dua lilin dari laci. Dia menyalakannya memasangnya di atas meja itu dan satunya lagi dia bawa di tangan.

Morline mulai membersihkan kamar itu, memungut kain dan sampah yang tergelatak di lantai lalu melipat selimut.

Cedric mulai makan, awalnya dia berniat hanya mencicipinya tapi karena rasa masakannya enak Cedric menghabiskan semangkuk nasi. Setelah semua hidangan tandas, Cedric baru tersadar dan terkejut dengan dirinya sendiri.

"Aku bisa makan sebanyak ini?" Batinnya menatap rantang rantang yang kosong.

Cedric mengangkat kepalanya, dia melihat Morline yang sedang melipat selimut. Cedric merasa sedikit tak senang. "Biarkan pelayan saja, kau pergilah."

Tanpa menoleh, Morline menjawab. "Yang mulia tak membiarkan pelayan masuk untuk membersihkan kamar ini, jadi mumpung saya ada di sini, sekalian saja bersihkan. Toh ini hal yang biasa dilakukan seorang istri bukan?"

"Kau! Jangan sembarang bicara. Aku tak menyukaimu sama sekali."

"Saya tahu."

Cedric tertegun, di balik jubahnya matanya melebar.

Morline melanjutkan. "Kehidupan rumah tangga sebagai rakyat biasa, rata-rata para istri memang melakukan pekerjaan rumah tangga seperti ini. Tentu saja karena mereka tak memiliki pelayan jadi mereka sendirilah yang membereskan rumah, memasak dan mengurus anak. Sementara para suami bekerja.

"Beberapa kasus yang saya tahu, ada suami istri yang dijodohkan. Mereka menikah tapi tak saling mencintai, itu hal yang biasa terjadi di desa-desa. Tapi para istri di sana tetap melakukan tanggung jawabnya sebagai istri dan suami mereka juga melakukan tanggung jawabnya. Mereka bisa hidup sampai tua tanpa mengganti pasangannya. Unik bukan? Bagaimana bisa dua orang yang tak saling mencintai bisa bersama?"

"Apa maksudmu? Apa kau baru saja mengatakan bahwa kita bisa hidup seperti mereka?"

"Yaah mungkin." Morline meletakkan selimut yang sudah dia lipat, lalu meraih bantal dan menyusunnya. "Tapi karena anda bilang anda tak menyukai saya, sepertinya untuk hidup bersama seperti itu tak mungkin. Bagaimana kalau kita jadi teman saja? Hubungan pertemanan jauh lebih baik dari hubungan rumit seperti itu."

Morline menepuk-nepuk bantal perlahan karena ada debu yang menempel. "Saya memikirkan jika diantara kita ada orang yang di sukai, maka status raja dan ratu ini akan menjadi beban untuk kita. Jadi untuk berjaga-jaga saya ingin membuat kesepakatan."

"Kesepakatan apa? Apa kau berniat mengambil kompensasi jika aku memiliki orang yang aku sukai."

Tanpa berbalik untuk menatap Cedric. Morline melangkah ke depan, dia meraih piring kotor di nakas. "Bukan itu, saya hanya meminta anda menghargai saya sebagai perempuan. Jika anda menyukai perempuan lain, beri tahu saya dan kita urus perceraian. Begitu pula dengan saya, jika saya menyukai pria lain saya akan mengatakannya pada anda."

Mendengar kesepakatan seperti itu, Cedric mendengus. Dia tak membalas apapun hanya menatap lilin yang hampir habis.

1
Uthie
Wahhh... ternyata Edy baik juga 😍👍👍
Uthie
Selalu setiap menanti kelanjutannya kembali 👍👍👍👍😍
Uthie
ditunggu Lagii 👍👍👍
kiu kiu
lanjut thor..jgn terlalu lama updatenya...
kiu kiu
kpn upnya thor
Tanya Balik
guys aku nulis tiap bab-nya minimal 2000 kata, banyak lho itu. Jadi maklum aja ya lama up-nya. 🙏🙏😄
kiu kiu
morline sangat baik terhadap karel.suatu saat karel akan tumbuh besar dan akan menjadi pelindung utk morlin...cerita ini mengisahkan kasih sayang ibu dan anak.tp berbeda dg apa yg di alami morline.yg sudah menganggapnya keluarga.
Uthie
lagiiii 🤩🔥🔥
kiu kiu
jgn terlalu lama updatenya thor...ak penasaran dg gadis gemuk ini.apa yg akan dia lakukan di daerah targus itu. apa lagi eddy selalu mengawasi.
Uthie
Ditunggu lagiiii 🔥🔥🔥
Uthie
Lanjutttt lagiii...
setia menunggu up berikut nya 😁👍
kiu kiu
lanjut thor...updatenya jgn jarang jarang.
Uthie
Di tunggu lagiii aksi nyata dari Ratu Morline 😍👍

lanjuuttttt lagiiii 💪💞
kiu kiu
masih update nggk thor...
Tanya Balik: masih, tapi up-nya memang jarang2 di tunggu aja ya😄🙏
total 1 replies
Uthie
Wahhhh.... lagi seru-serunya baca soal Morline... malah udahan aja 🤩🤩

Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
Uthie
Morline ratu yg baik 👍👍😇
Uthie
Sukkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍
Uthie
Sukkkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍👍
lanjut lagiiii 👍👍👍😍
Uthie
Wahhh... ada yg kesengsem sama Morline 😂👍
Uthie
seruuu 👍😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!