Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cakka, sebelas tahun.
"Semua orang membenci kamu! tidak ada satupun diantara kami menyukai kamu, dasar wajah buruk rupa!!!" umpatan itu melayang, masuk kedalam telinga lalu turun ke hati. Cakka, hanya bisa mengusap air mata. kakinya tak kuasa berdiri namun ia kuatkan, alih-alih agar tetap terlihat tegar ia malah justru mengambil jarak untuk berlari sekencang mungkin. Tangisnya tak reda, hatinya pun masih rapuh. Namun, ia masih menoreh senyum pada orang yang perkataannya akan diingat selalu sampai kapanpun.
Kaki kecil yang mungil itu terus berlari melewati pematang sawah dan rumah-rumah gubuk yang dihuni warga desa, yang setara ekonominya dengan Cakka. Ya! Anak yang baru saja dimarahi karena mencoba menulis dibuku temannya itu benama Cakka Nuraga. Ia berumur sepuluh tahun. Tinggal bersama neneknya yang sudah sepuh.
Semakin dekat dengan rumah semakin meledak saja tangisnya, ia terus meraung sembari memanggil neneknya itu "Nek!! Nenek!!!" Orang-orang yang mendengar dan melihat Cakka berempati, mereka mendekat dan bertanya.
"Kamu kenapa?" Tanya aki Aung.
"Dimarahin.." jawab Cakka sembari menangis.
"Sama siapa?" Kali ini Bu Darmi yang bertanya.
"Sama Bu Ha-ji" ucap Cakka sedikit tercekat suaranya.
Mereka semua menghela nafas ketika mendengar nama ibu Haji. Bu Haji adalah orang terkaya di desa itu. Desa Katumbiri. Sebenarnya jika Bu haji bertemu dengan para warga, ia akan tersenyum ramah dan menyapa. Tapi entah kenapa jika Bu haji bertemu dengan Cakka, ia akan memperlihatkan sisi wajah muram, marah, dan kesal. Mungkin karena wajah Cakka tidak sempurna? Entahlah, tidak ada alasan yang pasti.
Ibu Darmi yang mendengar nama ibu Haji memarahi Cakka, bukannya mengusap punggungnya atau menenangkan perasaanya tapi malah...
"Ya pantas kamu dimarahi sama Bu Haji, orang dia gak suka sama kamu, tapi kamu malah main dirumahnya. Habis dari rumahnya, kan? Main sama anaknya yang bernama Devan?!" Tanya Bu Darmi dengan tangan dipinggang dan tatapan mata yang melotot membuat Cakka mengangguk kikuk dibuatnya.
"Kan!!! Sudahlah Cakka, kita ini berbeda dengan Bu Haji dan Devan. Main sama yang setara saja, jangan dekat-dekat dengan konglomerat!" Tambah Bu Darmi.
Aki Aung menepiskan tanganya ke udara tepat didepan wajah Bu Darmi.
"Hus! Masih kecil dia, tahu apa soal main sama yang setara" tatapan aki Aung tajam pada Bu Darmi. Namun, berubah ketika kembali melihat wajah Cakka.
"Sudah, kamu pulang kerumah saja. Jangan dengarkan Bu Darmi! Tadi nenek mencari kamu kerumah ku, katanya ada baju baru. Buat kamu!" Aki Aung tersenyum pun, bibir Cakka ikut membentangkan senyumnya "Benarkah?" Tanya anak lugu itu dengan mata yang berbinar.
"Iya! Pulang-pulang! Nenek dirumah tunggu kamu" ucap Aki Aung lembut. Hati Cakka seketika pulih. Ia meninggalkan Bu Darmi dan Aki Aung. Berlari menuju rumahnya yang sedikit lagi hampir sampai. Rumah itu terbuat dari bambu, di anyam menjadi bilik.
Kecil, tapi kesan hangat untuk mereka berdua begitu terpancar, apalagi ketika nenek duduk menunggu Cakka di ambang pintu. Memakai samping dan baju panjang yang sedikit lusuh.
Nenek Ipah, nenek yang merawat Cakka sedari bayi hingga kini ia sudah kelas tiga SD. Kemana orangtuanya? Mereka berdua meninggal dunia, ibu meninggal ketika sudah melahirkan Cakka dan ayahnya meninggal ketika menjual balon didepan SD. Tidak memiliki riwayat sakit atau dalam posisi kecelakaan. Ayah Cakka meninggal setelah memberikan kembalian kepada pembeli, ia tiba-tiba tersungkur dan jatuh ke tanah. Pak satpam mencoba mengecek ayah Cakka, ternyata nafas dan denyut jantung sudah tidak ada. Disanalah, ayah Cakka dinyatakan meninggal dunia.
Pada saat itu Cakka berumur tiga tahun, jadi dia belum mengerti ada apa dan kenapa orang-orang datang kerumahnya sembari menangis. Ia hanya duduk dipangkuan nenek yang sesekali menyalami para penglayad sembari mengusap air matanya yang tak kunjung reda.
Itu dulu dan sekarang Cakka mengerti, anak sekecil itu kini sudah paham bahwa dunianya hanya nenek seorang. Dia datang berlari, berhambur memeluk neneknya yang sudah membentangkan kedua lengannya.
"Nenek!" Suara Cakka nyaring hingga neneknya memejamkan mata secara paksa.
"Ya Allah, darimana saja kamu?" Kini nenek menatap wajah cucu tersayangnya itu.
"Aku habis main!" Jawab Cakka semangat.
"Sama siapa?" Tanya nenek.
"Sama Devan nek! Anaknya Bu Haji" Balas Cakka.
Nenek menghela nafas panjang, jari-jarinya menyisir rambut Cakka. "Besok-besok kalau mau main kasih tahu nenek dulu, jangan asal berangkat!" Cakka mengangguk patuh sembari tersenyum "Ya nek! Cakka janji, bakalan bilang dulu!"
Nenek menciumi kening Cakka berkali-kali. Dan Cakka menahannya dengan menjauhkan kening dari neneknya itu.
"Kata aki Aung ada baju baru buat aku?"
"Oh iya, nenek lupa!"
"Jadi beneran nek???"
Nenek mengangguk, tangan Cakka digenggam erat "Ayo! Bajunya ada didalam" ucap Nenek sembari berdiri. Mereka berdua masuk kedalam rumah, tepatnya didapur— baju itu diperlihatkan.
"Tada!!!!!! Nenek beli ini di toko Ananda, yang waktu itu kamu tunjuk pas lagi di angkot"
Mata Cakka membulat dan berbinar, ia meraih baju itu, di bawanya ke dalam kamar untuk dipakai. Berlenggak lenggok didepan cermin dengan senyum bahagia, senyuman itu menular pada neneknya yang sedang memperhatikan Cakka di ambang pintu.
Cakka melihat nenek dari pantulan cermin "Kenapa beli baju baru nek? Ini kan bukan bulan puasa" Nenek berjalan pelan menuju Cakka, beliau memegang kedua bahunya "Cakka lupa ya, hari ini Cakka ulang tahun!" Mata Cakka membulat lagi dan mulutnya menganga "Oh iya! Sekarang aku sebelas tahun ya nek?" Tanyanya sembari menoleh ke arah nenek.
Saling tatap dan bertukar senyum, Cakka sebelas tahun itu memeluk erat neneknya "Terimakasih ya nek untuk bajunya, Cakka janji nanti, kalau sudah besar Cakka akan membahagiakan nenek! Apapun yang nenek mau, Cakka kasih!" Nenek Hanya tersenyum, mengusap punggung sang cucu penuh kasih sayang.
Kamar itu, kamar saksi bisu perjalanan nenek Ipah membesarkan Cakka. Beliau tak mengharap balas budi darinya, beliau hanya mendo'akan Cakka untuk selalu ada dalam lindungan Allah SWT. Selipan cahaya menerjang bilik rumah mereka, debu berterbangan kecil menambah suasana tambah syahdu.
"Cakka lapar gak? Nenek masak ayam loh!"
"Ayam?? Mau! Mau!"
Nenek berdiri, kali ini tangan Cakka tak digenggam. Beliau pergi beberapa langkah lebih dulu darinya. Tubuh tua, renta, sedikit bungkuk itu kini berbalik arah untuk melihat cucunya yang masih berdiri tersenyum hangat. Detik demi detik. Mereka saling menatap lagi, seolah tatapan itu menjadi pesan yang akan dikenang selamanya. Dan ketika waktunya tiba, mereka dipisahkan.
Satu goncangan bumi berkekuatan 5,4 skala ricther dengan waktu sepuluh detik, berhasil meluluh lantakan desa Katumbiri. Nenek, yang sudah berhasil keluar dari kamar tiba-tiba tertimpa lemari yang berdiri tepat dibelakangnya.
Brak!!!!!!!
Dug! Dug! Dug!
Goncangan itu membuat tubuh Cakka kehilangan keseimbangannya, oleng. Berjalan tak lurus, sembari berteriak ia berusaha menghampiri neneknya yang sudah jatuh pingsan.
"Nenek!!! Nenek!!!"
Sepuluh detik rasanya seperti satu jam penuh, susah. Tangannya berusaha meraih dan ingin mengangkat lemari itu agar neneknya bisa berdiri lagi tapi tak bisa, tak kuasa. Dan takdir memang kejam, tubuh Cakka juga tertimpa reruntuhan, genteng yang selama ini kokoh melindungi dirinya dari terik panas matahari dan curah hujan deras, kini harus jatuh tepat diatas kepala Cakka.
Dug!
Tak!