evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mendekati ayahnya
Mendengar pertanyaan evelyn, Kelly cukup terkejut. Evelyn yang biasanya menghindari ayahnya, hari ini justru berusaha mendekat.
“Biasanya langsung ke ruang kerjanya, Nona,” jawab Kelly.
Namun tatapannya tak lepas dari Evelyn. Ada sesuatu yang berbeda—bukan hanya lebih sehat, tapi juga lebih tajam. Seolah gadis yang selama ini ia kenal telah berubah.
“Kelly, aku ingin tahu kenapa Ayah pulang jam segini,” ucap Evelyn tenang.
Kelly tampak ragu. “Nona… Anda benar-benar ingin berbincang dengan Tuan Besar?”
Evelyn mengangguk pelan. “Iya, jadi...pergilah! Tidak perlu mengikutiku.”
Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah masuk ke dalam rumah.
Langkahnya tenang, tapi pasti. Lorong panjang itu terasa lebih sunyi dari biasanya, seakan ikut menahan napas. Ia terus berjalan menuju sisi kamar utama—tempat yang selama ini jarang ia dekati.
Ruang kerja Alberto Chaplin.
Seorang pria dengan kekuasaan besar—pemilik perusahaan rokok ternama, Chaplin spirit. Dan sosok penting di balik layar politik kota.
Namun— langkah Evelyn terhenti.
Di depan pintu ruang kerja itu, berdiri empat orang pengawal dengan sikap disiplin. Kemeja hitam, tubuh tegap, dan tatapan tajam yang langsung tertuju padanya saat ia mendekat.
Suasana seketika terasa berat. Ini bukan penjagaan biasa. Evelyn menyipitkan mata.
“Sejak kapan… penjagaan seketat ini?” gumamnya dalam hati.
Jika hanya urusan pekerjaan biasa, tidak mungkin sampai seperti ini.
Artinya— memang ada sesuatu yang disembunyikan di dalam sana.
Jantungnya berdetak lebih cepat. Namun kali ini, ia tidak mundur. Evelyn melangkah mendekat. Tatapannya berubah dingin.
“Aku ingin bertemu Ayah,” ucapnya tenang.
Suasana menjadi tegang.
Karena untuk pertama kalinya— Evelyn sendiri yang mendekati batas yang selama ini tak pernah ia sentuh.
“Sebentar, Nona,” ucap salah satu ajudan dengan nada formal. Ia sedikit menunduk, lalu mengangkat tangannya menyentuh earpiece di telinganya.
“Tuan, Nona Evelyn ingin bertemu.”
Hening. Tak ada jawaban langsung. Beberapa detik terasa panjang, seolah waktu ikut menahan napas di lorong itu.
Evelyn berdiri tegak, berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang, meski dalam hatinya berbagai kemungkinan terus berputar.
Lalu— suara samar terdengar dari earpiece itu.
“...5 menit lagi.”
Singkat. Datar. Tanpa emosi.
Ajudan itu kembali menatap Evelyn. “Tuan meminta Anda menunggu 5 menit lagi, Nona.”
Evelyn mengangguk pelan. “Baik.”
Ia tidak membantah. Tidak menunjukkan kekecewaan. Namun dalam hatinya— ia mencatat.
Bahkan untuk bertemu anaknya sendiri...Alberto Chaplin tetap memperlakukannya seperti tamu yang harus menunggu.
Evelyn melangkah ke samping, berdiri dekat dinding. Matanya menatap pintu ruang kerja itu.
Tertutup rapat. Seolah menyimpan banyak hal yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Tangannya perlahan mengepal.
Lima menit. Waktu yang singkat. Namun cukup untuk membuat pikirannya kembali aktif.
Jika penjagaan seketat ini…
Jika ayahnya pulang mendadak…
Jika semuanya terasa tidak biasa…
Maka— apakah ini… ada hubungannya dengan Cristian Noah Alexander?
Evelyn menunduk sedikit. Tatapannya mengeras.
“Lima menit…” bisiknya pelan.
“Aku akan menunggu.”
Lima menit terasa lebih lama dari biasanya.
Akhirnya—
klik…Pintu itu terbuka.
“Evelyn, masuklah.”
Suara Alberto Chaplin terdengar datar dari dalam.
Evelyn menegakkan tubuhnya, lalu melangkah masuk. “Terima kasih, Ayah.”
Ini pertama kalinya… ia sendiri yang datang untuk berbincang.
Ruangan itu luas dan berwibawa. Rak kayu besar memenuhi dinding, dipenuhi buku dan dokumen yang tersusun rapi. Meja kerja besar berdiri di sisi ruangan, dengan berkas-berkas yang tampak penting tertata tanpa cela.
Segalanya terasa… terkontrol. Seperti pemiliknya.
Evelyn berdiri sejenak, matanya mengamati setiap sudut. Sedikit tegang. Namun ia tidak boleh terlihat gugup.
Alberto Chaplin berjalan mendekat, lalu memberi isyarat ke arah sofa kulit panjang.
“Duduklah.”
Evelyn menurut, duduk dengan sikap rapi. Ia bisa merasakan tatapan ayahnya—tajam, menilai.
“Hal penting apa yang membuatmu menemuiku?” tanya Alberto langsung, tanpa basa-basi.
Evelyn menarik napas perlahan. Menenangkan dirinya. Ini bukan percakapan biasa. Satu kata yang salah… bisa membuatnya terlihat mencurigakan. Ia menunduk sedikit, lalu mengangkat wajahnya kembali.
“Ayah…” suaranya lembut, berusaha terdengar natural. Namun di balik ketenangannya—
pikirannya bekerja cepat. Ia harus berhati-hati. Sangat hati-hati. Karena mungkin saja—jawaban yang ia cari…ada tepat di hadapannya sekarang.
“Aku semalam mimpi buruk…” ucap Evelyn pelan, menunduk sejenak seolah benar-benar terguncang oleh ingatannya sendiri.
“Aku bermimpi kehilangan Ayah dan kakak-kakakku… itulah yang membuatku ingin menemui Ayah. Aku hanya ingin memastikan Ayah baik-baik saja.”
Ia mengangkat wajahnya, menatap langsung ke arah Alberto Chaplin. “...Apa ada hal buruk yang terjadi?”
Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.
Alberto tidak langsung menjawab. Tatapannya menajam, seperti sedang menimbang sesuatu.
Memang… beberapa hari terakhir ada masalah. Namun—apakah ia perlu memberitahukannya pada Evelyn?
Anak yang selama ini hampir tidak pernah ia libatkan dalam urusan apa pun.
“Ada sedikit masalah,” akhirnya ia berkata singkat. “Tapi itu bisa diselesaikan.”
Nada suaranya tetap tenang, namun jelas menyembunyikan sesuatu.
Evelyn tidak berhenti di situ. Ia mencondongkan tubuh sedikit, mencoba terlihat khawatir… namun tetap hati-hati.
“Masalah keamanan, Ayah?” tanyanya.
Detik itu juga— ekspresi Alberto Chaplin berubah. Hanya sekilas. Namun cukup untuk ditangkap oleh Evelyn.
Terkejut. Mata pria itu menyipit, menatapnya lebih dalam dari sebelumnya.
“Dari mana kamu tahu hal seperti itu?” tanyanya pelan, penuh kecurigaan.
Jantung Evelyn berdetak lebih cepat. Namun wajahnya tetap tenang.
Ia tahu— ia baru saja menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak ia ketahui. Dan itu berarti satu hal—dugaannya…tidak salah.
“Mungkin mimpi burukku yang membuat tebakanku terasa benar,” ucap Evelyn pelan. “Ayah… terkadang mimpi juga bisa menjadi firasat… bahkan petunjuk.”
Ruangan kembali hening.
Alberto Chaplin menatapnya lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu yang berubah—bukan lagi sekadar dingin, tapi mulai memperhatikan.
“Kamu berubah,” ucapnya singkat.
Evelyn menunduk tipis. “Mungkin… aku hanya baru menyadari sesuatu. Bahwa aku masih punya keluarga… yang bisa hilang kapan saja.”
Alberto terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan.
“Ada masalah keamanan,” katanya akhirnya. “Beberapa hari terakhir… ada pihak yang mencoba mengganggu urusan dan keselamatan kita.”
Evelyn menahan napas. Ia tidak menyela. Namun kata-kata berikutnya membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
“Rencananya…” lanjut Alberto Chaplin, suaranya kembali tegas, “Ayah akan merekrut sopir pribadi sekaligus bodyguard untuk kakak-kakakmu yang sering beraktivitas di luar.”
Evelyn menatapnya. Dalam diam.
“Sudah ada sepuluh orang yang Ayah pilih,” lanjutnya. “Besok mereka akan datang ke sini untuk diuji lagi.”
Detik itu juga— segala kepingan di benak Evelyn terasa menyatu.
Besok. Sepuluh orang. Seleksi?
Dan di antara mereka— akan ada satu orang yang sangat ia kenal.
Tangannya perlahan mengepal di atas pangkuannya. Ia berhasil. Ia kini berada tepat di titik awal semuanya.