NovelToon NovelToon
Kontrak 90 Hari Sang CEO

Kontrak 90 Hari Sang CEO

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia / Tamat
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis*

Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.

Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*

Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.

Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.

90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Di ICU

Hari ke-38.

ICU RS Pondok Indah masih berbau antiseptik dan sunyi.

Cuma ada suara monitor yang “beep… beep…” pelan, kayak ngingetin Evelyn kalau Matthias masih di sini. Masih hidup.

Matthias udah sadar sejak jam 2 pagi, tapi dokter nggak ngizinin dia ngomong banyak.

Bibinya kering, matanya masih sayu. Tapi setiap kali Evelyn genggam tangannya, genggamannya bales. Lemah, tapi nyata.

Evelyn nggak pulang.

Dia tidur di kursi plastik samping ranjang, selimut tipis nutupin bahu.

Nyonya Alina udah maksa dia pulang 3 kali.

“Na, kamu harus istirahat. Kalau kamu sakit, siapa yang jaga dia?”

Evelyn cuma geleng.

“Gue nggak bisa ninggalin dia sendirian.”

Jam 9 pagi, dokter masuk buat cek rutin.

“Pasien stabil. Tapi jangan kaget kalau dia masih sering ngantuk. Otak butuh waktu pulih.”

Evelyn mengangguk.

“Berapa lama?”

“Tergantung. Bisa seminggu, bisa sebulan. Yang penting jangan stres dia.”

Dokter pergi.

Evelyn duduk lagi.

Dia ngelus punggung tangan Matthias pelan.

“Lo denger kan? Dokter bilang jangan stres. Jadi jangan coba-coba marahin gue ya,” bisiknya.

Matthias senyum tipis.

“Ng…gak janji.”

Suara itu serak banget.

Evelyn langsung nunduk, mata berkaca-kaca.

“Jangan ngomong. Hemat tenaga.”

“Aku… mau ngomong.”

Evelyn diem.

Dia deketin telinga ke bibir Matthias.

“Aku takut… waktu itu.”

“Takut apa?”

“Takut nggak bangun lagi. Takut… kamu sendirian.”

Dada Evelyn sesak.

“Gue juga takut, Matthias. Gue takut banget.”

“Janji… jangan pergi.”

Evelyn genggam tangannya lebih erat.

“Gue janji. Gue nggak akan pergi. Bahkan kalau lo usir gue, gue nggak akan pergi.”

Matthias nggak jawab.

Dia ketiduran lagi 2 menit kemudian.

---

Siangnya, berita kecelakaan kedua udah kemana-mana.

#PrayForMatthias tembus trending 1.

Media mulai ngorek-ngorek: kenapa crane bisa jebol dua kali? Apa ada sabotase?

Om Dimas marah-marah di ruang rapat darurat.

“Ini jelas ada yang main! Kita harus tuntut kontraktor!”

Nyonya Alina cuma duduk diam di luar ICU, baca doa terus.

Evelyn nggak ikut rapat.

Dia nggak peduli siapa yang salah.

Yang dia peduli cuma satu: Matthias buka mata lagi besok.

Jam 3 sore, perawat ngizinin Evelyn duduk di pinggir ranjang.

“Boleh 10 menit aja ya Bu. Jangan pegang selang-selang.”

Evelyn mengangguk.

Dia duduk.

Ngeliatin wajah Matthias yang pucat.

Tiba-tiba dia inget hari pertama mereka nikah.

Dingin. Kaku. Jarak 1 meter.

Sekarang?

Dia bisa pegang tangan Matthias tanpa takut disalahin.

Dia bisa nangis di depan Matthias tanpa ditertawain.

“Matthias,” panggilnya pelan.

Matthias buka mata.

“Iya?”

“Kalau lo beneran nggak bangun waktu itu… gue nggak tahu gue harus gimana.”

Matthias menatapnya lama.

“Lalu sekarang kamu tahu?”

Evelyn mengangguk.

“Sekarang gue tahu. Gue nggak bisa hidup tanpa lo.”

Matthias nggak jawab langsung.

Dia tarik napas pelan, kayak ngumpulin tenaga.

“Kamu… nggak harus bilang gitu. Aku nggak mau kamu merasa terikat.”

“Gue nggak merasa terikat. Gue merasa… pulang.”

Kata itu jatuh pelan.

Matthias matanya berkaca-kaca.

Dia nggak nangis. Laki-laki kayak dia nggak gampang nangis.

Tapi genggamannya di tangan Evelyn makin erat.

“Kalau aku sembuh,” katanya pelan, “aku mau kita pergi. Jauh. Tanpa pengawal. Tanpa wartawan. Cuma kita.”

“Ke mana?”

“Ke tempat yang nggak ada Virel Group. Nggak ada kontrak. Cuma pantai. Dan kamu.”

Evelyn ketawa kecil, sambil usap air mata.

“Romantis banget. Lo yakin nggak bakal bosen?”

“Nggak. Aku bosen kalau nggak sama kamu.”

Evelyn diem.

Jantungnya aneh.

Nggak sakit. Tapi hangat.

Perawat masuk.

“Waktunya habis Bu. Biar Pak Matthias istirahat.”

Evelyn mengangguk.

Dia cium kening Matthias pelan.

“Cepet sembuh ya. Gue masih marah karena lo janji nggak akan ninggalin gue.”

Matthias senyum tipis.

“Aku ingat.”

---

Malamnya, Evelyn tidur di sofa ruang tunggu ICU.

Nggak nyenyak.

Tiap 30 menit dia bangun, ngecek monitor Matthias lewat kaca.

Jam 1 pagi, ponselnya getar.

Nomor nggak dikenal.

Dia angkat pelan.

“Halo?”

“Ev… ini gue, Raka.”

Evelyn langsung duduk tegak.

“Ngapain lo telepon jam segini?”

“Gue denger berita. Gue cuma mau bilang… gue doain dia selamat. Lo juga kuat ya.”

Evelyn diem.

“Terima kasih.”

“Ev, kalau lo butuh apa-apa… gue di sini.”

“Gue nggak butuh apa-apa, Ka. Gue udah punya rumah.”

Raka diem 2 detik.

“Bagus. Jaga rumah itu ya.”

Telepon mati.

Evelyn taruh ponsel.

Dia lihat ke arah ICU.

Lampu kecil di dalam masih nyala.

Rumah.

Rumah dia sekarang ada di sana.

---

Pagi hari ke-39, Matthias akhirnya dipindah ke ruang rawat biasa.

Nggak perlu ICU lagi.

Dokter bilang pemulihannya cepat. Aneh buat kasus pendarahan kepala.

Evelyn duduk di samping ranjangnya, kupas apel.

Matthias makan pelan-pelan.

Nggak ada yang ngomong.

Tapi rasanya… cukup.

“Lo tahu nggak,” kata Evelyn tiba-tiba,

“gue mikir kemarin, kalau lo beneran mati, gue bakal bakar kontrak itu.”

Matthias mengernyit.

“Kenapa?”

“Karena kontrak itu nggak ada artinya kalau lo nggak ada.”

Matthias diem.

Lalu dia narik tangan Evelyn.

“Janji sama aku satu hal.”

“Apa?”

“Jangan pernah bakar apa pun yang ada namaku di dalamnya. Kecuali aku yang minta.”

Evelyn ketawa kecil.

“Deal.”

Mereka diem lagi.

Tapi di ruangan itu, nggak ada takut.

Cuma ada janji yang nggak perlu ditulis di kertas.

---

Malamnya, Nyonya Alina bawa foto keluarga.

Foto dari gala amal kemarin.

Evelyn dan Matthias berdiri bareng. Tangan saling genggam.

Di belakangnya, lampu flash.

“Simpan ya,” kata Nyonya Alina sambil kasih foto itu ke Evelyn.

“Ini foto pertama kalian sebagai… beneran suami istri.”

Evelyn lihat foto itu lama.

Di foto, Matthias nggak dingin.

Dia lihat Evelyn, dan matanya lembut.

Evelyn taruh foto itu di meja samping ranjang Matthias.

“Lihat, Matthias. Ini kita. Beneran.”

Matthias lihat.

Dia nggak ngomong apa-apa.

Tapi dia genggam tangan Evelyn lagi.

Di luar, hujan turun pelan.

Di dalam, nggak ada badai lagi.

---

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!