NovelToon NovelToon
Story Of Hazel Lyra Raven

Story Of Hazel Lyra Raven

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Dark Romance / Mafia / Time Travel / Reinkarnasi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:940
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.

Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??

kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!


Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar

Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 5

Malam itu ruang makan keluarga Raven berkilau. Meja panjang dipenuhi hidangan mewah, lampu kristal bergemerlap, suasana seakan sempurna. Lyra duduk di samping Paul, sementara Ratchet di ujung meja sebagai tuan rumah. Pharma hadir, duduk anggun dengan senyum tipisnya, dan di sisi lain... Veronica, yang sibuk pasang tampang manis sok ramah.

Lyra berusaha kalem, walau hatinya masih berat setelah semua kejadian. Pharma sesekali meliriknya, senyum kecil yang hanya ditujukan untuk Lyra, tapi... Veronica sigap menangkap itu, tangannya langsung menggandeng lengan Pharma dengan gemulai.

Lyra menahan diri, menunduk, menusuk makanannya tanpa selera.

Suasana yang udah awkward itu tiba-tiba diguncang suara keras dari luar.

BRAK! BRAK! BRAK! Pintu gerbang depan rumah digedor. Teriakan ramai mengikutinya.

Para pelayan panik, Paul langsung berdiri refleks, sigap seperti polisi. "Apa lagi ini..."

Ratchet mengangkat alis, wajahnya tegang. "Buka pintunya, tapi hati-hati."

Begitu pintu dibuka, segerombolan orang masuk dengan ekspresi marah. Ada yang membawa spanduk lusuh, ada yang angkat foto buram. Mereka menunjuk-nunjuk Lyra.

"Itu dia! Anak perempuan Raven! Dia pelakunya!"

Semua kepala langsung menoleh ke Lyra.

Lyra berdiri, bingung. "Apa maksud kalian?"

Seorang pria paruh baya maju, menunjukkan foto dari ponselnya. Di layar, tampak mobil mewah berwarna gelap dengan plat nomor mirip mobil keluarga Raven. "Semalam, wanita muda ini menabrak orang di jalan lalu kabur! Kami saksi mata! Kami punya bukti!"

Lyra ternganga. "Apa? Itu bukan aku! Aku justru-" suaranya tercekat, karena diingatnya jelas semalam dia menolong korban, bukan menabrak.

Pharma menyipitkan mata, meraih foto itu. "Mobilnya... memang mirip." Kalimatnya datar, tanpa pembelaan.

Veronica tersenyum samar, seakan menikmati drama. "Lyra... kau... apa benar? Jangan bilang kau kabur setelah-"

"Diam, Veronica," Ratchet menghardik tajam, tapi matanya juga menatap Lyra penuh pertanyaan.

Paul maju, menahan massa. "Hei! Tunggu dulu! Kalian nggak bisa asal nuduh! Aku tahu adikku, dia bukan tipe yang kabur begitu aja!"

Tapi suara-suara riuh terus menuduh. "Kami lihat jelas! Itu mobil keluarga Raven! Anakmu harus tanggung jawab!"

Lyra berdiri terpaku, wajahnya pucat. Semua tatapan mulai meragukannya. Ratchet yang biasanya keras, kini justru terlihat ragu. Pharma tidak mengeluarkan pembelaan, hanya menatap Lyra dengan ekspresi sulit ditebak. Veronica malah terlihat semakin puas, pura-pura cemas sambil meraih lengan Pharma.

Dan di tengah semua tuduhan itu, Lyra berbisik dalam hati, dengan getir:

"Kenapa... semuanya berulang lagi?"

***

Keributan makin memanas. Orang-orang yang menuduh Lyra nyaris nekat masuk ruang makan kalau saja Paul nggak nahan mereka. Veronica sudah pasang drama queen mode, pura-pura melindungi Pharma sambil pasang wajah "kasihan banget" ke Lyra. Ratchet masih gelisah, dan Pharma? Duduk diam, seperti sedang menonton operasi tanpa niat intervensi.

Lyra perlahan berdiri. Tangannya masih memegang sendok, wajahnya tenang, matanya dingin.

"Sudah cukup," ucapnya pelan, tapi tegas.

Kerumunan mendadak terdiam, mungkin tak menyangka putri Raven yang biasanya dikenal sopan bisa bicara dengan nada sekeras itu.

Lyra menatap langsung ke foto yang ditunjukkan. Ia mendekat, mengambil ponsel si pria paruh baya, lalu menatapnya lama.

"Plat nomor ini memang mirip. Tapi kalau kalian lebih teliti, ada goresan kecil di sisi kanan mobil di foto ini. Mobil keluarga Raven tidak punya goresan itu. Kalian bisa periksa langsung di garasi."

Para penuduh saling pandang, mulai bimbang.

Lyra melanjutkan, suaranya tetap dingin. "Dan untuk catatan, semalam aku justru sedang memberi pertolongan pertama pada korban. Kalau kalian masih tidak percaya, tanyakan pada polisi yang hadir di tempat kejadian."

Paul mengangguk cepat. "Benar. Ada laporan tabrak lari semalam. Aku bisa pastikan adikku tidak terlibat."

Lyra mengembalikan ponsel si pria, lalu menatap mereka satu per satu. "Aku paham kalian marah karena korban. Tapi datang ke rumah orang lain dengan tuduhan tanpa bukti lengkap... kalian hanya mempermalukan diri sendiri."

Suasana langsung beku. Veronica menelan ludah, senyum manisnya kaku. Pharma menatap Lyra lama, kali ini ada sesuatu di matanya-kagum, tapi disembunyikan di balik wajah datarnya. Ratchet menghela napas berat, antara lega dan masih kesal.

Kerumunan yang tadi ribut mulai mundur pelan, tak ada yang berani membalas kata-kata Lyra. Paul berdiri tegak, bangga sekaligus kaget, karena biasanya adiknya lebih emosional.

Lyra kembali duduk, mengambil sendoknya lagi, dan berkata ringan, "Kalau sudah selesai, boleh kita lanjut makan malamnya? Makanan dingin tidak enak."

Semua orang terdiam. Hanya suara dentingan sendok Lyra yang terdengar, membuat suasana semakin tegang sekaligus absurd

---

Lyra baru saja meletakkan sendoknya ketika salah satu pria dari kerumunan kembali maju dengan wajah keras kepala. "Kau bisa bicara seenaknya, tapi korban tetap ada. Dan kami yakin kau yang melakukannya!"

Paul langsung pasang badan. "Hei! Jangan macam-macam! Kalian sudah cukup bikin ribut di sini!"

Namun sebelum Paul sempat menarik napas kedua kali, dua pria lain menerobos penjagaan pelayan, langsung mendekat ke arah Lyra.

"LYRA!" Ratchet berseru, hendak bangkit dari kursinya. Tapi dalam hitungan detik, Lyra ditarik paksa dari kursinya.

"APA-APAAN KALIAN?!" Paul menghardik, berusaha meraih adiknya, tapi tubuhnya terhalang kursi panjang. Veronica malah menjerit sok kaget, merapat ke Pharma yang masih... duduk diam, wajahnya tak terbaca.

Lyra sempat melawan, tapi genggaman orang-orang itu terlalu kuat. Tangannya dikunci, mulutnya nyaris tertutup. Wajahnya tetap dingin meski jantungnya berpacu cepat. "Jadi kalian pikir menculikku akan menyelesaikan masalah? Konyol."

"Diam!" salah satu pria mendesis, menyeretnya ke arah pintu.

Paul hampir berhasil menyusul, tapi salah satu dari mereka mengayunkan sesuatu seperti besi panjang, memaksa Paul mundur sambil menahan lengannya. Ratchet berteriak marah, "Jangan berani menyentuh anakku! Aku laporkan kalian semua!"

Teriakan itu tak digubris. Dalam hitungan menit yang mencekam, Lyra berhasil dibawa keluar lewat pintu samping. Suara pintu mobil terbanting keras, mesin meraung, lalu kendaraan itu melaju cepat meninggalkan rumah Raven.

Paul lari keluar, tapi sudah terlambat. Mobil itu menghilang di jalan gelap.

Ratchet mengepalkan tinjunya, wajahnya pucat tapi penuh api. "Paul! Panggil semua unit kepolisian yang kau bisa. Aku tak peduli kalau harus pakai namaku-aku ingin anakku kembali, malam ini juga!"

Paul mengangguk keras, sudah mengeluarkan ponselnya. Tapi di sudut ruangan, Veronica menutup mulutnya dengan tangan, pura-pura syok, sementara matanya berkilat aneh. Pharma menatap kosong ke gelas anggurnya, tapi jemarinya mengetuk pelan, seakan menyimpan sesuatu.

Dan di dalam mobil yang melaju, Lyra hanya bersandar pada jok dengan tangan terikat. Senyumnya tipis, dingin. "Kalau kalian pikir aku akan pasrah, kalian belum kenal siapa aku sebenarnya."

---

Gudang tua di pinggir kota jadi tempat persembunyian Lyra. Udara lembap, bau besi karatan dan debu menyengat. Lyra duduk di kursi kayu, tangan terikat di belakang. Lampu redup berayun di langit-langit, menambah suasana mencekam.

Salah satu penculik mendekat, menatap Lyra dengan wajah galak.

"Keluargamu pasti akan bayar mahal. Atau kalau tidak... ya, kau akan jadi kambing hitam kasus semalam."

Lyra hanya menatap dingin. "Kalian sudah salah tangkap. Dan salah besar kalau mengira aku gampang dipermainkan."

Sebelum pria itu sempat merespons, suara sirene terdengar dari kejauhan. Lalu... BRAK! pintu gudang ditendang keras.

Paul dan Pharma masuk dengan wajah tegang, ditemani beberapa polisi.

"LYRA!" Paul berteriak.

Namun pemandangan yang mereka lihat bikin mereka kaget.

Bukan mereka yang jadi penyelamat pertama.

Seluruh penculik sudah terbujur di lantai, tangan mereka diborgol rapi. Beberapa bahkan mendengus kesakitan karena jelas habis dipiting.

Dan di tengah semua itu berdiri sosok tinggi berseragam polisi, wajahnya tenang, rambut sedikit berantakan, tapi auranya bikin semua orang di ruangan itu tunduk. Normeen Magnus.

Ia menoleh pelan, menatap Paul dengan tatapan dingin. "Kalian lambat."

Paul tertegun, wajahnya merah karena kesal dan malu. "Tch... dasar...!"

Pharma hanya menyipitkan mata, ekspresinya sulit ditebak, tapi jelas tak suka kalau Lyra "diambil" pahlawannya orang lain.

Magnus berjalan ke arah Lyra, membungkuk melepas ikatan tangannya dengan cekatan. "Kau baik-baik saja?" suaranya kaku tapi lirih.

Lyra mengusap pergelangan tangannya yang merah, menatap Magnus dengan senyum tipis. "Aku baik. Terima kasih."

Paul nyaris meledak. "Kenapa selalu KAU yang muncul di saat terakhir, hah?!"

Magnus hanya menatap balik, dingin. "Karena aku lebih cepat."

Suasana mendadak berat. Lyra berdiri di tengah ketiga pria itu-kakaknya yang protektif, dokter pirang yang penuh rahasia, dan polisi kaku yang baru saja jadi penyelamat.

Dan entah kenapa, Lyra merasa garis takdirnya makin kusut.

***

Di kantor polisi, ruangan interogasi terasa panas walau AC berdengung. Penculik-penculik itu duduk berjejer, tangan masih diborgol.

Salah satu polisi gedor meja. "Ngaku, siapa yang nyuruh kalian culik anak ini?"

Salah satu penculik akhirnya buka suara, suaranya bergetar. "K-kami... cuma disuruh. Katanya biar kelihatan kayak dia pelaku tabrakan semalam. Kami dibayar tunai. Orang itu... orang yang nabrak cewek itu!"

Paul yang nunggu di luar kaca one-way langsung teriak, "APA?!"

Lyra yang duduk di samping Magnus cuma diam, wajahnya tenang tapi matanya tajam.

Polisi melanjutkan, "Siapa nama orang itu?"

Penculik geleng-geleng, panik. "Kami nggak tau namanya! Dia pakai topi, masker. Cuma... mobilnya sama kayak yang diberitain semalam. Dia panik banget, bilang 'hancurin cewek itu biar aku aman'."

Magnus menoleh ke arah petugas yang mencatat. "Kalau begitu, jelas Lyra bukan pelakunya. Dia malah target."

"Benar," timpal polisi. "Apalagi Tuan Magnus juga saksi bahwa Lyra ada di tempat kejadian tapi bukan pengemudinya."

Paul menyikut Pharma dengan kasar. "Denger tuh! Adik gue bersih!"

Pharma hanya melipat tangan, tatapannya ke arah Lyra. "Aku sudah bilang dari awal... tapi ya, tentu orang lebih percaya bukti daripada kata-kata."

Lyra akhirnya buka suara, tenang seperti biasa. "Kalau begitu, kasus ini bakal kebuka cepat. Tinggal cari siapa pemilik mobil itu."

Magnus menambahkan, suaranya kaku tapi jelas. "Aku siap bersaksi di pengadilan kalau diperlukan."

Paul mendengus, tapi dalam hati dia tahu: Magnus baru saja menyelamatkan Lyra untuk kedua kalinya.

Lyra hanya bersandar di kursi, menghela napas. Satu masalah beres, tapi jelas badai yang lebih besar sedang menunggu di depan.

1
AEERA♤
bacaa woee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!