NovelToon NovelToon
Melodi Yang Tidak Tersentuh

Melodi Yang Tidak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:499
Nilai: 5
Nama Author: Yumine Yupina

Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.

Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?

Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6 – Orang-Orang yang Berdiri di Sekitarnya

POV Haruto

Lobby Universitas Aozora selalu ramai di jam pagi, tapi Haruto merasa seolah keramaian itu menjauh begitu matanya menangkap satu sosok yang dikenalnya.

Hayasaka Ren.

Ia berdiri dekat papan pengumuman, membaca sesuatu dengan wajah datar. Tidak ada yang istimewa dari caranya berdiri, dari jaket gelap yang dikenakannya, atau dari rambut hitamnya yang sedikit jatuh ke dahi. Tapi Haruto tahu—orang ini selalu berada di sisi Airi.

Dan entah kenapa, itu mengganggu.

Haruto melangkah mendekat lebih dulu. Tidak ada alasan jelas selain rasa ingin tahu yang terlalu lama ia simpan.

“Kau Ren,” katanya. “Teman kecilnya Airi, kan?”

Ren menoleh. Tatapannya tenang, terlalu tenang.

“Iya. Ada masalah?”

Nada itu membuat Haruto mendengus kecil di dalam hati. Tidak defensif, tapi juga tidak ramah.

“Tadi pagi,” lanjut Haruto, “kami berangkat bareng. Terus waktu di parkiran, Hinami muncul dan meminjam Airi.”

Ia sengaja berhenti sebentar, mengamati reaksi Ren.

Dan Ren memang bereaksi.

Bukan dengan kata-kata—tapi dengan perubahan kecil di wajahnya. Otot rahangnya menegang tipis. Tatapannya bergeser sepersekian detik, lalu kembali datar. Haruto menangkap itu. Seperti seseorang yang hampir terseret emosi, tapi menahannya dengan paksa.

Haruto melanjutkan, nada suaranya sedikit menekan.

“Hinami harus izin ke kamu buat pinjam Airi? Apa kau pengasuhnya? Atau… ada peran lain yang harus minta izin dulu?”

Itu bukan pertanyaan polos. Itu tantangan.

Ren menghela napas singkat. Seolah ia sudah menimbang apakah percakapan ini layak diteruskan.

“Haruskah aku jawab?” katanya pelan. “Maaf, aku ada kelas pagi. Aku nggak boleh terlambat.”

Ia meraih tasnya, bersiap pergi.

“Mungkin kamu bisa tanya Hinami,” lanjut Ren tanpa menatap Haruto. “Dia yang izin. Dia mungkin bisa memberimu jawaban.”

Lalu Ren berjalan pergi, meninggalkan Haruto di tengah lobby yang kembali terasa bising.

Haruto tidak mengejarnya.

Ia berdiri diam beberapa detik, lalu menghela napas panjang.

Bukan marah.

Lebih tepatnya—bingung.

Ren tidak membantah. Tidak menjelaskan. Tidak mempertahankan diri. Ia hanya menghindar.

Dan bagi Haruto, itu lebih mengganggu daripada jawaban apa pun.

Ia menatap punggung Ren yang menjauh, lalu berbalik menuju ruang kelasnya.

Ada sesuatu tentang Airi yang membuat semua orang berdiri di posisi masing-masing. Dan Haruto mulai sadar—ia datang terlambat ke lingkaran itu.

---

POV Ren

Langkah Ren di lorong kampus terdengar teratur, tapi pikirannya tidak.

Tangannya masuk ke saku jaket. Jemarinya mengepal tanpa sadar.

Kenapa Haruto?

Kenapa Airi harus berangkat bareng dia?

Ren tahu ia tidak punya hak melarang. Ia bukan orang tua Airi. Bukan wali resmi. Tapi ingatan itu datang tanpa permisi—sebuah sore bertahun-tahun lalu, ketika ibu Airi duduk di ruang tamu rumah mereka, wajahnya lelah, matanya sembab.

Tolong jaga Airi,

katanya waktu itu.

Dia… gampang percaya.

Sejak hari itu, Ren tidak pernah benar-benar berhenti berjaga.

Ia masuk kelas dengan wajah yang sedikit lebih dingin dari biasanya. Aura tenangnya berubah—bukan marah, tapi tegang. Beberapa mahasiswa menoleh, merasakan perubahan itu tanpa tahu sebabnya.

“Ren?” seorang teman menghampiri. “Tugas komposisi minggu depan gimana?”

Ren berkedip, memaksa dirinya kembali fokus.

“Nanti aku kirim draft,” jawabnya singkat.

Ia duduk, membuka buku, tapi pikirannya tetap tertinggal di lobby.

Ia membenci perasaan ini.

Cemburu yang tidak punya hak bicara.

Khawatir yang tidak bisa ia jelaskan tanpa membuka luka Airi.

Ren menutup mata sejenak.

Ia hanya ingin Airi aman.

Itu saja.

---

POV Yukito

Kelas pagi akhirnya selesai.

Yukito mengemasi bukunya dengan rapi, lalu berjalan keluar bersama Mei. Mereka satu jurusan—Teknik Informatika—dan sudah terbiasa berdampingan tanpa banyak bicara. Langkah mereka sinkron, obrolan ringan tentang tugas dan jadwal.

Kafetaria hanya beberapa meter dari studio musik kampus.

Dan di sanalah Yukito melihat mereka.

Hinami dan Airi keluar dari gedung seni.

“Aku lapar,” gumam Airi pelan.

“Kamu nggak sarapan,” sahut Hinami. “Ayo ke kafetaria.”

Yukito berhenti melangkah sepersekian detik. Jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya.

Ia menarik napas kecil, lalu menyapa dengan suara lembut.

“Hai, Airi. Hinami. Kalian habis ngapain?”

Mereka menoleh.

Airi tersenyum kecil. “Habis bikin video promosi band.”

“Yang fokus ke Airi,” tambah Hinami. “Vokalnya kuat. Dia pusatnya.”

Yukito mengangguk. Ia tahu itu. Semua orang tahu itu.

Ia menatap Airi—cara ia berdiri, cara ia menyelipkan rambut ke belakang telinga tanpa sadar.

“Airi juga jadi pusat perhatianku,” katanya pelan. “Nggak cuma mereka semua.”

Kalimat itu hampir tenggelam oleh keramaian.

Airi mengerutkan kening. “Hm? Kamu bilang apa?”

Yukito menatapnya. Ia ingin mengulang. Ingin jujur. Ingin mengatakan bahwa suara Airi di panggung masih terngiang di kepalanya, bahwa wajah Airi di perpustakaan terasa lebih nyata dari layar mana pun.

Tapi sebelum ia sempat—

“Udah yuk ke kafetaria,” potong Mei cepat. “Aku lapar.”

Hinami mengangguk. “Ayo, Airi. Kamu yang bilang tadi.”

Airi menggandeng tangan Hinami dan Mei. “Ayo.”

Yukito berjalan di belakang mereka.

Ia tidak kecewa.

Ia hanya… menyimpan.

---

POV Mei (singkat)

Untung tadi aku sela.

Mei menatap punggung Yukito di depannya.

Aku suka dia dari kecil. Aku berdandan seperti ini supaya dia melihatku.

Tapi matanya selalu ke arah lain.

Mungkin memang butuh waktu,pikirnya. Atau mungkin… aku harus belajar menerima.

Ia tersenyum seperti biasa, menyembunyikan perasaan yang tak pernah benar-benar pergi.

---

POV Hinami

Kafetaria ramai, tapi Hinami merasa lelahnya tidak datang dari suara atau keramaian.

Ia membuka manga sambil mendengarkan obrolan tentang band—tentang promosi, tentang ide tampil berikutnya. Ia memperhatikan Airi dari samping.

Airi lebih hidup sekarang. Lebih berani.

Dulu, Airi bahkan takut berjalan sendirian di koridor.

Capek? Iya.

Tapi kalau demi Airi… aku bisa.

Hinami tahu—ia, Ren, dan mungkin musik—adalah bagian dari penopang yang membuat Airi tidak jatuh lagi.

Dan selama Airi masih melangkah ke depan, Hinami akan tetap di sana.

Setia. Diam. Tapi tidak pernah pergi.

1
Esti 523
suemangad nulis ka
mentari anggita
iihh hati aku ikut panas dan sesak. Amarah Ren kerasa nyata, tapi lebih sakit lagi waktu dia harus berhenti demi Airi dan orang tuanya. 😭
Huang Haing
Semangat kak, penulisan nya bagus banget! 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!