Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.
Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.
Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.
Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 — PELANGGARAN KECIL
Aroma masakan itu memenuhi ruang tengah Joglo, kental dan berminyak. Bu Kanti datang tepat setelah azan Maghrib, membawa rantang susun tiga yang terbuat dari enamel hijau loreng. Ia tidak banyak bicara, hanya meletakkan rantang itu di atas meja kayu jati, tersenyum sekilas ke arah Bima yang masih duduk melamun, lalu pergi.
Nara membuka rantang itu. Uap panas mengepul keluar.
"Rawon?" gumam Lala, menjulurkan lehernya. "Warnanya item banget."
Itu memang sup daging berkuah hitam pekat, khas masakan Jawa Timur yang menggunakan kluwek. Tapi hitamnya rawon ini berbeda. Tidak kecokelatan, melainkan hitam legam seperti aspal cair. Dan potongan daging di dalamnya... besar-besar, masih menempel pada tulang yang sumsumnya terlihat merah muda.
"Ini daging apa?" tanya Siska ragu. Hidungnya kembang kempis. Ia mencium bau rempah yang kuat—kapulaga, cengkeh, kayu manis—tapi di balik itu semua, ada bau anyir yang samar. Bau yang mengingatkan Siska pada pasar daging saat subuh hari, saat darah hewan baru saja tumpah ke lantai keramik.
"Daging sapi lah, masa daging orang," celetuk Lala. Tanpa ragu, ia mengambil piring, menyendok nasi, dan menuangkan kuah hitam itu dengan boros. "Makan, guys. Sayang kalau dibuang. Kang Jaya bilang ini buat syukuran Bima kan?"
Bima, yang sejak siang hanya diam seperti patung, tiba-tiba bereaksi mendengar namanya disebut. Kepala yang sedari tadi tertunduk kini terangkat. Matanya menatap panci rawon itu. Pupil matanya membesar.
"Laper," gumam Bima.
Suara itu membuat Dion merinding. Itu bukan nada lapar orang yang belum makan seharian. Itu nada lapar predator.
Bima menyambar piring, mengisi penuh dengan daging, mengabaikan nasinya. Ia makan dengan tangan telanjang. Mulutnya belepotan kuah hitam. Ia menggerogoti daging dari tulangnya dengan bunyi krak dan slurp yang basah.
"Bim, pelan-pelan..." tegur Nara, ngeri melihat cara makan temannya. "Lo baru sembuh muntah."
"Enak, Nar," kata Bima sambil mengunyah. Dagu dan kaosnya kotor oleh tetesan kuah. "Dagingnya manis. Lembut banget. Kayak lumer di mulut."
Raka, yang duduk di seberang Bima, merasa perutnya mual. Ia teringat mimpi sumurnya. Teringat lumpur di tangan. Ia menatap daging di piring Bima dan imajinasinya bermain liar—melihat tekstur yang mirip otot paha manusia.
"Gue... gue makan mie instan aja," kata Raka, mendorong piring kosongnya menjauh. "Lidah gue pait."
"Gue juga puasa senin-kamis," bohong Siska cepat, padahal hari ini Selasa.
Malam itu, makan malam berlangsung dalam ritme yang ganjil. Lala dan Bima makan dengan nafsu yang meledak-ledak, menambah porsi hingga rantang itu bersih tak bersisa, bahkan menjilati jari-jari mereka. Sementara Nara, Dion, Raka, dan Siska hanya menonton dengan perut keroncongan yang tertahan oleh rasa jijik dan takut.
Saat Bima bersendawa keras, lampu ruang tengah berkedip.
Sekali. Dua kali.
"Bensin genset abis?" tanya Dion, melihat jam tangannya. "Baru jam delapan malem, Nar."
"Mungkin alirannya nggak stabil," jawab Nara, berusaha tenang.
Tapi kedipan ketiga tidak kembali menyala.
Pyar.
Suara bohlam pecah terdengar dari teras depan, diikuti kegelapan total yang menyelimuti rumah itu lebih cepat dari jadwal biasanya. Tidak ada suara mesin genset yang batuk-batuk sebelum mati. Mesin itu mati mendadak, seperti jantung yang berhenti berdetak.
"Jangan panik," suara Nara terdengar tegas dalam gelap, meski tangannya meraba-raba mencari ponsel. "Nyalain senter hp."
Empat berkas cahaya putih menyala, menyapu ruangan yang penuh bayangan.
"Bima mana?" tanya Raka tiba-tiba.
Senter Raka menyapu sofa rotan tempat Bima tadi duduk kekenyangan. Kosong. Piring kotornya masih ada di meja, sisa tulang belulang berserakan seperti sisa ritual.
"Bima!" panggil Nara.
Hening. Tidak ada jawaban.
"Tadi dia masih di sini pas lampu kedip," kata Lala santai, sambil membersihkan sela giginya dengan kuku. Wajahnya di bawah sorot senter terlihat berminyak dan puas. "Mungkin ke belakang. Kebelet boker kali, abis makan banyak."
"Ke belakang?" Dion teringat pintu hitam di lorong dan sumur tua itu. "Senter dia mati, woy. Dia nggak bawa hp."
"Cari Bima," perintah Nara. "Jangan pisah. Raka sama Dion cek kamar mandi dan dapur. Gue sama Siska cek kamar. Lala, lo tunggu di sini, jaga lilin."
"Oke, Bu Bos," sahut Lala malas.
Sementara itu, Bima tidak sedang buang air.
Ia berdiri di halaman belakang Joglo. Tanpa alas kaki. Tanpa senter.
Gelap malam tidak lagi mengganggunya. Justru, matanya terasa lebih awas dalam gelap. Ia bisa melihat kontur pohon pisang, garis atap kandang ayam yang reyot, dan jalan setapak menuju hutan.
Udara malam itu panas bagi Bima. Sangat panas.
Rawon tadi... daging itu membakar tubuhnya dari dalam. Ada energi asing yang meledak di aliran darahnya. Testosteronnya terasa meluap-luap, membuatnya gelisah, membuatnya ingin bergerak, ingin berlari, ingin... berburu.
"Panas..." desis Bima, menarik kaosnya hingga lepas, membiarkan tubuh atletisnya terpapar angin malam. Keringat mengalir deras di punggungnya.
Bima tidak tahu kenapa ia keluar. Kakinya bergerak sendiri saat lampu mati. Ada suara yang memanggilnya. Bukan suara manusia, melainkan suara detak. Seperti detak jantung raksasa yang berasal dari arah hutan.
Dug... dug... dug...
Iramanya memanggil. Hipnotis.
Bima berjalan melewati sumur. Ia tidak berhenti di sana. Ia melompati pagar bambu pendek yang membatasi pekarangan Joglo dengan area kebun liar.
Tanah di bawah kakinya terasa becek. Lumpur dingin menyelip di antara jari-jari kakinya, tapi Bima menyukainya. Sensasi itu meredam panas di tubuhnya.
Ia terus berjalan, masuk semakin dalam ke arah pepohonan jati yang rapat. Di sini, cahaya bulan hampir tidak bisa menembus.
Tiba-tiba, langkah Bima terhenti.
Sekitar sepuluh meter di depannya, di antara dua batang pohon jati tua yang melengkung membentuk gerbang alami, ada seseorang.
Sosok itu tinggi besar. Berdiri tegap membelakangi Bima. Memakai pakaian serba hitam—seperti pangsi atau baju silat kuno.
"Woy!" panggil Bima. Suaranya terdengar berani, efek dari adrenalin daging yang ia makan. "Siapa di situ? Warga?"
Sosok itu tidak berbalik. Tidak bergerak.
Bima menyipitkan mata. Ada yang aneh dengan proporsi tubuh orang itu. Bahunya sangat lebar, tegap, dan kekar. Tapi... di mana lehernya?
Bima melangkah maju selangkah lagi. "Pak? Kang Jaya?"
Sosok itu perlahan memutar badannya. Gerakannya kaku, berderit seperti dahan pohon yang patah.
Bima terpaku. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Di atas bahu lebar sosok itu... tidak ada apa-apa.
Rata.
Hanya ada kerah baju hitam yang berdiri tegak, dan di tengahnya, di tempat seharusnya leher dan kepala berada, hanya ada gumpalan asap hitam pekat yang berputar-putar.
Ini Bayangan Tanpa Kepala.
Dan meski tidak punya mata, Bima tahu makhluk itu sedang menatapnya.
Tiba-tiba, Bima merasakan sakit yang luar biasa di lehernya sendiri. Rasanya seperti ada tali tambang kasar yang menjerat lehernya, ditarik kuat ke atas.
"ARGH!" Bima mencekik lehernya sendiri, berusaha melepaskan jeratan yang tak kasat mata.
Sosok tanpa kepala itu mengangkat tangannya. Di tangan kanannya, ia memegang sesuatu. Sebuah golok besar yang berkarat, namun mata pisaunya berkilau merah.
Sosok itu melangkah maju. Satu langkah. Tanah bergetar.
Bima ingin lari, tapi kakinya lemas. Rasa panas di tubuhnya berubah menjadi dingin yang melumpuhkan. Ia melanggar aturan nomor satu: Tidak keluar setelah tengah malam. Meski jam tangan Bima baru menunjukkan pukul delapan lewat, waktu di desa ini sudah tidak lagi mengikuti logika manusia sejak lampu mati.
Sosok itu mengangkat goloknya tinggi-tinggi.
"Bima nggak ada di kamar mandi!" teriak Raka, berlari kembali ke ruang tengah.
"Di kamar juga nggak ada!" sahut Nara panik.
"Pintu belakang!" teriak Dion. "Pintu dapur kebuka sedikit!"
Mereka berempat—Lala masih duduk santai memainkan lelehan lilin—berlari menuju dapur. Pintu kayu yang berat itu terbuka sedikit, membiarkan angin malam masuk membawa bau tanah basah.
Nara yang pertama sampai. Ia mendorong pintu itu agar terbuka lebar. "Bima!" teriaknya ke arah kegelapan kebun.
"Itu jejak kaki!" Dion menyorotkan senter ke tanah berlumpur di depan pintu. Jejak kaki telanjang ukuran besar. Mengarah ke hutan.
"Dia ke hutan. Gila tuh anak," umpat Raka. "Ayo kejar."
Raka hendak melangkah keluar, tapi Dion menahannya. "Tunggu, Rak. Liat bates pager."
Senter Dion menyorot pagar bambu di ujung pekarangan.
Di sana, berbaris rapi di atas pagar, bertengger burung-burung gagak. Diam. Tidak bersuara. Mata mereka memantulkan cahaya senter, bersinar hijau menyala. Jumlahnya puluhan. Mereka menatap ke arah pintu dapur, seolah menjadi pagar betis yang melarang siapa pun keluar.
"Kita nggak bisa ke sana modal nekat," kata Dion gemetar. "Itu tanda, Rak. Hutan lagi nutup."
"Terus kita biarin Bima?!" bentak Raka.
BLAM!
Pintu dapur di depan wajah Nara tiba-tiba terbanting menutup dengan kekuatan yang mustahil dilakukan oleh angin.
Nara terlonjak mundur, hampir menjatuhkan ponselnya.
"Kunci!" teriak Nara.
Raka menerjang maju, mencoba memutar gagang pintu.
Macet.
"Keras banget! Kayak ada yang nahan dari luar!" Raka memutar gagang itu dengan dua tangan, urat-urat lengannya menonjol. Tapi pintu kayu tua itu bergeming, seolah sudah menyatu dengan kusennya.
"Coba pintu depan!" komando Nara.
Mereka berlarian kembali ke ruang tengah, menuju pintu utama.
Terkunci.
Jendela?
Terkunci.
Semua akses keluar tertutup rapat. Mereka terperangkap di dalam Joglo.
"Sialan!" Raka menendang pintu depan. "Woy! Buka! Ada orang di luar!"
Suara Raka hanya memantul di dinding kayu, tidak terdengar sampai keluar. Rumah ini telah menjadi kedap suara.
Di tengah kepanikan itu, Lala tertawa.
Lala masih duduk di kursi rotan, diterangi sebatang lilin yang apinya bergoyang liar meski tidak ada angin. Bayangan Lala di tembok terlihat besar dan... bertanduk.
"Ngapain sih heboh banget?" tanya Lala. Suaranya tenang, tapi matanya menatap kosong ke arah teman-temannya. "Bima lagi main. Biarin aja. Nanti juga balik... kalau sisanya masih ada."
"Maksud lo apa, La?" sentak Siska, air mata ketakutan sudah menggenang di matanya.
Lala menoleh pelan ke arah Siska. Senyumnya melebar. "Aturannya kan sederhana. Kalau satu keluar... yang lain harus nemenin yang di dalem."
Tiba-tiba, dari arah lorong kamar—tempat pintu hitam misterius itu berada—terdengar suara ketukan.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan itu sopan. Halus. Berasal dari dalam kamar yang terkunci itu.
Dion mundur, punggungnya menabrak tembok. Wajahnya pucat pasi. "Itu... itu kamar kosong yang nggak ada jendelanya kan?"
Tok... Tok... Tok...
Ketukan itu semakin keras. Dan sekarang disertai suara kuku yang menggaruk kayu.
Sreeek... Sreeek...
"Ada yang mau keluar dari kamar itu," bisik Nara horor.
Mereka terjebak.
Di luar, Bima menghadapi algojo tanpa kepala.
Di dalam, mereka terkurung bersama sesuatu yang baru saja bangun di kamar hitam.
Dan listrik tidak akan menyala sampai pagi.
"Merapat!" perintah Nara. "Semua merapat ke tengah! Jangan ada yang deket tembok atau pintu!"
Mereka berkumpul di tengah ruangan, saling membelakangi. Siska mulai menangis sambil membaca doa. Raka memegang sapu ijuk sebagai senjata yang menyedihkan. Dion mencengkeram jurnalnya. Nara mengarahkan senter ke lorong gelap itu.
Gagang pintu kamar hitam itu perlahan berputar.
Krek...
Pintu hitam yang selalu terkunci itu... terbuka sedikit. Hanya celah sempit.
Dan dari celah itu, menggelinding keluar sebuah benda kecil.
Benda itu berhenti di dekat kaki Dion.
Dion menyorotnya dengan senter.
Itu adalah kepala boneka bayi. Tua, kotor, dan satu matanya hilang. Tapi di bagian leher boneka yang putus itu, ada darah segar yang masih menetes.
Dan dari dalam kamar hitam, sebuah suara wanita bersenandung lirih. Lagu Lingsir Wengi.
Tapi liriknya salah.
"Lingsir wengi... getihmu... wangi..."
(Menjelang malam... darahmu... harum...)
Nara sadar, pelanggaran kecil Bima malam ini telah memicu alarm. Makan malam tadi adalah kontrak, dan sekarang penagih hutang sudah datang.