Ameera, sangat terpukul saat mengetahui suaminya Caleb selingkuh di depan matanya sendiri. senua pengorbanannya selama ini terasa sia-sia.
Ameera tidak bisa merima kenyataan itu dan memilih pergi meninggalkan rumah. meninggalkan Ibu mertua yang sakit. yang menganggapnya tidak lebih dari seorang pembantu.
Saatnya membangun harapan baru, mengejar impian yang selama ini dia hancurkan.
Berhasilkah Ameera meraih mimpi dan cintanya. Apakah Caleb berhasil menemukan istrinya yang minggat dari rumah.
Mohon dukungannya atas cerita ini. Dari awal hingga akhir. Bukan hanya sekedar mampir atau jadi pembaca hantu, tiba-tiba muncul dan tiba menghilang. Tinggalkan jejaknya sebagai tanda cinta buat Emak. Love you untuk kalian semua. Horas!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Kemarahan Caleb
Caleb, merasa pusing akibat ulah ibunya yang begitu cerewet tentang ART, yang dipekerjakan untuk merawat ibunya. Belum satu minggu berselang sejak istrinya minggat, sudah tiga kali ART yang dipekerjakan di rumahnya berhenti.
Bolak-balik waktunya tersita hanya untuk mencari di penyedia jasa ART, dengan segala aturan dan tetek bengek yang memusingkan kepalanya.
Dia harus keluarkan dana ekstra untuk itu agar cepat menemukan perawat ibunya, karena biasanya butuh waktu minimal beberapa hari untuk mendapatkannya.
Namun, karena keadaan mendesak dia tidak bisa menunggu. Sehingga harus membayar lebih mahal. Belum lagi harus patuh pada surat perjanjian yang seharusnya memang, tidak merugikannya. Andai ibunya, ya, andai ibunya tidak banyak ulah.
"Bu, Caleb minta tolong ini kali terakhir aku mencari perawat Ibu. Bila Ibu masih buat ulah mending Caleb kirim saja Ibu sekalian ke panti jompo. Caleb sudah pusing dan stres dengan semuanya!" ancam Caleb tidak bisa mengontrol emosinya karena membuat para ART tidak betah.
Paling kuat hanya bertahan dua hari ada yang bertahan hanya dalam hitungan jam. Semua diusir ibunya karena katanya tidak becus merawatnya. Beda kalau mereka yang mundur. Ini ibunya seolah sengaja bertingkah entah apa maunya.
Bu Rina terhenyak dengan pernyataan putranya. Tidak menduga kalau anak yang dilahirkan tega berkata begitu padanya.
"Dasar anak durhaka! Tega kamu ngomong seperti itu sama Ibu kamu sendiri."
"Ibu yang memaksa Caleb berucap seperti itu. Seharusnya Ibu lebih tau diri dengan keadaan Ibu. Jangan banyak tingkah kalau sudah tidak bisa ngurus diri sendiri." sergah Caleb.
"Kamu yang ketahuan selingkuh oleh istri kamu. Sekarang kamu malah menyalahkan Ibumu." hardik Bu Rina.
"Oke, anggap Caleb salah, Bu. Semua sudah terjadi. Anak dan istriku sudah minggat dari rumah ini. Tapi, Ibu seharusnya tidak memperparah keadaan dengan tingkah Ibu. Sehingga perawat yang Andre pekerjakan hanya bertahan satu hari. Belum seminggu sudah tiga orang berhenti. Apa Ibu pikir, cari ART itu gampang, Bu?" Caleb makin meluapkan kekesalan hatinya.
"Kamu sama saja dengan Jenni. Kalian berdua jahat sama, Ibu." isak Bu Rina tidak dapat menahan tangisnya. Caleb kesal setiap kali ibunya menangis, karena ibunya tau dia tidak tahan melihat air mata ibunya. Ibunya tau persis kelemahannya itu.
Namun, untuk kali ini Andre harus tegas agar ibunya berubah dan tidak egois.
"Oke, terserah Ibu mau ngomong apa. Tapi ini yang terakhir Caleb akan mencari ART. Jika Ibu tidak mengubah sikap Ibu dan mereka tidak betah itu urusan, Ibu." usai bicara Caleb masuk ke kamarnya. Hari ini dia begitu lelah di kantor.
Tadi dia kena tegor bosnya, karena akhir-akhir ini mengabaikan pekerjaannya karena urusan mencari pembantu. Namun, ibunya seolah tidak mau tau semua itu dan tidak menghargainya.
Sekarang makin terasa baginya seperti apa penderitaan istrinya selama ini. Sikap keluarganya yang tidak menghargainya dan menjadikannya lebih dari seorang pembantu.
Istrinya yang selalu patuh dan diam selama ini ternyata menyimpan bara dihatinya yang kemudian membakar hangus rumah tangganya!
Entah kemana lagi harus mencari anak dan istrinya. Seminggu sudah berlalu, istri dan anaknya seolah hilang ditelan bumi tak ada kabar berita.
Rasa sesal itu memang selalu datangnya terlambat. Caleb menyesal telah mengabaikan istrinya selama ini. Penyesalan yang sia-sia dan baru menyadari pengorbanan istrinya serta rasa kehilangan setelah dia pergi.
Caleb melemparkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Hatinya begitu hampa, sepi merana.
Tidak ada lagi suara tangis bayinya yang selalu memekakkan telinganya. Bukan hanya pada istrinya, pada anaknya dia juga abai.
Kapan hari dia peduli pada putri semata wayangnya itu. Dia jarang menggendong dan mengajak bermain. Dia lebih peduli pada si kembar keponakannya.
Caleb meremas rambutnya, berjuta sesal semakin menyiksanya. Terlebih saat ingat satu kejadian perlakuan kasarnya pada putrinya.
Saat itu Ameera minta tolong untuk menjaga Celia sebentar, karena mau membuatkan susu untuk Celia. Kedua keponakannya juga kebetulan datang dan perhatiannya lebih tercurah pada keponakannya.
Celia yang sudah pandai merangkak luput dari pengawasannya. Dalam sekejap sudah keluar menuju teras. Sementara dirinya masih asyik bercanda dengan si kembar.
Tiba-tiba terdengar tangisan Celia. Ameera yang muncul dari dapur terkejut mendengar tangisan putrinya. Terlebih lagi Celia sudah tidak ada di ruang keluarga.
"Bang, Celia mana?" Ameera panik karena tidak melihat keberadaan putrinya.
"Tadi disini."
"Mana?" Ameera berlari ke teras mengikuti suara tangis Celia. Ameera menjerit saat melihat tubuh putrinya yang jatuh telungkup. Ameera meraih tubuh putrinya dan wajahnya bersimbah darah karena terbentur lantai.
Mereka bertengkar hebat saat itu dan saling menyalahkan. Padahal dirinya yang salah yang tidak peduli pada putrinya. Sejak kejadian itu, sikap istrinya semakin diam dan tidak pernah lagi menitipkan bayinya walau hanya sedetik.
Anehnya dirinya malah senang karena tidak direpotkan lagi. Dia tidak peka dengan semuanya. Ayah dan suami macam apa dirinya yang begitu tega pada anak dan istrinya.
Saat ibu atau adiknya bermasalah dengan istrinya, tanpa tau kejelasan ceritanya dia lebih membela adik dan ibunya. Dia tidak pernah percaya ucapan istrinya. Dia lebih percaya kepada ibu dan adiknya.
"Prang ...." tiba-tiba suara benda jatuh bunyinya cukup nyaring bergema. Caleb yang hendak memejamkan matanya tersentak kaget. Bergegas keluar kamar ingin tau apa yang terjadi.
Ternyata ibunya telah memecahkan lagi peralatan makannya. Serpihan beling berserak di lantai.
"Kenapa lagi, Bu?" seru Caleb saat melihat pemandangan di depannya. Segera dia mencari sapu untuk mengumpulkan pecahan beling.
"Ibu sengaja ya, berbuat ini?" tuduh Caleb curiga pada ibunya.
"Ya, Ibu sengaja memecahkannya." sahut Bu Rina datar tanpa rasa bersalah.
"Aduh, Ibu. Buat apa Ibu lakuin semua ini. Ibu bisa mikir gak dalam sehari bisa habis peralatan makan, Ibu pecahkan."
"Makanya kamu harus temukan, Ameera. Supaya kembali ke rumah ini dengan cara apapun!" sentak Bu Rina.
"Ameera, lagi. Apa Ibu gak sadar kalau Ame sudah pergi. Mau kemana lagi mencarinya. Harusnya Ibu senang Ameera pergi. Ibu bisa menguasai semua gaji Caleb tanpa memberi jatah lagi pada istri saya. Setelah dia pergi baru Ibu kecarian. Bukan karena sayang tapi karena Ibu butuh dia merawat Ibu, gratisan 'kan." tohok Caleb kalap.
Wajah Bu Rina memerah karena ucapan putranya ada benarnya. Sebenarnya dia mengusir para perawat itu karena mengetahui gaji mereka yang menurutnya begitu besar. Itu berarti jumlah gaji Andre yang akan diterima pasti berkurang karena dipotong gaji perawat. Tapi bukan Bu Rina namanya kalau kalah berdebat.
"Kalau begitu, kenapa kamu tidak menikahi selingkuhanmu itu saja." Kedua bola mata Caleb melotot mendengar ucapan ibunya. Baru beberapa menit yang lalu menyuruhnya mencari Ameera detik berikutnya sudah menyuruhnya menikah.
"Oke, kalau Ibu rasa itu solusi satu-satunya. Caleb akan menceraikan Ameera dan menikahi, Zita!" sahut Caleb datar. ***