Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 4
CHAAAAAT
CHAAAAAT
Kembali suara pecutan tanpa teriakan terdengar di dalam kamar kedua orang tuanya. Kali ini Bima tak melakukannya di depan Arkha, dia tak ingin anak lelakinya melihat hal yang di lakukannya lagi. Karena akan membuat anaknya ketakutan dan tak mau dekat lagi dengannya.
Sepertinya kemarahan Bima kepada Mutiara belum mereda juga. Bahkan dia tak membiarkan Mutiara sehat dan bisa berjalan. Beberapa hari berlalu, tetap saja kemarahannya tak reda bahkan semakin bertambah. Entah apa yang ada di dalam benaknya. Padahal baru saja semalam dia meminta hak nya untuk di layani mutiara sebagai seorang suami. Tapi pagi ini sudah terdengar kembali amarah pria itu.
Aruna juga tak di perbolehkan masuk ke dalam kamar ibunya. Tak seorangpun kecuali bibi yang di minta mengantar makanan dan mengobati luak Mutiara. Entah sampai kapan siksaan itu akan di dapatkan Mutiara. Aruna berdiri di depan kamar ibunya dengan kedua tangan terkepal di samping. Matanya memerah antara menahan air mata dan juga amarah.
"Kau dengar itu?" tanya Bima keluar dari dalam kamar dan melihat Aruna berdiri di sana mematung menatap nanar ke arah pintu.
"Sampai kapan anda akan menyik-sa ibu saya seperti itu Tuan Bima? Jika memang anda sudah tak mencintai dan tak mengharapkan ibu saya, lebih baik lepaskan dia. Dia bukan bina-tang yang anda perlakuan sangat kejam seperti itu!" jawab Aruna mantap penuh kebencian kepada pria di depannya.
"Itu adalah hukuman bagi orang yang berani berkhianat kepada seorang Bima! Apa kau paham? Dan sekarang giliranmu! ikut denganku!" jawab Bima dingin tanpa ekspresi.
Aruna mengikuti langkah panjang ayahnya dari belakang. Punggung tegap yang dia rindukan sebagai pelindung nyatanya malah menjadi orang yang memberikan luka paling dalam di hidupnya. Bayang-bayang hidup bahagia dan di sayangi setelah bisa memberikan semua yang di inginkan ayahnya ternyata hanyalah khayalan. Semua prestasi yang dia torehkan tak membuat ayahnya bangga atau memujinya sedikitpun.
"Kerjakan semua berkas itu! Jika sampai ada yang salah dan terbalik maka kamu akan mendapatkan hukuman dariku! Jangan keluar dari dalam ruangan ini sebelum selesai! Apa kau paham?" Bima memberikan setumpuk berkas pekerjaan kantor kepada anak berusia dua belas tahun.
"Jika aku bisa menyelesaikan tugas ini, berapa hari aku bisa mengurangi hari dari tujuh tahun itu Tuan?" tanya Aruna dengan tatapan kosong mengarah ke tumpukan berkas di depannya.
"Sepuluh hari! Jika kamu bisa mengerjakannya tanpa adanya kesalahan sedikitpun!" jawab Bima.
"Bisakah saya tukar sepuluh hari itu dengan sepuluh hari anda tak menyik-sa ibu saya. Biarkan dia istirahat!" pinta Aruna membuat kesepakatan.
"Kau kembali membuat kesepakatan denganku Aruna?" tanya Bima kesal sekali dengan anak keras kepala di depannya.
"Sudah ku katakan kita sama-sama mendapatkan keuntungan dari setiap kesepakatan kita. Anda mendapatkan kesenangan karena bisa menghukum saya, dan saya mendapatkan pengurangan dari jumlah waktu itu!" jawab Aruna membalas tatapan Bima.
"Baiklah! Jika kau gagal, maka sepuluh hari ke depan kau yang akan menggantikan ibumu itu untuk ku sik-sa!" jawab Bima pergi dari sana membanting pintu dan mengunci Aruna dari luar.
Bima pergi sengata tanpa memberi tahu setiap langkah yang harus di lakukan Aruna. Dia memang sengaja membiarkan anaknya kesusahan karena tujuan utamanya adalah menghukum Aruna. Anak yang memiliki sifat yang sama keras dengan dirinya.
Aruna masih bersikap tenang seperti biasanya. Tangannya dengan lincah dan lihai menyusun setiap berkas yang ada di tangannya. Sesekali dia juga menggulir jemarinya di atas keyboard laptop yang di berikan sang ayah. Tanpa Bima sadari Jiak anaknya itu memiliki kecerdasan yang luar biasa. Sebenarnya dia terbiasa membantu sang ibu menyusun berkas seperti ini. Ibunya selalu di minta Bima melakukan tugas itu jika dia sedang banyak pekerjaan.
Dan dia juga menuliskan dengan detail kesalahan di setiap berkas yang ada di depannya dengan sangat cermat dan teliti. Tak ada yang terlewat. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. perutnya mulai terasa perih. Dia hanya minum air putih dan juga dua potong roti saat sarapan. Tak ada lagi yang dia makan selain itu. Semua berkas sudah selesai dia kerjakan.
Dia hanya bisa menahan perih di perutnya dan sesekali memeriksa semua file yang ada di dalam laptop ayahnya. Ternyata ada banyak rahasia perusahaan milik ayahnya di sana. Aruna sedikitnya mengerti dan paham. Dia terlihat berfikir, entah apa yang ada alam benaknya itu. Hanya saja dia berfikir jika hal ini akan berguna untuknya kelak setelah bisa keluar dengan ibunya dari dalam rumah itu. Tapi apakah Bima akan menepati janji untuk melepaskan mereka begitu saja?
"Apa aku bisa mengerjakannya?" tanya Bima masuk ke dalam ruang kerjanya lewat pukul sembilan malam. Aruna sedang membaca-baca kembali berkas di depannya. Bahkan sudah dua kali dia membaca ulang semuanya hingga membuat dia hafal setiap isi dari berkas itu.
"Silahkan di cek Tuan Bima!" jawab Aruna menyerahkan semua berkas itu kepada Ayahnya.
"Dan ini revisi setiap berkas. Ada beberapa yang salah dalam perhitungan dan juga lainnya. Anda bisa periksa kembali dengan teliti!" tambah Aruna memberikan laptop juga kepada Bima.
Melihat ketenangan dan kepercayaan diri anaknya membuat Bima menaikkan sebelah alisnya. Tangan dan matanya dengan lincah memeriksa semua berkas yang ada di depannya itu. Begitupun dengan yang ada di laptop. Sedangkan Aruna menunggu sambil menahan perih di perutnya. Dia sudah tak bisa lagi menahan laparnya.
"Apa kau mengerjakan semua ini sendiri?" tanya Bima meragukan hasil pekerjaan anak perempuannya.
",Apa anda melihat ada orang lain di sini yang kemungkinan besar membantu saya, Sedangkan pintu saja anda kunci dari luar Tuan Bima! Anda juga sepertinya mengawasi saya melalui cctv yang anda pasang selain yang di atas itu. Di sana di sana juga ada cctv," jawab Aruna sambil menunjuk beberapa tempat yang memang sengaja dia pasang cctv. Bima terdiam.
"Tugas saya selesai. Dan sesuai dengan janji anda selama sepuluh hari ke depan tak ada sik-saan untuk ibu saya. Saya permisi pergi dulu Pak Bima, besok saya harus ke sekolah!" Aruna bangkit dan pamit dari sana setelah membungkukkan badannya sedikit seperti para pelayan lainnya. Tangan Bima terkepal.
"Runa, makan dulu nak. Dari siang kamu belum makan lagi," Bi Asih membawakan sepiring nasi lengkap dengan lauknya ke kamar Aruna.
"Terima kasih Bi ... " jawab Aruna tak menolak. Karena saat ini dia benar-benar lapar. Dia harus punya tenaga untuk melawan Bima. Dia tak boleh lemah di hadapan pria itu. Sedangkan Bi Asih hanya bisa menatap sendu ke arah Aruna, kedua sudut matanya bahkan meneteskan air mata. Tak kuasa melihat penderitaan Aruna kecil dari umur lima tahun, apalagi sekarang. Dulu mendapat didikan keras dari ayahnya. Namun sekarang jauh lebih keras lagi yang di terima Aruna.
"Jangan kasihani aku Bi, aku tak apa-apa! Terima kasih makanannya bi," ucap Aruna memberikan piring yang sudah kosong kepada Bu Asih. Bi Asih hanya bisa memeluk tubuh mungil Aruna.
"Semoga suatu hari Tuan Bima menyadari kesalahannya Neng," ucap Bi Asih.
"Tapi rasanya tak mungkin Bi," jawab Aruna datar.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/