Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.
Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.
Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dimsum
Wu Zetian masih duduk di bangku taman Dimensi Lilac, punggungnya sedikit bersandar, kedua tangannya bertumpu ringan di sisi bangku. Pandangannya tertuju pada aliran sungai jernih yang mengalir tanpa suara, berkilau lembut di bawah cahaya ungu pucat yang menyelimuti seluruh dimensi. Airnya begitu bening hingga dasar sungai tampak jelas, memantulkan cahaya seperti ribuan serpihan kristal kecil.
Udara di tempat itu terasa berbeda, hangat namun sejuk, menenangkan sekaligus membangkitkan energi. Setiap tarikan napas seolah menghapus kelelahan yang selama ini membebani tubuh dan jiwanya. Jika boleh jujur, ia ingin tinggal lebih lama di sini.
Nana kini berdiri di hadapannya.
Gadis kecil itu tidak lagi menampilkan senyum ceria seperti sebelumnya.
“Kakak,” panggil Nana pelan.
Wu Zetian mengangkat alis, lalu tersenyum kecil.
“Hmm? Ada apa, Nana?”
Nana mengangkat satu jari kecilnya ke udara.
“Sekarang sudah satu jam kakak berada di sini.”
“Eh?” Wu Zetian mengerjap. “Baru satu jam?”
Baginya, waktu di Dimensi Lilac terasa seperti baru beberapa menit. Ia bahkan belum merasa puas berkeliling.
Nana mengangguk mantap.
“Iya. Tapi satu jam di Dimensi Lilac sama dengan sepuluh jam di dunia luar.”
Kata-kata itu membuat Wu Zetian refleks berdiri.
“Apaaa?” napasnya tercekat. “Berarti sekarang di luar sana sudah pagi"
“Kakak harus keluar sekarang,” potong Nana cepat, nadanya tegas meski suaranya tetap imut. “Kalau tidak, Kakek Zhou bisa panik.”
“Panik?” Wu Zetian mengernyit. “Kenapa panik?”
Nana menghela napas kecil, lalu menjelaskan dengan nada datar,
“Dan kemungkinan besar jika kakak belum keluar, kakek Zhou bisa saja menguburkan ragamu.”
“Hah?!” Wu Zetian membelalak. “Dikubur?!”
“Iya, kak,” jawab Nana santai. “Saat roh kakak masuk ke ruang dimensi, tubuh kakak di dunia luar terlihat seperti orang meninggal karena tidak ada roh yang mengikatnya.”
Wu Zetian merinding dari ujung kepala hingga kaki.
“Iniii, ini mengerikan,” gumamnya pelan.
“Makanya,” lanjut Nana sambil mengangguk kecil, “kakak hanya boleh masuk ke ruang dimensi ini saat aman, atau saat bersembunyi dari orang-orang. Jangan sampai ada yang menemukan tubuh kakak saat rohmu tidak berada di sana.”
Ia menatap Wu Zetian serius.
“Apa kakak mengerti?”
Wu Zetian mengangguk cepat.
“Iya. Aku mengerti.”
Ia menghela napas panjang,
“Nana, kalau aku ingin masuk lagi ke sini, bagaimana caranya?”
Wajah Nana langsung cerah kembali.
“Mudah! Kakak hanya perlu memegang permata liontin itu dan memusatkan pikiran pada liontin ini.”
“Kalau ingin keluar?”
“Cukup ucapkan satu kata,” jawab Nana. “Keluar.”
Wu Zetian menatap tangannya sendiri, lalu menggenggam liontin lilac yang tergantung di dadanya. Permata itu terasa hangat di telapak tangannya, seolah merespons sentuhannya.
“Baik,” ucapnya mantap.
Ia menarik napas, lalu berkata sedikit ragu,
“Keluar.”
Cring—
Suara seperti dentingan kaca bergema lembut.
Sekejap kemudian, cahaya lilac di sekelilingnya lenyap. Wu Zetian tersentak. Ia kembali duduk di tepi ranjang kamarnya.
Sejenak, ia hanya duduk diam, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
“Astaga…” gumamnya. “Perasaan tadi cuma iseng nyoba…”
Namun sebelum ia sempat benar-benar tenang, cahaya keemasan menyelinap dari celah jendela. Wu Zetian menoleh perlahan.
“Matahari…?”
Ia membeku.
“Pagi?!” serunya pelan, panik. “Ah benar. Ini sudah pagi?!”
Ia langsung bangkit dari ranjang.
“Aku belum masak! Kakek Zhou pasti sudah bangun!”
Tanpa membuang waktu, Wu Zetian menggenggam liontin itu lagi. Kali ini ia memusatkan pikirannya pada satu tempat dengan sangat jelas,
Dapur Dimensi Lilac.
Dalam sekejap, tubuhnya kembali diselimuti cahaya lilac.
Ia berdiri di dalam dimensi. Tanpa ragu, Wu Zetian berlari menuju supermarket. Rak-rak tinggi penuh bahan makanan menyambutnya, membuat matanya berbinar.
“Baiklah…” gumamnya sambil menggulung lengan baju. “Kita masak besar sekalian.”
Ia mengambil ayam, santan, bumbu, beras, udang, cumi, kepiting, lobster, kerang, bahkan abalon. Ia juga mengambil bahan dimsum, keju, tepung, cokelat, cemilan kemasan, serta beberapa botol minuman dingin.
Tak lama kemudian, dapur mewah itu dipenuhi aroma masakan.
Wu Zetian bergerak lincah dan teratur. Ayam opor mendidih perlahan, kuah santannya kental dan harum. Nasi uduk mengepul, aromanya memenuhi ruangan. Wajan besar berisi seafood asam manis berkilau merah. Dimsum dikukus hingga matang sempurna. Udang keju digoreng hingga keju di dalamnya meleleh.
Setelah semuanya selesai, ia membawa makanan itu keluar dari dimensi.
Ruang tengah rumah sederhana itu kini berubah drastis. Meja kayu penuh dengan hidangan yang menggiurkan.
Wu Zetian merapikannya cepat, lalu membuka pintu dan memanggil,
“Kek! Sarapan!”
Kakek Zhou yang sedang di kebun segera masuk. Begitu melihat meja, ia terdiam lama. Mata Kakek Zhou tertuju pada botol-botol minuman dingin.
“Nak,” tanyanya ragu, “itu apa? Bentuknya aneh.”
Wu Zetian menelan ludah.
“I-iya, Kek. Produk baru yang kemarin sempat kubeli di pasar.”
“Oh,” Kakek Zhou mengangguk.
Wu Zetian menghela napas lega dalam hati.
Mereka mulai makan.
Kakek Zhou terdiam setelah mencicipi ayam opor.
“Ini lebih enak dari sebelumnya.”
Seafood asam manisnya membuatnya tertegun.
“Lengkap sekali…”
Setelah itu, mereka beralih ke dimsum.
“Wahhh…” Wu Zetian tersenyum lebar. “Ini rasa yang kucari.”
Dalam hati ia tertawa bahagia. Dimsum adalah makanan favoritnya di dunia nyata. Saking gilanya dengan dimsum, hampir semua nickname sosmednya jadi "@lilisukadimsum_".
Tak lama, semua makanan habis. Hari telah beranjak siang. Langkah kaki terdengar di teras. Kakek Zhou langsung berdiri, pedang di tangannya.
“Siapa kau?”
“Aku ajudan Perdana Menteri Wu Zheng.”
Wu Zetian segera memasang cadar.
Aku belum boleh ketahuan.
Ia keluar dan berkata dingin,
“Untuk apa orang tua itu memanggilku?”
“Tuan memintamu untuk datang ke pesta perjamuan ulang tahun Putra Mahkota Tang Liwei 2 hari lagi.”
“Baik,” jawabnya singkat. “Aku akan datang.”
Setelah ajudan itu berbalik meninggalkan halaman rumah, suasana kembali sunyi. Hanya suara angin siang dan dedaunan yang bergesekan pelan.
Wu Zetian berdiri beberapa saat, memastikan sosok itu benar-benar menghilang di ujung jalan. Ia memalingkan wajahnya, lalu bergumam dengan nada datar namun jelas, cukup pelan tapi tetap terdengar oleh Kakek Zhou.
“Jelek.”
Kakek Zhou mengangkat alis, menoleh ke arahnya.
Wu Zetian mendecakkan lidah ringan, seolah benar-benar kecewa.
“Apa Perdana Menteri Wu Zheng tidak memiliki ajudan yang tampan sedikit? wajahnya membuatku mual saja ”
Kakek Zhou terdiam sejenak, lalu tertawa kecil.
“Anak itu~” katanya sambil menggelengkan kepala. “Hahahaha.”
Wu Zetian menyeringai tipis di balik cadarnya. Namun di balik candaan ringan itu, matanya mengeras perlahan.
Pesta ulang tahun Putra Mahkota Tang Liwei
Ia tahu, undangan itu bukan sekadar undangan. Dan kali ini, ia akan datang bukan sebagai korban,
melainkan sebagai tokoh utama.
___________
Yuhuuu~🌹
Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, subscribe dan vote karya-karya Author💖
See you~💓