Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.
Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.
Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.
Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Sugar Daddy KR
Suasana di meja makan siang di La Vue berubah beku. Tuan Robert, merasakan ketegangan yang aneh, buru-buru mengucapkan selamat tinggal dan pamit, meninggalkan Lingga dan Ayu sendirian.
Lingga duduk membeku, wajahnya tidak lagi dingin, tetapi dipenuhi rasa ngeri. Mata Ayu, di sisi lain, memancarkan perpaduan antara rasa dikhianati dan kebingungan yang tajam.
"Tuan Lingga," desis Ayu, suaranya pelan tetapi penuh tuntutan. Ia tidak peduli lagi dengan sepatu haknya yang sakit. "Jelaskan. Nyonya Aleya bilang Anda... Anda tidak pernah menyentuh alkohol."
Lingga menutup matanya sejenak, menundukkan kepala. Ia tahu, momen kerahasiaan terbesar yang ia pertahankan kini runtuh di hadapan seorang gadis yang baru bekerja kurang dari delapan jam.
"Ayo," Lingga berdiri tiba-tiba, menarik kursi itu kembali dengan suara berderit. "Kita bicara di tempat yang aman."
Ia berjalan ke luar restoran tanpa mengucapkan sepatah kata pun, memaksa Ayu mengikutinya kembali ke kantor.
Setibanya di Lantai 30, Lingga tidak duduk di mejanya. Ia berdiri di depan jendela besar, memunggungi Ayu.
"Ya," kata Lingga, suaranya berat dan nyaris tidak terdengar. "Aleya benar. Aku tidak pernah menyentuh alkohol. Aku seorang abstainer. Sejak kecil."
Ayu maju selangkah. "Lalu, siapa pria yang saya temui di The Abyss malam itu? Pria yang mabuk, yang baunya seperti tempat penyulingan alkohol, yang memaksa saya masuk ke kamar suite-nya?"
Lingga berbalik. Wajahnya yang tampan tampak kelelahan, dan ada kerentanan langka yang terpancar di matanya.
"Itu... itu aku," aku Lingga. "Itu adalah Lingga yang sedang berada di titik terendahnya. Aku menghabiskan satu botol whisky dalam waktu kurang dari satu jam."
Lingga kemudian menjelaskan kisah patah hatinya, pengkhianatan Aleya, dan bagaimana ia memutuskan untuk menghancurkan dirinya sendiri malam itu.
Ayu mendengarkan, merasa campur aduk. Ia menyadari bahwa pencurian dan kontrak ini hanyalah efek domino dari keputusasaan Lingga.
"Dan saya?" tanya Ayu lirih. "Saya menjadi korban keputusasaan Anda. Anda mengancam saya, Tuan. Anda membuat saya menandatangani kontrak berdasarkan kebohongan. Anda membuat saya berpikir Anda adalah seorang... clubber biasa, padahal Anda melanggar prinsip terbesar Anda sendiri."
Ayu merasa harga dirinya melonjak. Lingga, di mata publik, adalah contoh moral, tetapi di balik itu, ia rapuh dan hipokrit.
"Saya tidak mau," kata Ayu, menarik napas dalam-dalam. "Saya tidak mau menjadi asisten Anda lagi. Saya akan melunasi utang biaya SPP saya secepatnya, tetapi saya tidak akan menandatangani kontrak yang didasari ancaman dan kebohongan."
Ayu maju ke meja Lingga, mengambil kontrak tebal itu, dan merobeknya sedikit di bagian sudut.
"Saya mengundurkan diri Tuan. Saya tidak akan membocorkan rahasia Anda. Saya bersumpah atas ijazah yang akan saya dapatkan. Tapi saya ingin bebas," kata Ayu dengan berani.
Lingga menatap robekan kecil di kontrak itu, lalu menatap Ayu. Wajahnya kembali mengeras.
"Bodoh!" kata Lingga, suaranya kembali dingin. "Kau yakin? Kau baru saja merobek tiketmu menuju masa depan, Nona Ayu."
"Tak masalah tuan. Yang penting saya mendapatkan kebebasan saya dan tidak seatap dengan orang seperti anda!"
Lingga mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia marah dan kesal dengan keputusan Ayu.Tiba-tiba saja ia takut Ayu pergi. Ia bukan hanya takut gadis itu membongkar rahasianya tapi ia takut ditinggalkan seperti Aleya meninggalkannya.
"Kamu punya cita-cita jadi orang sukses bukan? Kamu bisa melanjutkan pendidikanmu dengan gajimu disini." Lingga berucap berusaha menahan tanpa harus memohon.
"Iya tapi..."
Ayu goyah. Ia memikirkan kosan sempit, biaya kuliah yang tidak pasti, dan pekerjaan serabutan yang harus ia lakukan untuk makan. Lalu ia memikirkan gaji besar yang ditawarkan Lingga. Gaji itu bisa membiayai seluruh keluarganya.
Lingga, menyadari keraguan Ayu, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menunjuk ke pintu keluar.
"Keluar. Kau bebas. Tapi aku akan pastikan kau harus bekerja tiga kali lipat lebih keras daripada saat kau menjadi asistenku untuk mendapatkan separuh gaji yang kuberikan. Dan jika suatu hari aku mendengar satu gosip pun tentang The Abyss atau alkohol, kau tahu siapa yang akan kucari."
Ayu pun melangkahkan kakinya keluar. Tapi kemudian ia berdiri di ambang pintu, melihat ke luar jendela. Kebebasan terasa dingin, sementara gaji Lingga terasa sangat hangat. Ia juga memikirkan hubungannya dengan ayahnya yang sangat rumit.
Ayu berbalik perlahan, wajahnya memerah karena malu yang luar biasa. Ia berjalan kembali ke meja Lingga, menundukkan kepalanya.
"Tuan Lingga," kata Ayu lirih, nyaris tak terdengar. "Saya... saya minta maaf. Saya terlalu emosional."
Ia meletakkan potongan kontrak yang robek itu di meja.
"Saya... saya membatalkan pengunduran diri saya. Saya akan bekerja untuk Anda, Tuan. Saya akan menjadi Asisten Khusus Proyek, bukan Asisten Pribadi 24 jam. Saya akan bekerja keras. Tapi tolong, buatkan kontrak baru. Saya... saya butuh gajinya."
Lingga menyeringai, senyum dingin yang menunjukkan ia menang.
"Itu baru cerdas, Ayu," kata Lingga. "Kau boleh saja sok suci, tapi pada akhirnya, uang yang berbicara."
Ayu membenarkan meskipun sangat pahit. Daripada harus menjadi sugar baby seperti Vera, lebih baik ia disini. Hanya bekerja tanpa melibatkan hubungan pribadi dan perasaan.
Semoga saja ...
Lingga mengambil kontrak yang robek itu, mengabaikannya. Ia mengeluarkan yang baru dari laci, sudah disiapkan sebelumnya.
"Aku sudah menduga kau akan kembali," kata Lingga. "Mulai sekarang, kau adalah Asisten Khusus Proyek. Jam kerja delapan pagi sampai enam sore. Kau tetap tinggal di apartemenku. Dan sepatu itu," Lingga menunjuk ke kaki Ayu.
"Kau boleh menggantinya. Aku akan mendebitkan uangnya dari gajimu bulan depan."
Lingga kemudian mengambil botol semprotan pendingin dari laci dan melemparkannya ke Ayu.
"Untuk kakimu," kata Lingga, memunggungi Ayu, kembali fokus ke layar. "Sekarang, kembali bekerja. Masih ada berkas yang harus kau rapikan, nona Ayu. Dan buktikan padaku, bahwa gajimu yang besar itu sepadan dengan kerahasiaan yang kuberikan padamu."
Ayu menangkap botol itu. Ia merasa harga dirinya hancur, tetapi dompetnya terselamatkan. Ia kembali ke kursinya, siap untuk bekerja. Ia harus bertahan. Ia tidak boleh lagi memberi Lingga alasan untuk meremehkannya.
"Kamu harus kuat Yu, demi cita-citamu menjadi seorang akuntan hebat!" teriak gadis itu tiba-tiba seraya meninju udara.
Lingga hanya tersenyum tipis. Ia tahu gadis itu adalah gadis yang cerdas dan juga ... menarik.
***
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....