NovelToon NovelToon
Vengeance Of A Killer.

Vengeance Of A Killer.

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Anak Genius / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Ilmu Kanuragan
Popularitas:331
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Lucas, pembunuh bayaran paling mematikan dari Akademi Bayangan Utara, adalah master pisau dengan elemen air yang tak tertandingi. Obsesinya untuk menjadi yang terbaik dan persaingannya dengan Diana, senior ahli pedang es, membentuk dirinya. Namun, kedamaian hancur saat akademi diserang. Master Loe dan Niama gugur, memicu amarah Lucas yang melepaskan kekuatan airnya menjadi badai penghancur. Di tengah reruntuhan, Lucas bersumpah membalas dendam atas kematian mereka. Dengan sebuah lambang spiral gelap sebagai petunjuk satu-satunya, ia memulai misi pencarian dalang di balik kehancuran ini. Akankah balas dendam mengubahnya atau ia menemukan kebenaran yang lebih dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran Di Depan Lucas

Malam terasa semakin mencekam di Sekte Pedang Berbunga. Diana masih saja gelisah, meskipun Master Brian telah melarangnya untuk pergi. Ia tak bisa berhenti memikirkan Lucas. Ellyza, yang duduk di tepi ranjang, mencoba menghibur. "Diana, Master Brian tidak akan melarang kalau tidak ada alasan yang kuat. Percayalah, Lucas itu kuat, dia pasti bisa menjaga dirinya."

Diana menggeleng. "Aku tahu dia kuat, Ellyza, tapi ini berbeda. Perasaanku tidak enak. Bagaimana kalau dia terluka parah? Bagaimana kalau... dia tidak selamat?" Suaranya bergetar, hampir menangis. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menahan emosi. Ellyza mendekat, memeluk Diana dari samping. "Jangan bicara seperti itu. Dia pasti baik-baik saja. Ingat, dia adalah Lucas. Dia pembunuh bayaran terbaik di Akademi Bayangan Utara, kan?"

"Justru itu! Kalaupun dia selamat, dia pasti akan mencari tahu siapa pelakunya. Dan Master Brian bilang, ada kekuatan gelap di balik ini," sahut Diana, mengangkat wajahnya, matanya merah. "Aku tidak bisa hanya diam di sini sementara dia mungkin menghadapi bahaya besar sendirian. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus ke sana." Ellyza menghela napas. "Tapi bagaimana, Diana? Master Brian tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja." Diana terdiam, memikirkan cara. "Aku akan memikirkannya. Aku harus."

Di sisi lain, Lucas sudah tiba di bekas pelabuhan lama. Tempat itu gelap dan sunyi, hanya diterangi oleh rembulan yang sesekali tertutup awan. Ia melihat sebuah gudang besar yang terlihat paling usang di antara yang lain, dengan pintu besi berkarat. Sebuah firasat kuat mendorongnya ke sana. Ia tahu, Raven, pemimpin yang ia cari, pasti ada di dalamnya.

Lucas mendekati gudang itu perlahan, matanya yang tajam menyapu sekeliling, mencari celah. Ia melihat dua penjaga berdiri di depan pintu, berbisik-bisik. "Kau dengar, bos Raven akan datang besok? Katanya ada kiriman penting yang datang." Penjaga satunya mengangguk. "Ya, aku dengar itu. Semoga saja lancar, aku tidak mau kena masalah dengannya." Lucas menajamkan pendengarannya. "Jadi, Raven ada di dalam," gumamnya pelan.

"Siapa di sana?" salah satu penjaga tiba-tiba berseru, merasakan adanya pergerakan. Lucas tidak menunggu, ia melesat dari bayangan, menempelkan pisaunya ke leher penjaga itu. "Aku hanya ingin bicara dengan Raven," bisiknya dingin. Penjaga satunya terkejut, mencoba menarik pedangnya. "Jangan bergerak!" Lucas memperingatkan. "Katakan padaku, apakah Raven punya tato spiral gelap?"

"Ti-tidak tahu! Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan!" jawab penjaga yang lehernya diancam pisau, suaranya tercekat ketakutan. Penjaga satunya, yang mematung, tergagap, "Kami tidak tahu apa-apa! Kami hanya penjaga di sini!" Lucas menatap mereka dengan tatapan tanpa emosi. "Kalian tahu terlalu banyak untuk sekadar penjaga biasa," sahut Lucas, menekan bilah pisaunya sedikit lebih dalam.

"Tunggu! Aku... aku pernah melihat lambang itu pada salah satu pengikut tingkat tinggi!" kata penjaga yang ketakutan itu, napasnya tersengal-sengal. "Dia menyebutkannya. Lambang itu seperti tanda kesetiaan pada... pada kelompok mereka!" Penjaga satunya mengangguk cepat, membenarkan. "Ya, itu benar! Tapi kami tidak tahu pemimpinnya memiliki tato itu atau tidak! Kami tidak pernah melihatnya!"

Lucas menarik napas panjang. "Baiklah, itu sudah cukup." Ia berbisik, suaranya sedingin es. Tanpa peringatan, ia menyayat leher penjaga yang dipegangnya. Darah muncrat ke udara. Lalu, dengan gerakan secepat kilat, ia menghantam penjaga satunya. Pisau Lucas menghunjam tepat di jantungnya. Kedua tubuh itu ambruk tanpa suara di lantai gudang yang dingin.

Lucas segera berjongkok, meraba pakaian penjaga yang baru saja ia bunuh. Elemen airnya mulai bekerja, membungkus tubuhnya perlahan, mengubah tekstur dan warna kulitnya agar menyerupai seragam gelap si penjaga. Dalam hitungan detik, ia sudah berubah, menjadi replika sempurna dari pria yang terkapar di depannya. Bahkan ekspresi wajah dan postur tubuhnya pun sama persis.

Tangannya bergerak cepat, menyerap sisa-sisa air di tanah bekas percikan darah. Gumpalan air itu mulai memadat, membentuk sosok samar di sampingnya. Lucas memfokuskan pikirannya, menyalurkan energinya, dan dalam sekejap, klon air itu berdiri tegak, mengenakan seragam yang sama. Matanya kosong, tapi gerakannya kaku meniru penjaga yang satunya, siap melakukan perintah.

Lucas mengangguk pada klonnya. "Kau jaga di sini," bisiknya pelan, suaranya kini terdengar berat dan serak, meniru suara penjaga yang asli. Klon itu hanya mengangguk, tanpa suara, lalu mengambil posisi di samping pintu. Lucas pun berdiri di sisi lainnya, melayangkan pandangannya ke dalam kegelapan gudang. Ia tahu, Raven sudah dekat.

Tiba-tiba, suara deru mesin yang berat memecah kesunyian malam. Sebuah iring-iringan tiga mobil hitam mewah melaju mendekat, berhenti tepat di depan gudang. Pintu mobil di tengah terbuka, dan seorang pria bertubuh tegap dengan jubah panjang hitam melangkah keluar. Wajahnya tertutup bayangan topi lebar, namun Lucas bisa merasakan aura kegelapan yang pekat memancar darinya.

Pria itu menoleh ke arah Lucas dan klonnya. "Semuanya aman?" tanyanya dengan suara berat yang menggelegar, namun terdengar tenang. Lucas mengangguk, meniru gerak-gerik penjaga yang asli. "Aman, Tuan Raven. Tidak ada masalah," jawabnya, berusaha menjaga suaranya tetap datar. Klon di sampingnya hanya berdiri tegak, menatap kosong ke depan, tidak bereaksi.

Raven mengangguk, seolah puas dengan jawaban Lucas. "Bagus. Aku tidak suka kejutan," katanya sambil melangkah masuk ke dalam gudang, diikuti oleh dua pengawal lainnya yang berwajah dingin dan mengenakan pakaian serba hitam. Lucas menatap punggung Raven yang menghilang di kegelapan, tangannya diam-diam meremas gagang pisau di balik jubah penjaga.

Lucas tahu ia tidak bisa langsung menyerbu masuk. Raven adalah pemimpin, pasti lebih kuat dan punya lebih banyak pengawal di dalam. "Aku perlu informasi lebih banyak," pikir Lucas dalam hati. Ia menggeser posisinya sedikit, memastikan klonnya masih berdiri dengan tenang. "Elemen airku bisa jadi mata-mataku di sana."

Ia kemudian memfokuskan energinya, menarik kelembapan dari udara dan membentuknya menjadi bola air kecil. Bola itu berukuran seperti kelereng, hampir tidak terlihat dalam kegelapan. Permukaannya memantulkan cahaya rembulan yang redup, berfungsi sebagai lensa yang sempurna. "Ini akan menjadi mataku," gumamnya pelan.

Dengan gerakan halus, Lucas mengirim bola air itu meluncur. Bola itu melayang pelan, tanpa suara, menyelinap melalui celah kecil di bawah pintu besi gudang. Lucas memejamkan mata, membiarkan pikirannya terhubung dengan bola air itu, menunggu gambar-gambar di dalam gudang mulai muncul di benaknya.

Citra di benak Lucas mulai terbentuk. Gudang itu ternyata jauh lebih luas dari perkiraannya, dipenuhi tumpukan peti kayu besar dan beberapa mesin aneh yang belum pernah ia lihat. Di tengah ruangan, Raven berdiri di depan sebuah meja besar yang dipenuhi peta dan gulungan perkamen. Dua pengawal tadi berdiri di belakangnya.

"Jadi, kiriman sudah tiba?" tanya Raven, suaranya terdengar lebih bersemangat. Salah satu pengawalnya menjawab, "Sudah, Tuan Raven. Semuanya sesuai jadwal. Tinggal menunggu pengaktifan saja." Lucas melihat Raven mengusap lengannya. Sekilas terlihat ukiran spiral gelap yang sama persis dengan yang ada di pisau penyerang Akademi Bayangan Utara.

"Sempurna," Raven menyeringai. "Dengan ini, rencana Master Brian akan berjalan mulus. Akademi Bayangan Utara hanyalah permulaan." Lucas mendengar kalimat terakhir itu. Darahnya mendidih. "Master Brian? Jadi dia dalangnya?" batin Lucas, kemarahan membuncah dalam dirinya. Ia harus tahu lebih banyak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!