Zoya menikah bukan atas dasar cinta. Ia menerima perjodohan yang dilangsungkan orang tuanya.
Namun pria yang akan menjadi suaminya selingkuh tepat di hari pernikahannya yang telah sah secara agama dan hukum, ia melihat seorang wanita cantik dan seksi sedang bercumbu mesra dengan suaminya di gedung pernikahannya, tepat bawah pohon Sakura, Jepang
Meski belum ada ikatan cinta namun hatinya terasa perih merasa pernikahannya dikhianati.
Akankah Zoya dapat merebut hati suaminya, atau mereka harus bercerai saat itu juga ataukan mereka akan berbagi suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Pajangan
Bagus sekali, hari ini aku benar-benar di jadikan boneka olehnya. Aku meremat kertas kosong yang ada di meja depanku. Meja kecil yang ada di ruangannya.
Dan hal parah yang dilakukan suamiku itu adalah seenaknya mengirim surat resign ke perusahaan tempatku bekerja.
Jadilah sekarang aku berada di sini, di tempat kerjanya dengan kesal! Karena aku mengundurkan diri disaat masa kontrak belum habis, maka aku harus membayar pinalti. Dan gajiku tidak dibayarkan. Bagus sekali kau Edgar!!!
Tapi syukurlah yang membayar kerugian pinalti itu dirimu sendiri. Tapi tetap saja, penghasilanku semakin berkurang. Aku tidak suka mengandalkan penghasilan dari orang lain, meskipun suamiku kaya. Aku harus mandiri, memiliki banyak tabungan dan investasi. Namun untuk sekarang aku belum siap jika harus melepaskan pekerjaan sekarang. Nasi sudah menjadi bubur, Edgar sialan itu benar-benar seenaknya.
Bulan madu setelah pernikahan, haha jangan harap.
Pria itu sibuk dengan bisnisnya, aku tidak tahu apa yang dikerjakan. Dia membangun bisnis apapun yang bergerak di bidang teknologi. Ponsel, Laptop, robot pembersih ruangan, robot pembuat kopi dan lain sebagainya.
Dia memilih Jepang, karena tempat ini terkenal dengan teknologinya yang maju.
Sementara aku di sini hanya pajangan, tidak diberikan pekerjaan apapun. Hanya duduk dan duduk. Bicara juga tidak diijinkan. Berkeliling perusahaannya apa lagi.
Tunggu Zoya, kenali dulu karakter suamimu ini. Catat apa yang membuatnya senang dan tidak.
"Hey, kau!" Edgar memanggilku setelah menutup teleponnya
"Aku?" tanyaku memastikan, karena dia tidak menoleh ke arahku
"Siapa lagi makhluk di ruangan ini selain kita berdua?" ucap Edgar ketus
"Apa!" sahutku membalasnya dengan nada ketus juga
"Buatkan aku kopi, dua sendok kopi hitam, satu sendok gula, no cream," perintah Edgar
Aku beranjak dengan malas dan tanpa berkata mengiyakan. Lalu aku pergi ke pantry.
Disana ada satu office boy yang sedang istirahat sejenak. Begitu aku masuk, dia berdiri dan membungkukkan badan.
Kulihat di label seragamnya, namanya Kim Tan.
"Apa kau bisa bahasa Inggris?" tanya ku karena ia memiliki mata sipit, sepertinya bukan berasal dari Jepang
"Iya bisa nyonya," ucapnya
"Dari mana asalmu? Kau terlihat pucat apa kau sakit?" tanyaku berbasa-basi mencairkan suasana karena ku lihat dia sangat tegang dan pucat. Mungkin dia sedikit sakit.
"Tidak Nyonya, saya sehat, hanya lelah sedikit. Saya dari Korea. Hemm maaf Nyonya, apa yang bisa saya bantu?" dia bertanya sedikit sungkan
"Oh begitu, tolong buatkan kopi untuk Tuan Edgar," pintaku
Dengan senang hati dan tersenyum, pria itu membuatkan kopi untuk Edgar, aku malas membuatnya sendiri. Setelah jadi, aku pun berterimakasih dan langsung membawa kopi tersebut.
Aku meletakkan kopi itu di atas meja kerjanya, dan berkata, "Ini kopi mu,"
"Kenapa kau suka sekali membangkang. Aku ingin yang membuatkan itu kau sendiri, bukan Office boy. Buat lagi, dan bawa ini kembali," ucap Edgar
"Hah tapi sama saja kan? Takarannya pun sama. Jalan dari sini kesana itu butuh waktu dan jauh," ucap ku
"Kau tidak ingat perjanjian kita semalam?"
"Hah aku amnesia. Lagian aku sudah menghapus video itu," aku mengatakannya dengan lantang
"Video itu ku perbanyak. Ada di laptopku, di komputer ku, di ponselku yang lain," ucap Edgar tersenyum miring kearah ku
"Kau.....! Untuk apa kau mengoleksinya? Apa kau memiliki kelainan?" tanyaku
"Aku bisa menjualnya ke situs ilegal, menguntungkan diriku. Kau tahu semuanya bisa ku jadikan sumber keuntungan," Edgar beranjak dari duduknya berjalan mendekatiku dan mencubit kedua pipiku dengan satu tangannya hingga bibirku maju seperti ikan koi dan dia berbicara dengan menatapku sangat tajam.
Aku bisa melihat kilat kejahatan di matanya, dan otaknya dipenuhi taktik licik
"Aku juga bisa menjualmu jika kau terus membangkang. Jadi bersikaplah baik padaku,"
Aku mencengkeram tangan Edgar dengan kedua tanganku, meminta untuk dilepaskan. Dia mencengkeram pipiku dengan kuat hingga rahangku ikut terangkat.
Edgar melepaskan tangannya seraya mendorongku kasar. Jika aku tidak langsung menjaga keseimbanganku mungkin aku sudah terjatuh.
Aku diam tak berani menjawab. Berkali-kali aku menyabarkan diri. Kemudian aku membawa gelas yang berisi kopi itu kembali ke pantry yang ada di lantai atas.
Pikirku kenapa pantry sangat jauh dari ruangan direktur. Apa dia sedang mengerjaiku? Satu tanganku menyentuh pipiku yang memanas.
Untunglah tidak ada siapapun di ruangan itu karena aku ingin menangis.
Aku pun membuatkan kopi lagi, sesuai keinginannya sambil menangis. Seketika aku tersadar, dari mana dia tahu jika aku menyuruh Office Boy. Ahh sudah pasti di ruangan ini ada CCTV-nya.
"Kau bodoh Zoya, dia pasti sedang tertawa diatas air mata mu," batinku
Lalu aku menghapus air mataku dan mencari letak kamera.
Aku tidak tahan lagi untuk tidak mengatai dirinya.
Ku acungkan jari tengah kearah kamera, menantang dirinya. Aku bukan wanita lemah Edgar. Cukup saat ini saja aku menangis. Selanjutnya tidak akan lagi.
Ku bawa kopi buatanku ke ruangannya. Dia mau apakan aku setelah ini aku hanya pasrah.
Saat ku buka pintu ruangan kerjanya, ada Julia disana yang sedang duduk diatas pangkuan Edgar.
Lagi-lagi aku menangkap mereka sedang bermesraan disana. Aku terdiam di dekat pintu sambil membawa secangkir kopinya. Ingin ku siramkan kopi itu pada wanita pengganggu. Tapi kenyataannya aku hanya bisa diam.
Hatiku mulai merasakan sakit. Padahal aku belum mencintai Edgar. Aku hanya merasa.... dimana posisi ku sebagai istri. Pernikahan kita belum ada perasaan cinta, tapi setidaknya cinta itu harus dibangun dari awal pernikahan.
Pada waktu yang bersamaan, ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan itu. Edgar mempersilahkan masuk.
Rupanya sang sekretaris yang datang, dia juga melihat ku yang berdiri tak berdaya. Padahal aku Istrinya. Tetapi malah Edgar bermesraan dengan wanita lain.
Harga diriku terinjak. Aku di permalukan. Sudah cukup Edgar!!!
Begitu Xiaonian, Sekretarisnya yang asli Jepang itu keluar dan menutup kembali pintunya. Aku menghampiri Edgar.
"Julia, kau tidak pantas berlaku seperti itu," ucapku
dengan hati berdebar.
"Apa maksudmu? Dia pacarku," Julia menatapku sinis kemudian ia menyentuh rahang Edgar dan bersikap manja, "Sayang sepertinya Istrimu marah jika aku disini,"
"Biarkan saja, dia tak lebih dari seorang pajangan. Di hatiku cuma ada kau," ucap Edgar
Mendengar hal itu hatiku tercabik.
Ku tumpahkan saja air panas kopi itu ke paha Julia, dengan reflek dia menepis tanganku hingga gelas cangkir kopi itu terlepas dari genggamanku. Kemudian dia berteriak dan berdiri dari pangkuan Edgar.
"Ahhh ini panas," ucapnya mengibas-ngibaskan pahanya
Julia marah, menamparku dengan keras di hadapan Edgar dan menarik rambutku dengan kasar lalu mendorong ku hingga kepalaku terbentur dinding.
Edgar tidak membelaku,
"Kau keterlaluan Zoya!" ucap Edgar mengataiku
Aku menahan tangisku, berdiri dan mengungkapkan isi hatiku.
"Lalu kau sendiri apa hah? Mana yang lebih keterlaluan? Kau telah menikah denganku dan dihadapan orang lain kau masih berhubungan dengan kekasihmu, Mau ditaruh dimana harga diriku sebagai seorang istri! Jika kau tidak ingin menikah kenapa kau Terima perjodohan ini hah?!!" aku marah, hingga suaraku menggema isi ruangannya. Mungkin juga ucapanku bisa terdengar oleh sekretarisnya.
banyak typo di novel ini. dan aku merasa novel ini ditamatkan dengan sangat terburu buru.
terima kasih banyak, kk author.