Menceritakan Kayla Eleody Seorang gadis kaya raya dengan kehidupan glamour sempurna, gadis pemberani ini tiba tiba saja bertukar jiwa dengan Zara seorang gadis miskin yang menjadi korban bully di sekolah, mampukan Kayla hidup dalam raga Zara dengan segala kesulitannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourbee Lebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Pertukaran kembali?
Widya dan jaya baru saja keluar dari kantor polisi setelah memenuhi panggilan nya, ia hanya berniat segera pulang dan bertemu dengan putrinya Michele, namun sayang puluhan wartawan mencegat nya di depan kantor.
"Ibu bagaimana tanggapan ibu tentang kasus yang menjerat anak ibu?"
"Apakah ibu membenarkan tuduhan bahwa ibu melakukan suap pada pihak rumah sakit dan kepolisian?"
"Bagaimana tentang komentar pendukung ibu yang sudah ibu dengardengar?"
"Apakah benar Michele di didik dengan keras?"
"Beberapa orang menganggap ibu hanya melakukan pencitraan setelah kasus ini terungkap"
"Banyak yang kecewa pada ibu?"
"Apakah ibu akan membatalkan pencalonan?"
"Berapa kerugian yang ibu alami?"
"Apakah ibu masuk dalam daftar hitam?"
Widya terdiam dan menutup telinganya rapat rapat, ia hanya menerobos gerombolan wartawan tersebut dan masuk ke dalam mobilnya.
"Aaaaarkkkh!" Teriaknya dalam mobil.
"Tenang!" Jaya membentak.
"Gimana aku bisa tenang! semuanya hancur!"
Pria setengah tua itu menjalankan mobilnya pulang menuju rumah.
"Anak sialan!" Umpat Widya.
20 menit kemudian...
Brakk
Pintu rumah terbuka dengan sangat kasar dan membuat Michele reflek berdiri tergesa, ia menatap ayah dan ibunya ketakutan, badan nya tampak bergetar.
"Mama" Panggilnya merintih.
"Bajingan kamu!"
Plakk
Sebuah tamparan kuat menghempaskan wajahnya, tak berhenti sampai situ Widya juga tampak menjambak rambut michele hingga mendongak.
Jaya hanya bersikap biasa, pria itu mendudukkan dirinya di sofa sembari memijat pelipisnya.
"A-ampun ma" Isaknya.
"Brengsek! anak gak tau diri! ini semuanya gara gara kamu, semuanya hancur karena kamu michele!" Bentaknya.
Widya mendorong tubuh Michele hingga jatuh ke lantai, ia juga menendang kaki putrinya dengan keras.
Bugh!
"Ampun ma ampun!" Michele menangis histeris, ia bangkit dan memohon memeluk kaki ibunya.
"Ampuni aku ma" Isaknya.
Widya menggeram marah, ia mengusap rambutnya kasar, Michele masih berpegang erat pada kakinya sembari menangis histeris.
"Kamu jangan coba ngelindungi dia lagi" Ucap Jaya.
"Lagipula udah gak bisa! mau keluar berapa uang lagi buat anak sialan ini! gak ada!" Ujar widya frustasi.
"Ma ampun tolong aku ma!"
"Diem kamu brengsek!"
Widya mendorong Michele dengan kakinya hingga gadis itu terlempar agak jauh.
"Busuk kamu dalam penjara!" Maki Jaya.
ting tong..
"Itu pasti polisi" Kata Jaya.
...****************...
"Jadi saya meminta bukan hanya pihak keluarga bu Widya yang di tuntut tapi juga rumah sakit dan kepolisian, jika saya tidak bisa mendapatkan justice untuk murid saya saya akan menuntut ini sampai pada pihak tertinggi, saya harap anda paham" kata Harris.
"Baik saya mengerti, terimakasih untuk kesaksian bapak" Polisi tersebut meminta jabatan tangan pada Harris.
"Sama sama"
Harris berpamitan dan keluar dari ruangan polisi tersebut setelah memberikan pengakuan, di luar sana Kayla Zara dan juga sita tampak menunggunya.
"Gimana?!" Tanya Zara tergesa.
"Kalian tenang aja, Michele dan yang lain akan di tuntut sesuai hukum yang berlaku, kita akan mengikuti sidangnya, apalagi mereka sudah legal, hukuman akan tetap di terapkan sesuai pasal yang berlaku" Ungkapnya.
"Alhamdulillah" Ucap Kayla.
Harris menoleh, ia kerap mendengar kalimat itu akhir akhir ini dari putri nya, terdengar aneh namun ia mulai terbiasa.
"Syukur deh!" Tambah Zara.
"Alhamdulillah ini keadilan buat temen kalian, saya bersyukur sekali anak saya bebas dari tuntutan, ini berkat bapak, makasih banyak ya pak" Ucap sita.
"Sama sama ibu"
Kayla melempar senyumnya pada Zara, ia merasa bangga melihat dirinya dengan versi yang berani, satu satunya hal yang ia syukuri saat ini adalah Kayla membuat karakternya berkembang lebih baik.
"Ayo pulang! saya udah bikinin makanan buat kalian semua, sekaligus ini perayaan kecil kecil kita!" Ajak sita.
"Terimakasih bu" Balas Harris.
"Ini bukan apa apa pak, mari!"
...****************...
Setelah acara makan siang yang mereka lakukan Kayla mengajak Zara untuk keluar, mereka berjalan kaki beriringan menyusuri area persawahan yang tenang.
"Aku mau bilang makasih banyak buat kamu, Kayla" Ucapnya.
Zara melirik sedikit, ia menaikkan alisnya setelah mendengar ucapan terimakasih itu.
"Lo mau terimakasih karena selama kita bertukar gini lo jadi makan enak hidup enak segalanya enak, kan?" Sarkas Zara.
"Yaa jujur itu salah satunya, tapi bukan itu"
"Apa?"
"Aku makasih karena kamu nyelesaiin masalah yang gak pernah bisa aku selesaikan, aku makasih karena kamu buat aku terlihat kuat dan tangguh, aku bersyukur banget"
"Ya emang harusnya gitu, lo aja cemen!"
"Ya makanya itu aku terimakasih sama kamu, kamu itu orang baik"
"Gue gak baik, under the pressure aja, yakali gue diem pas di teken sama orang, itu bukan gue banget"
"Bisa aja kamu langsung milih buat tukeran jiwa dan kejar aku tanpa peduliin masalah ku, tapi kamu enggak"
"Ego gue kesentil, gue gak Terima di perlakukan kaya gitu, dan asal lo tau gue itu dendaman, gue pasti bakalan bales orang orang yang udah jahatin gue, asal lo tau!"
"Kenapa kamu segitu nya gak mau di anggep baik?"
"Ya karena gue gak baik, gue gak mau orang orang berharap gue jadi orang baik, gue maunya jadi diri gue sendiri"
Walaupun kayla tak setuju dengan pendapatnya Zara tetap merasa bangga dengan ucapan nya, ia meyakini hal itu walaupun Kayla menyangkalnya.
"Waktu kamu bilang nemu ide buat bikin kita balik ke tubuh asli kita, caranya gimana?" Tanya Kayla.
Zara menghentikan langkahnya, ia menoleh menatap Kayla yang juga ikut berhenti.
"Nyebur lagi ke sungai yang dulu" Balasnya.
"Aku juga mikir gitu, yaudah yuk kita lakuin!" Kayla menarik tangan Zara dan berlari kecil, ia pun mengikuti kemana langkah kali gadis tersebut membawanya.
Sesampainya di sungai...
"Ayok!" Teriak Kayla dengan suara yang sedikit teredam oleh angin.
"Gue nyaman tinggal di tubuh ini" Batin Kayla.
"Kok kamu diem aja?" Tanya Kayla heran.
"Kalo kita mati gimana?"
"Dulu kita kan gak mati, kamu gausah takut, kita gak akan tenggelam, sungai ini gak terlalu dalam"
"Terus ngapain lo lompat dulu?!"
Gadis itu meringis malu, "Anggep aja gue dramatis, ayo kay aku udah kangen pengen peluk ibu!"
"Gue gak boleh egois, kita punya kehidupan masing masing" Batin Kayla.
"Kayla, aku seneng banget bisa kenal kamu, terimakasih banyak untuk semuanya" Batin Zara.
"Gue boleh nganggep ibu lo jadi ibu gue?" Tanyanya.
"Boleh! dia ibu kita" Balas nya.
"Tapi nanti dia bakalan peluk gue lagi gak ya? apa rasa pelukan nya masih sama?"
"Maksud kamu?"
"Gue seneng ada di sini, di tubuh lo"
Kayla tersenyum lebar dengan pengakuan Zara, ia bahagia bahwa ia bukanlah satu satunya yang merasakan hal ini.
"Aku juga seneng"
"Tapi gue sadar gak bisa egois, masalah lo udah kelar, gue kembaliin semuanya"
"Makasih Kayla!"