NovelToon NovelToon
Nikah Kontrak; Istri Cegil Si Direktur Dingin

Nikah Kontrak; Istri Cegil Si Direktur Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Aksarasastra

Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman Pertama yang Hangat

“Sekarang… pengantin pria boleh mencium pengantin wanita.”

Kalimat itu jatuh ringan dari bibir pendeta, tapi efeknya seperti petir yang menyambar tepat di tengah kepala Alya keras, terang, dan tanpa aba-aba.

Suara tepuk tangan yang tadi riuh berubah menjadi sorakan kecil. Beberapa tamu bahkan sudah bersiap dengan ponsel mereka, mengangkatnya tinggi-tinggi, siap mengabadikan momen yang katanya sakral, yang katanya hanya terjadi sekali seumur hidup.

Musik latar berubah. Lebih lembut. Lebih pelan. Seolah dunia sengaja memberi ruang untuk satu adegan yang tidak bisa diulang.

Alya… membeku.

Bukan sekadar diam. Tapi benar-benar berhenti berfungsi.

Matanya melebar perlahan, bibirnya sedikit terbuka, dan pikirannya kosong selama satu detik penuh.

Lalu—

Kacau.

CIUMAN?!

Pikiran itu menjerit di dalam kepalanya, memantul ke segala arah seperti bola pingpong tanpa arah.

Ia menoleh kaku ke arah Adrian. Wajahnya mulai memanas, jantungnya berdetak terlalu cepat untuk ukuran manusia normal.

“Direktur…” bisiknya pelan, nyaris tidak terdengar di tengah suara tepuk tangan.

“Iya?”

Adrian menoleh sedikit. Ekspresinya masih sama seperti biasa; tenang, datar, seperti ini hanya rapat mingguan biasa, bukan momen yang bisa mengubah hidup seseorang.

Alya menelan ludah. Tangannya refleks mencengkeram ujung jas Adrian.

“Boleh gak… adegan ini kita skip aja?” ucapnya lirih, suaranya berubah jadi rengekan kecil yang keluar tanpa izin dari harga dirinya.

Adrian tidak langsung menjawab.

Beberapa tamu yang berdiri cukup dekat mulai tertawa kecil. Bukan mengejek. Lebih ke arah gemas.

“Lucu banget…” bisik seseorang.

Ibunya Alya bahkan menutup mulutnya, berusaha menahan senyum yang jelas-jelas gagal ia sembunyikan.

Alya langsung sadar.

Dan itu justru memperburuk keadaan.

“Aku serius…” lanjutnya cepat, sedikit mendongak. Matanya benar-benar memohon. “Kita bisa pura-pura aja. Kayak… sudut kamera gitu. Aku miring dikit, kamu miring dikit, terus selesai. Editing nanti bisa diatur…”

“Ini bukan film,” potong Adrian pelan.

Alya menatapnya. Dua detik.

“Tapi ini bisa jadi trauma seumur hidup.”

Beberapa orang di barisan depan kembali tertawa.

Pendeta bahkan berdeham pelan, mencoba tetap profesional meskipun situasi mulai terasa seperti adegan komedi.

“Alya,” suara Adrian lebih rendah sekarang. “Semua orang menunggu.”

“Aku juga lagi nunggu keajaiban,” balas Alya spontan. “Siapa tahu listrik mati, atau gempa kecil, atau… atau aku tiba-tiba pingsan.”

“Kamu belum pingsan.”

“Belum, tapi menuju ke sana,” sahutnya cepat.

Adrian menatapnya lagi. Kali ini lebih lama.

Untuk pertama kalinya sejak hari itu dimulai, ia benar-benar memperhatikan Alya. Bukan sebagai partner kontrak. Bukan sebagai formalitas.

Tapi sebagai perempuan yang berdiri sangat dekat dengannya.

Wajah Alya merah.

Matanya sedikit berkaca-kaca, campuran panik, malu, dan… sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak bisa jelaskan.

Dan entah kenapa—

Ada sesuatu di dalam diri Adrian yang bergeser. Halus. Tapi nyata.

“Tidak bisa,” jawabnya akhirnya.

Alya langsung membeku lagi.

Ya Tuhan… ini bukan drill…

Dalam kepalanya, ia melihat versi kartun dirinya sendiri berlari di altar sambil teriak, “Tolong! Adegan ciuman dibatalkan! Server error!”

Semua orang jadi NPC. Diam. Tidak bergerak.

Dan Adrian?

Tetap berdiri seperti bos terakhir di game.

Ini tragedi… ini bukan komedi romantis lagi…

Namun dunia nyata tidak memberi waktu untuk kabur.

Adrian bergerak.

Pelan.

Tangannya terangkat, menyentuh sisi wajah Alya. Sentuhan itu lembut dan tidak memaksa, tidak tergesa. Justru itu yang membuat Alya kehilangan sisa keberaniannya.

Tubuhnya langsung kaku.

“Tenang,” ucap Adrian pelan, hanya cukup untuk didengar olehnya.

Alya menelan ludah.

Tenang katanya… ini ciuman pertama…

Jantungnya seperti ingin keluar dari dada. Ia bahkan tidak tahu harus memejamkan mata atau tetap membuka.

Tutorial… mana tutorial…

Namun sebelum ia sempat memutuskan—

Adrian sudah lebih dulu mendekat.

Dan detik berikutnya—

Bibir mereka bertemu.

Alya langsung membeku total.

Benar-benar tidak bergerak. Seperti patung.

Namun Adrian tidak berhenti di sana.

Ia memperdalam ciuman itu. Pelan. Tapi jelas.

Bukan ciuman formal. Bukan sekadar sentuhan singkat.

Ini… nyata.

Hangat.

Dan entah kenapa… terasa dalam.

Dunia di sekeliling Alya seolah menghilang.

Suara tepuk tangan. Bisikan tamu. Musik.

Semua lenyap.

Yang tersisa hanya detak jantungnya sendiri… dan satu fakta yang tidak bisa ia abaikan—

Ini seriusan…

Tangannya refleks mencengkeram jas Adrian lebih kuat.

Napasnya tertahan.

Dan tanpa sadar—

Ia sedikit membalas.

Hanya sedikit.

Namun cukup untuk membuat waktu terasa melambat.

Ketika Adrian akhirnya menjauh, Alya masih berdiri di tempatnya. Wajahnya merah menyala, napasnya tidak teratur, dan pikirannya kosong total.

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu—

Tepuk tangan pecah.

Lebih meriah dari sebelumnya.

Beberapa tamu bahkan berdiri. Ada yang terharu, ada yang tersenyum lebar.

“Cocok banget…”

“Chemistry-nya dapet…”

“Ini kayak di drama romantis jepang dan anime, hihi.”

Alya masih belum sepenuhnya kembali ke dunia nyata.

Ia menatap Adrian. Lalu perlahan, tangannya naik menyentuh bibirnya sendiri.

Lipstiknya.

Berantakan.

“Direktur…” gumamnya pelan.

“Iya?”

“Kamu… merusak lipstik aku.”

Adrian terdiam dua detik.

“Maaf.”

Jawabannya datar. Tapi kali ini—

Sudut bibirnya jelas bergerak.

Alya langsung menunduk.

Wajahnya makin merah.

Ini tidak sesuai rencana… ini jauh dari rencana…

“Direktur…”

“Iya?”

“Aku kayaknya mau pingsan.”

Kali ini bukan bercanda.

Namun sebelum tubuhnya benar-benar goyah, Adrian sudah lebih dulu menangkap lengannya, menahannya dengan sigap.

“Alya.”

“Iya…”

“Jangan pingsan di depan semua orang.”

“Aku juga gak mau… tapi badan aku gak diajak kerja sama…”

Beberapa tamu kembali tertawa kecil melihat interaksi mereka.

Adrian menghela napas pelan.

Lalu, tanpa banyak bicara, ia sedikit menarik Alya lebih dekat, cukup untuk menopangnya tanpa terlihat mencolok.

Alya bersandar sedikit. Napasnya masih berantakan.

Di dalam kepalanya—

Kacau. Total.

Ini nikah kontrak… kenapa rasanya kayak drama sungguhan…

Di kejauhan, Seraphina berdiri.

Masih anggun. Masih tenang.

Namun tangannya yang mengepal di sisi gaunnya tidak bisa menyembunyikan semuanya.

Sorot matanya berubah.

Lebih gelap.

Lebih tajam.

Ia menatap mereka lama.

Sangat lama.

Tanpa sepatah kata pun.

Musik berubah.

Lebih ceria. Lebih hidup.

Lampu-lampu mulai berpendar hangat, suasana perlahan bergeser dari sakral menjadi perayaan.

Para tamu mulai bergerak. Beberapa menuju meja makan, beberapa tetap di area utama.

Alya masih mencoba menormalkan napasnya.

“Direktur…”

“Iya?”

“Itu tadi…” ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan pelan, “kamu latihan dulu ya sebelum ini?”

Adrian menatapnya.

Dua detik.

“Tidak.”

Alya langsung menatapnya dengan mata membesar.

“Serius?”

“Iya.”

Alya terdiam.

Lalu dalam kepalanya—

Gila… ini first kiss tapi kayak pro…

Ia langsung menutup wajahnya dengan satu tangan.

“Malu banget…”

Adrian menghela napas pelan.

Dan kali ini—jelas.

Ia tersenyum.

Tipis. Tapi hangat.

“Sudah selesai,” katanya.

Alya mengangguk pelan.

“Harusnya sih…”

Namun detik berikutnya, seorang panitia mendekat dengan senyum profesional.

“Pengantin dimohon untuk bersiap untuk dansa pertama.”

Alya langsung menoleh cepat ke Adrian.

“Direktur.”

“Iya?”

“Aku belum siap lagi.”

“Tidak ada pilihan.”

“Ada. Kabur lewat pintu belakang.”

“Tidak.”

“Lompat dari jendela?”

“Ini lantai tiga, Alya.”

Alya terdiam.

“…oke, itu ide buruk.”

Adrian mengulurkan tangan.

“Sekarang sudah.”

Alya menatap tangan itu.

Beberapa detik.

Jantungnya masih belum sepenuhnya normal. Pipinya masih panas. Pikirannya masih berantakan.

Namun perlahan—

Ia meraih tangan itu.

“Kalau aku nginjek kaki kamu…”

“Jangan.”

“Aku belum mulai loh.”

“Latihan dari sekarang.”

Alya mendengus pelan, tapi tetap melangkah mendekat.

Dan di bawah cahaya lampu yang hangat, diiringi musik yang mengalun lembut, mereka mulai berdansa.

Perlahan.

Sedikit canggung.

Alya beberapa kali hampir salah langkah.

“Maaf, maaf..., eh, itu bukan kaki kamu kan?”

“Itu.”

“Maaf.”

“Fokus.”

“Aku lagi fokus ke gak jatuh.”

Adrian menahan napas sejenak, lalu sedikit mengencangkan pegangannya di pinggang Alya.

“Pegang aku.”

Alya langsung membeku.

“Aku udah pegang.”

“Lebih dekat.”

“…ini udah cukup dekat buat bikin aku pingsan lagi.”

“Kalau kamu pingsan, aku angkat.”

Alya menatapnya cepat.

“Jangan. Itu akan mempermalukan aku di level nasional.”

Untuk pertama kalinya malam itu—

Adrian tertawa kecil.

Pelan. Hampir tidak terdengar.

Namun cukup untuk membuat Alya terdiam sesaat.

Dan entah kenapa—

Di tengah semua kekacauan, rasa malu, dan situasi yang tidak masuk akal ini…

Ada sesuatu yang mulai terasa.

Halus.

Hangat.

Dan berbahaya.

Karena untuk pertama kalinya—

Alya tidak yakin lagi…

Apakah ini benar-benar hanya sekadar kontrak.

1
Aphing Zora
suka ceritanya bagus. lanjut Thor 👍
Aksara_Sastra: uwwu, maacii. Dukung terus yaaak, biar bisa update tiap hari dan crazy up. wopyuuu 💚
total 1 replies
April Mei
kerennnnnnnn
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Aksara_Sastra: Dukung terus yaaa, 💚
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!