NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Simpanan

Aku Bukan Wanita Simpanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa1999

Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Sisi

Aluna membungkuk dengan tergesa-gesa, segera mengambil alat tes dari merek yang berbeda, dan melanjutkan pengujian.

Tindakan berulang ini seolah menjadi tali penyelamat terakhir bagi Aluna. Namun, setiap kepasrahan itu terasa begitu rapuh dan rentan saat dihadapkan pada kenyataan yang ada di depan matanya.

Kini, lantai kamar mandi telah dipenuhi oleh berbagai alat tes kehamilan dari bermacam-macam merek. Pemandangan itu menjadi sebuah ironi yang menyakitkan, menegaskan bahwa dirinya memang tengah berbadan dua. Bagaimana mungkin ia bisa hamil? Padahal, ia selalu meminum pil kontrasepsi itu secara teratur.

"Hiks... tidak..."

Aluna terduduk di atas penutup kloset dan menangis tersedu-sedu, sementara sekujur tubuhnya bergetar hebat didera kepanikan.

"Nona Aluna, apakah Anda di dalam?" Sisi, pelayan di kediaman Gavin, menyadari bahwa Aluna bergegas naik ke lantai atas dan tidak kunjung turun untuk waktu yang cukup lama.

Merasa ada yang tidak beres, ia memutuskan untuk menyusul dan memeriksa keadaan.

Suara desakan pelayan itu dari balik pintu seketika membuat Aluna merinding ketakutan. Ia tersentak, hingga alat tes kehamilan di jarinya hampir saja terjatuh.

"Nona Aluna, apakah Anda di dalam kamar mandi?"

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan keras bergema di depan pintu.

Kamar ini selalu dibersihkan setiap hari. Jika pelayan itu sampai tahu bahwa dirinya hamil, kabar ini pasti akan langsung sampai ke telinga Gavin. Jika itu terjadi, ia tidak akan pernah punya kesempatan lagi untuk melarikan diri dari sangkar emas ini!

Tidak, Gavin sama sekali tidak boleh tahu!

Aluna segera menyeka sisa air mata di sudut matanya, menarik napas dalam-dalam, dan berusaha keras mengendalikan tangannya yang gemetar. Ia mengepalkan jarinya kuat-kuat demi menghilangkan rasa paniknya.

Dengan gerakan panik, Aluna buru-buru menyembunyikan seluruh alat tes kehamilan itu di bagian belakang wastafel dan sudut tersembunyi. Tangannya yang lemas masih sedikit gemetar, dan saat ia menariknya kembali, sikunya tidak sengaja menyenggol sakelar lampu cermin di sebelah wastafel, membuat pencahayaan di sana mendadak padam. Dalam kondisi urat saraf yang sedang menegang, kegelapan yang tiba-tiba itu spontan membuat Aluna menjerit pelan karena terkejut.

"Kenapa malah berteriak? Nona Aluna, kapan Anda akan keluar? Tuan Muda Gavin memerintahkan saya untuk memastikan Anda menghabiskan jamu herbal ini setiap pagi, dan sekarang jamunya sudah dingin!" Sisi mengerutkan kening di balik pintu, menggerutu kesal dalam hati atas sikap Aluna.

"Aku... aku sedang kurang sehat. Aku tidak mau minum."

"Ini perintah langsung dari Tuan Muda, dan kami tidak memiliki keberanian untuk membantah. Tolong jangan mempersulit posisi kami sebagai pekerja di sini. Jika Anda menolak minum, kami yang akan menerima hukumannya."

Aluna mengendus perlahan sembari menghela napas panjang yang penuh dengan beban. Ia merasa posisinya saat ini tak ada bedanya dengan seorang tahanan yang diawasi ketat selama 24 jam penuh. Bahkan seorang narapidana pun masih memiliki hak asasi manusia, namun kondisinya saat ini jauh lebih rendah dari itu.

"Sudah kukatakan aku tidak mau minum! Aku tidak mau!" Nama Gavin bagaikan bilah pisau yang menusuk tepat di ulu hatinya;

sentuhan atau sebutan sekecil apa pun yang berkaitan dengan pria itu selalu mendatangkan rasa sakit yang tak tertahankan.

Ia benar-benar... tidak ingin mendengar nama itu lagi.

Mendengar nada suara yang semakin tidak bersahabat dari dalam kamar mandi, kekesalan Sisi langsung memuncak. "Apakah dia benar-benar menganggap dirinya sebagai nyonya besar di rumah ini? Padahal dia hanyalah wanita simpanan yang tahu cara merayu dan tidur dengan Tuan Muda."

Setelah menggumamkan kalimat sarkasme tersebut, Sisi membanting gelas berisi jamu itu ke atas meja rias, lalu melangkah pergi ke lantai bawah dengan menghentakkan kaki.

Beberapa saat kemudian, Aluna keluar dari kamar mandi dengan langkah yang sangat berhati-hati.

Ia sebenarnya sudah lama kebal terhadap komentar miring dari Sisi. Sejak hari pertama menginjakkan kaki di kediaman Gavin, ia sudah menyadari penghinaan dan rasa jijik dari tatapan pelayan wanita itu. Sisi hanyalah satu dari sekian banyak wanita yang mendambakan posisi di sisi Gavin; maka tidak heran jika kehadiran Aluna memunculkan rasa iri yang mendalam.

Aluna merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan pandangan kosong menatap langit-langit kamar. Pikirannya berputar hebat, mencari celah bagaimana cara menggugurkan kandungan ini secara diam-diam. Namun, kediaman Gavin dijaga dengan sangat ketat, bahkan untuk melangkah keluar dari gerbang utama saja adalah hal yang mustahil.

Di tengah pikiran yang terus berputar, rasa kantuk akhirnya membuat Aluna terlelap. Namun, tidurnya terusik seketika oleh sebuah tekanan dingin yang menyelimuti tubuhnya dari arah belakang. Aluna langsung tersentak bangun. Itu Gavin. Pria itu telah kembali dan kini memeluk pinggangnya dengan sangat erat.

Hembusan napas hangat Gavin menyapu ceruk telinganya, disusul oleh suara berat yang terdengar mengintimidasi, "Mengapa kamu menolak makan dan tidak meminum obatmu, hm? Apa kamu sedang mencoba memberontak lagi?"

Jantung Aluna berdentang bertalu-talu. "Aku... aku tidak melewatkan makan."

Nada suaranya yang bergetar jelas mempelihatkan rasa takut yang sangat kuat.

Di tengah teriknya cuaca siang hari, Aluna justru merasakan hawa sedingin es menjalar di sepanjang tulang belakangnya.

"Aku... aku hanya sedang tidak lapar."

Gavin mengerutkan keningnya dalam-dalam. Mata elangnya menatap Aluna dengan pandangan yang semakin mendingin. Wanita di pelukannya ini benar-benar tidak memiliki bakat untuk bersandiwara. Setiap kali mencoba berbohong, Aluna pasti akan terbata-bata dan mengulangi alasan yang sama.

Tepat pada saat momen ketegangan itu, sebuah suara keroncongan terdengar nyaring dari arah perut Aluna sebuah reaksi tubuh yang sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama.

Kebohongannya langsung runtuh seketika hanya dalam satu detik.

Gavin mendengus, menyiratkan rasa tidak senang yang kentara. "Aluna."

"Aku..." Aluna membuka bibirnya sedikit, mencoba membela diri dengan suara lirih, "Tadi aku memang belum merasa lapar."

Gavin mengunci pandangannya pada wajah Aluna untuk waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya sebuah senyuman tipis namun dingin terukir di sudut bibirnya. Ia mengenali sifat Aluna dengan sangat baik. Jika berada dalam posisi benar atau salah paham, reaksi pertama gadis ini adalah meluapkan amarah, bukan bertingkah ketakutan dan penurut seperti sekarang.

Tampaknya, Aluna masih mengira bahwa dirinya adalah pria yang mudah dikelabui.

"Baiklah. Jika kamu memang menolak untuk makan, maka jangan makan sekalian."

Setelah melontarkan kalimat mutlak tersebut, Gavin berbalik dan melangkah keluar meninggalkan kamar tanpa menoleh lagi.

Dua hari telah berlalu, dan Aluna benar-benar tidak diberikan akses pada makanan sedikit pun. Perutnya terasa sakit karena kelaparan, pandangannya mulai mengabur, dan kepalanya terasa berputar hebat akibat vertigo.

Dengan sisa tenaga yang ada, Aluna menyeret langkahnya menuju dapur. Ia membuka pintu lemari es dengan tangan yang lemas, namun nihil, isinya telah dikosongkan sama sekali atas perintah Gavin.

Sisi yang sejak tadi bersandar di ambang pintu dapur, memperhatikan gerak-gerik Aluna yang sedang menggeledah laci dengan tatapan mencemooh. Ia mencibir sinis,

"Sepertinya hari-hari indah seseorang di rumah ini akan segera berakhir. Jangan pernah berpikir hanya karena sudah ditiduri oleh Tuan Muda selama beberapa malam, statusmu menjadi berbeda dari kami.

Sungguh sebuah lelucon."

Kesadaran Aluna sudah berada di ambang batas akibat rasa lapar yang terus menyiksa, dan kehadiran Sisi yang terus mengoceh di dekatnya bagai seekor lalat yang bising semakin menyulut emosinya. "Jangan dikira aku tidak tahu apa yang ada di dalam otak busukmu itu," desis Aluna tajam. "Jika kamu memang merasa memiliki kemampuan, mengapa tidak kamu saja yang merangkak naik ke atas ranjang Gavin? Jangan hanya bisa menjadi wanita pendendam yang iri padaku."

"Kurang ajar!" Sisi merasa harga dirinya diinjak-injak. Wajahnya merah padam karena murka, dan tanpa berpikir panjang, ia langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

Wanita simpanan yang sudah tidak diberi makan oleh Tuan Muda ini ternyata masih memiliki keberanian untuk bersikap angkuh di hadapannya.

Plak!

Sebelum Aluna sempat mengantisipasi gerakan tersebut, sebuah tamparan keras mendarat telak di pipinya.

Pandangan Aluna seketika menggelap. Kepalanya berdenyut hebat, sementara persendian kakinya mendadak terasa lemas bagai tak bertulang. Tubuhnya langsung limbung, lalu ambruk ke atas lantai marmer yang dingin bagai selembar kapas yang terhempas angin.

Kesadarannya perlahan terkikis, dan setelah kejatuhan itu, Aluna tidak lagi membuka matanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!