Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.
Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.
Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KABIN MOBIL YANG SESAK
Pada akhirnya, takdir menggulirkan skenarionya sendiri. Naya berulangkali menolak. Namun, pada akhirnya ia kalah dan kini berada di dalam mobil Tian, duduk di kursi penumpang setelah Hana dan Reno berhasil meyakinkannya bahwa menumpang adalah pilihan paling aman untuk malam ini.
Begitu pintu mobil tertutup rapat, aroma parfum mobil bercampur wangi maskulin yang samar dari tubuh Tian langsung menusuk indra penciumannya. Aroma yang begitu akrab dulu, namun kini terasa begitu asing.
Naya mencoba melempar pandangannya ke arah dasbor, berusaha mencari titik fokus agar tidak perlu menatap pria di sampingnya. Namun, yang ia dapati justru sesuatu yang jauh lebih menusuk, ada sebingkai foto kecil yang terpasang manis di sana. Foto Tian bersama wanitanya—istrinya.
Ya. Wanita di dalam foto itu memiliki kecantikan yang memancar alami, jenis kecantikan yang tampak berkelas dan begitu serasi bersanding di sebelah Tian.
Naya menatap foto itu dengan dada yang kian menyempit. Seketika, rasa minder yang amat besar merayap dan mencengkeram hatinya. Wanita itu... jauh lebih cantik darinya.
Melihat bagaimana mereka tersenyum begitu lepas ke arah kamera, sebuah kesimpulan pahit langsung menghantam benak Naya. Kenyataan yang menamparnya telak, mempertegas jarak yang membentang di antara mereka. Nampaknya, Naya memang tak pernah pantas untuk bersanding dengan seorang Tian. Ia hanyalah masa lalu yang tak pernah terpilih, sementara wanita di foto itu adalah masa depan yang pantas dibanggakan oleh pria di sampingnya ini.
Dulu... bersama Randi, aku juga berjuang sendirian, batin Naya nelangsa.
Ia ingat betapa ia mencintai Randi sepenuh hati, memegang teguh janji untuk tidak pernah membuat pasangannya kecewa. Namun, justru Randi yang menghancurkannya.
Ia pernah berjuang mati-matian demi pria itu, bertahan bahkan ketika Randi berselingkuh terang-terangan di depan matanya. Dengan angkuh, saat itu Randi berdalih bahwa ia hanya ingin mencari "yang terbaik". Naya yang malang terus memeras perasaannya hingga kehabisan energi demi menjadi yang terbaik, namun pada akhirnya, pria itu tetap memilih pergi dan menikahi wanita pilihannya.
Luka lama dari Randi, luka baru dari Tian, dan debaran sepihaknya pada Zaki seolah melebur menjadi satu cairan panas yang mendesak di sudut matanya. Air mata Naya nyaris jatuh, terasa menghangat di pelupuk mata.
"Kenapa, Nay?" Suara berat Tian memecah keheningan yang mencekam di dalam kabin mobil.
Naya tersentak. Ia mengerjapkan mata dengan cepat, lalu menggelengkan kepalanya kuat-kuat tanpa berani menoleh ke arah Tian. "Enggak... aku... cuma lelah," jawabnya, suaranya agak serak.
Lelah berjuang untuk mencintai tanpa pernah dicintai, sambung Naya dalam hati. Andai kalimat ini bisa aku ucapkan lantang tepat di depan wajah kamu, Tian. Tiga tahun lalu bukanlah hal yang mudah untuk aku bisa melupakan kamu, dan sekarang... kenapa kamu harus kembali hadir di depanku?
Tian memutar kemudi pelan, lalu kembali membuka suara tanpa memikirkan perasaan wanita di sebelahnya. "Oh ya, waktu itu aku ngirim surat undangan nikah digital di grup SMA. Kamu gak baca apa gimana? Sampai gak hadir. Dan jujur, sekarang aku bahkan hampir gak ngenalin kamu. Kamu banyak berubah."
Glek.
Naya menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tercekat. Kenapa... kenapa kamu harus bahas itu lagi? jerit batinnya frustrasi. Setiap kata yang keluar dari mulut Tian bagai garam yang ditaburkan di atas luka menganga.
Tidak sanggup lagi berlama-lama di dalam ruang hampa yang menyiksa ini, Naya pun buru-buru memotong pembicaraan. "Aku... turun di sana ya," katanya kemudian, jarinya menunjuk ke arah trotoar di depan sana, padahal rumahnya masih cukup jauh.
Tian mengernyitkan dahi, menatap luar jendela yang tampak sepi. "Tapi, Nay, ini kan..."
"Enggak apa-apa. Tolong pinggirin aja, Tian," sela Naya, nadanya menuntut dan tak ingin dibantah.
"Baiklah..." Angguk Tian akhirnya, mengalah karena menangkap ketegangan dari nada bicara Naya.
Mobil mewah itu pun perlahan menepi dan berhenti sempurna di sisi jalan yang temaram.
Tanpa menunggu penjelasan atau basa-basi lebih lama, Naya langsung membuka sabuk pengamannya. "Makasih udah kasih aku tumpangan. Maaf merepotkan," ucapnya cepat tanpa menatap balik mata Tian.
"Tidak apa-apa, Nay. Tidak perlu—"
Sebelum Tian menyelesaikan kalimatnya, Naya sudah beringsut turun dari mobil dan menutup pintu dengan cepat. Tanpa berbalik sedikit pun, ia melangkahkan kakinya lebar-lebar, berjalan cepat menjauh di atas trotoar yang sunyi.
Di tepi jalan, mobil Tian sempat berhenti lama. Pria itu tampaknya diam di sana selama beberapa menit, seakan ingin memastikan bahwa Naya benar-benar berhenti di rumahnya atau tempat yang aman. Namun, karena Naya terus berjalan lurus mengitari trotoar tanpa menoleh ke belakang, mobil Tian akhirnya perlahan melaju, melewati tubuh Naya dan menghilang di belokan jalan.
Dan, begitu sorot lampu mobil Tian benar-benar lenyap dari pandangan, pertahanan Naya runtuh seutuhnya. Di bawah kegelapan malam dan keheningan jalanan yang sepi, Naya berhenti melangkah. Dadanya yang sejak tadi ia busungkan dengan paksa kini bergetar hebat.
"Jahaaaaaaat!" teriakan keras Naya pecah, menggema membelah sunyinya malam.
Air matanya tumpah tak terbendung lagi. Tangisnya pecah menjadi isakan pilu yang begitu menyakitkan. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan maskara yang ia kenakan luntur bersama air mata frustrasi. "Kenapa dunia kejam banget sama aku?! Kenapaaaaa?!" raungnya tertahan pada angin malam.
Drrrrt... Drrrrt...
Dering telepon dari dalam tasnya seketika memecah keheningan malam yang sunyi. Naya menghapus air matanya kasar dengan punggung tangan, lalu merogoh ponselnya dengan jemari yang bergetar. Layar ponsel menampilkan nama Hana.
Naya menarik napas sedalam mungkin, mencoba menormalkan suaranya yang parau sebelum menggeser tombol hijau ke atas.
"Halo, Nay. Kamu baik-baik aja, kan?" Suara Hana di seberang sana langsung memberondongnya dengan nada yang dipenuhi rasa bersalah dan kekhawatiran yang amat sangat. "Nay?"
Hening.
Naya tak mampu menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan agar suara isak tangisnya tidak lolos dan terdengar oleh sahabatnya itu. Di bawah temaram lampu jalan, ia hanya bisa terdiam membisu, sementara air matanya kembali mengalir deras tanpa suara.
****
Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri