NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:826
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

“Aku capek…” suara Nayla hampir tak terdengar. “Aku beneran capek…”

Napasnya tersendat. Tangannya memeluk dirinya sendiri, seolah tubuhnya bisa memberi perlindungan yang tak pernah ia dapat dari siapa pun. Namun tubuh itu sendiri sudah terlalu lemah. Lalu, di tengah diamnya, ia mendengar suara kendaraan lain mendekat. Bukan satu. Sepertinya dua motor lewat di sisi jalan, membuat Nayla spontan menoleh dengan takut. Para pengendara itu melaju cepat dan tidak memperhatikannya. Hanya siluet yang lewat, lalu hilang. Tetapi bagi Nayla, keberadaan mereka cukup untuk membuat jantungnya berdegup liar. Ia takut ada orang asing yang menghampiri. Ia takut ada yang mengenalinya. Ia takut melihat tatapan penasaran. Ia takut dijadikan tontonan. Ia takut dijadikan pertanyaan. Ia takut jika ada yang melihat darah di lengannya dan bertanya apa yang terjadi, karena ia tidak yakin mampu menjawab tanpa menangis lagi.

Ia akhirnya memutuskan untuk melangkah ke arah sebuah bangku beton yang berada di dekat halte kecil di ujung jalan. Tempat itu tidak ramai. Bahkan nyaris kosong. Lampu di sana sedikit lebih terang, namun tetap tidak memberi rasa nyaman. Nayla duduk dengan tubuh nyaris ambruk, lalu menunduk, memegangi lengannya yang terus berdenyut. Di sela-sela rasa sakit itu, pikirannya kembali bekerja. Mungkin Marvin. Mungkin ia bisa kembali ke apartemen Marvin kalau ia berhasil mencari jalan. Atau mungkin ia bisa menunggu sampai pagi. Tapi bagaimana dengan Endra? Kalau Endra menemukan dia lagi, apakah semuanya akan berakhir lebih buruk? Apakah ia harus kembali menelan rasa sakit yang sama? Apakah ia harus kembali menjadi orang yang diam dan menerima semuanya?

Tidak.

Untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu kecil yang bergerak di dalam dirinya.

Bukan keberanian besar. Bukan keputusan heroik. Hanya sebuah penolakan kecil yang lama-lama tumbuh. Nayla menatap tangannya sendiri yang gemetar. Lalu ia menatap darah yang masih mengering di kulit putihnya. Lalu ia menatap jalan sepi di depan sana. Dan di tengah semua kekacauan itu, ia mengerti satu hal: ia tidak bisa terus kembali ke orang yang melukai dirinya hanya karena ia pernah dicintai. Cinta yang menyakitkan bukanlah cinta yang harus dipertahankan. Sayangnya, memahami hal itu jauh lebih mudah daripada melakukannya.

“Gue harus pergi…” gumamnya, nyaris tidak percaya pada suaranya sendiri.

Ke mana? Ia belum tahu. Tapi setidaknya, untuk pertama kalinya sejak ditinggalkan, ia tidak ingin diam saja.

Nayla mengangkat wajahnya ketika suara langkah kaki terdengar dari kejauhan. Ia langsung tegang. Kepalanya menoleh cepat. Lampu jalan memantulkan bayangan seseorang yang berjalan mendekat dari sisi jalan. Degup jantung Nayla naik lagi. Tubuhnya menegang. Satu tangan refleks memegangi lengannya yang terluka, sementara tangan satunya bersiap mendorong tubuhnya bangkit kalau orang itu berbahaya.

Namun saat sosok itu semakin jelas…

Ia membeku.

Marvin.

Laki-laki itu berhenti beberapa meter darinya, lalu menatapnya lama. Wajahnya terlihat lelah, rambutnya sedikit berantakan, dan napasnya seperti baru saja dipacu. Seolah ia berlari. Seolah ia memang mencarinya.

Nayla menatapnya dengan mata basah. Di satu sisi, ia lega. Di sisi lain, ia masih takut. Marvin pernah menjadi ancaman dalam hidupnya, tapi malam ini kehadirannya terasa seperti sesuatu yang berbeda. Tidak nyaman, tapi juga tidak setajam Endra. Tidak hangat, tapi juga tidak menghancurkan.

“Lo ngapain di sini?” tanya Marvin pelan.

Nayla tidak langsung menjawab. Bibirnya bergetar. Ia bahkan tidak tahu apakah ia harus marah, menangis, atau sekadar diam. Lalu ia mencoba bangkit, namun tubuhnya kembali limbung. Marvin maju setengah langkah, seolah refleks ingin menahan, tapi berhenti sendiri sebelum benar-benar menyentuhnya.

“Jangan takut sama gue dulu,” ucapnya, suaranya lebih rendah dari biasanya. “Gue nggak bakal sentuh lo.”

Nayla tertawa kecil di sela tangisnya. Tawa getir yang hampir tidak punya tenaga.

“Kalau bukan lo… terus siapa lagi yang nyari gue?” bisiknya.

Marvin terdiam.

Mata laki-laki itu menatap luka di lengan Nayla. Sekilas, rahangnya mengeras. Tetapi ia tidak bertanya macam-macam. Ia hanya melepas jaketnya, lalu, setelah ragu beberapa detik, meletakkannya pelan di atas bahu Nayla. Bukan dipaksakan. Bukan dijadikan alasan. Hanya diletakkan, seperti memberi pilihan. Nayla diam. Tubuhnya masih dingin, tetapi jaket itu membawa sedikit hangat yang terasa asing.

“Lo berdarah,” kata Marvin singkat.

Nayla menunduk.

“Gue tahu.”

“Parah?”

“Menurut lo?”

Marvin tidak menjawab, hanya menghela napas. Ia lalu jongkok di depan Nayla agar sejajar. Posisi itu membuat Nayla secara refleks ingin mundur, namun ia tidak punya tenaga. Tatapan Marvin bertemu dengannya, lalu turun sebentar ke lengan yang dibalut kain seadanya.

“Pacar gila lo yang ngelakuin ini?” tanyanya pelan.

Nayla menutup mata. Pertanyaan itu cukup untuk membuat air matanya kembali jatuh. Ia tidak menjawab, tapi diamnya sudah menjawab segalanya.

Marvin menatapnya lebih lama, lalu mengalihkan wajah sejenak, seperti sedang menahan sesuatu.

“Gue bawa lo ke tempat yang aman,” katanya akhirnya. “Bukan apartemen gue lagi. Kali ini yang bener.”

Nayla menatapnya dengan mata sembab. “Gue nggak mau diatur.”

“Gue juga nggak lagi ngatur lo.”

“Terus lo maunya apa?”

Marvin diam beberapa detik sebelum menjawab, “Gue maunya lo hidup.”

Jawaban itu membuat Nayla terdiam.

Tidak ada nada sok pahlawan. Tidak ada candaan. Tidak ada gaya menggoda yang biasa ia benci. Yang ada hanya keseriusan yang membuat dadanya terasa aneh. Ia tidak tahu harus menanggapinya bagaimana. Di dalam kepalanya, Endra masih berteriak. Kata-kata kasar masih menempel. Lukanya masih sakit. Tapi di hadapannya sekarang, Marvin hanya berdiri dan menunggu. Tidak memaksa. Tidak menekan. Tidak mengancam.

Nayla menunduk, lalu mengusap wajahnya.

“Gue capek, Marvin.”

Suaranya pecah.

“Gue tau,” jawab Marvin pelan.

“Gue nggak tahu harus ke mana.”

“Gue tau.”

“Gue nggak punya siapa-siapa.”

Marvin terdiam sejenak, lalu berkata sangat pelan, “Lo masih punya diri lo sendiri, Nay.”

Kalimat itu sederhana.

Namun Nayla terasa seperti ditampar oleh kenyataan yang baru.

Diri sendiri.

Ia masih punya diri sendiri.

Tubuh yang terluka.

Hati yang hancur.

Pikiran yang kacau.

Tapi masih ada.

Masih hidup.

Marvin kemudian berdiri, lalu mengulurkan tangan. “Ayo. Kita cari tempat buat nutup luka lo dulu.”

Nayla menatap tangan itu lama. Tangan yang tidak pernah ia bayangkan akan menjadi penolongnya. Tangan yang beberapa waktu lalu ia anggap milik orang berbahaya. Namun malam ini, ia sudah terlalu lelah untuk memikirkan segalanya secara rumit. Akhirnya, dengan gerakan sangat pelan, ia meraih tangan itu. Dingin. Kuat. Stabil. Marvin tidak langsung menggenggam keras. Ia hanya memastikan Nayla bisa berdiri, lalu menariknya perlahan.

Saat Nayla berdiri, tubuhnya sempat oleng. Marvin refleks menahan pinggangnya sebentar agar ia tidak jatuh, lalu segera melepas lagi begitu Nayla sudah seimbang. Tidak ada komentar. Tidak ada godaan. Hanya tindakan singkat yang membuat Nayla bingung, sekaligus merasa sedikit lebih aman daripada beberapa menit sebelumnya.

Mereka berjalan pelan menyusuri jalan yang masih sepi. Marvin tidak banyak bicara. Nayla pun demikian. Sesekali gadis itu meringis saat lengannya bergerak, dan Marvin hanya mengangguk kecil, seolah memahami. Tidak ada tanya jawab yang memaksa. Tidak ada pernyataan yang mendesak. Hanya langkah kaki dua orang yang sama-sama terluka dengan cara yang berbeda.

Setelah beberapa menit, mereka sampai di sebuah minimarket kecil yang masih buka. Lampunya terang. Cukup terang untuk membuat Nayla menyipit. Marvin masuk lebih dulu, lalu membelikan beberapa barang dengan cepat: perban, antiseptik, air mineral, dan sebungkus roti. Nayla menatap semua itu dengan perasaan campur aduk. Ia ingin menolak. Ingin bilang ia tidak perlu bantuan. Ingin tetap jadi dirinya yang keras kepala. Namun tubuhnya terlalu lemah untuk membangun benteng.

Mereka duduk di bangku di depan minimarket. Angin malam masih dingin, tapi setidaknya ada lampu. Ada orang lewat. Ada sedikit rasa aman. Marvin membuka antiseptik, lalu menatap Nayla sebelum bertanya, “Boleh?”

Nayla mengerjap. Lalu mengangguk kecil.

Marvin membersihkan darah di lengan Nayla dengan hati-hati. Gerakannya pelan. Tidak kasar. Tidak tergesa. Saat kapas menyentuh luka, Nayla meringis dan spontan menarik napas tajam.

“Pelan,” gumamnya pelan.

“Udah pelan ini,” balas Marvin, dan kali ini ada sedikit humor yang nyaris tak terasa.

Nayla hampir tertawa, tapi tidak jadi. Ia malah menunduk, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara.

Marvin tidak bertanya kenapa ia menangis. Tidak juga menghentikannya. Ia hanya terus membalut luka itu sampai rapat, lalu merapikan ujung perban. Setelah selesai, ia menutup antiseptik dan meletakkannya di sisi bangku.

“Masih sakit?” tanyanya.

Nayla mengangguk.

“Luka fisik atau hati?”

Nayla menoleh tajam, tapi lemah. “Lo nyebelin.”

Marvin tersenyum kecil. “Iya, gue tau.”

Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat Nayla terasa ingin menangis lagi. Bukan karena sedih, tapi karena selama ini ia selalu merasa sendirian menghadapi semuanya. Dan malam ini, di tempat yang tidak ia kenal, bersama laki-laki yang tidak sepenuhnya ia percaya, ia justru merasa sedikit… didengar. Sedikit… tidak sendirian.

Namun rasa itu tidak bertahan lama. Karena begitu matanya terangkat, ia teringat Endra. Ia teringat mobil. Ia teringat cutter. Ia teringat suara dingin yang berkata bahwa ia milik seseorang. Dadanya kembali sesak. Marvin yang melihat perubahan raut wajahnya langsung ikut diam.

“Apa lo mau gue anter ke rumah sakit?” tanyanya pelan.

Nayla menggeleng cepat. “Nggak.”

“Ke rumah gue?”

“Nggak.”

“Terus?”

Nayla menarik napas panjang. Lalu menatap jalan di depannya.

“Gue nggak tahu.”

Marvin menatapnya, lama. “Lo bisa nginep dulu di tempat aman yang gue tahu.”

Nayla tidak langsung menolak. Tidak juga langsung setuju. Pikirannya masih berperang dengan rasa takut. Namun satu hal yang ia tahu: ia tidak bisa kembali ke Endra malam ini. Tidak setelah semua yang terjadi. Tidak setelah darah di lengannya. Tidak setelah kata-kata yang menghancurkan.

Akhirnya ia berbisik, “Asal bukan rumah siapa-siapa yang bakal nanyain gue.”

Marvin mengangguk. “Bukan.”

Lalu mereka bangkit lagi. Dan saat Nayla mulai melangkah, langkahnya masih goyah, tetapi kali ini ia tidak sepenuhnya sendirian. Malam tetap dingin. Jalan tetap sepi. Luka tetap sakit. Dunia tetap sama berbahayanya. Namun di antara semua kerusakan yang menumpuk, ada satu hal kecil yang berubah: Nayla tidak lagi berjalan dengan jiwa yang sepenuhnya kosong.

Ia masih hancur.

Ia masih takut.

Ia masih belum tahu apa yang harus ia lakukan setelah malam ini.

Tapi ia hidup.

Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.

Karena mungkin, di balik semua rasa sakit yang menghancurkannya malam ini, ada satu hal yang akhirnya mulai ia pahami, ia tidak diciptakan untuk terus menerima luka sebagai bentuk cinta. Ia tidak diciptakan untuk berlutut di depan seseorang yang menyebutnya milik. Ia tidak diciptakan untuk hancur oleh orang yang ia cintai. Ia mungkin masih rapuh, masih bingung, masih penuh air mata. Namun sesuatu di dalam dirinya, sekecil apa pun, telah mulai bergerak untuk bertahan.

Dan malam itu, saat ia berjalan di samping Marvin menuju tempat yang belum ia kenal, Nayla menatap langit gelap di atas sana dengan mata yang masih merah, lalu berbisik pada dirinya sendiri, pelan sekali, seolah takut semesta mendengarnya.

“Gue harus keluar dari semua ini…”

Suara itu hilang ditelan angin.

Namun untuk pertama kalinya, ia tidak merasa kalimat itu mustahil.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!