NovelToon NovelToon
Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Komedi
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.

━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Slamet sudah berjalan mengikuti aliran sungai selama dua puluh menit ketika hutan lebat di depannya perlahan berubah menjadi area yang lebih terbuka.

Tanah berubah dari lumpur lembap ke tanah padat yang lebih kering. Semak-semak tinggi berganti menjadi padang rumput pendek berwarna hijau tua. Dan di ujung padang rumput itu, ada jalur setapak yang jelas dibuat oleh kaki manusia — atau setidaknya makhluk yang berjalan dengan dua kaki.

Slamet berhenti di tepi hutan.

Di depannya, sekitar lima puluh meter jauhnya, seorang perempuan sedang berjongkok di tepi sungai yang sama. Rambutnya panjang berwarna perak keputihan, terurai bebas sampai pinggang. Kulitnya pucat seperti karakter elf yang keluar dari game fantasi. Postur tubuhnya tinggi bahkan saat sedang jongkok.

Dan telinganya lancip.

Panjang. Lancip. Tidak salah lagi.

Slamet diam di tempat selama tiga detik penuh.

Di dalam kepalanya, terjadi proses yang sangat cepat.

Satu: ini bukan mimpi. Sudah dikonfirmasi tadi.

Dua: itu elf. Elf sungguhan. Bukan cosplay. Bukan filter kamera. Elf beneran yang lagi cuci muka atau apalah itu di tepi sungai.

Tiga: dia cantik.

Empat: perutnya keroncongan.

Prioritas nomor empat mengalahkan nomor tiga dalam hitungan sepersekian detik.

"Permisi," katanya, melangkah keluar dari balik pepohonan.

Perempuan elf itu berdiri seketika.

Gerakannya cepat, refleks, tangan kanannya langsung bergerak ke pinggang tempat sebilah pisau pendek tergantung. Matanya yang berwarna abu-abu muda menatap Slamet dengan waspada penuh.

Dia mengatakan sesuatu dalam bahasa yang tidak Slamet mengerti.

Nadanya seperti pertanyaan. Atau mungkin peringatan. Sulit dibedakan.

Slamet mengangkat kedua tangannya.

"Gue gak bawa senjata," katanya. "Lihat, tangan kosong. Gue cuma lapar."

Elf itu tidak menurunkan tangannya dari gagang pisau. Dia mengatakan sesuatu lagi. Masih tidak dimengerti.

Slamet menunjuk perutnya lalu menunjuk mulutnya.

"Makan. Makanan. Ada?"

Elf itu menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Bukan takut. Lebih ke bingung campur waspada.

Slamet mencoba lagi dengan gesture yang lebih jelas. Dia pura-pura menyuap sesuatu ke mulut, mengunyah, lalu mengelus perutnya dengan ekspresi puas.

Elf itu berkedip.

Lalu, sangat pelan, tangannya lepas dari gagang pisau.

Dia mengatakan sesuatu lagi. Kali ini nadanya berbeda — lebih datar, lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan.

"Gue gak ngerti," kata Slamet jujur. "Tapi kayaknya lo bilang oke."

Ternyata perempuan elf itu memang bilang sesuatu yang kurang lebih berarti oke.

Atau setidaknya itulah kesimpulan Slamet ketika dia memberi isyarat untuk diikuti, lalu berjalan menyusuri jalur setapak ke arah yang Slamet belum tahu tujuannya.

Slamet mengikuti.

Karena tidak ada pilihan lain yang lebih baik.

Mereka berjalan dalam diam selama beberapa menit. Slamet beberapa kali mencuri pandang ke arah elf di depannya. Telinganya bergerak sedikit setiap kali ada suara dari hutan — refleks, otomatis, seperti kucing yang mendengar sesuatu.

Slamet hampir tersenyum tapi menahan diri.

Ini dunia isekai beneran, pikirnya. Bukan yang biasa-biasa.

Tapi rasa lapar masih menang telak.

Mereka tiba di sebuah kamp kecil.

Bukan kamp besar dengan puluhan tenda. Hanya tiga tenda sederhana, satu api unggun yang hampir padam, dan dua elf laki-laki yang langsung berdiri begitu melihat Slamet.

Keduanya menggapai senjata.

Elf perempuan tadi mengangkat tangannya — gesture yang rupanya universal untuk tunggu dulu — dan mengatakan sesuatu yang cukup panjang kepada dua elf laki-laki itu.

Mereka tidak langsung menyerang. Tapi juga tidak menurunkan senjata sepenuhnya.

Slamet berdiri di tempat, tidak bergerak, menunggu.

Salah satu elf laki-laki — yang lebih tua, rambutnya sudah mulai keperakan — menatapnya dengan teliti dari ujung kepala sampai kaki. Kaos oblong lusuh. Celana pendek. Satu sandal jepit. Kaki kiri telanjang dan kotor.

Ekspresinya berubah dari waspada ke bingung.

Elf perempuan itu berbicara lagi. Kali ini lebih pendek.

Elf tua itu menghela napas, lalu mengatakan sesuatu ke rekannya yang lebih muda. Elf muda itu pergi ke salah satu tenda, lalu kembali dengan sepotong roti dan sesuatu yang dibungkus daun.

Dia menyodorkan itu ke Slamet.

Slamet menerimanya.

"Makasih," katanya.

Dia makan di tempat. Rotinya keras dan rasanya tawar, tapi cukup mengisi. Yang dibungkus daun ternyata daging yang sudah diasap — rasanya asin, sedikit pahit, tapi lumayan.

Ketiga elf itu menatapnya makan.

Slamet tidak terlalu peduli.

Dari balik pepohonan di ketinggian, Aura duduk di dahan sambil memeluk lututnya.

Di sampingnya, Mare berdiri dengan posisi yang jauh lebih formal.

Mereka sudah mengikuti Slamet dari sungai sampai ke kamp kecil ini tanpa suara.

"Dia minta makan," kata Aura pelan.

"I-Iya," kata Mare.

"Dan dikasih."

"Iya."

Aura mengernyitkan dahi.

Makhluk yang membuat seluruh monster dalam radius setengah kilometer kabur kocar-kacir — kini sedang duduk di tanah memakan roti keras pemberian elf yang bahkan tidak tahu siapa dia.

"Dia pura-pura tidak berbahaya," gumam Aura.

"A-Atau memang tidak berbahaya?"

Aura melirik Mare.

"Kamu percaya itu?"

Mare tidak langsung menjawab.

Di bawah sana, Slamet selesai makan. Dia mengangguk ke arah elf perempuan tadi — entah apa maksudnya, tapi elf itu membalas anggukan dengan ekspresi yang masih belum sepenuhnya rileks.

"A-Aku tidak tahu apa yang harus aku percaya," kata Mare akhirnya. "Tapi dia... tidak terasa seperti musuh."

"Tapi juga tidak terasa seperti bukan musuh."

"Iya."

Aura menghela napas pendek.

"Kita lapor Ainz-sama."

Di perkemahan kecil mereka, Ainz sedang menimbang-nimbang peta wilayah Elf di depannya ketika sihir Message menyala untuk kedua kalinya hari itu.

"Ainz-sama."

"Laporkan, Aura."

"Makhluk aneh itu sekarang ada di kamp patroli elf. Dia minta makan ke elf yang dia temui di sungai, dan dikasih."

Ainz tidak bersuara selama beberapa detik.

"Kondisinya?"

"Dia makan roti sama daging asap. Tidak ada insiden."

"Maksudku kondisi makhluk itu."

"Oh." Aura berhenti sebentar. "Biasa saja, Ainz-sama. Dia cuma makan."

Ainz menyilangkan jari-jari tulangnya.

Tidak menyerang. Tidak mengancam. Tidak menunjukkan kemampuan apapun.

Jika ini adalah Player, dia menyembunyikan dirinya dengan sangat baik.

Atau...

Dan ini adalah kemungkinan yang lebih merepotkan...

Dia tidak menyembunyikan apapun. Karena memang tidak ada yang perlu disembunyikan.

Ainz tidak suka kemungkinan kedua. Terlalu banyak variabel yang tidak bisa dia kontrol.

"Terus pantau," katanya. "Jangan ada yang mendekati tanpa izin."

"Mengerti, Ainz-sama."

Jeda sebentar.

"Ainz-sama?"

"Apa?"

"Tadi waktu dia pertama kali lihat elf perempuan itu..." Aura berhenti sebentar seperti menahan tawa.

"Lalu?"

"Dia berhenti bergerak."

"..."

"Terus dia tersenyum."

Ainz terdiam.

"...Lanjutkan pengamatan."

Sambungan Message terputus.

Ainz menatap peta di depannya tanpa benar-benar melihatnya.

Senyum-senyum sendiri.

Sebagai laporan pengintaian, informasi itu terdengar tidak penting.

Justru karena itulah dia merasa tidak nyaman.

Di kamp elf, Slamet sudah selesai makan.

Perutnya kenyang. Tubuhnya lebih ringan.

Dia menatap elf perempuan yang dari tadi masih sesekali memperhatikannya dari sudut mata. Telinganya yang lancip sedikit bergerak ke arahnya.

Slamet ingin bilang sesuatu tapi tidak tahu bahasa elf.

Akhirnya dia cuma angkat jempol.

Elf perempuan itu menatap jempolnya sebentar.

Lalu dengan ekspresi yang masih datar, dia balik angkat jempol juga.

Slamet mengangguk puas.

Komunikasi lintas budaya berhasil.

Sekarang pertanyaan berikutnya: di sini ada kopi tidak?

1
🏵YI FENG🐲
Anjay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!