Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 5 JARAK YANG SEMAKIN JAUH
Nana yang baru saja tiba di rumah, setelah pertemuannya dengan para preman yang menipunya hanya bisa mendengus kesal.
Ia keluar dari dalam mobil, lalu menutup pintu mobil itu dengan keras. "Benar-benar sial! Uang belanjaku lenyap begitu saja!" teriaknya tanpa bisa menahan amarahnya. Ia menghentak-hentakkan kakinya.
Tiba-tiba saja Nana teringat dengan perkataan preman itu, bahwa dia tidak pernah menyentuh Aline. Lalu siapa yang tidur dengan kakaknya itu, apakah ada laki-laki tua lainnya yang tidak sengaja menemukan Aline. Itulah yang berada dalam pikiran Nana.
Dengan pikiran yang berkecamuk Nana langsung masuk ke dalam rumah.
Di waktu yang sama, Aline yang baru saja mengambil minum ke dapur tidak sengaja berpapasan dengan adik tirinya.
Aline mengkerutkan keningnya saat melihat wajah adik tirinya yang terlihat menahan amarah. "Dari mana dia malam-malam begini?" gumam Aline yang hanya bisa didengar olehnya.
Tanpa bertegur sapa, mereka langsung masuk ke dalam kamar masing-masing.
Namun, sebelum Nana masuk ke dalam kamar, sekali lagi ia memperhatikan punggung Aline, senyum miring muncul dibibirnya. "Preman itu mungkin gagal menyentuhnya! Tapi untung saja ada yang menggantikannya. Aku yakin dia sebentar lagi akan hamil dan diusir dari rumah ini." Nana tertawa sinis, menunggu momen itu segera tiba.
Aline yang sudah berada di dalam kamar. Ia sedikit kesulitan untuk memejamkan matanya, ia tampak gelisah dengan tangan sedikit gemetar dan wajah sendu Aline membuka laci lalu mengeluarkan sebuah album photo dari sana.
Ia membuka lembar demi lembar, menatap photo keluarganya yang masih terlihat lengkap. Ibunya memeluknya penuh kasih sayang dan di samping lain, ayahnya memandangnya dengan penuh cinta.
Setetes air mata jatuh membasi photo itu. "Ibu, aku merindukanmu! Sekarang Ayah sudah berubah, setiap apa yang aku katakan dan jelaskan tidak pernah didengarnya."
Setelah menumpahkan kesedihannya, Aline mulai tertidur dengan menyimpan photo itu dalam pelukkan nya.
Sinar matahari pagi mulai nampak dengan sangat cerah, hingga cahayanya menerobos masuk melalu celah gorden kamar Aline.
Di dalam kamar, Aline nampak sibuk dengan rutinitasnya. seperti biasa Aline masih mengurus perusahaan ayahnya meski posisinya sudah beralih pada adik tirinya. Tidak mengubah apa pun jika Aline masih harus membantu ayahnya.
Hari ini, Aline harus pergi ke kantor ayahnya. Kantor itu tepat berada di bandung yang mengharuskannya meninggalkan jakarta untuk sementara, kali ini ia akan berada di bandung beberapa minggu kedepan.
Ia mulai bersiap-siap, membawa baju seperlunya. Yang paling penting ia harus membawa sweeter hanya untuk menghalau udara dingin di sana. Karena perusahaan ayahnya berada di area dataran tinggi.
Tepat setelah ia sedang berkemas, memasukkan bajunya ke dalam tas. Pintu kamarnya itu tiba-tiba di buka dengan keras.
Seketika, Nana berdiri di ambang pintu, dengan wajah angkuh sambil bersedekap dada. "Lama banget sih! Inget ya, Kakakku tersayang! Sekarang aku ini adalah atasan kamu." Suara Nana terdengar sombong, namun tersirat nada menyindir disetiap kalimatnya.
Aline memilih diam, percuma saja berdebat dengan orang yang tidak tau diri. Hanya akan membuang tenaganya, tanpa menghiraukan kehadiran Nana. Ia kembali memasukkan perlengkapannya.
"Hei, kamu tuli ya!"
Setelah mengatakan itu, dari arah lain Nana melihat ayahnya menuju ke arah kamar kakak tirinya. Ia langsung masuk dan mendekat ke arah Aline. Dengan gerakkan tidak terduga Nana menarik tangan Aline dan saat itu juga ia terjatuh seolah Aline lah yang mendorongnya.
Aline yang tidak sempat menghindar, hanya bisa mematung di tempat apalagi saat ia melihat tatapan tajam ayahnya yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
Di atas lantai, Nana menangis sambil merintih kesakitan. "Kakak, aku tidak bermaksud mengambil posisismu. Tapi Ayah yang menyerahkannya padaku, aku bisa apa."
Kalimat itu seperti ledakkan api untuk Dimas yang mendengarnya. Ia melangkah tegas masuk ke dalam kamar putrinya, aura pria paruh baya itu semakin dingin dan menyesakkan untuk Aline yang tidak pernah melihat wajah ayahnya semurka itu.
"Aline! Apa Ayah pernah mengajarkan kamu untuk bertindak seperti ini? Dia adikmu, tidak sepantasnya kamu memperlakukannya seperti itu!"
"Ayah, aku sama sekali nggak mendorongnya. Dia yang tiba-tiba menjatuhkan dirinya." bela Aline. Hatinya seperti disayat-sayat mendengar amarah ayahnya.
Namun, lagi-lagi suara Nana mengalihkan perhatian ayahnya.
"Ayah! Aku nggak mau memimpin perusahaan Ayah, itu semua hak Kak Aline." Suara Nana terdengar rapuh seolah ia memang telah tersakiti. "Aku tau, kalau aku hanya anak tiri dan bukan anak kandung Ayah."
"Diam! Kamu Nana, kenapa kamu selalu memperkeruh keadaan. Aku sama sekali nggak keberatan soal kamu memegang perusahaan Ayah, tapi tindakan kamu ini bener-bener keterlaluan. Kamu memfitnahku, Nana!"
Di sisi lain, dengan lembut Dimas membantun Nana untuk berdiri. Tatapan seketika melunak saat menatap anak sambungnya itu. "Bagi Ayah tidak ada anak tiri. Kamu sama pentingnya dengan Kakakmu, dan untuk masalah perusahaan itu! Ayah yang sudah memberikan kuasa itu sama kamu jadi tidak perlu merasa tidak enak pada Kakakmu."
Aline benar-benar merasa hubungannya dengan ayahnya semakin berjarak. Mereka tinggal disatu atap yang sama tapi seperti hidup dengan orang asing.
Suara ayahnya menggema di dalam kamarnya, seolah penjelasannya memang tidak pernah penting lagi untuk ayahnya. Rasa lelah mulai menyelimuti hati Aline dengan situasi yang tengah ia hadapi.
"Stop! Aline, Ayah tau kamu mulai cemburu dengan perlakuan Ayah yang terlihat lebih memihak adikmu. Tidak seharusnya hal itu membuat kamu bertindak seenaknya." Tatapan Dimas yang terlihat kecewa begitu ketara saat menatap putri kandungnya sendiri. Ia menghela napas lelah sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Kemana kamu yang dulu? Yang terlihat akur dengan adikmu? Kenapa sikapmu sekarang berubah Aline?"
Cecaran itu semakin menghimpit dada Aline. Ayahnya lebih condong dengan anak tirinya dibandingkan dengannya.
"Apa Ayah ingin aku terlihat baik pada orang yang sudah menghancurkan hidupku, itu nggak akan mungkin Ayah!" jerit Aline dalam hati, bukan ia tidak ingin mengatakan pada ayahnya. Namun, semuanya akan percuma saja apalagi melihat sikap ayahnya yang jelas berbeda terhadap dirinya.
"Sebaiknya bersiap lah! Ayah tidak ingin mendengar atau melihat kamu menindas adikmu lagi."
Setelah mengatakan itu Dimas meninggalkan kamar Aline dan membawa Nana ke luar dari sana.
Diam-diam Nana memberikan senyum miring sebelum meninggalkan kamarnya. "Kamu nggak akan pernah menang Aline. Nyatanya Ayahmu lebih sayang aku dibandingkan anak kandungnya sendiri." batin Nana girang dengan drama yang telah berhasil ia buat.
Aline menatap punggung Ayahnya yang menghilang dengan mata berkaca-kaca. Ia hanya bisa tersenyum getir melihat keadaannya sekarang.
"Selamat Nana, kamu sudah berhasil menghancurkan hidupku dan sekarang kamu juga telah berhasil merebut Ayahku sepenuhnya."
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣