Kirana Aqilla, 20 tahun, gadis yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya karena kecelakaan Ia dijodohkan dengan ustadz beristri tiga.
Tampa sengaja Ia ketemu waria dengan blezer pink di tengah hujan deras. yang menyediakan payung dan tissue untuknya tampa diminta. Nggak ada yang sempurna di antara mereka. Kirana membawa trauma 20 tahun hidup dicecar sebagai pembawa Sial. Saqir membawa luka dibuang keluarga karena jadi dirinya sendiri. Ini bukan kisah cinta yang berisik. Ini kisah tentang dua orang patah yang belajar nerima, saling jagain pas jatuh, dan berjuang pulang bareng. Sedihnya bikin nangis. Lucunya bikin ketawa tengah malam. Romantisnya pelan. Tenangnya bikin pulang. Karena kadang, pulang itu bukan rumah. Pulang itu orangnya.
Dunia bilang mereka nggak pantas bersama. Keluarga Kirana bilang waria itu aib. Ustadz Yusuf bilang Kirana harus balik. Tapi di kontrakan sempit itu, untuk pertama kalinya Kirana merasa aman. Untuk pertama kalinya Saqir merasa diterima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menolak Lamaran Dan Niat Kabur Diam-Diam
Beranda pondok. Lampu bohlam kuning redup. Paman Syarif duduk di kursi rotan. Matanya merah, bahu nunduk. Tasbih di tangannya diem. Nggak diputer.
Ustadz Yusuf duduk tegak di depan. Map coklat di meja. Isinya foto rumah 8 kamar, slip gaji 50 juta, sama surat lamaran pake kop masjid gede.
Bik Asih berdiri di belakang Kirana. Tangannya nyubit pinggang Kirana. Kenceng. Jempolnya neken sampe biru. Kode: "Kalo kamu ngomong aneh-aneh, gue cekik kamu di kamar."
Kirana duduk di kursi plastik paling pojok. Gamis putih polos. Jilbab pudar. Bibirnya kering, pecah-pecah. Tangannya dingin, keringet dingin.
"Jadi gini Nak Kirana..." Ustadz Yusuf ngomong pelan tapi berat. "Saya suka sama Nak. Anak sholehah, rajin, hafidzah 5 juz. Cocok jadi ibu rumah tangga. Ngurus anak saya 7. Rumah saya adem Nak. Ada pembantu 4 orang."
Dia dorong map itu. "Nak pikir-pikir ya. 3 hari. Kalo mau, saya siap pinang minggu depan."
Kirana mau ngomong. Bibirnya kebuka dikit. "Tapi Ustadz... Kirana..."
"KIRANA!" Bik Asih motong dari belakang. Suaranya manis, tapi matanya ngancem. "Ustadz Yusuf tuh orang baik Nak. Kaya. Dermawan. Kalo nggak sama Ustadz, mau sama siapa? Sama bencong Saqira itu? Hah?"
Kata "Saqira" disebut. Kirana langsung nengok. Nyubitan di pinggang makin kenceng. Sakitnya nancep ke tulang.
"Terus Nak..." Bik Asih bisik di kuping Kirana, pelan tapi nusuk. "Kalo kamu bilang nggak, pondok ini tutup Nak. 40 santri ngungsi Nak. Paman kamu dosa seumur hidup Nak. Kamu tega Nak? Kamu anak durhaka Nak?"
Kirana nengok ke Paman Syarif. Mau minta tolong. Mau bilang "Paman, Kirana nggak mau Paman".
Paman Syarif ngangkat muka. Matanya basah. "Nak... Paman tau ini berat Nak. Tapi Paman nggak bisa ngapa-ngapain Nak. Kalo Ustadz Yusuf marah, pondok tutup Nak. Paman dosa Nak kalo anak-anak itu jadi gelandangan gara-gara Paman."
Kalimat itu \= rantai. Ngiket mulut Kirana. Ngiket lidahnya.
Ustadz Yusuf senyum tipis. "Saya yakin Nak Kirana anak sholehah. Pasti nurut sama orang tua. Nurut sama ulama."
Kata "nurut" \= palu. _Duk. Duk. Duk._ Nancep ke kepala.
Kirana mau teriak "NGGAK USTADZ!". Tapi suaranya hilang. Tenggorokannya kayak diikat. 20 tahun diajarin: "anak sholehah nggak boleh lawan orang tua". 10 tahun diajarin: "kalo kamu ngomong, kamu durhaka".
Jadi yang keluar dari mulutnya cuma... diem. Diam. Air mata netes ke gamis putih. Basah.
Ustadz Yusuf ngira itu "iya". "Alhamdulillah kalo gitu. Saya pamit dulu Pak, Bu. 3 hari lagi saya balik bawa penghulu ya."
"Waalaikumsalam Ustadz" Bik Asih salim nunduk 90 derajat. "InsyaAllah Kirana mau Ustadz. Anaknya nurut banget Ustadz."
Mobil Pajero pergi. Debu beterbangan.
Paman Syarif langsung nunduk lagi. Nggak berani liat mata Kirana. "Maafin Paman Nak..." bisiknya pelan.
Bik Asih nyeret Kirana ke kamar. "Masuk! Mikir yang bener! Kalo 3 hari lagi kamu berani bilang nggak, Bibi sumpahin kamu! Kamu yang bikin 40 anak yatim telantar! Kamu tanggung jawab di akhirat!"
_Prak!_ Pintu dibanting. Digembok dari luar. _Krek._
Kirana jatuh duduk di dipan kayu. Lutut lecet. Tapi dia nggak ngerasain. Yang sakit dadanya.
_Kirana mau bilang nggak. Tapi Kirana nggak bisa ngomong. Mulut Kirana dikunci Paman. Kunci gemboknya dipegang Bibi._
_Kirana dipaksa "iya" padahal hati Kirana jerit "nggak"._
Itu lebih sakit dari dipukul. Karena sakitnya di dalem. Nggak ada yang liat.
----------------------------
3 hari itu \= neraka bisu buat Kirana.
Pintu gembok. Makan disodok lewat celah: nasi putih + sayur bening + ikan asin. Nggak ada lauk.
"Ini biar kamu mikir Nak!" Bik Asih teriak dari luar. "Mikirin Ustadz Yusuf! Mikirin pondok! Jangan mikirin bencong!"
Kirana mau sholat. Gelar sajadah. Tapi tiap dia "Allahu Akbar", Bik Asih teriak, "Sok sholehah! Kalo sholehah beneran, nurut! Bilang iya ke Ustadz!"
Akhirnya Kirana diem aja. Duduk di pojok. Peluk lutut. Nengok ke dinding.
Pukul 04.00 WIB. Kirana bilang "nggak". Nyawa Kirana berharga._
Kirana usap tulisan itu. Air matanya netes. Hurufnya luntur.
"Ya Allah... Kirana mau bilang nggak Ya Allah... tapi mulut Kirana dikunci Ya Allah... Kirana jahat ya Allah?" bisiknya sampe suaranya serak.
Malam ke-2, dia denger santri bisik di luar, "Kasian Ustadzah Kirana... mau dijodohin. Katanya dia diem aja. Berarti mau ya?"
"Berarti dia ikhlas ya? Anak sholehah mah gitu."
Kirana merem. Nahan nangis. _Kirana nggak ikhlas. Kirana nggak diem karena mau. Kirana diem karena mulut Kirana dikunci._
--------------------------
Beranda pondok masih bau kopi gula aren. Map coklat Ustadz Yusuf masih di meja. Belum dirapiin.
Paman Syarif duduk. Bahunya bungkuk kayak dipikul genteng. Matanya nggak berani natap Kirana.
"Jadi gimana Nak?" Paman Syarif nanya pelan. Suaranya serak. "3 hari ya Nak. Ustadz Yusuf balik lagi bawa penghulu Nak."
Kirana nunduk. Jilbab pudarnya nutupin muka. Tangannya remes ujung gamis sampe putih.
Di kepalanya muter: _Kalo Kirana bilang nggak sekarang, Bibi nyubit. Kalo Kirana bilang iya, hidup Kirana mati. Kalo Kirana diem, Paman nangis._
Dia narik napas. Dalem. Panjang. Sampe dadanya sakit.
"Paman..." suaranya keluar pelan. Gemeter. Hampir nggak kedengeran ketelen suara jangkrik. "Kirana... Kirana minta waktu 3 hari Paman... buat... buat mikir Paman..."
Bik Asih langsung nyubit lebih kenceng. "MIKIR APA LAGI! USTADZ KAYA GITU MASIH MIKIR! KURANG AJAR KAMU!"
Paman Syarif reflek megang tangan Bik Asih. "Udah Bu... biarin Kirana mikir. Nikah kan ibadah Bu. Nggak bisa dipaksa Bu"
Bik Asih ngedumel tapi lepasin cubitannya. "Ya udah. 3 hari ya Kirana. Kalo 3 hari lagi kamu bilang nggak, Bibi nggak tanggung jawab. Pondok bangkrut. Kamu dosa seumur hidup."
Kirana nggak jawab. Cuma angguk pelan. Sekali. Anggukannya kecil, kayak orang mau pingsan.
Paman Syarif liat keponakannya. Mata Kirana kosong. Nggak kayak anak 20 tahun. Kayak nenek-nenek 70 tahun yang udah capek hidup.
"Nak... kamu... kamu nggak apa-apa Nak?" tanya Paman Syarif pelan.
Kirana mau bilang "nggak apa-apa Paman". Tapi yang keluar cuma bisik, "Kirana mau ziarah ke makam Bapak Mama Paman... boleh ya Paman... hari ini Kirana di makam aja... mikir di sana Paman..."
Paman Syarif kaget. "Ziarah Nak?"
"Iya Paman... Kirana kangen Paman... Kirana mau minta petunjuk... ke Bapak Mama..." Air mata Kirana jatuh. Netes ke ubin.
Bik Asih mau bentak lagi, tapi Paman Syarif ngangkat tangan. "Udah Bu. Biarin. Anaknya kangen orang tuanya Bu. Wajar ."
Akhirnya Paman Syarif ngasih kunci gerbang belakang. "Hati-hati Nak. Pulang sebelum ashar ya Nak. Paman tungguin."
Kirana salim ke Paman Syarif. Cium tangannya lama. Kayak salim terakhir. "Makasih Paman..."
Terus dia jalan ke kamar. Ngambil jaket jeans Saqira. Nggak pake. Cuma digendong.
Bik Asih ngomel dari belakang, "Ziarah-ziarah! Alasan aja! Biar bisa ketemu bencong itu ya!"
Kirana diem. Nggak ngebales. Langkahnya keluar gerbang. Jalan ke arah makam umum Wonosari. 2 kilo dari pondok. Jalan kaki. Malem-malem.
Di kepalanya cuma satu: _Kirana nggak bisa bilang nggak ke Paman. Jadi Kirana minta waktu. 3 hari buat nangis. 3 hari buat mutusin mau jadi tumbal apa mau jadi manusia._
Jalan desa menuju makan . Cuma ada satu dua rumah warga. Anjing gonggong dari jauh.
Kirana jalan nyeker. Sandalnya ditinggal di pondok. Sengaja. Biar sakit kakinya ngalahin sakit dadanya.
Jaket jeans Saqira digendong di tangan. Wanginya udah ilang. Kayak pegang tangan orang. Dia gak tau kenapa jaket itu bisa menjadi kekuatan buat Zahira. Mungkin baru ada orang yang benar-benar peduli padanya.
"Ya Allah... Kirana takut Ya Allah... Kirana nggak mau nikah... tapi Kirana nggak berani bilang nggak Ya Allah..." bisiknya sambil jalan.
Setiap langkah \= 1 kata "nggak" yang ketahan di dada. _Nggak. Nggak. Nggak. Nggak._
Sampe di makam umum. Pagar besinya berkarat. Angker. Ada pohon beringin gede. Daunnya gerak-gerak kena angin, kayak orang ngelambai.
Kirana nyari makam Bapak Mama. Nisan kayu. Udah lapuk. Tulisan cat putihnya luntur:
_MUHAMMAD AGIL & SITI AMINAH_
_WAFAT 2016_
Kirana jongkok. Ngusap nisan pake tangan gemeter. Tanahnya dingin. Basah abis hujan malam.
"Bapak... Ma... Kirana dateng Ma... Pa..." bisiknya.
Awalnya dia diem aja. Cuma ngusap nisan. Nangis tanpa suara. Air matanya netes ke tanah. Nyampur sama tanah makam.
10 menit. 20 menit. 30 menit.
Terus bendungannya jebol.
Kirana nangis sejadi-jadinya. Nggak ditahan lagi. Nggak kayak di pondok yang harus pelan-pelan biar nggak kedengeran Bibi.
"NGGAK MA! KIRANA NGGAK MAU MA! KIRANA NGGAK MAU NIKAH SAMA USTADZ YUSUF MA!" teriaknya ke nisan. Suaranya pecah. Serak.
"Ustadz Yusuf tuh udah punya istri 3 Ma! Kirana jadi yang keempat ! Kirana jadi madu ! Kirana nggak mau dipoligami Ma! Kirana mau hidup ! Mau ngaji Ma! Mau ngajar TPA! Nggak mau jadi boneka di rumah gede Ma!"
Dia gebuk tanah makam pake tangan kosong. Kuku patah. Berdarah. Nggak kerasa.
"Bapak dulu bilang apa? Bapak bilang 'Kirana, ngaji tuh buat ngobrol sama Allah' ! Sekarang Kirana mau ngobrol sama Allah Pa! Kirana bilang ke Allah: Kirana NGGAK MAU PA!"
Hujan gerimis turun lagi. Dingin. Basahin jilbabnya. Basahin gamisnya. Tapi Kirana nggak bergeming.
"Mama dulu ngajarin Kirana sabar Ma. Tapi sabar ada batasnya Ma! 10 tahun Kirana sabar dibilang pembawa sial Ma! 3 hari ini Kirana sabar dikurung Ma! Sekarang Kirana nggak sabar lagi Ma! Kirana mau milih diri Kirana sendiri Ma!"
Dia peluk nisan itu kenceng. Kayak peluk Bapak Mama beneran. "Ma... Pa... doain Kirana Ma... Pa... Kasih Kirana kuat Ma... Pa... Kuat buat bilang 'nggak' ke Paman... Kuat buat nanggung dosa 'durhaka' Ma... Pa..."
Angin berhembus kenceng. Daun beringin bunyi _wusss... wusss..._
Kirana ngerasa kayak ada tangan dingin ngusap kepalanya. Wangi minyak kayu putih. Wangi Mama dulu kalo dia demam.
Dia berhenti nangis sebentar. Nengok ke kiri-kanan. Nggak ada siapa-siapa. Cuma makam.
Tapi di hatinya... anget. Anget kayak dipeluk.
"Ma... itu Mama ya Ma... Mama bilang Kirana boleh 'nggak' ya Ma... Mama bilang Kirana nggak durhaka ya Ma..." bisiknya.
Nggak ada jawaban. Cuma suara jangkrik. Tapi buat Kirana, itu cukup.
Dia duduk bersila. Nyender ke nisan. Jaket Saqira dipake, anget.
Dia nulis di dibuku Diarynya. Hurufnya belepotan, diguyur hujan jadi luntur.
_Ma, Pa, Kirana NGGAK mau nikah sama Ustadz Yusuf.
Kirana NGGAK ikhlas.
Kirana NGGAK ridho.
Kirana mau hidup.
Maafin Kirana kalo ini dosa Ma, Pa._
Nulisnya sambil nangis. Jadi tintanya belepotan. Huruf "NGGAK" dia tebelin 3 kali.
"Bapak dulu ngajarin Kirana nulis 'Bismillah' Ma. Sekarang Kirana nulis 'NGGAK' Ma. Maafin Kirana Ma. Kirana nggak sholehah lagi Ma."
Dia usap tulisan itu pake jari. Item. Kotor. Tapi dia senyum. Senyum pertama setelah 3 hari disekap.
"Ma, Pa... Kirana tau Paman dosa kalo pondok bangkrut Ma. Kirana tau Bibi ngamuk kalo Kirana nolak Ma. Tapi Kirana juga manusia. Kirana punya hati . Hati Kirana sakit Ma kalo dipaksa."
Dia diem lama. Nengok ke langit. Awan nutupin bintang. Gelap.
"Ma, Pa... Kirana nggak minta, Papa Mama hidup lagi. Kirana cuma minta izin Ma. Izin buat bilang 'nggak'. Izin buat milih hidup Ma."
Angin lewat lagi. Kali ini lebih kenceng. Bawa wangi melati. Wangi yang sama kayak pas Saqira nutupin dia pake payung pink.
************************