NovelToon NovelToon
GARIS WAKTU YANG PATAH

GARIS WAKTU YANG PATAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Misteri
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Hyouketsu no Namie

Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.

Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.

Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.

Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.

Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hidup yang Sudah Penuh

Arka tiba di "tempat biasa" mengikuti instingnya—kafe kecil di dekat taman kota, dengan kursi-kursi luar yang menghadap ke kolam buatan. Nadia sudah duduk di sana, melambai dengan senyum lebar saat melihat Arka.

"Kamu nggak akan percaya," kata Nadia begitu Arka duduk, matanya berbinar. "Aku dapet promosi! Mereka mau aku pindah jadi kepala tim—mulai bulan depan!"

Arka tersenyum, merasakan kehangatan yang tulus. "Beneran? Nad, itu bagus banget!"

"Aku tau! Aku masih nggak percaya." Nadia tertawa, lalu menatap Arka dengan ekspresi yang lebih lembut. "Tapi sebenernya, ada hal lain yang lebih pengen aku omongin."

"Apa?"

Nadia menggenggam tangan Arka di atas meja—gestur yang familiar, gestur yang Arka sekarang ingat sebagai bagian dari ritual mereka selama bertahun-tahun.

"Aku cuma mau bilang... makasih," kata Nadia. "Buat dua puluh tahun ini. Dari kita ketemu pertama kali waktu kecil, sampai sekarang. Aku kepikiran ini terus akhir-akhir ini—gimana hidup aku bisa beda banget kalau kita nggak ketemu hari itu, waktu keluargaku pindah."

Arka merasakan sesuatu mencengkeram dadanya—bukan kesedihan, tapi sesuatu yang lebih kompleks. Kesyukuran yang bercampur dengan kesadaran akan betapa rapuhnya semua ini, betapa hampir saja semua ini tidak ada.

"Aku juga," kata Arka, suaranya pelan. "Aku nggak bisa bayangin hidup tanpa kamu, Nad."

Nadia tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Kamu tau, waktu kecil, kamu bilang ke aku, 'besok main lagi, dan besoknya lagi, dan besoknya lagi.' Aku masih ingat itu. Dan ternyata... itu beneran jadi kenyataan, ya. Dua puluh tahun 'besok' yang nggak pernah berhenti."

Arka tertegun. Kata-kata itu—kata-kata yang dia ucapkan sebagai "Arka kecil" di masa lalu, sebagai bagian dari perjalanan waktunya—ternyata membekas begitu dalam di kehidupan Nadia, menjadi semacam fondasi dari segalanya.

"Nad," kata Arka, suaranya bergetar sedikit, "aku pengen kamu tau—apa pun yang terjadi, aku bersyukur banget punya kamu. Dalam bentuk apa pun. Dalam dunia apa pun."

Nadia mengangkat alis, tertawa kecil karena kalimat terakhir yang terdengar aneh. "'Dalam dunia apa pun'? Kamu lagi baca novel fiksi ya akhir-akhir ini?"

Arka tertawa, mengusap matanya yang mulai berair. "Mungkin."

Sore itu, mereka berjalan-jalan di taman, menikmati waktu yang sederhana—sesuatu yang dulu, di dunia lama, Arka selalu sulit lakukan karena selalu setengah hadir, setengah terjebak dalam masa lalunya sendiri.

Tapi sekarang, dia hadir penuh. Setiap detik terasa berharga—bukan karena dia takut akan kehilangan, tapi karena dia menghargai apa yang ada di depannya.

Malam itu, setelah mengantar Nadia pulang, Arka kembali ke apartemennya. Dia duduk di balkon, menyalakan rokok—kebiasaan lama yang masih ada—dan menatap kota yang sama, lampu-lampu yang sama.

Tapi pikirannya tidak lagi dipenuhi dengan rencana untuk "memperbaiki" sesuatu. Sebaliknya, dia memikirkan tentang Sera—Sera yang sekarang tidak ada dalam ingatannya yang baru, Sera yang mungkin hidup bahagia di dunia ini, tanpa pernah tahu beban yang pernah dia tanggung di dunia lain.

Apakah itu hal baik? pikir Arka. Atau apakah—di suatu tempat, di dunia ini—ada versi Sera yang masih merasakan sesuatu yang hilang, tanpa tahu apa itu? Seperti ruangan kosong di dalam dirinya yang tidak pernah dia mengerti kenapa kosong?

Pikiran itu mengganggu Arka lebih dari yang dia kira. Karena jika benar—jika setiap "perbaikan" hanya memindahkan rasa kosong itu dari satu orang ke orang lain, tanpa pernah benar-benar menghapusnya—maka mungkin tidak ada dunia yang benar-benar "sempurna." Hanya dunia-dunia dengan kekosongan yang berbeda, dipindahkan dari satu jiwa ke jiwa lain, seperti barang yang dipindah-pindahkan tanpa pernah dibuang.

Tiga hari kemudian, sesuatu terjadi yang membuat semua pertanyaan itu menjadi nyata.

Arka sedang berjalan-jalan di sebuah pasar buku bekas—kebiasaan baru yang dia temukan dalam ingatan barunya, sesuatu yang sering dia lakukan dengan Nadia di masa lalu—ketika dia melihat seseorang.

Seorang perempuan, berdiri di salah satu lapak, memilah-milah buku-buku lama. Rambut sebahu. Jaket abu-abu.

Jantung Arka berhenti sejenak.

Sera?

Perempuan itu mengangkat wajahnya—dan untuk sesaat, mata mereka bertemu.

Tapi tidak ada pengenalan di mata perempuan itu. Hanya tatapan singkat dari orang asing ke orang asing, sebelum dia kembali memilah buku-bukunya, lalu berjalan ke arah lain, larut ke dalam keramaian pasar.

Arka berdiri terpaku, jantungnya berdebar kencang.

Itu dia. Aku yakin itu Sera. Tapi dia... dia nggak kenal aku.

Dia ingin mengejarnya, ingin bertanya—apakah kamu pernah merasa kehilangan sesuatu yang nggak bisa kamu jelaskan? Apakah kamu pernah ngerasa kayak ada bagian dari hidupmu yang hilang, tapi kamu nggak tau apa?

Tapi dia menahan dirinya. Karena jika Sera di dunia ini hidup normal—jika dia tidak membawa beban tujuh belas perjalanan waktu—maka mendekatinya, membawa pertanyaan-pertanyaan itu ke dalam hidupnya, hanya akan menciptakan kebingungan yang tidak perlu. Mungkin bahkan menciptakan keretakan baru di dunia yang sudah, untuk saat ini, utuh.

Arka memilih untuk membiarkannya pergi.

Tapi malam itu, dia tidak bisa berhenti memikirkan satu hal: jaket abu-abu yang sama. Apakah itu kebetulan? Atau apakah—di setiap versi dunia, di setiap rantai kehidupan yang berbeda—ada sesuatu tentang seseorang yang tetap sama, semacam "inti" yang tidak berubah meski segala sesuatu di sekitarnya berubah total?

Dia tidak punya jawaban. Tapi pertanyaan itu menanam benih untuk sesuatu yang akan menjadi penting jauh di kemudian hari—gagasan bahwa mungkin, di balik semua perubahan, ada sesuatu yang konstan. Sesuatu yang menghubungkan semua versi dunia, semua versi orang-orang yang dicintai Arka, dengan cara yang tidak pernah dia pahami sepenuhnya.

1
Wawan
Salam kenal untuk Arka ✍️💪
HYOUKETSU NO NAMIE: Salam kenal juga kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!