Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Ritual
Dengan tubuh bersandar malas dan kaki terjulur ke depan, Emily duduk di kursi kulit hitam legam di ruang kerjanya, mencoba menenangkan denyut di pelipis yang pening akibat usai menghadapi dua menusia birahi di parkiran tadi.
Raphael dan Andrew.
Kedua nama itu kini terasa seperti mimpi buruk yang ingin ia usir sejauh mungkin dari hidupnya. Ironisnya, justru mereka yang harus ia hadapi hari ini, besok dan mungkin seterusnya. Karena Emily tahu, pria seperti mereka tidak akan menyerah begitu saja sebelum mendapatkan keinginannya.
Sialan. Dosa besar apa yang pernah ia lakukan sampai semesta menghukumnya dengan mempertemukan dia dengan dua anak setan itu? Padahal, selama orang tuanya masih hidup, ia ingat betul dirinya adalah anak penurut dan membanggakan.
Ia menghela napas panjang, mengetuk-ngetuk pelan jari-jari rampingnya yang dihiasi kuku rapi berlapis cat marun di atas meja, ingin melepaskan sisa kekesalan yang belum reda. Pun kemudian mengeluarkan ponsel yang tadi berhasil direbut kembali dari Raphael—dari dalam tas. Matanya menyipit kala menelusuri layar—ingin memastikan tak ada hal mencurigakan yang Raphael lakukan pada benda itu. Siapa tahu dia mencuri data penting, menyisipkan spyware, atau hal lainnya.
Ia amat-amati satu persatu dengan teliti. Sejauh Emily memeriksa, tak ada yang mencurigakan. Semuanya tampak normal. Untuk seorang Raphael yang terkenal gila, ini justru terasa aneh. Tapi setidaknya cukup membuatnya sedikit lega.
Namun, seperti yang sudah seharusnya ia sadari sejak awal, berpikiran positif terhadap pria itu adalah sebuah kesalahan bodoh. Dan benar saja, rasa lega itu berubah menjadi geram ketika ia membuka galeri dan mendapati serangkaian foto Raphael terpampang tanpa malu—pose-pose maskulin yang jelas disengaja, menampilkan tubuh berotot, dada bidang berbulu tanpa balutan.
Pamer yang menjengkelkan.
Emily mendecak kesal, jemarinya menggulir layar dengan kasar. "Narsis tingkat dewa. Dia pikir aku akan terangsang melihat ini?" ucapnya muak pun geli.
Ia terus menggulir layar dengan cepat dan kesal, kukunya nyaris mencakar permukaan ponsel karena jumlah foto itu benar-benar keterlaluan. Wajah Raphael—dengan seringai percaya diri yang menyebalkan—muncul satu per satu, seakan sedang memamerkan diri layaknya model murahan yang menjajakan katalog jasanya. Semua pose itu dimaksudkan untuk terlihat menggoda, namun di mata Emily yang ada justru menjijikkan.
Cih.
Sampai akhirnya, tanpa sengaja, sentuhannya memutar sebuah video pendek. Layar berubah gelap sesaat, sebelum suara berat Raphael dan visual yang muncul membuat dahi Emily mengernyit.
Tampil di layar sosok Raphael yang gagah, tubuhnya sedikit berkeringat hingga kulitnya tampak mengilap di bawah cahaya remang ruangan yang tampaknya adalah gym pribadi miliknya. Dalam video itu, ia mendekatkan wajahnya ke arah kamera sambil menggendong seekor kucing hitam berbulu lebat, cantik, dan tampak sangat patuh di bawah belaian jemarinya yang besar.
Satu sisi dari Raphael yang tampak lembut dan gentleman, memperlakukan hewan itu dengan kasih sayang. Namun di sisi lain, aura maskulinnya yang pekat tetap mendominasi—dari cara ia duduk terlihat santai tapi bak tuan besar yang penuh kendali, hingga ekspresi wajahnya yang sedikit mengejek, percaya diri bahwa pesonanya tak bisa terkalahkan.
"Suatu hari nanti... bukan kucing ini yang kugendong seperti ini..." Raphael menatap lurus ke arah kamera, seolah tahu Emily sedang menyaksikannya. Seringai samar di sudut bibir, mata gelap penuh dominasi, pun suaranya terdengar serak dan berat.
Terlihat ia menunduk sedikit, mengusap lembut bulu si kucing yang meringkuk nyaman di dadanya, lalu menatap kembali ke layar.
"Tapi kau, Emily. Kugendong, ku elus perlahan seperti ini... kau tidur di pangkuanku, di dadaku... ku belai dengan tanganku, kusentuh setiap jengkal tubuhmu sampai kau tak bisa membedakan apakah itu mimpi atau nyata." Ia terkekeh pelan, rendah, menggoda, "Dan kau akan mendengkur manja di pelukanku, seperti ini... setelah kuteriakkan namamu di antara kelelahanmu."
Pekik kecil lolos dari bibir Emily saat suara Raphael dalam video menggema di telinganya, begitu menjijikkan, menodai mata dan telinganya dengan fantasi gila yang tak layak ia lihat. Ia buru-buru menutup video itu, wajah memanas karena jengah dan terusik.
"Orang gila," ujarnya sendirian.
"Nona..."
Sebuah suara lirih terdengar dari sisi wajahnya membuat Emily kaget, menoleh cepat, dan terlonjak ke belakang kursinya ketika mendapati Ceysa sudah membungkuk dekat, wajah mereka hanya beberapa senti berjauhan.
"Kenapa kau tiba-tiba ada di sini?! Astaga, Ceysa! Kau membuatku hampir terkena serangan jantung!" tegurnya melotot, masih menahan napas.
Ceysa segera menegakkan tubuhnya dan menunduk sopan. "Maaf, Nona. Aku sudah mengetuk pintu dan memanggil namamu beberapa kali tapi Nona tidak juga menyahut. Aku pikir terjadi sesuatu."
Emily menghela napas berat sambil memijat dahi, lelah sekali karena kekacauan pagi itu. Ia heran pada dirinya sendiri—benarkah ia sampai tak menyadari kedatangan Ceysa hanya karena terlalu fokus pada Raphael dan segala kegilaan pria itu di ponselnya? Ia menggeleng pelan, menepis pikiran itu jauh-jauh.
"Kenapa, Nona? Kau sakit kepala? Perlu aku ambilkan obat?"
Emily mengangkat tangannya, menolak. "Tidak. Tidak perlu. Aku baik-baik saja," ujarnya, lalu merapikan lipatan pakaiannya dan kembali menatap Ceysa. "Bagaimana keadaan mereka?"
"Tidak ada kejadian apa pun di parkiran, Nona. Tidak ada Tuan Andrew, juga tidak terlihat Tuan Raphael."
Mendengar itu, kening Emily mengerut. Tadi ia memang menyuruh Ceysa untuk mengecek situasi di parkiran setelah dirinya melarikan diri dari tempat itu—terlalu ngeri menyaksikan dua pria penuh hasrat dan ego itu saling menatap seolah hendak membunuh. Ia begitu muak dan takut hingga langsung masuk lift dan meninggalkan mereka. Tapi kini, lima belas menit kemudian, tidak ada jejak apa pun? Aneh sekali.
"Kau yakin?"
Ceysa mengangguk mantap, membuat Emily mengalihkan pandangan ke depan menatap lurus lalu bersandar pada kursinya, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Melihat itu, Ceysa menarik kursi mendekat dan duduk di sebelah Emily, memanggil sang bos pelan, "Nona... psst..."
Emily menoleh malas. "Apa lagi?"
"Galak sekali," batin Ceysa mencibir pun kemudian mencondongkan tubuh. Wajahnya tampak sumringah dan bersemangat. "Apa Nona benar-benar memakai jasa Tuan Raphael untuk melawan Tuan Andrew?"
Emily menaikkan alis. Tiba-tiba sekali.. Tuhan, jangan bilang perempuan ini salah satu dari pengagum Raphael juga. Sungguh bila benar, katarak kah matanya?
"Memangnya kenapa?" sahutnya datar.
Ceysa berbisik serius. "Temanku pernah memakai jasanya... dan dia sungguh hebat, Nona. Tak lama, kasus temanku langsung dimenangkan."
Emily masih diam, menyimak.
"Dan dia tak hanya hebat di persidangan..." Ceysa terjeda sejenak, ragu-ragu. "... dia juga hebat di ranjang."
Emily memutar kepalanya cepat, menatap Ceysa tajam membuat perempuan itu menelan ludah.
Buru-buru Ceysa menambahkan, "...kata temanku hehehe.." sambil menjauhkan wajahnya sedikit canggung.
"Hebat di ranjang?" ulang Emily dengan nada sarkas dan ekspresi mengejek.
Ceysa mengangguk cepat, polos.
"Temanmu menyerahkan dirinya pada Raphael? Dengan sukarela?" tanya Emily lagi, tak percaya.
Lagi-lagi Ceysa mengangguk cepat.
"Kenapa dia mau?"
Ceysa mengangkat bahu. "Kenapa dia harus tidak mau? Semua wanita menginginkan Tuan Raphael, Nona, Dia tampan, berkarisma, kaya, dan... besar."
"Besar?"
"Maksudku, tubuhnya, Nona."
Emily menghela napas, malas menanggapi.
"Temanku sangat beruntung." Mata Ceysa kini berbinar terang—seolah diam-diam berharap gilirannya akan tiba, untuk bisa disentuh pria itu dan dipeluk. Sungguh menyedihkan. Betapa rendahnya standar wanita zaman sekarang.
Emily mendesis pelan. "Menyerahkan martabatmu demi menjadi salah satu mainan sementaranya kau sebut keberuntungan? Sungguh menyedihkan."
...•••...
Pintu besar mansion itu dibukakan lebar kala Raphael turun dari mobilnya. Para pelayan segera bergegas menyambut, memberikan hormat, membantu melepaskan jasnya, dan membawa tasnya dengan sigap. Tanpa menyapa, Raphael melangkah masuk, duduk di single sofa favoritnya. Dengan sedikit malas, ia melonggarkan dasi, sementara seorang pelayan lain berlutut di hadapannya, siap membukakan sepatu dan melepas kaus kakinya seperti biasanya, ritual harian yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
"Tuan..." salah seorang pelayan pria melapor dengan menunduk hormat. "Tuan Dos dan Tuan Muda sudah tiba. Mereka menanti di ruang pertemuan."
Langsung, Raphael bangkit dari duduknya, menjulang tinggi dan tenang. Ia meraih gelas kristal di atas nampan, meneguk isinya sampai habis. Setelahnya, ia melangkah menuju ruang tersebut, seraya menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku.
Begitu ia membuka pintu ruang pertemuan, matanya langsung menangkap pemandangan yang memancing urat sabarnya. Renzo, sang adik tengah, duduk santai dengan kaki terangkat seenaknya ke atas meja marmer antik miliknya. Asap rokok melayang dari jemari pria itu.
"Renzo," suara Raphael terdengar berat. "Turunkan kakimu itu atau akan kupatahkan. Sudah berapa kali aku bilang, jangan sembarangan meletakkan kakimu di barang-barangku."
Itulah sambutan pertamanya.
Renzo mendengus. "Come on, kau memang menyebalkan," gumamnya pelan, menurunkan kaki. "Berapalah harga meja sialan ini. Aku pun juga bisa membelinya."
Sementara itu, Reynard—yang sejak tadi tenggelam dalam pekerjaannya di sisi lain ruangan—menutup MacBook-nya perlahan, melepas kacamata, dan menatap Raphael yang baru saja tiba.
"Tak biasanya kau pulang terlambat tanpa memberi kabar. Ada masalah?" tanyanya.
"Benar," Renzo menyela cepat. "Terutama mengingat kau sendiri yang menjadwalkan pertemuan ini. Dan sekarang malah datang terlambat satu jam."
Raphael tak menjawab. Ia hanya mengambil tempat untuk duduk di sebelah Renzo, menyulut sebatang rokok di sela jarinya, lalu menyandarkan tubuh di atas sofa tanpa ekspresi.
Renzo memperhatikannya lekat-lekat, pun kemudian menyipitkan mata dengan senyum geli di sudut bibir. "Tunggu sebentar, biar kutebak. Ini pasti soal wanita, bukan? Don't tell me—wanita yang kau tiduri gagal memuaskanmu?"
Raphael tetap diam, hanya menghisap rokoknya perlahan, dalam-dalam.
*"Astaga, jangan bilang ini soal.. who was it again? *Nona Emily Cooper?" Renzo lanjut, kini semakin jahil dengan tawa menyebalkannya. "Yang itu, ya... yang kemarin datang ke kantormu dengan wajah jutek tapi bokongnya terlihat mantap. Bukankah dia fantasimu, Brother? Apa yang terjadi? Tidak sebagus bayanganmu?"
Wajahnya mendekat, menyeringai bak bocah nakal.
Raphael mendadak menoleh cepat dan menampar kepala Renzo dengan telapak tangannya yang besar. "Shut the fuck up! Mulutmu bau neraka."
Renzo meringis sambil mengusap kepalanya, perih. "Sembarangan, memangnya kau pernah ke neraka, hah?!"
Raphael tidak menggubris.
"Beginilah ciri-ciri pria yang tak puas di atas ranjang. Moody dan menyebalkan." Renzo kembali menyulut.
"Can't you fucking shut up for once? Satu kata lagi keluar dari mulut brengsekmu, akan ku kembalikan kau ke rahim ibumu."
Renzo mengangkat alis. "Itu juga rahim ibumu, pintar! Jangan lupa kita berasal dari rahim yang sama."
Menghela pelan, Reynard menatap dua pria dewasa di depannya dengan lelah. Dan terjadi lagi, dan lagi. Dua kakaknya itu memang tak pernah benar-benar akur. Di luar, mereka tampil sempurna, begitu powerful, elite, dihormati. Tapi di balik itu, Raphael dan Renzo tak ubahnya anak-anak sialan yang sering bertengkar.
"Burungmu," lanjut Renzo sambil terkekeh. "Pasti akan dapat sangkar yang layak. Stop being so dramatic." Kemudian dengan sengaja ia menepuk bagian vital Raphael yang membuat pria itu meringkuk cepat, kontan memegangi miliknya sendiri.
"Kau GILA!" geram Raphael, naik pitam.
"Enough," sela Reynard tegas. "Bisakah kita langsung ke intinya? Aku punya pekerjaan lain yang harus kulakukan."
Meski masih saling lempar pandang dengan intens, Raphael akhirnya menarik napas panjang, menenangkan diri. Bedebah sialan itu akan habis nanti.
Tatkala suasana sedikit mereda dan mereka bersiap memulai diskusi, Raphael berkata setelah mengembuskan asap rokoknya ke lain arah.
"Aku belum meniduri wanita itu."
Renzo menoleh cepat. "Wait, what? Seriously, brother? That's not very you. Seorang Raphael Walter biasanya meniduri siapa pun yang dia mau dalam hitungan menit."
Raphael menyeringai kecil, matanya menatap lurus ke depan seolah melihat sesuatu jauh di sana. "I enjoy the ritual," gumamnya rendah—dan hanya dia yang tahu apa arti perkataanya itu.