"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Malam Pertama Yang Kau Abaikan
Alin menegakkan tubuhnya, meluruskan kebaya putihnya yang kini sudah kusut di beberapa bagian. Ia menatap Cindy lurus-lurus ke dalam manik matanya. "Tidak perlu minta maaf, Mbak Cindy. Rumah ini cukup besar untuk menampung siapa saja yang butuh bantuan. Kamar mandinya ada di sebelah kiri, handuk bersih ada di dalam lemari kecil itu. Saya permisi ke atas dulu."
Suara Alin terdengar begitu tenang, terlampau tenang untuk seorang pengantin wanita yang pernikahannya baru saja dihancurkan. Ketenangan Alin justru membuat Elang yang sedang membenarkan posisi bantal Ega mendadak menghentikan gerakannya. Pria itu menoleh, menatap Alin dengan dahi yang berkerut kecil, seolah terkejut dengan respons istrinya yang sama sekali tidak meledak-ledak atau menangis histeris seperti wanita pada umumnya jika berada di posisi ini.
Alin tidak memedulikan tatapan Elang. Ia membalikkan badan dan melangkah keluar dari kamar tamu, menaiki satu demi satu undakan tangga menuju lantai dua. Setiap langkahnya terasa sangat berat, seolah kain jarik yang dia kenakan bertambah beban hingga beratus-ratus kilogram.
Sesampainya di dalam kamar utama, Alin langsung mengunci pintu dari dalam. Kamar itu sangat luas, didominasi warna putih dan emas. Sebuah ranjang berukuran king size dengan hiasan kelopak mawar merah yang membentuk lambang hati tampak kontras di tengah ruangan. Di sudut kamar, terdapat beberapa hantaran pernikahan dan buket bunga yang dikirimkan oleh teman-teman kuliahnya.
Alin berjalan menuju meja rias. Dia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Riasan wajahnya masih menempel, namun binar di matanya sudah mati. Dengan jemari yang gemetar, Alin mulai melepas satu per satu bros emas yang menyematkan kebaya pengantinnya. Begitu kebaya beludru putih itu terlepas dan menyisakan manset dalamnya, Alin terduduk di lantai berkarpet bulu di samping ranjang.
Ia tidak menangis dengan suara histeris. Alin hanya memeluk lututnya sendiri, membiarkan air mata yang sejak sore tadi dia tahan mengalir deras tanpa suara, membasahi pipinya hingga merusak sisa riasan pengantinnya. Di malam yang seharusnya menjadi malam paling membahagiakan dalam hidupnya, Alin justru harus berbagi rumah dengan masa lalu suaminya yang masih hidup dengan sangat subur di hati pria itu. Di lantai bawah, suaminya mungkin sedang menatap wanita lain dengan penuh cinta, sementara di sini, Alin mulai menyusun kepingan rencana untuk melepaskan diri dari lingkaran takdir yang salah ini.
***
Beberapa saat kemudian ....
Bunyi gemericik air dari pancuran kamar mandi lantai dua mengalir konstan selama hampir tiga puluh menit, beradu dengan sunyinya malam yang kian larut. Di dalam ruangan berbalut keramik abu-abu itu, Alin berdiri mematung di bawah guyuran air dingin. Ia sengaja tidak menyalakan pemanas. Rasa sedingin es yang merayapi kulitnya seolah menjadi satu-satunya hal yang bisa mematikan rasa sakit yang sejak sore tadi menghujam ulu hati satunya.
Dengan jemari yang gemetar, Alin menggosok wajahnya dengan kasar, mencoba meluruhkan sisa-sisa pulasan riasan pengantin yang masih menempel di pipi dan sekitar matanya. Air yang mengalir di bawah kakinya berubah warna menjadi keruh oleh sisa kosmetik, mengalir masuk ke dalam lubang pembuangan—sama seperti harapan pernikahan indahnya yang runtuh dalam sekejap mata. Rambutnya yang panjang kini basah kuyup, menempel di punggungnya yang bergidik kedinginan. Namun, Alin tidak peduli. Rasa dingin di tubuhnya sama sekali tidak sebanding dengan rasa hampa yang membeku di dalam dadanya.
Setelah mengeringkan tubuh, Alin memakai sepasang baju tidur berbahan katun biasa berwarna biru pudar yang longgar. Ia sengaja melewati gaun tidur satin putih gading—hantaran pernikahan pilihan Nenek Aisyah yang masih tersimpan rapi di dalam kotak beludru di atas meja rias. Gaun indah itu terasa terlalu sarkas untuk dikenakan malam ini.
Alin melangkah mendekati ranjang berukuran king size di tengah kamar. Lambang hati dari taburan kelopak mawar merah yang disiapkan oleh perias hotel kini tampak begitu menyedihkan. Alin tidak berniat membersihkannya atau mengaguminya. Dengan gerakan lambat, ia menyibak selimut tebal di sisi kiri ranjang, merebahkan tubuhnya yang teramat lelah, lalu menarik kain tebal itu hingga sebatas dagu.
Gadis itu membalikkan tubuhnya menghadap ke jendela besar yang langsung mengarah ke halaman kosong, membelakangi pintu kamar yang terkunci rapat. Matanya menatap kosong pada tirai abu-abu yang bergoyang pelan ditiup angin AC. Di malam yang seharusnya dipenuhi oleh debar canggung malam pertama pasangan baru, Alin justru hanya ditemani oleh detak jarum jam dinding yang terasa monoton dan menyiksa. Ia memejamkan mata dengan rapat, menolak untuk berharap mendengar suara derap langkah kaki Mas Elang menaiki tangga, apalagi berharap mendengar suara ketukan di pintu kamar yang awalnya dijanjikan hanya untuk mereka berdua. Alin memilih tidur, menenggelamkan seluruh kesadarannya agar rasa sakit ini bisa berhenti menyiksanya, walau hanya untuk beberapa jam.
Sementara itu, di lantai bawah, atmosfer rumah baru itu dipenuhi oleh kecemasan yang berpusat di kamar tamu. Suara deru mobil yang berhenti di halaman depan menandakan kedatangan dokter pribadi keluarga Elang yang dipanggil secara mendadak tengah malam.
Dokter paruh baya bernama Hermawan itu melangkah masuk dengan tas medisnya, memeriksa kondisi Ega yang masih meracau kecil dalam tidurnya. Elang berdiri di sisi ranjang dengan kedua tangan bersedekap di dada, matanya tidak berkedip memperhatikan setiap gerakan stetoskop dokter pada dada bidang bocah kecil itu. Di seberang ranjang, Cindy duduk bersimpuh di lantai, meremas jemarinya sendiri dengan wajah yang pucat dan mata yang berkaca-kaca, memainkan peran sebagai ibu yang hancur melihat kondisi anaknya.
"Demamnya cukup tinggi, mencapai tiga puluh sembilan derajat. Ini akibat kelelahan fisik dan stres lingkungan," ujar Dokter Hermawan sambil merapikan kembali peralatannya dan menuliskan beberapa resep obat di secarik kertas. Ia menoleh ke arah Elang dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebagai dokter keluarga, ia tentu tahu hari ini adalah hari pernikahan Elang. "Saya sudah berikan suntikan penurun panas. Obat sirupnya harus diminum teratur setelah ia bangun besok pagi. Pastikan ia tidak dehidrasi, Elang."
"Baik, Dok. Terima kasih banyak sudah datang malam-malam begini," sahut Elang, suaranya baritonnya terdengar serak karena kelelahan yang menumpuk.
Setelah mengantar Dokter Hermawan keluar hingga ke teras depan, Elang kembali melangkah masuk ke kamar tamu. Ia mendapati Cindy sedang mencoba mengompres dahi Ega dengan selembar handuk kecil yang basah.
"Mas Elang ...," Cindy mendongak, suaranya bergetar parah, terdengar begitu ringkih dan membutuhkan perlindungan. "Sebaiknya Mas Elang naik ke atas. Mas beristirahatlah di kamar ... Alin pasti sudah menunggumu sejak tadi. Ini malam pertama kalian, Mas. Aku benar-benar merasa berdosa jika menahanmu di sini."
Cindy berucap dengan bibir yang bergetar, tatapan matanya dipenuhi rasa bersalah yang teramat dalam. Ia bahkan sempat memalingkan wajah, seolah tidak sanggup menatap mata Elang karena didera rasa sungkan yang luar biasa sebagai orang asing di rumah itu.
Namun, Elang justru menghela napas panjang. Pria berusia tiga puluh tahun itu melangkah mendekati ranjang, lalu merebut perlahan handuk kecil dari tangan Cindy. "Tidak, Cindy. Ega lebih utama sekarang. Kondisinya belum stabil, napasnya masih terlalu cepat."
Bersambung ...