NovelToon NovelToon
Suami Yang Tak Di Inginkan

Suami Yang Tak Di Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26 : Masih Canggung

Suasana ruangan masih dipenuhi isak haru setelah akad dinyatakan sah. Queen duduk diam di tempatnya. Tangannya masih terasa dingin. Bahkan sampai sekarang ia masih merasa semua ini seperti mimpi yang berjalan terlalu cepat.

Sampai suara penghulu kembali terdengar lembut. "Selamat kepada kedua mempelai."

Tepuk tangan pelan terdengar dari para tamu.

Kemudian tibalah prosesi penyerahan buku nikah dan penandatanganan dokumen. Revan menandatangani berkas terlebih dahulu dengan tangan yang terlihat jauh lebih tenang dibandingkan isi hatinya.

Setelah itu giliran Queen. Saat namanya dipanggil, wanita itu berdiri perlahan. Kakinya terasa ringan sekaligus lemas.

Anggi yang duduk tidak jauh darinya langsung berbisik. "Tenang Queen."

Queen melirik sahabatnya.."Gue kayak mau pingsan."

Anggi menahan tawa. "Jangan pingsan. Malu."

Queen langsung mendelik.

Beberapa menit kemudian semua dokumen selesai ditandatangani. Penghulu tersenyum hangat. "Mulai hari ini, Saudara Revan memiliki kewajiban membimbing dan menjaga istrinya."

Revan mengangguk pelan. "Saya paham."

Lalu penghulu menoleh kepada Queen. "Dan Saudari Queen, mulai hari ini Saudara Revan adalah suami Anda."

Queen terdiam beberapa detik. Kemudian mengangguk kecil. "Iya."

Entah kenapa kata sederhana itu membuat jantungnya kembali berdebar. Setelah prosesi administrasi selesai, tibalah momen yang paling ditunggu para tamu.

Prosesi temu pengantin. Queen berdiri di depan, sedangkan Revan berjalan mendekat. Kini mereka berdiri berhadapan tanpa pembatas apa pun. Suasana mendadak menjadi hening. Queen menatap pria di depannya.

Jas putih gading itu membuat Revan terlihat berbeda dari biasanya. Tidak ada meja dosen, tidak ada ruang bimbingan skripsi, dan tidak ada suasana kampus. Yang ada hanya seorang pria yang beberapa menit lalu mengucapkan ijab kabul untuknya.

Sedangkan Revan juga menatap Queen cukup lama. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan. Namun semua kata itu seolah menghilang saat melihat mata wanita di depannya.

"Pak Revan..." gumam Queen tanpa sadar.

Kevin yang mendengar langsung menutup wajahnya. "Ya ampun."

Beberapa tamu mulai tertawa kecil. Anggi bahkan hampir tersedak.

Queen langsung sadar. Matanya membulat.

"Eh..."

Wajahnya langsung memerah. Ibu Farah sampai tertawa sambil mengusap air mata. "Sayang."

Queen semakin panik. "M-maaf."

Revan akhirnya tersenyum kecil. Senyum yang sangat jarang terlihat. Dan senyum itu membuat beberapa sepupu Queen langsung saling cubit.

"Ya Allah."

"Kak Revan senyum."

"Bukti langka."

Kevin sampai geleng-geleng kepala. Sedangkan Queen justru semakin malu. Penghulu kemudian mempersilakan prosesi pemasangan cincin.

Revan mengambil cincin terlebih dahulu, tangannya terulur perlahan. Saat jemarinya menyentuh tangan Queen, keduanya sama-sama sedikit terdiam.

Queen bahkan merasa jantungnya hampir loncat keluar. Dengan hati-hati Revan memasangkan cincin itu ke jari manisnya. Tepuk tangan langsung memenuhi ruangan.

Kemudian giliran Queen. Dengan gugup ia memegang tangan Revan. Namun karena terlalu gugup, cincin itu hampir jatuh.

"Astaga!" bisik Queen.

Anggi langsung menutup mulut agar tidak tertawa. Kevin bahkan sudah menunduk menahan bahu yang bergetar. Untungnya Queen berhasil memasang cincin itu sebelum benar-benar jatuh.

"Huft..."

Tepuk tangan kembali terdengar.

Lalu tibalah prosesi sungkeman. Momen yang langsung membuat suasana berubah haru. Queen berjalan menghampiri kedua orang tuanya. Begitu berlutut di hadapan Pak Arman dan Ibu Farah, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh.

"Ma..."

Ibu Farah langsung menangis.

Queen memeluk ibunya erat. "Terima kasih..." Suaranya pecah. "Untuk semuanya."

Ibu Farah mengusap rambut putrinya sambil menangis. "Bahagia ya, Sayang."

Queen mengangguk sambil terisak.

Lalu ia berpindah ke hadapan Pak Arman. Pria itu berusaha tersenyum. Namun matanya sudah merah sejak tadi.

"Pa..."

Pak Arman mengusap kepala putrinya. "Papa bangga sama kamu."

Kalimat itu langsung membuat tangis Queen pecah semakin keras. Ruangan kembali dipenuhi air mata. Bahkan Anggi yang sejak tadi merekam sudah menangis sambil sesenggukan.

"Aduh mascara gue..."

Kevin langsung menyerahkan tisu. "Nih."

"Makasih Ka."

"Tapi tetap jelek nangisnya."

"Ka Kevin!"

Tak lama kemudian, Queen kembali berdiri. Matanya masih merah karena menangis. Lalu tanpa sadar ia menoleh ke samping. Ke arah Revan, pria itu sudah berdiri tepat di sampingnya. Kini Revan mengulurkan tangannya. Bukan sebagai dosen, bukan sebagai pembimbing skripsi, melainkan sebagai suaminya.

Untuk beberapa detik, Queen hanya menatap tangan yang terulur di hadapannya. Tangannya sedikit gemetar, entah karena gugup atau karena akhirnya ia benar-benar menyadari bahwa semua ini nyata.

Perlahan Queen mengangkat tangannya sendiri. Lalu dengan penuh hormat ia menundukkan kepala dan mencium punggung tangan Revan.

Suasana ruangan langsung kembali hening. Beberapa tamu tersenyum haru. Ibu Farah kembali mengusap air matanya. Pak Arman menundukkan kepala sesaat sambil menarik napas panjang.

Sedangkan Queen masih menunduk. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melakukan itu bukan kepada dosen pembimbingnya. Melainkan kepada suaminya.

Revan yang berdiri di hadapannya terlihat terdiam beberapa saat. Tatapannya tidak pernah lepas dari wanita yang kini sudah sah menjadi pendamping hidupnya.

Wanita yang selama ini selalu membuatnya pusing. Yang selalu berdebat dengannya. Yang selalu datang ke ruang bimbingan dengan seribu alasan. Namun justru wanita itulah yang kini berdiri di hadapannya.

Perlahan Revan mengangkat kedua tangannya dan memegang wajah Queen dengan sangat hati-hati. Queen langsung membeku. Jantungnya berdebar semakin cepat, matanya perlahan terangkat menatap pria di depannya.

Untuk sesaat dunia seolah menghilang, tidak ada siapapun. Yang ada hanya mereka berdua. Dan kemudian... dengan begitu lembut, Revan menundukkan kepalanya lalu mengecup kening Queen.

Cup.

Seketika tepuk tangan memenuhi ruangan.

"Masya Allah..."

"Ya Allah, manis banget."

"Aku nangis lagi..."

Suara haru terdengar dari berbagai sudut ruangan.

Anggi yang sejak tadi merekam langsung menjerit pelan sambil menangis. "Aaaaa... gue nggak kuat!"

Kevin sampai menutup wajahnya. "Biarin lah udah resmi ini."

"Apa?" tanya Anggi sambil sesenggukan.

"Adik gue udah beneran jadi istri orang."

Anggi malah menangis semakin keras.

Sedangkan Queen, wajahnya sudah merah sempurna. Bahkan setelah Revan menjauh sedikit, ia masih mematung di tempat. Revan menatapnya lalu tersenyum tipis. Senyum kecil yang membuat beberapa sepupu Queen langsung heboh lagi.

"Tolong dong fotoin."

"Kak Revan senyum lagi!"

"Bukti langka kedua hari ini!"

Kevin langsung menggeleng pasrah. Sementara Queen hanya bisa menunduk malu.

"Pak Revan..." gumamnya pelan.

Revan mengangkat alis. "Hm?"

Queen langsung tersadar, lalu membeku. Ruangan mendadak sunyi selama dua detik. Kemudian...

"Hahahahahaha!" Tawa pecah di seluruh ruangan.

Kevin hampir jatuh dari kursinya. Anggi sampai jongkok sambil memegangi perutnya.

"Queen!"

"Woy!"

"Udah nikah masih manggil Pak Revan!"

Queen langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Astaga..."

Wajahnya semakin merah.

Ibu Farah bahkan tertawa sambil menangis. "Sayang, sekarang dia suami kamu."

Queen ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. Sedangkan Revan justru terlihat menahan senyum. Lalu dengan suara rendah yang hanya bisa didengar Queen, pria itu berkata pelan, "Panggil Mas saja."

Queen menatapnya bingung.

Revan tersenyum lembut. "Kamu boleh panggil saya Mas."

Dan entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat jantung Queen kembali berdebar jauh lebih kencang daripada saat ijab kabul tadi.

1
Amoera
Queen jangan khianatin pak Revan. kasian dia. lagian mau aja sama sih mokondo🤣
Arditya
cie... akhirnya nikah juga🤭
It's me Sky: hhheeee🤣
total 1 replies
Arditya
sejauh ini keren banget thoor👍
Siska Amelia
good
It's me Sky: terimakasih kaka🙏
total 1 replies
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉






Saling support sabi kali ya😉
It's me Sky: wihh makasih kakak/Smile/
total 1 replies
Reichan Muhammad
ya ampun torrr keren bgttt kmu punya 4 novel yg on going semua
It's me Sky: iya kakak, selama lagi ada ide jalan terus🤭
total 1 replies
Arditya
jadi inget inggit dan mas Arya, tapi ini kemasannya beda top lah thoor👍
It's me Sky: wkwkwkwkwk🤭
total 1 replies
Arditya
wajah di baca ini cerita menarik banget, remajanya dapet kisahnya fresh. suka sma Revan dan Queen. sukses thoor/Smile/
It's me Sky: makasih bnyk/Hey/
total 1 replies
Arditya
seru banget thoor😍
It's me Sky: wihhh makasihhh/Tongue/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!