“Mereka tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Mereka ditakdirkan untuk menguasainya.”
Di depan publik, Kael Arden adalah Perdana Menteri termuda yang sempurna—dingin, klimis, dan jenius politik yang tak tersentuh. Namun, reputasi itu hancur saat Aurelia Vane, CEO Vane Group sekaligus Ratu dunia bawah tanah, mempermalukannya di panggung internasional. Bagi Kael, Aurelia adalah ancaman negara yang harus dihancurkan. Bagi Aurelia, Kael hanyalah pria sombong yang perlu diajari cara berlutut.
Perang ego di depan kamera berubah menjadi obsesi gelap di balik pintu tertutup. Dari ruang kerja yang sunyi hingga pesta pelelangan rahasia, setiap konfrontasi verbal mereka selalu berakhir dengan ketegangan sensual yang menyesakkan napas. Kael yang terbiasa mengendalikan negara justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara Aurelia dengan manipulatif memanfaatkan hasrat pria itu untuk menghancurkan pemerintahannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Men Who Orbit Her
Pukul delapan malam di The Obsidian Lounge, sebuah klub eksklusif yang bertengger di lantai bawah tanah tersembunyi pusat kota. Tempat ini bukan sekadar bar; ini adalah katedral bagi para pendosa kelas atas, tempat di mana kesepakatan bernilai miliaran dolar ditandatangani dengan tinta darah dan wiski langka.
Kael Arden berdiri di depan cermin besar di foyer klub tersebut. Ia mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna biru midnight yang dijahit khusus di London. Rambutnya, seperti biasa, tertata sangat rapi, klimis dengan bantuan pomade beraroma cedarwood yang maskulin. Tidak ada satu pun lipatan pada kemeja putihnya yang kaku. Ia tampak seperti seorang dewa hukum yang tersesat di sarang penyamun.
Namun, di balik penampilannya yang sempurna, Kael bisa merasakan denyut nadi di pelipisnya. Ia tidak datang ke sini sebagai Perdana Menteri. Ia datang sebagai seorang pria yang didorong oleh obsesi yang sudah melampaui batas kewajaran.
Langkah kakinya yang terukur membawanya masuk ke ruang utama yang remang-remang, dihiasi oleh lampu neon merah redup dan asap cerutu yang menggantung seperti kabut tipis. Begitu ia masuk, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
Di tengah ruangan, di atas sofa beludru merah yang luas, Aurelia Vane duduk seperti seorang ratu di atas takhta penghakimannya.
Ia mengenakan gaun slip dress berbahan satin hitam yang sangat tipis, yang tampak hanya menempel pada tubuhnya karena keajaiban gravitasi. Belahan dadanya yang rendah dihiasi kalung berlian berbentuk mawar hitam yang berkilau setiap kali ia tertawa. Rambut hitamnya dibiarkan jatuh berantakan di bahunya yang pucat, memberikan kesan liar yang sangat kontras dengan lingkungan elit tersebut.
Namun, yang membuat darah Kael mendidih bukanlah gaun itu. Melainkan para pria yang mengelilinginya.
"Dinamika orbit," gumam Kael dalam hati, otaknya secara otomatis memproses pemandangan di depannya sebagai sebuah fungsi matematika yang kompleks.
Di sebelah kanan Aurelia, berdiri Lucian Volkov. Ia adalah kepala keamanan pribadi Aurelia, seorang pria bertubuh raksasa dengan luka parut tipis di sepanjang garis rahangnya. Lucian tidak bicara, ia hanya berdiri seperti bayangan yang mematikan, tangannya yang besar sesekali menyentuh sandaran sofa tepat di belakang bahu Aurelia, sebuah gestur perlindungan yang sangat posesif.
Di sisi lain, ada Dante Moretti, pewaris tunggal sindikat kasino terbesar di Eropa. Dante adalah kebalikan dari Kael, ia liar, mengenakan kemeja sutra yang terbuka hingga kancing ketiga, dan tertawa dengan suara keras. Tangannya memegang gelas wiski, sementara tangan lainnya dengan berani bermain-main dengan ujung rambut Aurelia.
Lalu ada Adrian Thorne, menteri muda yang merupakan rival politik Kael di kabinet. Adrian tampak sedang membisikkan sesuatu ke telinga Aurelia, membuat wanita itu menyunggingkan senyum tipis yang mematikan.
Kael merasa seolah oksigen di ruangan itu telah habis. Rasa cemburu yang primitif menyerang kewarasannya. Ia terbiasa menjadi pusat gravitasi, pria yang semua orang inginkan persetujuannya. Namun di sini, ia hanyalah penonton di luar lingkaran cahaya Aurelia.
Kael melangkah maju, membelah kerumunan. Kehadirannya segera disadari. Keheningan dingin menyebar saat para elite itu mengenali sang Perdana Menteri.
"Tuan Perdana Menteri," suara Dante Moretti terdengar mengejek. Ia tidak melepaskan tangannya dari rambut Aurelia. "Saya tidak tahu Anda punya waktu luang untuk mengunjungi tempat kotor seperti ini. Bukankah Anda seharusnya sedang merapikan dasi atau menghitung pajak rakyat?"
Kael mengabaikan Dante. Matanya terkunci pada Aurelia. "Miss Vane. Kita punya urusan yang belum selesai."
Aurelia menyesap minumannya perlahan, menatap Kael dari balik bulu matanya yang lentik. Tatapannya penuh dengan provokasi yang sensual. "Urusan? Bukankah kau sudah mengintipku lewat satelit pagi tadi, Kael? Aku pikir kau sudah merasa cukup 'kenyang' dengan hanya melihat."
Wajah Kael tetap sedingin pualam, meski di dalam jasnya, tangannya mengepal kuat. "Bisa kita bicara? Sendirian."
"Aurelia sedang sibuk, Kael," sela Adrian Thorne dengan nada sombong. "Kami sedang merayakan peluncuran Project Chrysalis di sektor swasta. Sesuatu yang pemerintahmu gagal amankan."
Adrian meletakkan tangannya di atas paha Aurelia yang tersingkap. Itu adalah sebuah penghinaan terang-terangan bagi Kael.
Dalam satu gerakan kilat yang tidak terduga dari seorang pejabat publik yang biasanya sopan, Kael mencengkeram pergelangan tangan Adrian. Genggamannya begitu kuat hingga terdengar suara sendi yang berderak.
"Jangan pernah menyentuhnya lagi jika kau masih ingin menggunakan tangan itu untuk menandatangani dokumen negaramu, Adrian," desis Kael. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman kematian yang nyata.
Adrian memucat, sementara Lucian Volkov bergerak maju, siap untuk menyerang Kael. Namun, Aurelia mengangkat tangannya, sebuah perintah diam yang segera dipatuhi oleh bodyguard raksasa itu.
"Biarkan dia, Lucian," kata Aurelia dengan nada malas. Ia berdiri dari sofa, gerakannya begitu gemulai hingga gaun satinnya berkilau di bawah lampu merah. Ia melangkah mendekati Kael, berhenti tepat di depan dadanya yang bidang.
Aroma black rose dan amber menyerang indra penciuman Kael, bercampur dengan wangi alkohol dan bahaya. Aurelia mengulurkan tangan, merapikan kerah jas biru Kael yang sebenarnya sudah sangat sempurna.
"Kau terlihat sangat kaku malam ini, Kael," bisiknya, suaranya hanya bisa didengar oleh pria itu. "Dadamu berdegup sangat kencang. Apakah karena marah? Atau karena kau tidak tahan melihat tangan pria lain menyentuh kulit yang sangat ingin kau miliki?"
Kael menunduk, menatap bibir merah Aurelia yang hanya berjarak beberapa inci. "Kau melakukan ini dengan sengaja. Kau mengumpulkan mereka di sini hanya untuk menunjukkan bahwa kau memiliki pilihan."
Aurelia tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar seperti beludru di telinga Kael. "Aku tidak memilih, Kael. Aku memiliki mereka semua. Mereka adalah pion, mereka adalah pelindung, dan mereka adalah hiburan. Pertanyaannya adalah... kau ingin menjadi yang mana?"
Tiba-tiba, Aurelia meraih dasi sutra Kael, menariknya sedikit ke bawah agar mata mereka sejajar. Di tengah ruangan yang penuh dengan pria-pria paling berpengaruh di dunia, Aurelia seolah ingin memamerkan bahwa sang Perdana Menteri pun bisa ia kendalikan hanya dengan satu tarikan jari.
"Datanglah ke pelelangan rahasia besok malam di The Gilded Cage," bisik Aurelia lagi. "Aku akan melelang sesuatu yang sangat kau inginkan. Jika kau cukup berani untuk muncul tanpa topeng jabatanmu, mungkin kau bisa memenangkannya."
Aurelia melepaskan dasi Kael, memberikan tepukan ringan di dadanya, lalu berbalik menuju para pengorbitnya. "Lucian, ayo pergi. Aku sudah bosan dengan suasana di sini."
Kael berdiri terpaku saat melihat Aurelia pergi, dikawal oleh Lucian dan diikuti oleh tatapan memuja Dante serta Adrian. Ia merasa telanjang, merasa bahwa martabatnya sebagai pemimpin negara telah dilucuti di depan umum.
Namun, di dalam dadanya, ada sebuah api yang menyala, sebuah kebutuhan fisik yang menyakitkan. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi membedakan antara tugas negara dan obsesi pribadi.
Kael kembali ke mobilnya, mengabaikan supirnya, dan duduk di kursi belakang dalam kegelapan. Ia menyalakan lampu kecil dan membuka tabletnya, melihat profil para pria yang tadi mengelilingi Aurelia.
Dante Moretti: Liquidity status : Target for financial audit.
Adrian Thorne: Political standing : Target for corruption leak.
Kael mengetik perintah-perintah kejam ke dalam sistem intelijennya. Ia tidak akan hanya memenangkan Aurelia, ia akan menghancurkan setiap pria yang berani berdiri di dalam radius satu meter dari wanita itu.
Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena tarikan Aurelia tadi, mengembalikan setiap helai ke tempatnya semula. Wajahnya kembali menjadi topeng pualam yang dingin.
"Kau ingin aku muncul tanpa topeng, Aurelia?" gumamnya sambil menatap lampu kota yang melintas di balik jendela. "Maka besok malam, kau akan melihat apa yang bisa dilakukan oleh seorang pemburu yang tidak lagi memiliki nurani."
Malam itu, sang Perdana Menteri tidak tidur. Ia menghabiskan malam dengan memetakan kehancuran musuh-musuhnya, bukan demi negara, tapi demi satu nama yang telah meracuni setiap jengkal jiwanya, Aurelia Vane.
Permainan ini baru saja berubah menjadi sangat pribadi. Dan dalam dunia Kael Arden, tidak ada tempat bagi orang kedua.