NovelToon NovelToon
Kontrak 90 Hari Sang CEO

Kontrak 90 Hari Sang CEO

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia / Tamat
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis*

Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.

Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*

Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.

Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.

90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawaran yang Tak Bisa Di Tolak

Hari ke-52.

Berita pernikahan Clarissa udah reda.

Evelyn menang di pengadilan opini publik.

Komentar “#TeamEvelyn” rame di Twitter, TikTok, bahkan LinkedIn.

Tapi ketenangan itu nggak lama.

Pagi itu, Evelyn lagi duduk di ruang kerja Matthias, bantu cek desain interior buat proyek baru di Bali.

Matthias lagi meeting Zoom di ruang sebelah.

Tiba-tiba Om Dimas masuk, muka serius sambil bawa folder cokelat.

“Na, ada tamu. Katanya dari Hendrawan Group. Mau ketemu kamu pribadi.”

Evelyn ngernyit.

“Hendrawan Group? Bukan Clarissa kan?”

“Bukan. Ayahnya. Pak Hendrawan.”

Evelyn taruh pulpen.

“Suruh masuk.”

Lima menit kemudian, Bapak Hendrawan masuk.

Umur 60-an, jas mahal, wajah dingin kayak es.

Dia nggak nyapa Nyonya Alina yang nganter kopi.

Langsung duduk di depan Evelyn.

“Evelyn.”

“Pak Hendrawan.”

Nggak ada basa-basi.

Dia buka folder itu, dorong ke arah Evelyn.

“Ini tawaran kerja sama. Hendrawan Group dan Virel Group. Proyek mixed-use 40 triliun di Surabaya. Kalau kamu mau tanda tangan, semua tuntutan perdata yang keluarga kami ajukan 3 tahun lalu, kami cabut.”

Evelyn buka folder itu.

Angkanya gila.

Kontraknya rapi.

Tapi namanya ada di halaman pertama sebagai “Penasihat Ahli dan Jaminan Moral”.

Evelyn tutup foldernya.

“Jadi ini tebusan?”

Pak Hendrawan ngangguk pelan.

“Bisa dibilang begitu. Nama kamu masih kotor di publik. Kalau kamu ikut, publik akan lihat kamu sudah ‘dimaafkan’. Saham kami naik. Saham Virel juga. Win-win.”

Evelyn ketawa kecil.

“Jadi 3 tahun kalian fitnah gue, sekarang kalian mau beli diam gue pakai proyek 40 triliun?”

“Itu cara bisnis, Evelyn. Nggak ada emosi.”

“Masalahnya, gue punya emosi.”

Pintu ruang kerja terbuka.

Matthias masuk. Wajahnya langsung gelap begitu lihat Pak Hendrawan.

“Kamu ngapain di sini?”

Pak Hendrawan berdiri.

“Ngobrol bisnis, Pak Matthias. Istri kamu orang pintar. Sayang kalau nggak dipakai.”

Matthias jalan ke samping Evelyn, berdiri.

Nggak nyentuh. Tapi posisinya jelas: dia di pihak Evelyn.

“Kalau kamu mau kerja sama, bicara ke aku. Jangan lewat istriku.”

Pak Hendrawan senyum tipis.

“Dia yang punya nama yang kami butuh. Bukan kamu.”

Evelyn ngeliat Matthias.

Dia tahu Matthias bakal nolak mentah-mentah.

Tapi dia juga tahu… proyek ini bisa selamatkan 2000 pekerja Hendrawan Group yang lagi di-PHK.

Dia angkat tangan, bikin Matthias diem.

“Pak Hendrawan, gue punya satu syarat.”

“Silakan.”

“Cabut semua tuntutan. Minta maaf terbuka di 3 media nasional. Dan pecat Humas kalian yang dulu nyebarin berita bohong tentang gue.”

Pak Hendrawan kaku.

“Itu… memalukan keluarga kami.”

“Lebih memalukan daripada fitnah orang mati?” jawab Evelyn datar.

Pak Hendrawan diem.

Dia nggak jawab.

Cuma tutup foldernya, berdiri.

“Aku akan pikir-pikir.”

Dia pergi.

Nggak pamit.

---

Ruangan hening 10 detik.

Matthias langsung duduk di depan Evelyn.

“Kamu mau terima?”

Evelyn nggeleng.

“Gue mau mereka minta maaf dulu. Gue nggak jual harga diri gue buat 40 triliun.”

Matthias ngangguk pelan.

“Aku bangga sama kamu.”

Evelyn senyum tipis.

“Tapi gue sedih. 2000 orang bisa kehilangan kerjaan kalau proyek itu batal.”

“Urusannya mereka. Bukan urusan kamu buat jadi penyelamat semua orang.”

Evelyn ngeliat dia.

“Kadang gue lupa… lo nggak se-dingin yang orang kira.”

Matthias nggak jawab.

Dia cuma tarik tangan Evelyn, cium punggung tangannya.

“Jangan bebanin diri sendiri. Kamu udah cukup kuat.”

---

Siangnya, berita bocor.

“Evelyn Virel Ditawari Proyek 40 Triliun oleh Keluarga Mantan Suami!”

Komentar netizen pecah dua.

Ada yang bilang “jual harga diri”.

Ada yang bilang “ini langkah besar buat rekonsiliasi”.

Evelyn nggak buka media sosial.

Dia sibuk di studio kecil di lantai 3.

Dia mulai gambar lagi.

Sketsa, cat air, desain interior.

Udah 3 tahun dia nggak nyentuh kuas.

Sejak kasus itu, dia takut dibilang “cari sensasi”.

Tapi hari ini, dia gambar.

Gambar rumah kecil di pantai.

Ada dua orang di teras.

Nggak ada wajah. Cuma bayangan.

Matthias masuk tanpa ketok.

Dia lihat gambar itu, diem lama.

“Ini kita?”

Evelyn ngangguk.

“Gue mimpi ini waktu lo di ICU.”

Matthias duduk di sampingnya.

Dia ngambil kuas, coba celupin ke cat biru.

“Gue boleh bantu?”

Evelyn ketawa.

“Lo bakal ngerusak.”

“Biarkan aku rusak sesuatu yang indah sama kamu.”

Mereka gambar bareng.

Berantakan.

Tapi ketawa mereka ngisi seluruh ruangan.

---

Malamnya, telepon masuk.

Nomor nggak dikenal.

Evelyn angkat.

“Evelyn, ini aku. Clarissa.”

Suara Clarissa pelan. Nggak ada nada sombong kayak di ballroom.

“Ada apa?”

“Aku… dengar Papa datengin kamu. Aku nggak tahu.”

“Terus?”

“Aku mau minta maaf. Atas semua yang aku bilang 3 tahun lalu. Aku tahu kamu nggak salah. Aku cuma… marah. Kehilangan kakak itu bikin aku gila.”

Evelyn diem.

Dia nggak nyangka bakal denger ini.

“Kenapa sekarang?”

“Karena aku lihat kamu di berita. Kamu nggak hancur. Kamu malah lebih kuat. Aku iri. Tapi aku juga lega. Mungkin kakakku juga mau kamu lega.”

Evelyn napas pelan.

“Gue terima permintaan maaf lo, Clarissa. Tapi gue nggak butuh persetujuan kalian buat bahagia.”

“Aku tahu. Makanya aku telepon. Supaya kamu tahu… kamu bebas.”

Telepon mati.

Evelyn taruh ponsel.

Matanya berkaca-kaca.

Matthias yang dari tadi di kamar mandi keluar.

“Kamu kenapa?”

“Clarissa telepon. Dia minta maaf.”

Matthias duduk di sampingnya.

“Terus kamu gimana?”

Evelyn senyum.

“Ringan. Kayak 3 ton batu diangkat dari dada gue.”

Matthias peluk dia pelan.

“Nggak perlu dimaafin mereka buat kamu bahagia, Evelyn.”

“Gue tahu. Tapi rasanya enak aja denger mereka ngomong itu.”

Mereka diem.

Di luar hujan gerimis.

Di dalam, nggak ada badai lagi.

---

Keesokan harinya, Hendrawan Group rilis pernyataan resmi.

Minta maaf terbuka. Cabut semua tuntutan.

Proyek 40 triliun tetap jalan, tapi tanpa nama Evelyn di kontrak.

Evelyn lihat berita itu sambil sarapan.

Dia nggak senang. Nggak sedih.

Cuma lega.

Matthias lihat dia.

“Senang?”

“Senang. Karena gue nggak perlu pilih antara harga diri gue dan orang lain lagi.”

Matthias mengangguk.

“Kamu nggak pernah harus pilih. Kamu bisa punya keduanya.”

Evelyn senyum.

Dia angkat gelas jusnya.

“Buat kita. Yang udah lewat badai.”

Matthias angkat gelasnya.

“Buat kita.”

---

Bersambung ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!