Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.
Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.
Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kediaman Musuh
Langkah kaki mereka bergema keras di lantai marmer tua yang dingin. Suasana di dalam Vila Kala terasa pengap, berbau debu, kemewahan yang sudah lama tersimpan, dan aroma bahaya yang pekat. Di sepanjang lorong panjang itu, patung-patung kuno berdiri diam seolah menjadi saksi bisu segala kejahatan yang telah direncanakan dan dilaksanakan di tempat ini selama puluhan tahun. Dewa berjalan di depan, punggungnya tegak dan kaku, aura kejam dan berwibawa menyelimuti seluruh tubuhnya seolah menjadi tameng tak terlihat. Di sampingnya, Naura berjalan sejajar, tangannya tergenggam erat di tangan suaminya, kepalanya diangkat tinggi, menampakkan wibawa seorang Ratu yang tidak mengenal rasa takut, meski jantungnya berdebar kencang.
Pintu besar di ujung lorong itu terbuka perlahan, berderit panjang menciptakan suara yang mengerikan. Di balik pintu itu, sebuah ruangan luas dan tinggi menjulang, diterangi cahaya lilin yang redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di dinding. Di tengah ruangan, di balik meja kerja besar yang terbuat dari kayu hitam berukir naga, duduk seorang pria tua. Tubuhnya masih tegap, rambutnya memutih sepenuhnya, namun sorot matanya yang tajam dan berkilat dingin itu mengungkapkan betapa tajam dan beracunnya pikiran orang itu. Dialah Mahesa, sosok bayangan yang selama puluhan tahun mengendalikan benang merah perseteruan antara keluarga Buwana dan Zafira.
Mahesa tersenyum lebar saat melihat kedatangan mereka, senyum yang tidak sampai ke matanya, senyum penuh kepura-puraan dan niat jahat. Ia berdiri perlahan, menatap kedua sosok muda di hadapannya dengan pandangan menilai, seolah sedang menatap barang dagangan yang baru saja ia pesan.
"Wah... sungguh pemandangan yang indah sekaligus menakutkan," ucap Mahesa, suaranya berat, parau, namun penuh kekuasaan yang tertanam lama. "Dewa Angkasa Buwana, iblis yang ditakuti seisi kota, dan Naura Aulia Zafira, wanita yang menjadi sumber segala pertempuran ini. Kalian berdua benar-benar melebihi ekspektasiku. Berani, keras kepala, dan... bodoh karena masuk ke sarangku sendiri tanpa ragu sedikit pun."
Dewa tidak tersentak sedikit pun. Ia menarik kursi di dekatnya, lalu duduk santai seolah ia adalah tuan rumah di tempat itu. Ia menarik Naura untuk duduk di sampingnya, posisinya melindungi namun tetap dominan. Tatapannya menembus lurus ke arah mata tua itu, penuh tantangan dan kebencian yang mendalam.
"Kata-kata manismu tidak akan mempan padaku, Mahesa," jawab Dewa dingin, suaranya rendah namun mematikan. "Aku tidak datang ke sini untuk mendengarkan pujian atau dongeng masa lalu. Aku datang karena aku ingin melihat wajah orang yang selama ini bersembunyi di balik tirai, orang yang terlalu penakut untuk tampil sendiri, dan orang yang telah merusak hidup dua keluarga besar hanya demi ambisi kekuasaannya sendiri."
Mahesa tertawa kecil, suara tawanya bergema mengerikan di ruangan sunyi itu. Ia kembali duduk, bersandar santai di kursi besarnya, jari-jarinya yang keriput saling bertaut di depan dada.
"Kau muda dan berapi-api, Dewa. Sama seperti ayahmu dulu. Sangat kuat, sangat berani, tapi... kurang bijaksana. Kau kira aku melakukan semua ini hanya demi kekuasaan? Kau kira aku membiarkan Buwana dan Zafira saling membunuh, menyebarkan kebohongan bahwa kalian bersaudara, mengatur perjodohan yang berbalut dendam ini... hanya untuk kesenangan semata?"
Mahesa mencondongkan tubuhnya ke depan, sorot matanya menajam tajam.
"Aku melakukan ini semua demi menjaga keseimbangan, Nak. Dulu, kekuatan ayahmu dan ayah Naura terlalu besar, terlalu berbahaya jika disatukan. Jika mereka bersekutu, tidak ada satu pun yang bisa mengendalikan mereka. Dunia bawah tanah akan runtuh, dan aturan main yang sudah ada berabad-abad akan hancur. Aku memecah belah mereka agar aku bisa tetap menjadi penguasa tertinggi. Dan sekarang... sejarah terulang kembali. Kau dan Naura menyatukan kekuatan kalian, mengambil alih wilayahku, menguasai bisnis-bisnis yang selama ini menjadi hakku. Kalian mengulangi kesalahan ayah kalian."
Naura menatap tajam ke arah pria tua itu, rasa marah meluap di dadanya mendengar pengakuan itu. Jadi benar dugaan mereka semua. Segala rasa sakit, dendam, dan pertumpahan darah selama puluhan tahun hanyalah permainan ambisi orang ini. Perjodohan antara dia dan Dewa yang dulu penuh kebencian, kebohongan soal hubungan darah yang hampir menghancurkan cinta mereka... semuanya adalah rencana busuk Mahesa agar kedua keluarga itu saling memusuhi dan saling menghancurkan diri sendiri.
"Jadi kau akui semuanya?" tanya Naura tegas, suaranya bergetar menahan amarah. "Kau akui bahwa kaulah penyebab semua penderitaan ini? Kau akui bahwa kau berbohong, memanipulasi, dan mengorbankan nyawa orang-orang tidak bersalah hanya agar kau bisa duduk nyaman di kursi kekuasaanmu yang kotor ini?"
Mahesa mengangkat bahu dengan tenang, seolah itu adalah hal yang paling wajar di dunia.
"Di dunia ini, Naura, hanya ada penguasa dan yang dikuasai. Hanya ada pemangsa dan mangsa. Ayahmu dan ayah Dewa adalah pemangsa besar, begitu juga kalian berdua. Aku hanya memastikan posisiku tetap aman. Tapi sayangnya... kalian berdua ternyata lebih kuat dari perkiraanku. Kebencian yang kutanamkan justru berubah menjadi cinta yang gila. Kebohongan yang kusiapkan justru membuat kalian semakin kuat saat kebenaran terungkap. Itu kesalahanku, aku akui."
Dewa mengeratkan genggamannya di tangan Naura, ujung jarinya mengusap punggung tangan istrinya dengan tenang, seolah memberi isyarat agar wanita itu tetap tenang dan membiarkan dia yang berbicara. Dewa kembali menatap Mahesa dengan sorot mata iblis yang sesungguhnya.
"Kesalahan terbesarmu, Mahesa," ucap Dewa perlahan, setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa berat dan mengancam, "adalah kau tidak tahu siapa yang sedang kau hadapi. Kau mungkin mengira aku sama seperti ayahku, atau sama seperti orang-orang bodoh lain yang bisa kau kendalikan dengan kata-kata manis dan ancaman. Tapi kau salah besar."
Dewa berdiri perlahan, aura mematikannya meledak seketika, membuat udara di ruangan itu berubah menjadi sangat dingin dan menekan.
"Aku adalah Dewa Angkasa Buwana. Aku tidak punya aturan, aku tidak punya rasa kasihan, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan iblis sekalipun, mengatur hidupku atau menyakiti wanita yang kucintai. Kau pikir kau memecah belah kami? Kau pikir kau menang karena membuat kami saling benci? Tidak, Mahesa. Kau justru menyatukan kami dengan cara yang paling kuat. Kau membuat kami tumbuh dalam dendam, lalu kau membuat kami jatuh cinta di tengah kebohongan, dan sekarang... kau membuat kami memiliki satu tujuan yang sama: menghancurkanmu dan segala jejak kekuasaanmu yang busuk ini."
Wajah Mahesa yang awalnya tenang mulai berubah kaku. Ia bisa merasakan hawa membunuh yang begitu kuat memancar dari tubuh pemuda di hadapannya. Ia tahu betul reputasi Dewa. Pria ini tidak hanya berbicara, dia benar-benar mampu membakar seluruh vila ini hanya untuk membunuh satu orang.
"Kau berani mengancamku di wilayahku sendiri, Dewa?" tanya Mahesa, berusaha tetap tegar meski rasa takut mulai merayap di hatinya. "Di luar sana ada puluhan anak buahku bersenjata lengkap. Satu panggilanku, kalian berdua akan mati seketika di sini."
Dewa tersenyum miring, senyum yang mengerikan dan penuh keyakinan mutlak. Ia mengeluarkan ponselnya, menunjuk layar yang memperlihatkan posisi pasukan Rian sudah mengepung seluruh kawasan itu, bahkan sudah masuk diam-diam dan melucuti sebagian besar pengawal Mahesa tanpa diketahui.
"Kau pikir aku datang tanpa persiapan, orang tua? Kau pikir aku datang ke sini hanya untuk menjadi mangsamu? Sejak kita melangkah masuk ke gerbangmu, kekuasaanmu di sini sudah berakhir. Pasukanmu sudah kalah, jaringanmu sudah hancur, dan bisnis-bisnis yang kau bangun selama puluhan tahun... sudah berpindah tangan ke tanganku hari ini juga."
Dewa melangkah mendekat ke meja itu, mencondongkan tubuhnya ke arah Mahesa yang kini tampak terkejut dan marah luar biasa.
"Kau mainkan kami dengan kebohongan, kau mainkan kami dengan dendam, kau mainkan kami dengan perjodohan yang kau rancang sendiri... Dan sekarang, lihatlah hasilnya. Dua keluarga yang kau ingin hancurkan, kini menjadi satu kekuatan terbesar yang akan menghancurkanmu. Kau adalah perjalanan terakhir dari masa lalu kami, Mahesa. Dan malam ini, di tempat ini, kita akan menutup perjalanan itu selamanya."
Naura ikut berdiri di samping suaminya, tatapannya tajam dan penuh kemenangan.
"Semua rasa sakit, semua air mata, semua kebencian yang pernah ada... semuanya akan kita lunasi malam ini. Kau yang menanam benih kejahatan, dan kau sendiri yang akan menuai kehancurannya."
Mahesa memukul meja dengan keras, wajahnya memerah menahan amarah dan kekalahan yang pahit. Ia sadar, permainan panjangnya selama puluhan tahun ini benar-benar berakhir di tangan dua pemuda yang dulu ia anggap sebagai pion belaka.
"Kalian pikir kalian sudah menang? Perang ini belum selesai! Masih banyak orang yang setia padaku, masih banyak kekuatan yang kalian belum ketahui! Kalian tidak akan pernah bahagia! Dendam ini akan terus berlanjut sampai darah kalian habis tertumpah!" teriak Mahesa, hilang sudah wibawanya.
Dewa tertawa rendah, suara tawanya penuh ejekan dan rasa kasihan. Ia merangkul pinggang Naura erat, memeluk istrinya dengan bangga di hadapan musuh terbesar mereka.
"Bisa saja begitu... jika kita masih orang bodoh yang kau kenal dulu. Tapi ingatlah ini baik-baik, Mahesa. Sejak hari ini, tidak ada lagi dendam antara Buwana dan Zafira. Tidak ada lagi kebohongan. Tidak ada lagi perpisahan. Yang ada hanyalah kami, dua kekuatan besar yang bersatu, berkuasa penuh, dan siap menghancurkan siapa saja yang berani menentang kebahagiaan kami."
Dewa menatap tajam ke arah pria tua itu, sorot matanya mematikan.
"Kau hanyalah sisa-sisa masa lalu yang akan kami bersihkan. Dan setelah kau tiada, kami akan membangun kerajaan baru di atas puing-puing kekuasaanmu. Kerajaan di mana cinta lebih kuat dari ambisi, dan kebenaran lebih tajam dari pisau. Masih banyak yang harus kami taklukkan, masih banyak bisnis yang harus kami kuasai, dan masih banyak musuh yang harus kami hapus. Tapi satu hal yang sudah pasti... kau tidak akan ada di sana untuk melihat kemenangan kami."
Dewa memberi kode dengan tangan kanannya ke arah pintu. Detik berikutnya, Rian dan pasukan elitnya masuk dengan langkah berat dan berwibawa, menguasai seluruh ruangan itu. Mahesa terjatuh kembali ke kursinya, sadar sepenuhnya bahwa kekuasaannya sudah runtuh seketika.