NovelToon NovelToon
Pembalasan Seorang ART

Pembalasan Seorang ART

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Imen Firewood

"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.

Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.

Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.

"Hey!"

"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.

"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 5

Anya hanya bisa diam saja, melihat perlakuan majikannya yang terus menyalahkan kesalahan yang tidak Anya buat. Ia hanya bisa pasrah dan harus menerima itu semua secara tidak adil.

"Jawab! ... Jangan diem aja, nggak punya mulut lu?!" bentak Bianca, dan lagi-lagi membuat pundak Anya terangkat sedikit karena merasa kaget.

"I-iyaa, Non ... Nyonya ... Saya salah, saya minta maaf," ungkap Anya pelan secara terpaksa, ia mendadak menjadi gugup dan masih terus menunduk di hadapan mereka saat ini.

Anya akhirnya mengaku bersalah, agar semua perasaan sakit hati yang sekarang ia terima bisa segera berakhir. Untuk Anya, ia hanya ingin cepat-cepat pergi dari kondisi yang mengurasnya secara mental.

Ibu dan anak itu sekarang saling pandang, ketika mereka merasa berhasil telah memberi Anya sebuah pelajaran sebagai seorang yang hanya bekerja menjadi pembantu dirumah ini. Di dalam rumah besar keluarga Adiwijaya.

"Kenapa masih disini?" tanya Laras dengan nada bicara yang cepat. Ia sudah benar-benar tidak ingin melihat wajah Anya yang terlihat menjengkelkan baginya.

"Yaudah, sana pergi cepetan!" sambung Bianca, dengan bentakan yang sedikit lebih keras dari sebelumnya. Memandang rendah sosok Anya yang bekerja menjadi pembantu untuknya.

Anya terlihat panik dan buru-buru. Ketika mengetahui ia sekarang benar-benar telah di suruh pergi oleh kedua orang yang berada di hadapannya saat ini.

"Ba-baik ... Kalau begitu, saya permisi ..." kata Anya, masih dengan nada bicara yang sopan dan sikap amat patuhnya kepada Nyonya Laras dan anak kesayangannya Bianca.

Anya 'pun pergi meninggalkan mereka berdua, berjalan perlahan ke arah dapur dengan membawa perasaan sakit hatinya. Sedangkan Laras dan Bianca, ketika mereka sudah memastikan tidak ada Anya Mereka tertawa bersama.

Mereka terlihat senang dan sama sekali tidak merasa bersalah akan hal yang baru saja terjadi. Ibu dan anak itu lalu mengambil minuman jus yang awalnya mereka tolak secara mentah-mentah untuk di nikmati.

"Cherrs~!" ucap Laras dan anaknya bersamaan. Merayakan kemenangan kecil dari apa yang baru saja mereka raih.

Terlihat Anya berjalan dengan langkah yang sedikit agak cepat ke dalam kamar mandi pembantu. Melewati Bi Inah yang hampir selesai dengan pekerjaannya.

Anya berjalan sambil terus menundukan kepalanya, ia tidak ingin Bi Inah sekarang melihat ekspresinya yang menunjukan kekecewaan dari sifat manusia.

Bi Inah yang menyadari Anya baru saja lewat, langsung menoleh ke arah Anya yang terus berjalan menunduk ke dalam kamar mandi.

"Anya, kamu ..." ucapan pelan Bi Inah berlalu begitu saja tanpa jawaban apapun. Berbarengan dengan suara pintu kamar mandi yang langsung di tutup pelan oleh Anya.

Ceklek ...

Bi Inah yang tahu betul apa penyebab Anya seperti ini hanya bisa sabar mengelus dada. "Anya ..." kata Bi Inah pelan, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak bisa membantu Anya, kalau itu menyangkut soal majikannya.

Ketika berada di dalam kamar mandi, Anya membuka air di wastafel kecilnya secara sengaja agar terus mengalir dengan deras. Ia menangis sejadi-jadinya agar tidak ada yang mendengarnya dari luar kamar mandi.

Anya merasa kenapa kehidupannya seperti ini, di tuntut menjadi dewasa di tengah-tengah kerasnya kehidupan di kota besar.

"Ibu ... Aku kangen, bu ..." kata Anya pelan, air matanya tiada henti keluar bersamaan dengan suara kerasnya air di wastafel.

Ketika merasa sedih, Anya selalu teringat kondisi ekonomi keluarganya di kampung, yang sangat bergantung kepada Anya. Dan karena hal itu juga yang selalu membuat Anya harus merasa kuat.

Tangan kecil Anya memegang pinggiran wastafel dengan erat, menumpahkan semua emosi yang terus ia pendam hari ini sekarang.

"Hiks ... Hiks ..." suara tangis Anya yang masih terjadi di dalam kamar mandi sendirian. Anya menatap langit-langit di dalam kamar mandi. Menarik nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkannya.

"Huh ..." tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu beberapa kali dari luar kamar mandi. Tok ... Tok ... Tok ...

Bi Inah yang sudah berdiri dengan sepiring nasi dan lauk, sedang menunggu Anya keluar dari dalam. Seketika itu juga Anya langsung menghapus semua air matanya, berpura-pura kalau ia baru saja hanya habis cuci muka.

Anya 'pun kemudian membuka pintu. Dan melihat Bi Inah yang sedari tadi menunggunya. Ceklek~

"Eh, Bibi ... Ada apa?" tanya Anya, berusaha menghilangkan rasa sedihnya dan berusaha menunjukan ekspresi normalnya. Walaupun, hal itu percuma. Bi Inah sangat tahu apa yang baru saja terjadi kepada Anya ketika berhadapan dengan Nyonya Laras dan Bianca.

"Ini ... Bibi sudah menyiapkan makanan untuk kamu. Tolong di makan, yaa?" pinta Bi Inah, sedikit memaksa Anya agar tidak ada penolakan.

Anya yang melihat ketulusan dari Bi Inah, kemudian tersenyum. Memeluknya sebentar untuk menghilangkan rasa kangen Anya kepada sosok ibunya.

"Terimakasih, yaa Bi ... Anya senang bertemu dengan Bi Inah ..." kata Anya, setelah melepas pelukannya dan menatap Bi Inah secara jelas di hadapannya.

"Sama-sama Anya ... Bibi juga senang ketemu sama orang seperti kamu ..." balas Bi Inah, menyambut senyum Anya dengan hangat di wajahnya.

Anya langsung mengambil makanan yang di berikan oleh Bi Inah. Mereka berdua langsung tertawa bersama, entah apa yang membuatnya lucu. Namun hubungan dan pikiran mereka berdua seakan nyambung dan terkoneksi.

"Enak Bi! ... Wah, Bibi pinter memasak." puji Anya, yang langsung mencoba memakan pemberian Bi Inah saat itu juga di dapur.

"Pelan-pelan makan nya ... Yaudah, Bibi tinggal dulu, yaa? Itu nanggung sedikit lagi selesai masakan makan malamnya ..." ujar Bi Inah, yang ingin kembali meneruskan memasak yang hampir selesai.

"Mau Anya bantu, Bi ...?" tanya Anya, yang sejenak menghentikan suapannya ketika masih berdiri melihat Bi Inah.

"Gausah, tadi kan kamu sudah bantu juga goreng ayamnya ... Nanti kalau sudah selesai, biar Bibi kasih tahu. Untuk kita sama-sama menyiapkannya di meja makan ..." ujar Bi Inah, merasa Anya tidak perlu membantunya karena lagi makan.

"Hmm ... Oke deh. Kalau gitu ... Anya, makan ini di dalam kamar Anya dulu, yaa?" tanya Anya, sambil mengangkat piring dan tersenyum. Bi Inah menjawabnya dengan tersenyum, lalu mengangguk pelan. Seraya memegang bahu Anya dengan penuh kasih.

Di sisi lain. Laras dan Bianca masih tertawa merasa puas, atas perlakuan mereka terhadap Anya di sofa mewah panjang itu.

Ibu dan anak ini benar-benar mempunyai kepribadian yang sama, bahkan hampir mirip. Gelak tawa mereka memenuhi ruangan besar itu, seraya masih dengan menikmati minuman jus buatan Anya.

"Sumpah, yaa Mom ... Aku happy ... Banget sekarang!" ungkap Bianca, yang berhenti di tengah-tengah tawa mereka bersama.

"Momy, tau nggak ... Tadi ekspresi pembantu baru itu kayak apa?" lanjut Bianca, dengan nada yang serius menatap ibunya yang masih menghentikan sisa ketawanya.

"Kayak apa memang?" sambung Laras, ikut merasakan penasaran yang di buat Bianca.

"Kayak anak kampung!" sahut Bianca, di lanjut dengan Laras yang juga tertawa mendengar ucapan Bianca. Mereka benar-benar sama sekali tidak perduli apa yang sekarang terjadi kepada Anya.

Hahaha ...

Beberapa saat kemudian, ketika mereka tengah asik tertawa bersama diatas penderitaan Anya yang tidak mereka ketahui, tiba-tiba mereka terdiam bersamaan.

Ketika mereka, melihat sosok pria yang baru saja pulang dan tengah berjalan menuju pintu utama rumah keluarga Adiwijaya. Dengan bersetelan kantor yang apik dan rapih, juga aura kehadirannya yang membawa keadilan serta kedisplinan yang tegas.

Namanya, Adiwijaya. Sering di panggil pak Adi, oleh beberapa orang-orang yang memang sudah lama mengenal beliau. Ayah sekaligus istri dari Nyonya besar Laras.

Berbeda dengan mereka, pak Adiwijaya memiliki sifat dan budi pekerti yang baik. Serta tegas juda adil dalam menyikapi semua hal. Khususnya semua hal yang ada di keluarganya.

Maka tidak heran jika Laras dan Bianca langsung berubah sifat 160 derajat ketika sedang bersama Adiwijaya. Mereka berdua sangat tidak ingin, jika orang satu-satunya yang selama ini menghidupi mereka dengan semua kemewahan ini, membencinya.

"Ada papih ... Papih pulang ..." kata Laras, dengan nada yang panik dan bergerak cepat, langsung mengajak Bianca berdiri dan menyambut Adiwijaya.

"Aku pulang~" kata Adi, dengan posisinya yang masih berdiam diri memegang koper di tangan kanannya. Saat itu juga, Laras dan Bianca yang tadi sedang tertawa riang mendadak serius.

Ketika mereka berdua kini tengah berada di hadapan Adiwijaya. "Papih ..." teriak Bianca dengan manja, yang mencoba menghampiri, memeluk sang ayah. Di ikuti oleh Laras yang berjalan cepat di belakangnya.

"Apa yang lucu?" tanya Adi. Dengan ekspresinya yang serius karena tidak sengaja tadi ia sempat melihat istri dan anaknya sedang tertawa.

Deg!

Suara di jantung Laras seakan mau copot. Ia benar-benar tidak ingin suaminya mengetahui perbuatan yang baru saja terjadi kepada pembantu barunya. Jika itu terjadi, bisa-bisa Laras dan Bianca tidak akan mendapatkan uang lagi darinya.

Bersambung ...

1
falea sezi
lanjuttt
Imenfirewood: Waah, terimakasih banyak ya, kak, udah mau membaca cerita ini. Mulai sekarang, ceritanya akan update setiap hari di jam 7 pagi. Pastikan kakak udah follow biar nggak ketinggalan cerita seru dari Anya. Terimakasih~ Luv!
total 1 replies
falea sezi
kpn mereka bangkrut🤣 ngemis klo. perlu sebel q
Imenfirewood: Kamu udah baca sampai sini?
total 1 replies
falea sezi
majikan laknat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!