NovelToon NovelToon
Monokrom

Monokrom

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Sci-Fi / Anak Genius
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Bertahan atau melangkah pergi?

Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?

Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00^01

'Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri'

Satu kalimat yang akan keluar dari mulut seorang gadis, saat jarum jam menunjuk pukul 00.00 .. tepat di mana kali pertamanya menghirup udara segar dari alam semesta yang penuh godaan iblis tidak memiliki rasa malu terhadap kesalahan sepele tanpa di sengaja.

Jika pun tiada satu teman yang memberi ucapan di hari lahirnya, itu tidak membuat sang gadis merasa kesepian ataupun sedih. Karena paling penting, 'permohonan terkabul' adalah keinginannya di tahun ini.

Semoga, berharap, berdo'a, berusaha, yang hanya bisa gadis itu lakukan saat ini. Walaupun uluran tangan dari seorang teman sulit untuk dia dapatkan, dan hal itu tidak akan pernah menghilangkan lengkungan sempurna yang telah menjadi kunci utama penghias wajah cantiknya.

Ralat!! Bukan berniat membohongi, gadis itu mendapat ucapan di hari ulang tahunya dari seseorang di seberang sana.

'Selamat ulang tahun, Anna'

Anna?

Benar. Dia, Anna Vandara. Seorang tuan putri yang ingin sekali mengambil alih takhta dari sang raja.

Karena sang raja, Anna harus menerima kenyataan takdir hidup yang tidak ada dalam bayangannya sejak lahir. Karena sang raja juga, Anna jadi tahu, jika menerima fakta itu memang sangat menyakitkan.

Salah satunya, soal ibunda. Wanita tangguh yang begitu rela mengorbankan diri sendiri, hanya demi sosok janin yang hampir saja tidak akan pernah tahu. Betapa kerasnya hidup di antara manusia yang mudah sekali menyalahkan satu sama lain, tanpa tahu mengucap, 'maaf'

Hingga, tiga nama yang di satukan menjadi nama lengkapnya. Anna Vandara. Anna, itu memang untuk gadis itu. Vanda, itu nama ibunda .. sedangkan Ara, ibunda bilang, nama itu di ambil dari wanita yang telah melahirkan sang putri. Anna. Wanita itu juga hampir saja tidak mengijinkan sang putri untuk tetap hidup. Hanya karena sebuah penyesalan.

Untungnya, dewi fortuna memberi bisikkan pada Vanda. Untuk memberikan pertolongan pada Anna di saat dia masih berada dekapan wanita yang bernama Vanda. Tak lain, ibu kandung Anna.

Dan sampai detik ini, Anna pun juga tidak tahu-- seperti apa raut wajah wanita yang telah mengandungnya selama 9 bulan. Di mana keberadaan wanita itu? Apa sekarang dia merasa menyesal karena telah menelantarkan Anna? Atau mungkin malah sebaliknya.

Tapi, sepertinya opsi pertama itu tidak mungkin terjadi. Karena jika wanita itu menyesal, dia akan mencari keberadaan Anna bagaimana pun itu hambatannya. Sayangnya, tidak sama sekali.

Untungnya, hal itu tidak membuat Anna merasa terabaikan akan sikap buruk dari ibu kandungnya, ataupun merasa hina karena telah di lahirkan. Karena, kini Anna masih memiliki Vanda dan sosok pria yang telah berani mengatakan kebenaran itu pada Anna.

Mereka berdua adalah sepasang suami istri yang sulit untuk mendapatkan keturunan. Jika pun seperti itu, mereka tidak pernah melempar kesalahan satu sama lain. Karena Anna telah menjadi pelengkap di keluarga mereka. Mungkin, hal itu sudah lebih dari cukup bagi mereka.

"Aku akan menerimanya sebagai teman, tapi aku juga harus menjaga jarak dengannya. Karena aku harus menyadarkannya, agar dia tidak terlalu berharap."

Tersenyum masam, membaca satu kalimat yang tertera dalam lembar kertas kecil di tangan Anna saat ini. Sebentar melihat buket bunga kecil di atas meja belajarnya.

"Apa aku bisa menahannya?" Terus bergumam dengan tanpa sadar, Anna telah menciptakan lengkungan sempurna. Akan tetapi, Anna langsung sadar, jika itu tidak benar sama sekali.

"Tunggu!! Bukankah kau terlalu baik Anna?" Diam sejenak, kening mengerut samar. " Belum tentu sikap baik mu akan memudahkan jalan hidupnya. Karena, kau dengannya bagaikan jari kelingking dengan jari tengah. Itu jauh sekali."

Seketika bulu tipis yang berada di lengan Anna berdiri karena merasa merinding sendiri. "Sadarlah. Jika kau terus memberinya harapan, itu sama saja kau mendorong dirimu masuk ke dalam sarang predator."

"Anna__"

Seruan yang sangat merdu ampuh membuat kepala Anna menoleh di mana pintu kamarnya berada. Saat itu, napas lelah keluar dari mulut Anna dengan pandangan lesu. "Kenapa dia selalu memanggilku, di saat aku ingin bersantai di hari libur?"

Meniup udara, sebelum beranjak dari duduknya. Dengan malas Anna melangkah keluar, menuruni anak tangga untuk menghadap langsung pada sang ratu. Mungkin, sebuah perintah akan memenuhi pendengaran Anna nantinya.

"An_" belum juga Vanda menyerukan kembali suaranya untuk memanggil putri kecilnya itu. Anna telah berdiri di hadapannya saat ini. "Kau di sini?"

"Ibu butuh bantuan?" Tanya Anna yang berusaha untuk tidak terlihat malas. Karena, mau bagaimana pun Anna harus tetap mengajukan diri tanpa diminta oleh sang ibunda. Vanda. Tanpa wanita itu, mungkin Tessa tidak akan merasakan betapa indahnya dunia yang tengah Alin tinggali saat ini.

"Kau bisa mengantarkan bunga-bunga itu ke alamat ini?" Harap vanda sembari menyodorkan beberapa kertas kecil yang di jadikan satu oleh klip, kepada Anna.

"Apa hanya diriku yang bisa ibu suruh? Apa tidak ada orang lain di rumah ini selain diriku?" Sedikit kesal Anna melontarkan pertanyaan yang sangat ampuh membuat dua karyawan di sana spontan berpura-pura menyibukkan diri. Hal itu semakin mendatangkan kedongkolan dalam benak Anna.

"Bukankah kau sendiri yang menawarkan bantuan tadi? Kenapa kau mengeluhkan hal itu saat ini?" Sekilas Vanda menunjuk Anna dengan dagunya, dengan wajah yang sedikit terlihat cemberut. Bukan marah. Hanya saja Vanda ingin menggoda Anna, agar gadis itu semakin merasa kesal terhadap dirinya. Karena jika sudah begitu, Anna pasti akan langsung berjalan pergi menuntaskan tugas di hari liburnya.

"Baiklah, aku akan mengantarkan pesanan mereka." Final Anna, kini mengambil alih lembar-lembar kertas kecil dari Vanda tersenyum tulus melihat sikap Anna yang sangat tidak tega jika harus mengabaikan orang lain.

"Pergilah cepat dan pulanglah segera. Karena ibu punya hadiah untuk mu." Ucap Vanda yang sangat antusias.

"Jika hadiah itu menyangkut ulang tahun ku, aku tidak akan pulang sesegera mungkin." Anna membalasnya tidak begitu cepat.

"Kenapa?"

"Karena aku sangat membenci hari itu." Sangat rendah, tapi begitu terdengar jelas di pendengaran Vanda.

"Anna--"

"Aku akan mengantarkan bunga-bunga itu. Aku pergi dulu." Cepat Anna, yang kini melangkah keluar rumah tanpa menunggu respon dari Vanda. Karena telinga Anna tidak ingin mendengar ceramah panjang lebar dari Vanda untuk saat ini.

Melangkah keluar tanpa adanya lengkungan sedikit pun yang menghiasi, hingga senyum masam begitu pasrah tercetak tidak begitu jelas di wajah Anna. Melihat sepeda city bike yang masih kosong pada keranjangnya.

"Dan aku harus bekerja dua kali." Gumam Anna sembari menampilkan senyum getirnya, sebelum menaruh berbagai jenis bunga di dalam keranjang sepedanya.

Anna menoleh ke belakang, tepat di mana bangunan sederhana yang memiliki dua lantai itu. Lantai atas sebagai tempat istirahat. Sedangkan lantai bawah di manfaatkan ibu untuk menjual berbagai jenis bunga yang sangat terlihat cantik saat di pandang.

"Kenapa ayah membiarkan ibu berjualan? Bukankah di sini aku yang akan selalu menjadi sasarannya? Harus siap sedia menjadi kurir." gerutu Anna yang sering sekali gadis itu lontarkan.

Banyak yang bilang, 'rumah yang kau tinggali saat ini, itu tempat paling nyaman untuk berteduh' dan Anna langsung menyetujui hal itu. Walau sebagian dari mereka, mengatakan kalimat itu hanya sebagai penghibur untuk Anna. Agar gadis itu menerima dengan lapang atas tugas yang di berikan oleh Vanda. Mengantar pesanan para pelanggan.

Tapi di lain sisi, Anna juga tidak bisa meminta banyak orang untuk menyetujui kalimat di atas, 'rumah yang kau tinggali saat ini, itu tempat paling nyaman untuk berteduh' karena Anna tahu, banyak dari mereka yang tidak menyukai rumah yang mereka tinggali Hanya suatu alasan yang mengharuskan mereka memilih menghabiskan waktunya di luar rumah.

"Kau memang harus bersyukur, Anna." Kalimat sederhana yang akan terus Anna ucapkan untuk dirinya sendiri.

1
Ros 🍂
hallo mampir ya Thor 💪🏻
M ipan
halo🌹 salam kenal
aytysz: haii, salam kenal jugaa🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!