NovelToon NovelToon
Gairah Suami Kakakku

Gairah Suami Kakakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Gema di Rumah yang Sunyi

Gema di Rumah yang Sunyi

​Warna putih rumah sakit seolah berpindah ke rumah kami. Setelah kritis selama dua hari, Mbak Siska akhirnya diperbolehkan pulang, namun dengan syarat yang sangat ketat. Rumah kami kini tak ubahnya bangsal perawatan intensif. Tabung oksigen berdiri di pojok kamar, suster sewaan berlalu-lalang, dan yang paling terasa: dinding kaca yang tebal kini memisahkan aku dari seluruh penghuni rumah.

​Mbak Siska selamat. Tapi dia bukan lagi Siska yang dulu. Dia menjadi pusat semesta.

​Mama dan Papa hampir tidak pernah keluar dari kamar Mbak Siska. Dan Gavin? Pria itu benar-benar menjelma menjadi pengabdi paling setia. Dia mengambil cuti panjang, mengurus semua kebutuhan istrinya, dan yang paling menyakitkan bagiku; dia menganggapku tidak ada.

​"Mas, ini vitamin Mbak Siska yang baru datang," ucapku pelan saat melihat Gavin sedang mencuci tangannya di dapur.

​Gavin tidak menoleh. Dia mengambil botol itu dari tanganku tanpa menyentuh jemariku sedikit pun, seolah tanganku adalah api yang akan membakarnya.

​"Taruh saja di sana. Jangan masuk ke kamar Siska kalau tidak dipanggil," ucapnya dingin. Suaranya datar, tanpa emosi, lebih menyakitkan daripada bentakan tempo hari di rumah sakit.

​Aku berdiri mematung di dapur, menatap punggungnya yang menjauh. Tidak ada lagi gesekan kaki di bawah meja. Tidak ada lagi bisikan nakal di perpustakaan. Yang tersisa hanyalah Gavin yang penuh rasa bersalah, yang mencoba menebus "dosa" perselingkuhannya dengan menjadi suami malaikat bagi Siska.

​Aku merasa tercekik dalam kesunyian ini. Aku butuh seseorang. Aku butuh duniaku kembali.

​Taman Belakang Kampus - Sore Hari

​Langkahku terasa sangat berat saat melihat Raka duduk di bangku taman, sedang sibuk mencatat sesuatu di bukunya. Dia terlihat lebih rapi, mungkin pengaruh Bella. Ada rasa cemburu kecil yang hinggap, bukan karena aku mencintai Raka, tapi karena aku merasa satu-satunya cadangan perhatianku pun kini sudah diambil orang.

​"Rak..." panggilku pelan.

​Raka mendongak. Matanya yang dulu selalu berbinar tiap melihatku, kini tampak teduh namun ada jarak yang sangat jelas. "Eh, Rum. Gimana Mbak Siska? Katanya udah pulang?"

​Aku duduk di sampingnya, menghela napas panjang hingga bahuku merosot. "Iya, udah pulang. Tapi... rumah rasanya bukan kayak rumah lagi, Rak. Gue ngerasa kayak hantu di sana. Nggak ada yang liat gue, nggak ada yang ngajak gue ngomong."

​Raka menutup bukunya perlahan. "Mungkin mereka lagi fokus, Rum. Keadaan Mbak Siska kan emang lagi rawan."

​"Gue tau, Rak. Tapi gue juga manusia. Gue butuh sandaran. Gue ngerasa salah banget, tapi gue nggak tau harus gimana lagi," air mataku mulai menggenang. "Gue kangen sama lo yang dulu, yang selalu ada buat gue tanpa gue minta."

​Aku mencoba meraih tangan Raka, ingin merasakan sedikit saja kehangatan yang dulu selalu dia tawarkan secara cuma-cuma. Namun, sebelum jemariku menyentuh kulitnya, sebuah suara tajam memecah keheningan.

​"ARUM! LEPASIN TANGAN RAKA!"

​Aku tersentak dan menoleh. Bella berdiri di sana dengan wajah merah padam. Dia melempar tasnya ke bangku seberang, matanya menatapku dengan kebencian yang belum pernah kulihat sebelumnya.

​"Bel, gue cuma—"

​"Cuma apa?! Cuma mau jadiin Raka tempat sampah buat keluhan lo lagi?!" potong Bella kasar. Dia menghampiri kami dan berdiri di depan Raka, seolah melindunginya dari serangan monster.

​"Bella, tenang dulu. Arum cuma lagi sedih," sapa Raka mencoba menengahi.

​"Sedih karena apa, Rak? Karena dia nggak bisa lagi main gila sama kakak iparnya? Karena perhatian Gavin sekarang balik ke kakaknya yang lagi sekarat?!" semprot Bella. "Rum, gue udah diem ya selama ini. Gue udah dengerin semua drama lo dari minyak bulus sampe foto model abal-abal itu. Tapi sekarang lo udah keterlaluan!"

​Aku berdiri, mencoba membela diri. "Gue cuma mau curhat, Bel! Raka itu temen gue!"

​"Temen lo pas lo butuh doang! Pas lo lagi haus perhatian Gavin, lo buang Raka kayak sampah! Lo hina-hina dia, lo bilang dia bau, lo bilang dia ganggu!" Bella melangkah maju, menunjuk dadaku. "Dan sekarang, pas lo lagi dicuekin sama 'pemuja' lo itu, lo balik lagi ke Raka buat narik simpati dia? Lo egois banget jadi orang, Rum!"

​"Gue nggak bermaksud gitu, Bel..."

​"Lo emang egois! Lo nggak mikirin perasaan Mbak Siska, lo nggak mikirin perasaan Raka, dan lo nggak mikirin perasaan gue!" Bella mulai menangis karena amarah. "Gue sayang sama Raka, Rum! Gue berusaha buat sembuhin luka yang lo buat di hati dia. Dan lo dengan gampangnya mau balik lagi buat ngerusak semuanya hanya karena lo ngerasa 'tersisihkan'?"

​Tiara muncul dari belakang, mencoba menarik Bella. "Udah, Bel... di sini banyak orang."

​"Biarin! Biar dia sadar!" teriak Bella. "Rum, dengerin gue baik-baik. Mas Gavin itu suami orang. Kakak lo itu lagi berjuang hidup. Kalau lo masih punya hati nurani, mending lo pergi dari rumah itu atau lo diem dan berhenti ngerusak kebahagiaan orang lain!"

​Raka berdiri, dia menatapku lama. Ada rasa kasihan di matanya, tapi dia memilih untuk menggenggam tangan Bella. "Maaf, Rum. Gue rasa Bella bener. Gue nggak bisa terus-terusan jadi pelarian lo. Gue mau hargain perasaan Bella."

​Mereka berdua pergi meninggalkanku sendirian di bawah pohon beringin yang mulai gelap. Tiara menatapku sebentar, memberikan selembar tisu.

​"Gue nggak belain Bella, tapi kali ini ucapan dia ada benernya, Rum. Lo harus belajar berdiri di kaki sendiri tanpa harus ngerusak pilar rumah orang lain," bisik Tiara sebelum akhirnya menyusul mereka.

​Aku terisak sendirian. Dunianya benar-benar runtuh. Gavin membenciku, orang tuaku mengabaikanku, sahabatku memusuhi aku, dan pelarianku pun sudah menutup pintu.

​Malam itu, aku pulang ke rumah yang wangi obat-obatan itu dengan perasaan hancur. Saat aku melewati kamar utama, aku melihat lewat celah pintu yang terbuka sedikit. Gavin sedang menyisir rambut Siska dengan sangat lembut sambil membisikkan kata-kata cinta. Siska tersenyum, senyum seorang pemenang yang sangat manis namun terasa sangat dingin bagiku.

​Aku masuk ke kamarku, meringkuk di bawah selimut. Aku menyadari satu hal; di dalam rumah ini, aku adalah dosa yang ingin semua orang lupakan.

1
gendiz
aseek, makasih ya, Akhirnya Arumi ada yang mau kawal juga 😊
Moms Shinbi
q kawal sampai semua happy end thor
Moms Shinbi
cerita akhirnya siska end so pasti.psangn selingkuh happy dong..


jngan y thor
gendiz: hmmm belum tentu🤭, lihat bab selanjutnya, sudah up tapi belum lolos review nih kayaknya, jadi belum bisa terbit
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!