Di tengah kemegahan Klan Naga Api, Ren hanyalah aib dan sampah masyarakat. Dilahirkan dengan meridian yang tertutup rapat, ia dianggap tidak memiliki bakat sama sekali. Hinaan, pukulan, dan pengkhianatan menjadi makanan sehari-harinya, hingga akhirnya ia diusir dengan kejam dari klannya sendiri, dibiarkan mati di alam liar.
Namun, takdir memiliki rencana lain. Di ambang kematian, darah nenek moyang yang terpendam di dalam tubuhnya akhirnya berdenyut. Meridian yang dianggap cacat itu ternyata adalah Ruang Suci Naga, tempat bersemayamnya kekuatan purba yang telah tertidur ribuan tahun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Pertemuan Tak Terduga Gadis dengan Pedang Suci
Waktu terus berjalan, dan kini sudah genap enam bulan Ren hidup mengembara. Ia tidak lagi tinggal di pinggiran kota dekat klannya, melainkan sudah berjalan jauh menuju hutan belantara di kaki Pegunungan Azure.
Di sini, aturannya sederhana: Makan atau dimakan.
Ren berjalan membelah semak belukar yang tinggi. Penampilannya kini benar-benar seperti anak hutan. Kulitnya agak gelap karena terbakar matahari, rambutnya panjang tak terurus, namun matanya... matanya kini tajam dan jernih, tidak lagi menyimpan keraguan. Berkat latihan dasar yang diajarkan oleh suara misterius di dalam kepalanya, tubuhnya yang dulu kurus kering kini berotot padat dan lincah.
Glok...
Perutnya berbunyi lagi. Sudah dua hari ia belum menelan makanan apa pun kecuali air sungai. Ia sedang memburu kelinci liar, tapi hewan itu terlalu lincah.
"Sial..." gerutunya pelan. Tiba-tiba, indra pendengarannya yang sudah terasah menangkap suara yang aneh.
Sssshhh... Wush!
Bukan suara binatang, tapi suara besi beradu dan napas berat yang terengah-engah.
Ren segera merunduk, bersembunyi di balik semak bambu besar. Ia mengintip ke arah sumber suara.
Di sebuah tanah lapang yang ditumbuhi bunga liar, sedang terjadi pertarungan yang mematikan.
Tiga orang pria bertopeng hitam, membawa golok berkarat, sedang mengepung seorang sosok kecil. Sosok itu adalah seorang gadis.
Gadis itu terlihat sangat muda, mungkin seusia Ren atau sedikit lebih tua. Ia mengenakan baju perak putih yang sedikit kotor terkena debu perkelahian. Rambut panjang hitamnya diikat tinggi, dan di tangannya ia menggenggam sebuah pedang panjang yang berkilauan indah, seolah memancarkan cahaya dingin sendiri.
Namun, kondisi gadis itu tidak baik. Napasnya memburu, dan ada luka goresan merah di lengannya yang mulai membasahi bajunya.
"Serahkan Batu Roh Biru itu, Nona cantik! Mungkin kami bisa membiarkanmu hidup," tertawa salah satu perampok yang bertubuh paling besar.
"Mimpi! Pedang ini adalah warisan keluargaku, dan batu itu bukan milik kalian untuk dicuri!" seru gadis itu. Suaranya jernih, namun tegas seperti lonceng perak.
"Haha! Masih berani keras kepala ya? Serang dia! Jangan sampai mati dulu, kami mau bersenang-senang!"
Tiga perampok itu menerjang serentak. Golok mereka menghantam ke segala arah.
TRANG! TRANG! DUG!
Gadis itu bertahan dengan hebat. Gerakannya indah namun mematikan, seperti menari di antara hujan pisau. Tapi kelelahan dan luka di lengannya mulai menghambatnya.
Saat ia menangkis serangan dari depan, perampok di sebelah kanan berhasil menendang perutnya dengan keras.
"Ugh!"
Gadis itu terpelanting mundur, jatuh terduduk di tanah. Pedangnya terlempar beberapa meter jauhnya.
"Akhirnya! Permainan selesai!"
Pemimpin perampok melangkah mendekat, mata nya menyala liar melihat gadis itu tak berdaya. Ia mengangkat goloknya tinggi-tinggi, siap untuk memberikan pukulan terakhir yang kejam.
Di balik semak, tangan Ren mengepal kuat. Jantungnya berdegup kencang.
Itu bukan urusanmu, Ren. Kau lemah. Jika kau keluar, kau akan mati. Biarkan saja. bisik akal sehatnya.
Tapi matanya tak bisa lepas dari wajah gadis itu. Wajah yang cantik namun penuh tekad, tidak menangis, tidak memohon, hanya menatap kematian dengan mata yang berapi-api.
Saat itu, Ren teringat dirinya sendiri. Teringat saat ia duduk di tanah, diinjak-injak, tak berdaya.
TIDAK!
Sesuatu di dalam dadanya meledak.
"ARRRGHHHH!!!"
Teriakan nyaring memecah ketegangan. Sebuah batu sebesar kepalan tangan melesat dengan kecepatan luar biasa dari balik semak, tepat menghantam tangan pemimpin perampok yang memegang golok.
BUK!
"AAAAAKH! Tanganku!!"
Pemimpin perampok itu berteriak kesakitan, goloknya jatuh.
Semua orang terkejut. Gadis itu membelalakkan mata, mencari sumber suara.
Ren melompat keluar dari persembunyiannya. Ia tidak memiliki senjata, tidak memiliki baju bagus, hanya mengenakan kulit binatang dan tubuh yang penuh luka goresan. Tapi saat ini, aura yang dipancarkannya bukan aura seorang pengemis, melainkan aura seekor serigala lapar yang terluka.
"Jangan... sentuh dia!" Ren berteriak, suaranya parau namun menggetarkan hati. Ia berdiri di depan tubuh gadis itu, membelakanginya, menghadap tiga orang perampok yang bengong.
"Heh? Dari mana muncul anak haram ini?" salah satu perampok tertawa sinis. "Kau mau mati juga ya, bocah kotor?!"
"Pergi dari sini... sebelum aku marah," ucap Ren pelan, tapi matanya menatap tajam, seolah bisa menembus jiwa orang yang dilihatnya.
Gadis itu di belakangnya tertegun. Ia bisa merasakan punggung anak laki-laki di depannya itu gemetar, bukan karena takut, tapi karena menahan emosi yang meledak-ledak.
"Dasar kurang ajar!"
Dua perampok menyerang Ren bersamaan. Mereka mengira Ren hanya anak biasa yang berani mati.
Ren tidak menggunakan teknik kultivasi, ia hanya menggunakan naluri bertahan hidup yang tajam dan kekuatan fisik yang didapat dari berlatih di hutan.
Saat golok datang menyambar, Ren tidak mundur, malah maju! Ia menunduk cepat, menghindari tebasan, lalu memukul dengan siku keras ke ulu hati musuh pertama.
"Ugh!"
Musuh pertama tercekik napasnya.
Tanpa jeda, Ren menangkap pergelangan tangan musuh kedua, lalu menggunakan momentum lawan, ia membanting tubuh besar itu ke tanah dengan keras.
BRAAK!
Debu berterbangan.
"Bagus... gunakan kekuatan lawan untuk melawan mereka... tepat seperti yang aku ajarkan..." suara di dalam kepala Ren berkomentar dengan nada puas.
Pemimpin perampok yang tangannya sakit melihat anak kecil itu bisa mengalahkan anak buahnya dalam sekejap, ia menjadi panik tapi tetap nekat. Ia mengambil goloknya lagi dan menerjang.
"Matilah kau!!"
Ren siap menerima serangan itu, tubuhnya siap untuk terluka demi melindungi gadis di belakangnya.
Namun tiba-tiba...
SWOSH!
Bayangan putih melintas di sampingnya.
Gadis itu sudah bangkit, ia melompat mengambil pedangnya yang jatuh, lalu dengan satu ayunan indah...
TRANG!!
Cahaya pedang membelah udara. Tali pinggang pemimpin perampok itu putus, dan goloknya terlempar jauh, sementara ujung pedang kini tepat menempel di leher pria itu.
"Jika kalian tidak ingin mati, pergi sekarang juga sebelum aku mengubah pikiranku!" seru gadis itu dengan aura dingin yang mematikan.
Tiga perampok itu ketakutan setengah mati. Mereka tidak peduli harga diri, langsung kabur terbirit-birit masuk ke dalam hutan.
Ketenangan kembali menyelimuti tanah lapang itu. Hanya terdengar suara angin dan napas mereka yang memburu.
Ren berdiri kaku, lalu perlahan kekuatan tubuhnya hilang. Ia jatuh berlutut, kelelahan luar biasa.
Gadis itu segera memasukkan pedangnya kembali ke sarung, lalu berjalan mendekati Ren. Ia berjongkok, menatap wajah anak laki-laki yang kotor dan lusuh itu dengan tatapan heran dan... terharu.
"Kau... kau tidak apa-apa?" tanya gadis itu, suaranya kembali lembut.
Ren mengangkat wajahnya, menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Ia menatap balik ke mata gadis itu. Mata itu indah, jernih seperti danau di pegunungan.
"Aku... aku baik-baik saja," jawab Ren terbata-bata. Ia tiba-tiba menjadi canggung dan malu melihat penampilannya yang kotor dan bau di hadapan gadis secantik ini. "Mereka... mereka sudah pergi."
Gadis itu tersenyum kecil. Senyum itu... seolah membuat bunga-bunga di sekitarnya ikut mekar.
"Terima kasih. Kau berani sekali. Padahal kau bisa saja bersembunyi dan membiarkan mereka membunuhku," kata gadis itu.
"Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi," kata Ren dengan tulus. "Aku tahu rasanya... sendirian dan tidak berdaya. Aku tidak mau melihat orang lain mengalaminya."
Kata-kata Ren sederhana, tapi menusuk tepat ke hati gadis itu. Gadis itu merasa ada ikatan aneh yang terbentuk di antara mereka.
"Nama siapa kau?" tanya gadis itu sambil mengulurkan tangannya yang halus dan putih untuk membantu Ren berdiri.
"Ren... panggil saja Ren," jawabnya ragu-ragu, takut tangannya yang kotor akan mengotori tangan gadis itu.
Namun gadis itu tidak peduli. Ia menarik tangan Ren kuat-kuat hingga Ren berdiri.
"Halo Ren. Aku Xue Ying," ucapnya dengan senyum termanis yang pernah dilihat Ren seumur hidupnya. "Dan mulai hari ini, kau tidak sendirian lagi."
Saat tangan mereka bersentuhan, sebuah getaran aneh mengalir di tubuh Ren. Bukan hanya sentuhan fisik, tapi seolah ada benang tak kasat mata yang mengikat nasib mereka berdua selamanya.
Di kejauhan, matahari mulai terbenam, memancarkan cahaya keemasan yang memeluk kedua anak manusia yang berbeda dunia ini, memulai sebuah kisah cinta dan perjuangan yang akan mengguncang langit dan bumi.
.🙏🏾🙏🏾🙏🏾 maafkan saya sedikit sok tau🤭