NovelToon NovelToon
AKU IBU TIRI MUDA

AKU IBU TIRI MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Danica

Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ipar Bukan Saudara**

Pukul 11.00 malam.

Hujan rintik-rintik di luar. Bukan hujan deras yang bikin heboh, cuma rintik yang nempel di genteng kayak bisik-bisik orang nggak enak hati.

Ara dan Aya udah tidur dari jam sembilan. Kamar mereka masih nyisa bau susu dan sabun bayi.

Arbil kamarnya masih nyala. Dari luar kedengeran suara game mobile yang di-mute, tapi ketukannya di meja masih kedengeran. Anak itu kalau lagi nggak enak hati, dia salurin ke jari.

Pak Arya baru selesai sholat Isya. Sajadah masih digelar di pojok kamar. Sedangkan Bailla lagi ngelapin meja rias. Ngelap pelan, bolak-balik di satu titik yang udah nggak ada debu. Tangannya gerak, tapi pikirannya nggak di situ.

Suasananya canggung. Canggung abis kejadian sore tadi.

Lastri dateng. Bawa kue, bawa gosip, bawa kalimat yang nusuk kayak paku kecil. “Ibu tiri ya? Wah, muda banget. Pantes Arbil nggak betah di rumah.” Di depan anak-anak. Di depan Mpok Mur. Di depan Bailla yang cuma bisa ketawa kecil, ketawa yang nggak keluar dari hati.

Pak Arya narik napas panjang. Dia ngelirik Bailla yang diem dari tadi. Tangannya masih pegang lap, tapi diem di satu titik.

Nggak digerakin. Kayak kalau digerakin, semua yang ketahan bakal tumpah.

“Dek...” Suaranya pelan. Dia duduk di pinggir ranjang, sambil nepuk kasur. Kode nyuruh Bailla duduk. Kode yang dulu waktu pacaran dipakai buat ngajak ngobrol tengah malem.

Bailla nurut. Duduk, tapi matanya ke bawah.

Tangannya ngremes ujung daster. Daster bunga kecil yang tadi pagi dia pilih biar keliatan rapi. Sekarang diremes sampai kusut.

“Kenapa, Om?” Jawabnya datar. Hambar. Nggak kayak biasanya manggil “Mas” dengan manja. Nggak ada ‘Mas’ sama sekali.

Pak Arya ngerasa ditonjok. Bukan ditonjok fisik. Tapi ditonjok sama jarak yang tiba-tiba balik lagi. Dia pegang tangan Bailla yang dingin. Dinginnya kayak es batu yang baru keluar dari freezer.

“Kamu masih kepikiran Lastri ya?”

Bailla ketawa kecil. Pait.

“Keliatan banget ya, Mas? Maaf... aku nggak bisa jadi malaikat kayak tadi sore.” Matanya udah kaca-kaca tapi ditahan.

“ Aku manusia, Mas. Dibilang ‘ibu tiri’ di depan anak-anak,

dibilang masih muda, dikira temennya Arbil...Sakit, Mas.”

Pak Arya genggam tangannya makin erat. Kayak takut kalau lepas, Bailla bakal lari keluar rumah jam sebelas malem. “Mas tau, Dek. Tadi Mas liat semua. Dan Mas minta maaf, ya Dek. Harusnya Mas lebih tegas dari awal.”

Bailla nggak jawab. Tapi matanya langsung berkaca-kaca.

Nggak ditahan lagi.

“Mas... dia itu ipar Mas kan? Kok beraninya kayak gitu ke aku?

Ngomong ‘ibu tiri’ di depan anak-anak... nyindir aku masih muda...” Suaranya bergetar. “Aku ngerasa kayak maling di rumah sendiri, Mas!”

Pak Arya diem sebentar. Dia nggak langsung jawab.

Dia mikir. Mikir gimana caranya jelasin 15 tahun luka keluarga dalam dua menit.

“Iya, dia adiknya Sarah. Dan dari dulu dia emang paling deket sama almarhumah. Waktu Sarah masih ada, semua keputusan rumah tangga aja Sarah seringnya nanya Lastri dulu.” Pak Arya senyum pahit. “Dia ngerasa, dia yang paling tau apa yang terbaik buat Sarah. Dan sekarang... buat anak-anak Sarah.”

Bailla kaget. “Jadi selama ini... Mbak Sarah juga pernah digituin sama adiknya sendiri?”

Pak Arya angguk pelan. “Pernah. Sarah pernah cerita sambil nangis. Dibilang ‘Kak, ngapain nikah sama Arya, dia kan tukang bangunan. Kamu pantesnya dapet PNS’. Padahal waktu itu Mas lagi berjuang bangun CV sendiri. Mas tidur di proyek, pulang seminggu sekali, biar Sarah nggak ngerasain susah.”

Dia genggam tangan Bailla makin kenceng. “Waktu itu Mas telpon Lastri. Mas bilang: ‘Las, ini rumah tangga gue. Lu adek ipar gue, bukan istri gue. Jangan ngatur.’ Semenjak itu dia ngambek, ngilang selama 5 tahun ke Kalimantan.”

Bailla melongo. “Pantesan... berani banget dia tadi, ya Mas.

Ternyata emang dari dulu mulutnya gitu.”

Pak Arya ketawa kecil. Tapi nggak ada lucunya. “Dia sayang sama Arbil, Ara, Aya. Tapi sayangnya posesif, Bu. Dia nganggep anak-anak saya itu kayak anak dia juga. Karena dia nggak belum nikah lagi sekarang, nggak punya anak. Jadi dia ngerasa berhak.”

Pak Arya natap Bailla. Matanya nggak ngeles. “Makanya dia nggak suka liat ada ‘perempuan lain’ yang ngurus keponakannya. Apalagi lebih muda.”

Bailla nunduk. Rambutnya nutupin muka.

“Aku takut, Mas. Tadi aku liat Arbil...tatapannya ke Tante Lastri kayak nemu mamanya lagi. Gimana kalau Arbil lebih nurut sama tantenya daripada sama aku? Aku kan orang luar, Mas..”

Kata ‘orang luar’ itu keluar pelan. Tapi nusuk.

Pak Arya langsung rangkul Bailla. Narik ke dadanya. Nggak peduli Bailla lagi ngambek. Nggak peduli Bailla lagi nahan nangis.

“Denger ya, Bailla. Kamu bukan orang luar. Kamu istri sah Mas.

Kamu yang ada di KK. Kamu yang tiap malem mijitin kaki saya.

Kamu yang ngurusin anak-anak kalau sakit. Lastri? Dia ipar.

Dateng cuma numpang nyinyir, terus pergi.”

Bailla nangis di kaos Pak Arya. Kaosnya jadi basah. Tapi Pak Arya nggak dorong. Dia biarin. Dia tau, cewek kalau udah nangis, nggak butuh solusi. Butuh tempat.

“Tapi Mas... dia ngomong soal anak... soal foto almarhumah diganti... aku belum siap, Mas. Aku takut nggak bisa gantiin Mbak Sarah...”

Pak Arya angkat dagu Bailla. Maksa Bailla natap matanya. “Siapa yang nyuruh kamu gantiin Sarah, sayang?” Suara dia pelan, tapi tegas. “Mas nggak nikah lagi buat cari pengganti.

Mas nikah lagi karena saya capek sendiri. Saya butuh temen.

Anak-anak butuh temen curhat. Dan itu kamu. Bailla. Bukan Sarah jilid 2.”

Bailla nggak bisa jawab. Dia cuma angguk. Angguk yang setengah percaya, setengah masih ragu.

“Terus kita harus gimana sama Tante Lastri, Mas? Dia kan adik ipar... nggak enak lho kalau musuhan...”

Mata Pak Arya langsung nyala. Nada suaranya berubah.

Tegas. Dalam. Nggak ada ragu lagi.

“Ipar bukan berarti bisa nginjek kepala keluarga orang, Bu.

Besok pagi, saya akan telfon dia. Biar dia milih. Kalau mau dateng ke sini sebagai Tante yang baik buat keponakan,

Mas terima. Tapi kalau dateng buat jadi kompor, buat ngadu domba anak sama ibu tirinya...Mas nggak segan-segan putus hubungan. Ipar-ipar juga.”

Bailla kaget. Dia nggak pernah liat sisi galak Pak Arya kayak gini. Biasanya Pak Arya itu sabar. Diem. Nahan. Tapi pas menyangkut keluarganya, dia berubah.

“Mas serius?” Tanya Bailla pelan. Takut kalau jawabannya cuma buat nenangin.

“Serius. Di rumah ini cuma ada satu ratu, dan itu kamu.

Bukan almarhumah, bukan adiknya almarhumah. Kamu. Istri Pak Arya. Titik.”

Dia kecup kening Bailla kasar. Nggak romantis. Tapi ada beratnya. Ada janji di situ.

“Jadi jangan jadi malaikat lagi. Kalau sakit, bilang sakit. Kalau marah, bilang marah. Mas yang pasang badan.”

Bailla akhirnya ketawa kecil di tengah tangis. “Ih, Sugar Daddy ku galaknya...”

Pak Arya ngelus punggung Bailla. “Harus galak. Kalau enggak, istri Mas dibully ipar sendiri. Itu nggak boleh.”

Dia selimutin Bailla. Selimutin sampai dada. Kayak ngurus anak kecil yang kedinginan.

“Udah, bobo. Perang sama Lastri urusan besok. Malem ini urusan kita. Mas boleh kan peluk kamu?” Tanya Arya serius. Nggak ada godaan. Cuma ada minta izin.

Bailla nggak jawab. Dia langsung nyender di bahu Arya. Nggak peduli dasternya kusut. Nggak peduli rambutnya berantakan.

“Janji ya, Mas... jangan biarin aku sendirian lawan dia...”

Pak Arya ngelus kepala Bailla. Pelan. “Iya Mas janji. Dunia kiamat juga Mas tetep di depan kamu, Dek.”

Hujan di luar makin deres. Rintik-rintik berubah jadi gerimis yang nggak berhenti. Suara air di talang berisik. Tapi di dalam kamar, nggak dingin lagi.

Cuma ada suara hujan. Dan detak jantung dua orang yang lagi sama-sama belajar jadi “rumah” satu sama lain.

Pak Arya nggak langsung tidur. Dia masih duduk. Nggak gerak. Takut kalau gerak, Bailla bakal kebangun. Takut kalau gerak, momen ini ilang.

Dia inget Sarah. Sarah yang dulu juga pernah nangis karena Lastri. Sarah yang dulu bilang, “Mas, aku capek jadi adiknya Lastri. Aku pengen jadi istri Mas aja.”

Sekarang Sarah udah nggak ada. Tapi Lastri masih sama. Masih ngerasa berhak. Masih ngerasa punya kuasa.

Pak Arya ngerti sayang itu bisa jadi posesif. Tapi sayang yang posesif itu ngerusak. Dia nggak mau Bailla ngerasain hal yang sama kayak Sarah dulu.

Dia ngelirik Bailla. Udah ketiduran. Masih nyender di bahunya.

Mulutnya sedikit terbuka. Napasnya pelan.

Dia senyum kecil. Senang karena Bailla percaya. Senang karena Bailla nggak lari.

Besok dia bakal telepon Lastri. Dia udah siap dengerin makian.

Dia udah siap dibilang kejam. Tapi dia nggak peduli.

Rumah itu batasnya. Kalau batas dilanggar, harus ada yang marah.

Pak Arya ngelus rambut Bailla pelan. “Maaf ya, Dek. Mas telat. Mas harusnya dari sore udah belain kamu.”

Bailla nggak jawab. Tapi tangannya ngeremas ujung baju Pak Arya. Ngeremas pelan. Kayak bilang, “Nggak apa-apa. Sekarang kamu di sini.”

Di luar, hujan masih turun. Di kamar Arbil, lampu masih nyala.

Arbil denger suara dari kamar ayahnya. Dia nggak denger kata-katanya. Tapi dia denger nada. Nada yang tenang. Nada yang nggak pernah dia denger dari ayahnya kalau ngomong sama almarhumah ibunya.

Dia matiin game. Dia nggak tau kenapa. Tapi dadanya entah kenapa nggak sesak lagi. Di kamar Ara dan Aya, dua anak itu mimpi. Mimpi tentang ibu baru yang ngajarin mereka kepang rambut. Mimpi yang nggak ada Lastri di dalamnya.

Di kamar Pak Arya dan Bailla, waktu berhenti sebentar. Nggak ada masa lalu. Nggak ada Lastri. Cuma ada dua orang yang lagi belajar percaya.

Pak Arya berbisik pelan. Nggak tau Bailla denger atau nggak.

“Mas nggak janji bisa jadi suami sempurna, Dek. Tapi Mas janji,

Mas nggak akan biarin siapa pun nyakitin kamu di rumah ini.”

Bailla nggak jawab. Tapi napasnya berubah. Lebih tenang. Lebih dalam.

Jam nunjuk 23.47. Hujan mulai reda. Tinggal rintik yang jarang-jarang.

Pak Arya akhirnya tiduran. Nggak lepasin Bailla. Dia peluk Bailla dari belakang. Pelukan yang nggak maksa. Pelukan yang bilang,

“Gue di sini.”

Bailla nggak bangun. Tapi tangannya nyari tangan Pak Arya.

Nemu. Genggam.

Mereka tidur. Tidur dengan rasa yang nggak sempurna. Tapi cukup. Cukup buat besok bangun lagi. Cukup buat besok ngadepin Lastri lagi.

Karena rumah itu nggak dibangun dari tembok. Rumah itu dibangun dari janji-janji kecil yang diucapin jam sebelas malem.

Janji yang nggak ada saksi. Janji yang cuma didengerin hujan.

Quote yang tinggal di kepala Bailla sampai dia ketiduran:

“Ipar bukan berarti bisa nginjek-nginjek kepala keluarga orang.”

Dan quote yang tinggal di kepala Pak Arya: “Kalau istriku nangis karena orang lain, berarti aku gagal jadi suami.”

Besok pagi, Lastri bakal telepon. Besok pagi, Arbil bakal cemberut. Besok pagi, Aya bakal minta dikepang.

Tapi malam ini, cukup. Cukup ada dua orang yang milih buat nggak saling lepas.

Hujan udah berhenti. Tinggal dinginnya aja yang sisa. Tapi di bawah selimut, anget.

...****************...

1
Yuliyana
ada bima n dito, siapa ya ?
Miss Danica: Maaf kak di Bab ini ada perubahan nama tokoh dan ada yang lupa edit ... Makasih atas koreksiannya. Selamat membaca kak 😍🙏
total 1 replies
Miss Danica
Hay gaeess sahabat NT mohon suportnya karya pertama ku ini ya. mohon bimbingannya juga semoga sehat sehat semuanya sukses untuk kita semua.😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!