Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.
Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.
Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Cahaya mutiara yang lembut itu menyoroti pilar-pilar emas yang diukir dengan motif naga melingkar oleh Penatua Mo Jian. Li Zhen berhenti di depan salah satu pilar tersebut, mengelus dagunya sambil mengamati ukiran naga itu dengan tatapan yang sangat menghakimi.
Penatua Mo Jian yang berada di luar halaman langsung memegang dadanya yang berdebar kencang, firasat buruk kembali menghantam batinnya. Dia mencoba merangkak mendekati pintu masuk paviliun, matanya menatap Li Zhen dengan pandangan memohon agar hasil kerjanya tidak dihina.
"Hei, Penatua Mo, kau bilang kau adalah penegak hukum yang tegas dan memiliki selera seni yang tinggi?" teriak Li Zhen dari dalam ruangan. Suaranya menggema memantul di dinding kayu jati, menembus telinga Mo Jian layaknya jarum beracun yang mematikan.
Pria berbaju zirah perak itu menelan ludah dengan susah payah, memaksakan sebuah anggukan pelan meski tubuhnya gemetar hebat. "B-benar, Senior Agung, hamba mengukir Naga Penelan Langit itu dengan mengerahkan seluruh sisa energi petir di dalam tubuh hamba."
Li Zhen tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang keras, tawanya penuh dengan nada ejekan yang sangat menyakitkan hati. Dia menepuk-nepuk pilar emas itu dengan telapak tangannya yang kotor, meninggalkan bekas noda yang merusak kilauan logam spiritual tersebut.
"Naga Penelan Langit katamu? Ukiran ini lebih terlihat seperti tokek kelaparan yang sedang tersedak lalat raksasa," cibir Li Zhen tanpa ampun. "Lihatlah proporsi mata naga ini, ukurannya tidak sama besar dan membuatnya terlihat seperti reptil cacat mental."
Hinaan spesifik itu meluncur mulus menghancurkan sisa-sisa kebanggaan Mo Jian sebagai seorang seniman ukir di waktu luangnya. Dao Heart pria tua itu kembali bergejolak ganas, membuatnya harus menggigit lidahnya sendiri agar tidak memuntahkan darah untuk kesekian kalinya.
"D-demi para dewa, hamba mohon ampun atas ketidaksempurnaan karya hamba ini," ratap Mo Jian sambil memukul dadanya sendiri dengan frustrasi. Dia bersujud di ambang pintu, air mata kembali mengalir membasahi janggut putihnya yang sudah sangat kotor oleh tanah.
"Ukiran tokek jelek ini merusak suasana hatiku setiap kali aku melihatnya," lanjut Li Zhen dengan nada yang semakin menekan mental korbannya. "Malam ini, tugasmu adalah berdiri di depan pilar ini dan mengukir ulang wajah naga itu menggunakan kuku jarimu sendiri sampai terlihat sempurna."
Penatua Mo Jian membelalakkan matanya lebar-lebar, menatap jari-jarinya yang sudah kapalan dengan perasaan ngeri yang luar biasa. Mengukir emas spiritual menggunakan kuku telanjang adalah sebuah penyiksaan fisik yang akan membuat jari-jarinya berdarah dan hancur berantakan.
Namun, dia tidak berani mengeluarkan satu kata penolakan pun, karena takut Li Zhen akan menceritakan hobi koleksi bonekanya kepada seluruh dunia. Dengan langkah gontai layaknya mayat hidup, pria tua berbaju zirah itu berjalan mendekati pilar emas dan mulai menggoresnya menggunakan kuku ibu jarinya.
Suara gesekan kuku melawan emas keras itu terdengar sangat ngilu dan menyayat telinga, menggema memenuhi paviliun megah tersebut. Li Zhen mengangguk puas melihat kepatuhan mutlak dari monster tua yang biasa menindas ribuan murid sekte dengan tangan besinya itu.
[Ding! Target Penatua Mo Jian mengalami siksaan batin dan fisik yang konstan. Mendapatkan +7.000 Poin Sampah.]
Pemuda bermulut racun itu kemudian berbalik badan dan melangkah keluar menuju beranda, menatap puluhan tetua lainnya yang masih terkapar di halaman. Matanya menyipit tajam, memancarkan aura dominasi yang membuat para dewa persilatan itu langsung menahan napas mereka secara serempak.
Kepala Sekte Zhao Wuji masih merangkak di posisinya semula, keringat dingin membasahi wajahnya yang memucat karena kelelahan tingkat ekstrim. Dia memaksakan sebuah senyuman memelas, mencoba mencari belas kasihan dari iblis berwujud manusia fana yang sedang berdiri di atas sana.
"S-Senior Agung, apakah hamba dan para tetua lainnya sudah diizinkan untuk kembali ke paviliun kami untuk memulihkan diri?" tanya Zhao Wuji dengan nada mengemis. Suaranya terdengar sangat parau, seolah-olah pita suaranya telah rusak akibat terlalu banyak berteriak dan menahan sakit seharian ini.
Li Zhen mendecakkan lidahnya keras-keras, menyilangkan tangan di belakang punggung dengan postur yang sangat otoriter dan tidak kenal kompromi. "Kembali ke paviliun kalian? Apakah kalian pikir tugas kalian sudah selesai hanya karena bangunan kayu ini sudah berdiri?" tanyanya balik dengan sinis.
Mendengar pertanyaan itu, firasat buruk berskala raksasa langsung menghantam batin seluruh tetua yang hadir di halaman tersebut. Tubuh mereka serempak gemetar hebat, menatap Li Zhen dengan pandangan penuh keputusasaan layaknya domba yang menunggu giliran disembelih.
"Gunung ini dipenuhi oleh monster buas tingkat tinggi dan murid-murid mesum yang suka mencuri pakaian dalam," ucap Li Zhen sambil melirik tajam ke arah Chen Feng. Pemuda jenius yang sedang bersembunyi di dalam selokan kering itu langsung menangis terisak saat rahasia mesumnya kembali disinggung tanpa ampun.
"Aku tidak bisa tidur dengan tenang di tempat yang keamanannya setara dengan pasar malam murahan ini," lanjut Li Zhen dengan nada menuntut. Dia menunjuk ke arah gerbang halaman yang belum sempat dibangun pagar pelindungnya oleh para pekerja paksa tersebut.
Kepala Sekte Zhao Wuji menelan ludah dengan susah payah, mencoba memahami arah pembicaraan dari pemuda yang selalu berhasil menghancurkan mentalnya ini. "L-lalu, apa yang Senior Agung inginkan dari junior-junior yang sudah kehabisan tenaga ini?" tanyanya dengan napas tersengal-sengal.
Senyum iblis andalan Li Zhen kembali mengembang dengan sangat sempurna, menampilkan deretan giginya yang putih di bawah cahaya bulan ganda. "Malam ini, aku ingin kalian semua berdiri melingkari paviliunku dan bertugas sebagai anjing penjaga pribadiku sampai matahari terbit besok pagi."
Syok berat seketika melanda seluruh kultivator elit di halaman itu, membuat rahang mereka jatuh terbuka tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Mengubah jajaran petinggi sekte terbesar di benua ini menjadi sekumpulan satpam penjaga malam adalah sebuah penghinaan yang melampaui batas nalar kemanusiaan.
"S-Senior, hamba mohon belas kasihan, energi spiritual kami sudah benar-benar terkuras habis dan kami membutuhkan meditasi," ratap salah seorang tetua perempuan. Wanita tua itu menangis sejadi-jadinya, tubuhnya ambruk ke tanah karena tidak sanggup lagi membayangkan siksaan begadang semalaman di udara dingin.
Li Zhen sama sekali tidak tersentuh oleh air mata tersebut, hatinya sudah membeku dan tertutup rapat dari rasa empati terhadap orang-orang sombong ini. Kemampuan 'Mata Penilai Kelemahan' kembali aktif, memunculkan layar merah di atas kepala wanita tua yang sedang menangis meraung-raung itu.
"Oh, jadi kau menolak perintahku, Tetua Mei?" sapa Li Zhen dengan suara yang sangat lembut namun mengandung bisa yang mematikan. Dia melangkah menuruni tangga beranda, mendekati wanita tua itu dengan langkah santai yang memancarkan teror psikologis luar biasa.
"Bagaimana jika aku memberitahu semua orang bahwa kau menggunakan sihir pengikat darah ilegal untuk membuat suamimu yang jauh lebih muda agar tetap setia padamu?" ancam Li Zhen berbisik pelan. Bisikan mematikan itu hanya terdengar oleh Tetua Mei dan beberapa orang di sekitarnya, namun efeknya setara dengan ledakan bom nuklir.
Wajah Tetua Mei langsung berubah menjadi seputih salju, air matanya berhenti mengalir seketika digantikan oleh mata yang membelalak penuh kengerian. Napas wanita tua itu tercekat di pangkal tenggorokan, tangannya meremas dada kirinya sendiri saat Dao Heart-nya hancur berkeping-keping karena aib kelamnya terbongkar.
Dia memuntahkan darah hitam yang berbau busuk, lalu jatuh pingsan tak sadarkan diri di atas tanah dengan mata yang masih melotot ngeri. Kejatuhan Tetua Mei menjadi bukti nyata bahwa menolak perintah Li Zhen berarti mengundang kehancuran reputasi yang lebih mengerikan daripada kematian.
[Ding! Target Tetua Mei mengalami guncangan mental tingkat dewa dan kerusakan organ akibat aib terbongkar. Mendapatkan +18.000 Poin Sampah.]
Melihat nasib tragis rekan mereka, Kepala Sekte Zhao Wuji dan puluhan tetua lainnya tidak memiliki sedikit pun keberanian tersisa untuk membantah. Mereka serempak bangkit berdiri dengan kaki yang gemetar hebat, menahan rasa sakit di seluruh otot mereka demi mematuhi perintah sang tiran fana.
Mereka mulai berjalan terseok-seok menempati posisi masing-masing, membentuk lingkaran pertahanan yang rapat mengelilingi paviliun mewah tersebut. Para dewa persilatan yang biasanya dihormati layaknya raja itu kini berdiri mematung menahan hawa dingin malam, menjaga tidur seorang pemuda yang tidak memiliki kekuatan sihir.
Anjing Petir Ekor Tiga yang melihat majikan-majikan lamanya disiksa habis-habisan hanya bisa bersembunyi di balik semak-semak dengan tubuh gemetar. Monster raksasa itu menutupi matanya dengan kedua telinga lebarnya, tidak berani melihat kekejaman mental yang dipertontonkan oleh pemuda kurus tersebut.
Li Zhen mengangguk puas melihat formasi penjagaan elit yang baru saja dia bentuk dengan metode pemerasan emosional tingkat kaisar. Dia memutar tubuhnya dan kembali melangkah masuk ke dalam paviliunnya, menuju kasur bulu angsa mewah yang sudah dia pindahkan ke ruang utama.
Pemuda itu merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sangat empuk tersebut, menarik selimut sutra tebal hingga menutupi lehernya. Dia tersenyum sangat damai, matanya perlahan terpejam saat rasa kantuk yang sangat nyaman mulai memeluk kesadarannya.
Di luar paviliun, angin malam gunung bertiup semakin kencang dan menusuk tulang, membawa penderitaan fisik yang nyata bagi para tetua yang sedang berjaga. Kepala Sekte Zhao Wuji menahan isak tangisnya di dalam hati, meratapi kejatuhan sektenya yang kini dikuasai oleh iblis berwujud manusia tanpa kultivasi.
Malam itu, Benua Awan Surgawi menyaksikan sejarah baru di mana kekuatan tertinggi tidak lagi ditentukan oleh seberapa besar energi spiritual seseorang. Kekuatan mutlak kini berada di ujung lidah seorang pemuda yang mampu mengubah rahasia paling gelap seseorang menjadi senjata pemusnah massal yang paling mematikan.